Terbongkar! Presiden Jokowi Umumkan Naturalisasi Zakir Naik!

Sumber ilustrasi: rancahpost.co.id

MELIHAT sambutan orang yang luar biasa atas rangkaian kunjungan Zakir Naik di Indonesia, Presiden Jokowi mengaku kesengsem. Pada Rabu, 6 April 2017, Jokowi mengundang Zakir secara khusus untuk makan malam di Reading Room, Kemang Timur.

Jalanan Kemang Timur, yang biasanya padat dan macet di sore hari, menjelang makan malam tersebut telah disterilkan paspampres dan lengang. Rombongan Zakir tiba lebih dahulu pada pukul 5.30. Setelah rapat singkat dengan paspampres, Zakir menuju Masjid Nurul Huda yang jaraknya hanya tiga rumah di utara Reading Room. Zakir mengimami ibadah maghrib di sana—yang biasanya hanya dua saf kali ini jamaah bahkan sampai memadati jalan raya. Setelah salat, orang-orang berebut menyalami Zakir. Paspampres sempat kerepotan menangani kerumunan.

Jokowi tiba pukul 6.50. Zakir menyambut di pintu Reading Room. Keduanya bersalaman, cipika-cipiki, berpelukan, lalu Jokowi mempersilakan Zakir untuk masuk terlebih dahulu.

Selama satu jam makan malam berlangsung, awak media hanya bisa melihat dari jarak tiga ratus meter. Windu Jusuf bergabung di sana, duduk bersama beberapa rekan wartawan di sebuah bangku panjang di depan Indomaret. Meski begitu, paspampres membolehkan para fotografer mengambil gambar keduanya yang hanya dihalangi dinding kaca.

Jokowi tampak gembira, banyak mengangguk, dan beberapa kali terlihat cekikikan saat Zakir ngomong.

Setelah makan malam, Jokowi menggelar jumpa pers singkat di area parkir. Windu Jusuf beranjak dari tempat duduknya. ‘Senang saya bisa makan malam bareng Pak Zakir Naik,’ kata Jokowi, mengelus-elus sesuatu yang mirip kalendar dilipat.

‘Beberapa jam yang lalu saya rapat terbatas bersama Mensesneg, Mendikbud, Menhukham, dan Menpora, kami semua sepakat untuk menaturalisasi Pak Zakir. Beliau menyambut gembira rencana tersebut dan langsung mengiyakan.’

Beberapa wartawan angkat tangan dan melempar pertanyaaan. ‘Atas dasar apa, Pak?’ tanya Desmon dari #ManDhaniNews yang berjarak kurang dari satu meter dari Jokowi.

‘Ya, lihat saja sambutan atas kedatangan beliau di mana-mana. Ramai banget. Lebih ramai dari Raja Salman,’ jawab Jokowi. ‘Beliau kan juga populer banget di Youtube. Saya secara khusus mengajak beliau membuat proyek vlog baru. Namanya Jozana: Jokowi-Zakir Naik.’

‘Bapak presiden sudah menonton materi ceramahnya? Banyak sekali yang mempromosikan intoleransi,’ cecar Desmon.

Jokowi tak langsung menjawab, ia membuka gulungan yang dipegangnya sejak bangkit dari meja makan, membentangkannya di hadapan Desmon. Sebuah poster yang berisi foto empat orang: Racip Erdogan, Rizieq Shihab, Salman bin Abdul Aziz, dan Zakir Naik. Di atas gambar mereka tertulis: The Power of Islam’, dan pada masing-masing foto terdapat keterangan mengharukan. Pada orang pertama tertulis, ‘Sebijak Abu Bakar’; pada orang kedua, ‘Setegas Umar’; orang ketiga, ‘Sekaya Usman’; dan keempat, ‘Secerdas Ali’.

‘Pak Zakir Naik ini secerdas Sayidina Ali,’ kata Jokowi, ‘Jangan main-main kamu.’ Dan Jokowi mengikik selama 15 menit, sampai Desmon kehilangan minatnya untuk bertanya lebih jauh.

Tawa Jokowi berhenti, area parkir Reading Room mendadak sunyi. Semua wartawan yang hadir melongo. Jokowi lalu mempersilakan Zakir untuk bicara.

Zakir menyampaikan keterharuannya atas kemurahan hati Jokowi dan rakyat Indonesia dan ia mengaku akan segera melepaskan kewarganegaraan Indianya.

‘Ini momen spesial dalam hidup saya. Di saat pemerintah India berusaha memperkarakan saya dengan tuduhan tidak masuk akal, tuduhan terorisme segala macam, Indonesia mengulurkan tangan,’ kata Zakir. ‘Saya berterima kasih kepada masyarakat Indonesia pada umumnya, bersyukur kepada Allah pada khususnya.’

Ditanya mengenai kecintaannya kepada Indonesia dan kendala dalam berbahasa, Zakir dengan tenang menjawab itu bukan masalah besar. ‘Dan tak perlu diragukan lagi, saya cinta Indonesia sejak pandangan pertama. Ini kesungguhan. Ini kebenaran. Sama benarnya dengan 2 x 2 = 4.’

‘2 x 2 = 4,’ bisik Windu berulang-ulang seperti mengucapkan mantra. Suara klakson mendadak menghentikan komat-kamit mulutnya. Tak ada Zakir Naik di hadapannya, tak ada Jokowi, tak ada gerombolan wartawan, hanya seorang sopir pikap yang muntab.

‘Cari mati, Tong?’ kata si Sopir. ‘Daripada cuma bengong, sekalian saja tiduran di tengah jalan!’***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065 atas nama Vauriz Bestika. Terima kasih..

Kirim Donasi

comments powered by Disqus