Barbarisme: America First, Indonesia Second!

Print Friendly, PDF & Email

KOMEDIAN Trevor Noah tentu sedang bercanda ketika mengatakan, ‘Kita memiliki presiden kulit hitam pertama Amerika, namanya Obama. Sekarang, saatnya kita bersiap menyambut presiden Afrika pertama Amerika, Donald Trump.’

Pernyataan itu disampaikan dalam Daily Show, program yang rutin dibawakan Noah, sekitar sebulan sebelum kemenangan Trump dalam pemilihan presiden Paman Sam. Dia menanggapi komentator-komentator yang berpendapat bahwa Trump tidak cocok menempati posisi presiden, karena bermulut besar, berperilaku tak senonoh, rasis, sulit bisa berpikir lurus, dst.—yang intinya tidak presidential (tidak terlihat seperti presiden sewajarnya). ‘Pernyataan-pernyataan Trump mungkin tidak masuk akal, tapi belum tentu tidak presidential,’ ujar Noah, komedian kulit hitam asal Afrika Selatan itu, yang lantas menyejajarkan Trump dengan sederet pemimpin Afrika, mulai dari Jacob Zuma (Afrika Selatan), Yahya Jammeh (Zambia), Khadaffi (Libya), hingga Robert Mugabe (Zimbabwe). Sebagian besar yang disebutkan adalah tiran.

Persis yang dikatakan Zuma, Trump mengklaim bahwa imigran adalah biang keladi kejahatan dan pemerkosaan. Mengulangi Jammeh yang mengaku bisa menyembuhkan kanker dan AIDS dengan pisang, Trump mengklaim autisme bisa disembuhkan dengan vaksin. Khadaffi bergelimang emas dan perempuan, demikian pula Trump. Mugabe, yang berkuasa dengan tangan besi selama tiga puluh tahun lebih, mengaku dicintai seluruh rakyatnya—pun Trump.

‘Trump bukannya tidak cocok berdiri di atas panggung kampanye, tapi panggung itulah yang tidak cocok untuk Trump. Dia nyalon di tempat yang salah,’ lanjut Noah.

Setelah pilpres usai, pers Amerika gencar memberitakan betapa sulitnya Trump memisahkan urusan kenegaraan, keluarga dan bisnis. Pengamat Indonesia Tom Pepinsky memperingatkan Trump dengan mengambil contoh keluarga Cendana yang tersohor tak bisa membedakan bisnis, politik, dan urusan keluarga. Mungkin seharusnya Noah mengatakan Trump sebagai presiden Dunia Ketiga Pertama Amerika. Itu kategori yang lebih luas.

Represi politik, perilaku ugal-ugalan di mimbar publik dan televisi nasional, pertunjukkan kemewahan secara vulgar, kebencian terhadap apapun dan siapapun yang dianggap asing, adalah sebagian kesan yang mudah didapat tentang orang-orang hitam bertangan besi ini. Ironisnya, banyak pemimpin Afrika (dan Asia) yang selama Perang Dingin dan setelahnya tidak lebih dari proxy kepentingan negeri-negeri kolonialis.

Saya tidak ingin membahas Trump lebih lanjut. Acara komedi singkat Noah memang mengungkap ‘barbarisme’ Trump dan pemimpin Afrika pada taraf permukaan, namun Noah tak mengatakan apa-apa tentang barbarisme yang sesungguhnya—yang berakar dari pengalaman historis negerinya sendiri.

                                                                                       ***

Setelah Holocaust berakhir, warga dunia mencari-cari tahu mengapa Jerman, negara yang dikenal melahirkan Kant, Goethe dan Demam Pencerahan, tiba-tiba menjadi mercusuar barbarisme global pada pertengahan abad 20. Ada banyak sumbangan pemikiran mengenai sebab-musabab badai sayap kanan dan kematian jutaan orang di kamp konsentrasi. Kewajiban membayar ongkos Perang Dunia I, kehilangan beberapa daerah di area perbatasan, serta hiperinflasi diterima sebagai faktor penjelas kepopuleran politik ultra-kanan yang rasis dan ekspansionis. Sebagian lagi mengungkit rasionalitas instrumental yang berawal dari spirit kemodernan teknologis lalu berakhir dengan pembangunan kamp, gulag, dan penghilangan manusia.

Pada tempat dan waktu yang terpisah, dua pemikir dari tradisi yang berbeda, Karl Korsch dan Aimé Césaire menyatakan hal yang sama persis, bahwa metode-metode kekejaman yang awalnya digunakan untuk mengontrol dan menghancurkan penduduk di daerah jajahan, kini diterapkan oleh Nazi kepada masyarakat Eropa. Césaire menyebutnya ‘efek bumerang penjajahan.’ Bayangkan, serangkaian mekanisme kekuasaan yang diperkenalkan dengan senjata di daerah jajahan, rasisme terhadap penduduk non-kulit putih yang terlembaga dalam struktur birokrasi, dan segala teknik penghancuran manusia dan kebudayaan setempat, tiba-tiba pulang ke kampung halamannya: Eropa.

Dus, proyek kaum fasis Jerman memperluas ruang demi kelestarian Ras Arya (Lebensraum) tidak sungguh-sungguh bermula pada 1933 ketika Hitler diangkat jadi kanselir, melainkan pada awal abad 20 di kawasan barat daya Afrika (hari ini bernama Namibia), manakala Jenderal von Trotha mengeluarkan Vernichtungsbefehl (‘perintah pemusnahan’) untuk menyingkirkan orang-orang Herero dan Nama, para penduduk asli yang tanahnya dirampas oleh tentara Jerman untuk proyek transmigrasi dan pendirian penjara buangan orang kulit putih. Kamp konsentrasi juga tidak dimulai dengan Dachau atau Auschwitz, tapi dengan Perang Boer Kedua di Afrika Selatan, di mana Inggris mendirikan kamp-kamp internir untuk memutus arus logistik senjata dan bantuan pangan dari penduduk setempat kepada pasukan gabungan ‘piet hitam’ dan bule Belanda. Dan tak jarang pula, metode kekejaman, sebelum pulang dan lestari dalam tubuh kemiliteran dan birokrasi di negeri-negeri induk Eropa, mampir ke belahan dunia lain yang kaya sumber daya alam—bukankah raja Belgia Leopold II, salah seorang pelaku genosida modern terbesar, tergerak untuk menjajah Kongo setelah membaca buku karangan seorang pengacara tentang kisah sukses dan strategi Hollandia memperbudak rakyat Jawa?

Proyek pembangunan yang bergandengan tangan dengan militerisasi besar-besaran di Papua mau tak mau mengingatkan saya pada Vernichtungsbefehl Jenderal von Trotha: ‘Orang-orang Herero harus minggat dari negeri ini. Jika tidak, saya aku akan usir dengan bedil. Dalam batas-batas negara Jerman, setiap orang Herero, dengan atau tanpa senjata, dengan atau tanpa ternak, akan ditembak.’ Itu ia umumkan pada 1904, dua puluh sembilan tahun sebelum Hitler mulai mengirim orang-orang Yahudi ke kamar gas.

Pada akhirnya kita perlu memikirkan bagaimana kolonialisme akan pulang ke negeri penjajah. Marine Le Pen kini diprediksi memenangkan pemilu presiden Prancis. Partai ultra-kanan pengusung Le Pen, Front National, didirikan oleh sang bapak, Jean-Marie Le Pen dan kawan-kawannya sesama veteran pembantai warga Arab semasa Perang Kemerdekaan Aljazair. Pembentukan sebagian partai politik serta kelompok-kelompok paramiliter sayap kanan yang menjamur sejak 1998, juga tidak lepas dari tangan-tangan para perwira yang sempat ditugaskan di Timor Leste dan sangat berpengalaman merekrut para pemuda pengangguran ke dalam milisi-milisi anti-Falintil.

Bukan kebetulan jika rasisme dan ekspresi politik ultra-kanan lainnya di banyak tempat berhubungan erat dengan angkatan bersenjata. Rekam jejak mereka sebagai arsenal teori dan praktik kekejaman berkedok pemberadaban, tidak pernah benar-benar terputus. Toh sejak kapan kita lupa bahwa politik adalah kelanjutan perang dengan cara lain?

Sejarah politik pergantian rezim dan intervensi militer oleh Amerika ke berbagai belahan Dunia Ketiga melahirkan kemalangan di seberang samudera dan mendorong kemunculan orang macam Trump di negeri asal. Kekejaman militer Indonesia di Timor Leste menghabisi sepertiga populasi setempat pada 1975-1983 dan mengirim Prabowo ke bilik suara tiga tahun silam. Jika Vernichtungsbefehl bisa berlaku di Papua, tidak mustahil ia bisa kembali ke Jawa, ke kota-kota besar pusat kaum terdidik, ke Jogjakarta dan Jakarta, melalui bilik suara kemudian senjata. Siapa yang bisa menjamin jika Fasisme Indonesia kelak tidak akan lahir dari wajah-wajah Melayu yang dibesarkan di Kodam Kasuari?

Well, ‘America First, Indonesia Second!’ ***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus