Dibuka! Sayembara Hoax dan Fiksi Politik Nasional 2017!

Print Friendly, PDF & Email

PARA pembuat hoax sejatinya adalah orang-orang yang imajinatif. Dengan modal ponsel, kuota, dan kecakapan mengemas segala sesuatu secara sensual, orang-orang ini sungguh mampu menciptakan sebuah semesta yang luar biasa berbeda dari yang dihuni orang-orang berpikiran waras. Kadang isinya plintiran dari berita-berita media arus utama. Kadang skenarionya diambil dari belahan dunia lain, lalu dicocok-cocokkan dengan situasi lokal. Rumor pekerja Cina misalnya, adalah isu lama gorengan kaum sayap kanan Eropa yang setahun belakangan ramai di media setempat. Di Jerman sebelum ramai arus pengungsi, pekerja tamu asal Turki dipermasalahkan. Di tempat lain, pekerja Turki sebagai objek penderita bisa digantikan pekerja asal Kaukasia atau Yunani.

Dua abad silam Wilde berkelakar bahwa pada dasarnya hidup adalah tiruan karya seni, kemudian pada 1970-an Woody Allen mengeluhkan masyarakat yang kondisinya makin mirip acara TV busuk. Hari ini, kehidupan nyata tak lebih dari imitasi berita palsu.

Soal kenapa hoax ini muncul sudah ada berbagai macam analisis. Menguntungkan? Jelas. Kalau Bung dan Nona punya anak remaja, bersiap-siaplah sport jantung seandainya mereka menyatakan keinginannya untuk bekerja di Obor Rakyat dan Jonru Media Center setelah lulus. Media-media mainstream partisan? Itu juga jelas, meskipun media-media non-mainstream yang tak jelas struktur keredaksiannya itu jauh lebih ngawur dan sulit diminta pertanggungjawabannya.

Saya heran, dari analisis tentang kecenderungan media-media besar ini, belum saya temukan yang menyinggung masalah kesejahteraan dan beban kerja wartawan—bagaimana Anda bisa menghasilkan laporan yang baik jika Anda harus menulis sepuluh berita sehari dengan gaji yang bikin mengelus dada? Ujung-ujungnya, menulis berita jadi perkara menulis ulang keterangan pejabat, polisi, dan ‘pihak berwenang’ lainnya, atau sekadar meminjam mulut pengamat. Apakah pembacanya merasa terwakili dengan statement-statement itu? Barangkali itulah satu dari sekian alasan mengapa orang lari ke situs abal-abal: karena merasa kehidupannya tidak terwakili oleh omongan pejabat dan pengamat.

Yang juga luput adalah kebiasaan orang mengandalkan kasak-kusuk, yang sudah berlangsung sejak jaman Suharto. Karena pernyataan pemerintah dianggap tak terpercaya, birokrasi bertransaksi dengan peraturan-peraturan tak tertulis, informasi publik terbatas, dan pers direpresi, larilah orang ke rumor, yang dalam keadaan-keadaan gawat justru disebarluaskan aparat. Ketua LAPAN sebulan lalu meladeni komunitas penggemar teori bumi datar. Apakah yang diladeni itu hari ini sudah insyaf? Orang-orang ini—yang saya yakin akan mempersoalkan apakah perempuan itu manusia atau bukan di masa depan—justru menuduh si ketua LAPAN berbohong dan bagian dari ‘elit global,’ dengan jawaban-jawaban yang mbulet dan menghina nalar.

Ada masanya ketika orang memakai eufemisme ‘fakta alternatif’—sebagai lawan dari fakta empiris yang tak perlu diperdebatkan lagi—untuk menyebarkan kebohongan. Kalangan Kristen fundamentalis Amerika, misalnya, menghendaki agar Kreasionisme dan Intelligent Design diajarkan di sekolah-sekolah sebagai ‘alternatif’ untuk teori evolusi. Hari-hari belakangan, dunia makin ruwet ketika orang-orang ini, yang terbiasa makan sampah ‘fakta alternatif’, duduk di pemerintahan dan menjadikan ‘fakta alternatif’ pijakan bagi kebijakan publik. Trump jadi presiden salah satunya karena persebaran ‘fakta alternatif’, demikian pula Suharto 50 tahun lalu. Bahkan dengan modal ‘fakta alternatif’ tadi, kaum ultra-kanan Amerika menuduh sumber-sumber informasi yang kredibel sebagai Lügenpresse, pers pembohong, istilah yang pernah digunakan Hitler untuk mendiskreditkan media pada tahun 1930an.

Kemudian di sini orang ramai bicara tentang usaha memerangi hoax, mendirikan media pemeriksa fakta, hingga pemblokiran situs. Beberapa inisiatif ini patut didukung. Berhasil atau tidak, masih perlu ditunggu. Salah satu cara bekerjanya inisitaif ini adalah dengan mengekspos kebohongan kepada publik dan menegakkan lagi dinding pembatas antara fakta dan imajinasi; kenyataan dan fantasi.

Tentu saja fantasi adalah kebutuhan dan keniscayaan. Mustahil dihapus, kecuali Anda menghendaki rezim totaliter yang semua rakyatnya adalah robot. Bukannya orang mengkonsumsi berita abal-abal juga karena merasa fantasi-fantasi rasisnya itu—yang berbasis prasangka—tidak terakomodir oleh media arus utama? Kenyataannya, makin diblokir ia makin dicari orang. Mirip-mirip film porno, dari cara penyebaran hingga cara menghayatinya. Pornografi tetap ditonton betapapun akrobat-akrobat di dalamnya tidak masuk akal; dicari di pasar-pasar gelap—atau hari ini melalui koneksi VPN; dan mampu mengakomodir khayalan liar seks multi-orgasme para perjaka, perawan dan manusia-manusia kesepian.

Maka saatnya menegaskan fiksi sebagai fiksi dan membuatnya tidak relevan untuk politik. Namun fiksi, sengawurnya apapun isinya, punya kontribusi besar dalam peradaban manusia. Dengan mengurung hoax ke dalam kerangkeng fiksi, sesungguhnya kita tetap menghargai kapasitas manusia untuk berkhayal, betapapun ngawur dan bangkrut—bukankah Hitler gagal masuk Akademi Seni Rupa Wina dan sebelum direken jadi ‘sejawaran’ Nugroho Notosusanto menulis novel medioker? Bung dan Nona, sejarah akan sungguh berbeda seandainya dunia kreatif menerima mereka dengan tangan terbuka.

Anda tahu Razzie Awards? Razzie Awards adalah penghargaan anti-Academy Awards di Amerika sana. Sementara Academy Awards mengganjar piala Oscar kepada film terbaik, sutradara terbaik, aktor terbaik, dan seterusnya. Setiap tahun Razzie Awards mengganjar penghargaan kepada film-film busuk dan dengan begitu mengekspos kepada masyarakat luas apa saja kriteria untuk menilai film buruk. Melalui penghargaan tersebut, orang pun bisa paham bahwa film-film buruk tetap didanai, diproduksi, dan tiketnya dibeli di bioskop.

Bagaimana jika mekanisme yang sama diterapkan ke dunia kabar palsu dan gosip jahat? Kita perlu membuat sistem yang agak berbeda dari Razzie Awards. Dalam sejarah sinema, ada beberapa film yang saking jeleknya jadi terlihat sangat bagus, seolah-olah kejelekannya itu disengaja. Memang sulit film-film ini mendapat penghargaan bergengsi, tapi terlalu canggih pula untuk Razzie Awards. Demikian juga hoax. Ada jenis hoax yang baru paragraf pertamanya saja sudah menunjukkan kualitas kacangan, tapi ada juga yang terlalu keren dan didukung bukti-bukti yang meyakinkan—meskipun plintiran. Dua spesies ini harus dibedakan; yang satu patut diapresiasi dan diberi penghargaan setara karya fiksi jenius, sementara yang kedua cukup dilempar ke keranjang sampah.

Badan-badan pemerintah terkait semestinya bekerjasama untuk mengadakan acara penghargaan dan Sayembara Penulisan Hoax Seluruh Indonesia. Tujuannya supaya semua orang tahu bahwa berita palsu dan gosip jahat, selain mendatangkan uang dan keuntungan materil lainnya, juga merupakan kreativitas manusia yang sepantasnya punya tempat. Para buzzer politik, penulis berita abal-abal, dan akun-akun gelap mesti siap menerima nominasi dan kaya mendadak jika menang. Kalau Bung dan Nona berpikir bahkan karya-karya seni dan sastra hari ini kurang menggugah, kurang bikin deg-degan, maka Anda harus dukung penghargaan ini. Dalam kurun waktu lima tahun, saya yakin dunia penulisan fiksi kita tidak akan kekurangan pasokan karya-karya cemerlang dari genre thriller politik. Lha gimana, serius nggak sih garap ekonomi kreatif?

Oh iya, untuk penyelenggaraan perdana penghargaan ini, saya usulkan supaya Suharto, Nugroho Notosusanto, Angkatan Darat, dan Taufiq Ismail dianugerahi lifetime achievement award.***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus