Penyaliban Yesus dan Hari Dimulainya Revolusi

BAGI kita yang pernah menonton film-film horor bertema vampir atau dracula, kita akan menemukan bagaimana sang drakula penghisap darah yang kebal peluru itu takut kepada simbol dan bentuk-bentuk salib. Dalam kisah yang muasalnya diaptasi dari novel karangan penulis Irlandia, Bram Stoker, sering digambarkan bahwa lambang salib itu begitu dibenci oleh Count Dracula yang konon semasa hidupnya adalah seorang baron (tuan tanah) . Tanpa diberi penjelasan memadai, entah kenapa mahluk yang gemar menghisap darah ini takut pada salib.

Dalam kehidupan sehari-hari, lambang salib telah menjadi begitu dekat dengan apapun yang menjadi produk kebudayaan agama Kristen. Sekolah, rumah sakit, apalagi gereja memiliki beragam varian simbol salib.[1] Apa sebenarnya yang menarik dari salib sehingga menjadi ikon sentral dari agama Kristen?[2] Apakah kekristenan secara inheren memuja dan menikmati penderitaan, sebentuk masokisme yang disucikan?   Mengapa sebuah metode eksekusi hukuman mati yang menakutkan menjadi ikon dari kekristenan perdana dan menjadi simbol pembebasan? Bagaimana orang Kristen perdana mengonstruksi penderitaan Yesus yang mengerikan ke dalam sebuah akselerasi gerakan perlawanan kepada imperium Romawi?

Belum lekang dalam ingatan sekitar sepuluh tahun lalu. Saat itu saya sedang numpang membaca di sebuah toko buku. Sekonyong-konyong saya mendengar suara sekumpulan anak pra remaja bergurau ketika kebetulan mereka melewati bagian penjualan ikon-ikon Kristiani, ”ih tuh liat Yesus kasian pakai kancut..” Salah seorang dari kumpulan remaja itu memperagakan tangan yang terlentang dan terbahak-bahak.

Saya yang turut menyaksikan peristiwa “penistaan” itu tertawa kecut bercampur kesal dalam hati. Sepulang dari toko buku, saya membatin: ”mengapa saya mengikuti seorang pria Palestina yang mati dengan cara yang memalukan seperti itu?” Mungkin tawa para remaja itu tidaklah keliru. Sayalah yang mungkin terlalu menganggap penyaliban Yesus terlalu serius. Saya perlu beragama dengan santai, kata seorang teman yang menasehati saya kala itu. Belakangan saya mulai menemukan kepingan-kepingan jawaban dari peristiwa ini.

Dalam kaitannya dengan peringatan jumat Agung (Peringatan wafatnya Yesus Kristus) dan Paskah (peringatan kebangkitan Yesus Kristus) saya hendak mengulas dimensi sosial dan dampak akselerasi dari Salib bagi perlawanan orang Kristen di abad pertama kepada imperium Romawi dan implikasinya bagi perlawanan kepada segala kuasa imperium-imperium kontemporer.

 

Salib, Pesan Kekaisaran Kepada Para Pembangkang

Penyaliban mungkin merupakan salah satu bentuk eksekusi yang terkejam yang pernah ada di dunia. Esensi dari penyaliban bukanlah kematian itu sendiri, melainkan penderitaan saat menjelang kematian. Dengan demikian, kematian merupakan suatu hal yang sangat diinginkan oleh orang yang disalib.

Berbeda dengan cara eksekusi terpidana mati pada masa sekarang, proses penyaliban memerlukan waktu yang relatif lama sehingga penderitaan pun menjadi panjang. Dibandingkan hukuman gantung, kursi listrik, suntikan mati, kamar gas, tembak mati, pancung, dan sebagainya, yang hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja menjelang kematian, penyaliban membutuhkan waktu berjam-jam. Bahkan beberapa hari. Orang yang disalib dibiarkan mati perlahan-lahan (setelah mengalami berbagai pukulan, cambukan) dengan cara mengikat (terkadang memaku) si terhukum pada sebuah palang kayu. Penyaliban mungkin pertama dimulai di Persia[3]. Alexander Agung memperkenalkan praktik ini ke Mesir dan Carthage, dan Roma tampaknya telah belajar dari orang Carthage. Imperium Romawi yang pada awalnya menolak penggunaan eksekusi salib[4], tetapi dalam perkembangannya malahan menyempurnakannya sebagai bentuk penyiksaan dan hukuman mati yang dirancang untuk menghasilkan suatu kematian perlahan-lahan dengan nyeri maksimum dan penderitaan.

Karena begitu menyeramkan dalam konteks penerapan eksekusi metode yang paling tercela dan eksekusi yang kejam ini biasanya disediakan hanya untuk budak, orang asing, dan pastinya kepada para kelompok revolusioner yang jelas-jelas membangkang kepada Imperium. Oleh karena itu hukum Romawi biasanya melindungi warga Roma dari penyaliban, kecuali mungkin dalam hal pembelotan tentara.

NT Wright, seorang pakar Alkitab perjanjian baru menyimpulkan, penyaliban adalah pesan kuat bagi setiap orang yang hendak berpikir untuk membangkang apalagi melawan imperium: “Jangan coba-coba, atau ini harganya. Kamu yakin perjuangan revolusionermu dapat berhasil?”

 

Peta Politik Lokal di Zaman Yesus

Banyak orang Kristen sampai saat ini jatuh pada romantisasi salib (yang dalam konteks penghayatan beragama tentu tidak salah) tetapi melupakan peta sosial politik yang cukup rumit di balik terjadinya penyaliban Yesus di Jumat suram itu.

Yesus dari Nazareth hidup dalam era kolonilasasi imperium Romawi, setelah selama kurang lebih 700 tahun Israel berada dalam penjajahan berbagai bangsa. Sejak 586 SM Isael sudah dijajah oleh Babilonia, dilanjutkan pada 539-332 oleh Bangsa Persia, 332-305 SM oleh Kekaisaran Makedonia (dari Yunani timur sampai Himalaya-Alexander agung), 305-198 SM oleh Dinasti Ptolemaics (penerus Alexander Agung sampai era Cleopatra), 198-141 SM oleh          Dinasti Seleucids (pecahan dari dinasti Ptolemaics yang kelak jadi Pax Romana), 141-37 SM oleh Dinasti Hasmonean (Kerajaan boneka Roma yang dipimpin oleh raja lokal   berdarah campuran bernama Simon Makabeus.). Yesus hidup di era 37- 70 M pada masa dinasti Herodes (Kerajaan boneka Roma yang dibuat untuk mengontrol Palestina dengan raja berdarah campuran Israel-Edom).

Umat Israel melalui sistem teologinya, percaya bahwa situasi penjajahan ini terjadi karena mereka telah melupakan dan meninggalkan pengelolaan tanah dan berbagai matra kehidupan sosial, politik serta ekonomi yang berdasarkan hukum YHWH yang memelihara kehidupan. Alih-alih para birokat telah menjadi korup, rakyat dan kaum tani ditindas, tanah direbut, orang miskin ditindas, dan orang asing dibunuh. Para nabi mengingatkan bahwa penyimpangan-penyimpangan ini akan berakibat pada pembuangan dan penjajahan (2 Raja-raja 17:13-20)

13 TUHAN telah memperingatkan kepada orang Israel dan kepada orang Yehuda dengan perantaraan semua nabi dan semua tukang tilik: “Berbaliklah kamu dari pada jalan-jalanmu yang jahat itu dan tetaplah ikuti segala perintah dan ketetapan-Ku, sesuai dengan segala undang-undang yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyangmu dan yang telah Kusampaikan kepada mereka dengan perantaraan hamba-hamba-Ku, para nabi.”

14 Tetapi mereka tidak mau mendengarkan, melainkan mereka menegarkan tengkuknya seperti nenek moyangnya yang tidak percaya kepada TUHAN, Allah mereka.

15 Mereka menolak ketetapan-Nya dan perjanjian-Nya, yang telah diadakan dengan nenek moyang mereka, juga peraturan-peraturan-Nya yang telah diperingatkan-Nya kepada mereka; mereka mengikuti dewa kesia-siaan, sehingga mereka mengikuti bangsa-bangsa yang di sekeliling mereka, walaupun TUHAN telah memerintahkan kepada mereka: janganlah berbuat seperti mereka itu.

16 Mereka telah meninggalkan segala perintah TUHAN, Allah mereka, dan telah membuat dua anak lembu tuangan; juga mereka membuat patung Asyera, sujud menyembah kepada segenap tentara langit dan beribadah kepada Baal.

17 Tambahan pula mereka mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban dalam api dan melakukan tenung dan telaah dan memperbudak diri dengan melakukan yang jahat di mata TUHAN, sehingga mereka menimbulkan sakit hati-Nya.

18 Sebab itu TUHAN sangat murka kepada Israel, dan menjauhkan mereka dari hadapan-Nya; tidak ada yang tinggal kecuali suku Yehuda saja.  — 

19 Juga Yehuda tidak berpegang pada perintah TUHAN, Allah mereka, tetapi mereka hidup menurut ketetapan yang telah dibuat Israel,

20 jadi TUHAN menolak segenap keturunan Israel: Ia menindas mereka dan menyerahkan mereka ke dalam tangan perampok-perampok, sampai habis mereka dibuang-Nya dari hadapan-Nya.

 

Namun di tengah situasi yang terpuruk ini, melalui para nabi orang Israel diajarkan bahwa YHWH sesungguhnya tidak terus menerus murka. YHWH yang sudah membuat perjanjian dengan nenek moyang mereka untuk membuat mereka menjadi bangsa yang besar, masih menghendaki bangsa Israel bangkit dari keterpurukan. Maka mereka mengembangkan sebuah visi eskatologis yang terkait dengan pembebasan negeri mereka dari penguasa asing, yaitu teologi mesianik. Sebuah keyakinan bahwa kelak YHWH akan menghasilkan pembebas atas tanah yang dijajah imperium asing. Mesias ini diyakini akan bertindak agar pada akhirnya membawa Israel kembali kepada khittahnya, yaitu menjadi bangsa yang membawa pembaharuan atas segala ciptaan dan tatanan.   Abad demi abad berlalu, dan berbagai kelompok dan faksi perlawanan dibentuk melawan semua rezim penjajah dan penguasa. Banyak klaim mesias dibuat oleh berbagai kelompok perlawanan (yang terdekat dengan era Yesus, misalnya Simon bin Yosef (4SM), seorang budak Herodes yang mengorganisir perlawanan dan akhirnya dibunuh oleh imperium Romawi ), tetapi gerakan itu senantiasa kandas karena seiring dengan matinya sang mesias, berakhir pula gerakan perlawanan itu.

Gerakan mesianik Yesus dari Nazareth lahir pasca berbagai gerakan mesianik yang terlebih dahulu kandas. Itu sebabnya gerakan mesianik Yesus tidak berjalan dengan mudah. Setidaknya sebelum berhadap-hadapan secara terbuka dengan Imperium Romawi, Yesus dan gerombolannya mesti berhadapan dengan berbagai faksi politik lokal. Yesus mesti menghadapi kelompok Farisi, yang meskipun sama-sama meyakini akan visi mesianik, tidak setuju dengan metode Yesus yang merangkul kelompok-kelompok masyarakat yang tidak berpegang pada akidah agama (misalnya kelompok Samaria, kelompok Yahudi yang bekerja pada pemerintahan raja boneka Herodes). Sedangkan bagi Yesus , kekuatan gerakan mesianik terletak pada kemampuannya membangun solidaritas antar golongan yang sama-sama ditindas oleh sistem imperium yang hegemonik. Yesus juga harus berhadap-hadapan dengan kelompok Yahudi para pemilik tanah yang mendaku diri sebagai keturunan ningrat Israel, yaitu kelompok Saduki. Bagi orang Saduki, ide soal adanya kerajaan Allah bukanlah ide yang baik. Kelompok ini sudah merasa cukup puas dengan tatanan yang ada saat itu. Kerajaan Allah bagi kelompok Saduki dipahami sebagai sebuah ide yang perlu dilestarikan sebagai semata-mata kearifan lokal tanpa implikasi politis. Golongan Yahudi Herodian yang sudah mendaku bahwa Herodes adalah sang mesias tentu bukan sekutu gerakan Yesus. Satu-satunya kelompok yang secara ideologi tampaknya berpotongan dengan visi gerakan Yesus adalah kaum Zelot, yang memiliki cita-cita pembebasan dengan membentuk pasukan paramiliter dan bergerilya di pinggiran Palestina. Asimiliasi gerakan Yesus dengan gerakan Zelot terbukti dengan bergabungnya Simon orang Zelot[5] dalam bagian dari gerakan Yesus.

 

Kredit ilustrasi: https://brianzahnd.com/2016/01/revolutionary-jesus/

 

Gerakan Politik Yesus

Sebagai sebuah gerakan politik berbasis visi eskatologi, gerakan Yesus populer di pesisir dan daerah pinggiran Palestina. Dari kota ke kota Yesus pergi memproklamasikan visi politik kerajaan Allah yang melawan kerajaan Romawi dari bawah (insureksi). Gerakan massa yang tidak terlalu terorganisir itu akhirnya menuntun Yesus ke Yerusalem, ibukota pusat pemerintahan dan agama Yahudi (Yohanes 12:12). Banyak muridnya berspekulasi bahwa tujuan dari kedatangan Yesus ke Yerusalem adalah untuk memproklamasikan gerakan baru di episentrum kekuatan sosial politik dan agama saat itu. Apalagi saat Yesus masuk ke Yerusalem, sejumlah besar massa menyambut kedatangan Yesus dengan gembira dan antusias. Masa menyerukan Hosana (הושׁיעה־נא ) yang artinya: Inilah hari keselamatan itu. Keselamatan bagi orang Yahudi saat itu bukanlah perkara nasib postmortem; apakah seseorang akan masuk surga atau neraka setelah mati. Perlu diingat bagi orang Yahudi abad pertama, keselamatan tidak ada sangkut pautnya dengan masa depan di akherat semata. Keselamatan adalah soal peristiwa saat ini dan di sini di dunia material, saat kerajaan Allah hadir mengusir penjajah dan membongkar segala tatanan dan paham yang menindas.

Yesus tampak sangat paham dengan simbol-simbol gerakan perlawanan saat itu. Alih-alih menggunakan kereta kuda yang gagah, Yesus masuk ke Yerusalem dengan menggunakan keledai pinjaman. Sebuah penanda yang signifikan yang dipahami oleh bangsa yang letih menantikan revolusi, sesuai dengan nubuat kitab Zakharia 9:9Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.

Sampai di sini para murid merasa optimis karena aroma revolusi sudah tercium dimana-mana. Herodes sang raja boneka tinggal menghitung hari kejatuhannya .

Tidak sampai di sana saja. Selama di Yerusalem, Yesus pergi ke pusat kekuasaan yaitu Bait Allah. Bagi orang Yahudi abad pertama, Bait Allah bukanlah semata-mata rumah ibadah. Bait Allah adalah institusi yang kompleks. Ia adalah pusat kebudayaan, tempat dimana norma-norma sosial dilahirkan. Bait Allah adalah tempat dimana hukum pidana yang menata pranata masyarakat Yahudi dilahirkan melalui sidang Sanhedrin. Uang dalam jumlah besar beredar dari transaksi tata laksana kurban yang dimonopoli oleh para tetua Yahudi. Bahkan masalah agragria dan persengketaannya diselesaikan di dalam persidangan agama di Bait Allah. Penting diingat bahwa Bait Allah di zaman Yesus adalah Bait Allah kedua yang dibangun setelah bangsa yahudi kembali dari pembuangan di Babel, sekitar tahun 536 SM (selesai pada 12 Maret 515 SM) dan proses penyelesainnya dan pemugaran secara besar-besaran didanai oleh sang Raja Boneka Herodes pada tahun 19 SM. Telah lama diketahui bahwa segala kegagalan gerakan mesianik senantiasa diinisiasi dari Yerusalem, dalam hal ini Bait Allah. Bait Allah yang pada awal didirikan menjadi ikon kehadiran Allah dan pemerintahannya demi menyejahterakan umat dan segenap ciptaan, telah menjadi komprador rezim penjajah dan kelompok ningrat Yahudi yang menindas umat. Dari Bait Allah semua gerakan revolusiner senantiasa digagalkan.

Saat Yesus tiba di Bait Allah, tanpa basa-basi Yesus dan gerombolannya membuat aksi huru-hara dengan membalikkan meja-meja penukar uang, dan melakukan berbagai aksi vandalistik lainnya yang menarik perhatian tua-tua Yahudi dan hakim-hakim pengadilan agama (bandingkan Markus 11:15) . Di hadapan para birokrat itu Yesus secara berani (atau ceroboh?) membuat ancaman yang tidak main-main : Runtuhkan Bait Allah ini, dalam tiga hari aku akan membangun kembali ! (Bandingkan dengan Yohanes 2:19).

Perkataan Yesus ini sangat keras dan implikasinya fatal. Sebab jelas ini bukan sekadar hardikan yang menista agama. Ini adalah ancaman untuk membubarkan tatanan sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan yang sudah berlangsung mapan saat itu. Tindakan Yesus mengeksplisitkan dimensi subversif dari visi Kerajaan Allah.

 

Akselerasionisme Yesus

Apakah Yesus menghitung resiko dari tindakan makarnya yang gegabah itu? Saya meyakini iya. Berkali-kali sebelum memasuki Yerusalem, Yesus berkata kepada para murid terdekatnya bahwa kelak dirinya akan ditangkap bahkan dibunuh.

Matius 16:21

Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.

 

Tidak kurang dari tiga kali Yesus memperingatkan akan datangnya hari dimana ia akan ditangkap dan dibunuh oleh penguasa. Bagi para murid, hal ini adalah strategi yang tidak terpahami. Mengapa perlu berlelah-lelah selama bertahun-tahun menyusun gerakan jika pada akhirnya harus menyerahkan diri?

Para murid tidak memahami bahwa tindakan Yesus adalah pilihannya untuk menghancurkan kolaborasi yang menggurita antara sistem kekuatan imperium Romawi dengan berbagai faksi politik lokal. Tampaknya Yesus menyadari bahwa kekuatan imperium terletak pada keberhasilannya menanamkan kesadaran palsu di masyarakat Yahudi bahwa semua keadaan sebenarnya baik-baik saja. Imperium Romawi yang selama ini direstui oleh Bait Allah seolah menjadi penanda bahwa imperium Romawi dengan segala hegemoninya bukanlah kekuatan yang perlu dicemaskan. Oleh karena itu dalam visi politik Yesus, Bait Allah versi Herodes yang megah itu perlu diruntuhkan legitimasinya dengan cara mengekspos kebobrokannya. Kerajaan Allah baru dapat menang jika sang musuh terakhir, yaitu Bait Allah palsu yang menindas dan fasis dibongkar. Bait Allah yang terinstalasi pada satu lokasi tertentu yang hirarkis dan menghegemoni mesti digantikan dengan modus kehadiran Allah yang baru dan membebaskan di tengah-tengah rakyat.

Inilah salah satu delik aduan[6] yang membuat Yesus ditangkap paksa dan dihadapkan kepada mahkamah agama bahwa Yesus mengancam akan meruntuhkan Bait Allah (Bandingan Markus 14:58).

Bagi Yesus ini adalah harga yang mahal untuk mengakselerasi gerakan: Yesus perlu menyerahkan dirinya sendiri secara sukarela ke tangan para komprador ini sampai akhirnya masuk ke dalam eksekusi mati yang menakutkan. Bagaimana maksudnya?

Yesus identik dengan kerajaan Allah. Yesus adalah simbol kehadiran kerajaan Allah itu. Tapi tanpa matinya simbol gerakan, gerakan itu akan mandeg, tidak berkembang bahkan mati. Bagaikan benih, Yesus perlu jatuh ke tanah dan mati agar gerakan pembebasan kerajaan Allah dapat tumbuh kuat dan membongkar kebobrokan sistem dominan saat itu. Yesus tampaknya mengadopsi sebuah narasi mesianik ala nabi Yesaya (700 SM ) yang mengatakan bahwa sang Hamba Tuhan (mesias) mesti masuk dalam sebentuk kesengsaraan yang dijalani dengan sukarela :

Yesaya 53:7-8

7 Dia dianiaya,   tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya   seperti anak domba   yang dibawa ke pembantaian ;   seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.

8 Sesudah penahanan dan penghukuman a ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan   umat-Ku ia kena tulah.

Di dalam persidangan dan eksekusi Yesus di kayu salib, Yesus menunjukkan kepada publik bagaimana kelompok-kelompok yang tadinya seolah-olah bertentangan kini menunjukkan habitus aslinya. Gerakan Bait Allah yang selama ini mendaku diri berpihak pada kesejahteraan umat dan anti imperialisme Romawi, ditelanjangi kemunafikannya. Berikut kesaksian Injil Lukas :

Lukas 23:8-12

Ketika Herodes melihat Yesus, ia sangat girang. Sebab sudah lama ia ingin melihat-Nya, karena ia sering mendengar tentang Dia, lagipula ia mengharapkan melihat bagaimana Yesus mengadakan suatu tanda. Ia mengajukan banyak pertanyaan kepada Yesus, tetapi Yesus tidak memberi jawaban apapun. Sementara itu imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat maju ke depan dan melontarkan tuduhan-tuduhan yang berat terhadap Dia. Maka mulailah Herodes dan pasukannya menista dan mengolok-olokkan Dia, ia mengenakan jubah kebesaran kepada-Nya lalu mengirim Dia kembali kepada Pilatus. Dan pada hari itu juga bersahabatlah Herodes dan Pilatus; sebelum itu mereka bermusuhan.

 

Pada hari itu mata semua orang terbuka. Kompleksitas tatanan masyarakat berbasis judaisme yang terinstitusionalisasi versi Herodes (yang konon membawa visi pembebasan) dengan imperium Romawi (yang dikenal bengis) ternyata adalah monster Leviathan yang sama dalam wajah yang berbeda.

Kematian Yesus membangkitkan kesadaran baru bahwa perlawanan mesti dimulai dari bawah, dari commoners yang mengorganisir diri karena keselamatan tidak datang dari atas, keselamatan justru datang dari bawah. Keselamatan bukan kerja dari para elite yang selama ini diharapkan rakyat untuk membawa pembebasa. Yesus yang mati di salib di tangan tentara Romawi itu sebenarnya juga dibunuh oleh elit politisi dan tokoh agama yang khianat terhadap gerakan pembebasan. Hari matinya Yesus di kayu salib pada Jumat petang juga menjadi pesan yang kuat mendelegitimasi Bait Allah. Pada jam dimana Yesus mati, Injil Matius mencatat :

Matius 27 :51

Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah.

 

Pesannya jelas: Bait (baca: kediaman ) Allah kini hadir di tengah-tengah rakyat yang menderita. Episentrum kehadiran Allah bukan lagi pada gedung megah Bait Allah .

Robeknya tabit Ruang maha suci yang diyakini sebagai tempat YHWH menyatakan diri menunjukan makna YHWH menolak menyatakan diri dan tinggal di sana! Dengan robeknya tirai bait suci, YHWH menolak berpihak pada institusi Bait Allah dan memilih keluar bersama rakyat dan bersama Yesus yang tersalib itu.

 

Salib Dan Perlawanan Terhadap Imperium Kontemporer

Hari ini salib dapat menjadi simbol yang bisa menjadi kekuatan partisipatoris dan revolusioner dalam melawan kapitalisme yang sudah berubah bentuk menjadi imperium dalam bentuk-bentuk deteritorialisasi yang yang terus bergerak sampai tingkatan yang skizofrenik ala Deleuze dan Guattari[7]. Menurut Michael Hardt dan Negri, perkembangan terkini dari kapitalisme telah mampu menerabas berbagai kedaulatan negara-bangsa yang dibatasi oleh perbatasan serta teritorial tertentu. Kondisi ini disebabkan oleh karena adanya transformasi dalam relasi kerja sosial yang mana adanya peralihan dari relasi kerja material ke relasi kerja immaterial. Immaterialitas ini membuat kapitalisme sekarang lebih tepat disebut dengan Imperium (Empire), mengingat kapitalisme yang sifatnya elusive karena tidak lagi mempunyai batasan teritorial. Ketiadaan batasan territorial ini menciptakan bentuk subjektifitas baru dalam kapitalisme itu sendiri[8].

Semangat salib memanggil dan mengapropriasi para pengikut Yesus lintas zaman, suku bangsa dan golongan untuk menjadi bagian dari Multitude, sebuah konsep yang dicetuskan Hardt dan Negri tentang kolektifitas perlawanan dari bawah lintas kelompok yang disatukan oleh semangat dan solidaritas melawan kekuatan hegemonik. Sebagaimana kematian Yesus di tangan para imam-imam besar dan pemerintahan imperium Romawi melipatgandakan kebangkitan kolektifitas perlawanan, maka hari ini salib, sekali lagi, mengingatkan kita bahwa perjuangan melawan imperium kontemporer masih belum selesai. Para pengikut Yesus masa kini diseluruh belahan dunia dipanggil memandang salib dan melaluinya melihat lini masa menurut kacamata imanensi: alih-alih melihat sejarah sebagai rangkaian kejadian (event) progresif yang menuju pada masa depan yang gemilang secara otomatis (idealized future), salib meminta kita melihat gerak sejarah sebagai lahan yang terbuka untuk segala kemungkinan baik maupun buruk (open future). Oleh karena itu, Salib memanggil para pengikut Yesus mengerjakan revolusi itu hari ini dengan terlibat dalam semangat kepeloporan secara langsung. Salib memanggil kita untuk menghidupi hidup saat ini, bukan nanti setelah kerajaan Allah datang (baca: setelah revolusi).

Visi Salib itulah yang dijalani oleh Pdt. Sugiyanto yang membela petani Tulang Bawang, Lampung, dalam persengketaan dengan PT BNIL yang sudah terjadi berkepanjangan[9]. Akibat pilihannya secara konsisten membela petani, pendeta Sugiyanto ditangkap bahkan dijatuhi vonis penjara 1,5 tahun karena dituduh menghasut para petani. Visi akseleratif dari Salib ini juga yang dijalani oleh Bu Patmi dengan memberi diri dipasung semen sampai akhirnya mesti wafat . Pengorbanan bu Patmi, bagi sebagian buzzer seperti Denny Siregar, tidak terpahami sebagai tindakan yang berani. Namun sesungguhnya apa yang dilakukan oleh bu patmi adalah tindakan akselerasionis: dalam keberaniannya menunjukkan wajah asli developmentalisme yang keji . Bu patmi, Pendeta Sugiyanto dan berbagai nama-nama yang tidak bisa disebutkan namanya telah menghidupi semangat insureksi dan imanensi dari salib.

Peristiwa Jumat Agung setiap kali diperingati dengan demikian menjadi penanda bahwa Yesus Kristus telah selesai menjalani bagiannya dan membuka jalan perlawanan lewat tindakan akseleratifnya di kayu salib. Alih-alih menjadi lambang kekalahan, salib telah menjadi katalisator kebangkitan gerakan di tengah-tengah segala kemustahilan karena himpitan imperium yang ganas. Peristiwa Jumat Agung dan Paskah menjadi undangan bagi kita bergabung di dalam gerakan revolusi kontra imperium yang telah terlebih dahulu diteladankan Yesus .

“Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”-Lukas 9:23.***

 

Penulis adalah seorang Pendeta

 

————

[1] Bentuk salib, yang direpresentasikan dengan huruf “T”, mulai digunakan sebagai “meterai” atau simbol Kekristenan Awal sejak abad ke-2. Pada akhir abad ke-2, sebagaimana tertulis dalam Octavius, Marcus Minucius Felix menolak klaim yang diajukan para pencelanya kalau orang Kristen menyembah atau memuja salib. Salib (crucifix, stauros dalam bahasa Yunani) pada periode tersebut direpresentasikan dengan huruf T. Tertulianus yang hidup sezaman dengan Klemens juga menolak tuduhan bahwa orang Kristen adalah crucis religiosi (yaitu “pemuja/penyembah tiang gantungan”), dan membalikkan tuduhan tersebut dengan cara mempersamakan penyembahan berhala pagan dengan penyembahan tiang pancang atau tonggak. Dalam bukunya De Corona, ditulis tahun 204, Tertullian menceritakan sudah adanya tradisi orang-orang Kristen berulang kali menggerakkan tangan membuat tanda salib di kening mereka. [Meskipun salib telah dikenal sejak awal mula Kekristenan, krusifiks baru muncul pada abad ke-5. Pakar dan sejarawan Medieval Perancis M.M. Davy telah menjabarkan secara rinci “Simbolisme Romawi” (Romanesque Symbolism) berkaitan kemunculan krusifiks ini dalam perkembangan Abad Pertengahan di Eropa Barat.***

[2] Pada awal abad ke-3, salib telah sedemikian dikaitkan dengan Kristus sehingga Klemens dari Alexandria, yang meninggal antara tahun 211 dan 216, tanpa takut disalahartikan menggunakan frasa τὸ κυριακὸν σημεῖον (tanda Tuhan) yang berarti “salib”.

[3] Henry Cary (Bohn’s Classical Library: Herodotus Literally Translated). London, G. Bell and Sons 1917, pp. 591–592)

[4] W.W. How and J. Wells, A Commentary on Herodotus (Clarendon Press, Oxford 1912), vol. 2, p. 336

[5] Simon orang Zelot adalah salah satu dari 12 rasul pertama Yesus Kristus menurut catatan Perjanjian Baru di Alkitab Kristen. Ia disebut juga sebagai “Simon Kananaios” (atau “Simon orang Kanani”). Jejak kerasulannya tidak banyak dikenal dan sedikit tulisan mengenai dirinya. Nama “Simon” banyak disebutkan dalam Injil sinoptik dan Kisah Para Rasul, yang dapat merujuk ke rasul lainnya, tanpa penjelasan lebih lanjut.

Simon yang juga diberiNya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat. (Lukas 6:14-16)

[6] Di samping delik aduan ini ada banyak klaim subversif Yesus yang dilaporkan ke berbagai otoritas politik dan hukum saat itu. Mulai dari Imam besar, pengadilan agama tertinggi, Raja Herodes Antipas kepada Pontius Pilatus sang walinegeri. Pengaduan kepada Pontius pilatus dimaksudkan agar Yesus akhirnya dapat dipastikan menjalani eksekusi hukuman mati dengan cara di salib karena sistem yuridiksi imperium Romawi tidak mengijinkan otoritas keagamaan mempraktikkan hukuman mati.

[7] Gilles Deleuze and Felix Guattari, Anti-Oedipus: Capitalism and Schizophrenia, trans: Robert Hurley, Mark Seem, and Helen R. Lane, (Minneapolis: University of Minnesota, 1983) hal. 34

[8] Michael Hardt and Antonio Negri, Empire (Cambridge: Harvard University Press, 2000) hal. 195

[9] http://www.satuharapan.com/read-detail/read/bela-petani-lampung-pendeta-sugiyanto-ditangkap-polisi


comments powered by Disqus