Dek Nadya, Maaf, Akhir Pekan Ini Kita Batal Kencan Ya?

Print Friendly, PDF & Email

Sumber ilustrasi: Geotimes

 

Dek Nadya, bagaimana akhir pekanmu?

 

Semoga tidak ditelpon bos saat sedang rehat. Janganlah terus bekerja di waktu libur. Juga belajarlah untuk tak usah peduli dan ambil bagian dengan kerumunan ibukota paling berisik dalam sejarah—yaitu mereka yang menolak disebut proletar tapi tak pernah bisa cukup layak diklasifikasikan sebagai borjuis—sedang tarung urat leher soal penjahat mana yang paling realistis. Sebab Dek Nadya, di tempat-tempat lain kelas pekerja seperti dirimu sedang berjuang.

Ibu-ibu pemberani di Rembang diteror. Kali ini lebih brutal. Tenda perjuangan sebagai titik konsolidasi dan mushala yang merupakan ruang memohon kekuatan dari Gusti Semesta, dibakar! Pakai api dan terang menyala, lalu hangus dan menjadi arang. Menjadi bangkai asap, seturut dengan pengkhianatan Gubernur Marhaen Tjap Keledai yang tak henti-hentinya menipu petani dan komunitas Samin.

Tapi jangan Dek Nadya sampai terjebak dalam jurang kepicikan lalu menggunting dalam lipatan hingga akhirnya menarik kesimpulan banal dengan bilang bahwa pembakaran mushala di Rembang sebagai isu agama. Nona manis, semua ini soal keadilan sosial. Aksi pembakaran ini adalah episode dari perjalanan tiga tahun masyarakat Rembang yang mendirikan tenda di jalan masuk pabrik PT Semen Indonesia sebagai bentuk protes. Pembakaran itu seperti yang diajarkan sejarah adalah sikap panik investasi karena perlawanan yang semakin subur, meluas dan semakin teguh. Perlawanan non-kekerasan dengan martabat dan kedaulatan.

Inilah semangat yang terus dijaga para petani. Termasuk berjalan kaki lebih dari seratus kilometer untuk meladeni pemimpin kanibal di provinsi mereka. Juga berlelah melalui proses hukum yang melelahkan selama tiga tahun. Kanibal yang dengan vulgar menolak mengakui kemenangan gugatan warga yang menang di Mahkamah Agung. Sebaliknya, kanibal tersebut justru bersilat akrobat untuk menerbitkan izin baru terhadap sebuah industri yang telah surplus pasokan hingga 30 persen. Kanibal yang dipuji kerumunan berisik di Semarang karena mampu mengakali hukum lingkungan di negeri ini yang masih mengusung semangat industri hijau: investasi seluas-luasnya dan absennya penghormatan terhadap hak petani, masyarakat adat dan orang asli.

Penting untuk mengingat bahwa perjuangan petani melawan semen tidak hanya terjadi di Rembang, tapi juga terjadi di Pati yang tengah menghadapi anak usaha group Indocement (Heidelberg, Jerman). Tak apa-apalah kalau terpaksa kencan kita malam minggu ini batal karena harus bersolidaritas.

Tampaknya Dek Nadya harus banyak bersabar jika Abang sering absen menelpon atau tidak jadi membawakan bubur ayam kesukaan tiap malam minggu. Situasi kini makin memburuk. Kabar buruk dari Rembang tidak datang sendiri. Ia tiba bersamaan dengan berita kriminalisasi yang dilakukan oleh Polres Tanah Bumbu dan Kota Baru Kalimantan Selatan terhadap Masyarakat Adat Dayak Meratus.

Trisno Susilo, tokoh masyarakat sekaligus sekretaris Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Tanah Bumbu di tangkap dan di tahan di LP Kota Baru. Lelaki pemberani ini dituduh menduduki dan mengolah kawasan hutan yang bukan hak miliknya. Ini tuduhan lama, yang pertama kali disangkakan pada tahun 2011. Penahanan Pak Trisno kemudian ditangguhkan pada waktu itu.

Setelah 6 tahun berstatus tersangka tanpa proses pengadilan, Kepolisian Tanah Bumbu kembali membuka kasus tersebut. Pemicunya adalah menguatnya perjuangan Masyarakat Adat Dayak Meratus. Pada tanggal 10 Februari kemarin, Apai Trisno ditangkap dan ditahan. Di hari Valentine ia akan disidangkan di PN Batulicin. Jadi, rencana makan sate usus kita berdua pada 14 Februari nanti tampaknya harus ditunda.

Selain Pak Trisno, pimpinan Masyarakat Adat Dayak Meratus lain, Manase Boekit juga ditetapkan sebagai tersangka kemarin (10 Februari). Pak Manase dituduh sengaja menyuruh, mengorganisasi, menggerakan, melakukan pemufakatan jahat untuk melakukan penggunaan kawasan hutan secara tidak sah.

Tidak hanya penangkapan, anggota kepolisian bersenjata lengkap secara aktif meneror perkampungan warga di Kampung Napu, Kamboyan, Kambulang, Batulasung, Tuyan dan Alut yang bermukim di kawasan hutan adat Dayak Meratus. Targetnya adalah figur-figur kunci yang aktif menolak keberadaan PT. Kodeco Timber yang merusak kawasan hutan adat Dayak Meratus.

Dua berita di atas adalah sedikit dari panjangnya daftar kekerasan terhadap petani, masyarakat adat dan orang asli yang terjadi belakangan. Abang sampai sering lupa menitipkan puisi. Benar-benar tidak ada waktu. Karena memasuki bulan kasih sayang ini, kriminalisasi semakin ramai.

Semisal penangkapan 13 warga yang berasal dari Komunitas Adat Seko di Luwu Utara, Sulawesi Selatan di akhir bulan lalu. Dek Nadya tahu alasan penahanannya? Menolak pembangunan dam PT. Seko Power Prima! Orang-orang Seko khawatir keseimbangan alam akan rusak dan mereka bakal kena bencana jika membiarkan sumber air dimonopoli salah satu gurita bisnis keluarga Kalla—iya, Dek Nadya, namanya persis dengan nama wakil presiden yang sedang berkuasa saat ini. Tidak berhenti di situ, pihak kepolisian lalu melanjutkan perburuan dan teror yang mengakibatkan sebagian besar warga mengungsi meninggalkan desa. Ketakutan dan merasa tidak aman karena mereka yang diongkosi pajak untuk memegang senjata selalu ada di pihak investor.

Daftar ini belum berhenti. Dini hari, setelah kita berdua bercakap virtual lewat WhatsApp, Abang menerima pesan. Mengabarkan kalau di Maluku Utara, pada Kamis 9 Februari kemarin, tujuh orang warga ditembak. Korban penembakan adalah masyarakat adat Taliabu yang menolak beroperasinya tambang di Kecamatan Lede, Pulau Taliabu. Enam orang terluka di kaki dan satu orang lagi tertembak cukup parah.

Lalu ketika Abang sedang mengecek tiket kita berdua ke Bali, berita lain menghampiri. Tentang ditangkapnya dua orang aktivis ForBali. Dek Nadya ingat kan? Abang pernah cerita tentang orang-orang berani di Pulau Dewata yang aktif menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. Peraturan Presiden (Perpres) tentang izin reklamasi ini dikeluarkan oleh Pepo Beye, si tukang curhat di Twitter. Sayang, Tukang Mebel dari Solo yang dulu Dek Nadya coblos, masih terlalu pengecut untuk membatalkan Perpres itu. Kedua ksatria yang ditangkap adalah warga dari Desa Adat Sumerta.

Sementara kawan Abang di Medan lewat Facebook mengabarkan soal kriminalisasi terhadap warga Masyarakat Adat Ompu Bolus di Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Mereka ditangkap karena dianggap melawan PT. Toba Pulp Lestari. Itu Dek, mereka ini perusahaan bubur kertas yang masuk merampas tanah adat masyarakat.

Besok lusa, daftar ini akan semakin bertambah panjang dan Dek Nadya tidak perlu kaget. Karena menurut catatan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), sepanjang tahun 2016 kemarin, terjadi 450 kasus konflik agraria. Dari ragam lapangan konflik, sektor perkebunan menjadi yang paling bermasalah dengam 163 kasus (36,22%). Menyusul kemudian sektor properti dengan total 117 konflik (26%) dan sektor infrastruktur melengkapi tiga besar dengan 100 kasus (22,22%). Di perkebunan, industri kelapa sawit jadi biang paling kerok. Kalau untuk soal properti, pembangunan infrastruktur seperti jalur kereta api cepat Jakarta-Bandung, pembangunan dam di Jatigede dan penggusuran di kota Jakarta adalah sedikit contoh.

Jumlah ini meningkat dari tahun 2015 dan 2014. Artinya Dek, di bawah Presiden baru, petani, masyarakat adat dan orang asli justru semakin menderita. Makin berkalang darah karena rata-rata dalam tiga tahun terakhir, rerata per tahun ada seratus orang yang jadi korban karena konflik agraria.

Ini lucu loh, Dek Nadya. Si Presiden kan dipilih karena Nawacita: salah satunya Reforma Agraria. Memang sih meski lumayan sangat telat, akhir tahun kemarin sudah dibentuk timnya. Tapi, konsep Reforma Agraria ala Tukang Blusukan ini justru ditolak oleh Komite Nasional Pembaruan Agraria (KNPA) -aliansi luas serikat tani, gerakan masyarakat sipil, kelompok perempuan dan komunitas-komunitas adat dan orang asli. Bagi KNPA, Reforma Agraria ini cuma menang slogan dan tidak menyasar problem mendasar soal timpangnya kepemilikan tanah, menipisnya lahan pertanian karena digusur investasi dan perampasan tanah ulayat atas nama maruk pembangunan. Di bumi Cendrawasih sebagai contoh, jalan Trans-Papua justru memperpanjang catatan mengenai pengingkaran hak Orang Asli Papua. Singkatnya Dek, yang dibilang Reforma Agraria cuma populisme semacam lipen. Bercumbu sedikit, luntur sudah.

Belum lagi soal reklamasi Jakarta, Dek Nadya. Yang justru jadi makin konyol karena surat seorang mantan yang bawa-bawa jabatan yang pernah diembannya di masa lalu. Tujuannya, biar pendapat irasional dianggap sahih. Jadi fakta baru walau jelas keblinger. Ketidakwarasan yang tampil secara vulgar. Maklum, mantan ini lagi jadi tim sukses salah satu calon gubernur. Jadi ya gitu. Norak dan ngasal tak soal. Yang penting eksis.

Sebelas dua belas dengan GMKI yang baru-baru saja mendaulat Sultan Jogja untuk membicarakan Kebhinekaan. Kan aneh. Di wilayah si Raja, pelajar Papua bahkan tidak punya kebebasan berpendapat, keturunan Tionghoa tak bisa punya tanah, lalu petani Kulon Progo mau diusir macam Sukamulya biar burung-burung besi ada sangkarnya. Bhineka macam apa itu? Bhineka taik kucing?

Itulah sebabnya Dek Nadya, jangan lagi gampang percaya sama orang-orang macam begitu. Dengar boleh, yakin jangan. Gak sehat buat badan dan pikiran. Sesat pikir bisa memendekkan umur loh.

Mendingan, kalau ada waktu, Dek Nadya ikut Diskusi IndoProgress Offline. Sekalian, kita bisa kencan dadakan di situ. Juga pamer kemesraan di depan Windu Jusuf.***

 

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus