Lefebvre dan Visi Eskatologis Kekristenan Bagi Pembebasan Ruang Kota

Print Friendly, PDF & Email

Gambar diambil dari www.TheProtoCity.com

 

DALAM percakapan mengenai ilmu tata kota dan perkotaan, agama sering kali luput dari variabel yang diperhitungkan. Seperti yang sudah sangat familiar kita saksikan dalam beragam ujaran meme di media sosial: “Agama itu seperti alat kelamin, adalah baik memilikinya, tetapi tidaklah bijak memamerkannya di muka umum.”

Jelas ada asumsi modern sekular dan individualis di balik meme ini: “Agama itu baik, tapi itu urusan personal dan tempatnya jelas bukan di ruang publik seperti kota.” Dalam pengalaman lebih dari satu dekade pasca reformasi ujaran meme ini tampaknya jitu dalam meredam satu masalah yang menjengkelkan banyak orang, yaitu dipaksakannya hukum moral satu agama yang bersifat koersif di ruang publik.

Namun apakah asumsi individualis ini adalah satu-satunya cara kita memeluk agama dengan cara yang membebaskan, khususnya di hadapan penindasan terhadap warga miskin di kota-kota besar di Indonesia?

Melalui artikel ini, penulis hendak mendiskusikan jalan alternatif tentang bagaimana agama dapat hadir di ruang publik dan membawa transformasi untuk pembebasan akses ruang bagi semua warga kota. Artikel ini hendak menyoroti bagaimana teologi Kristen yang progresif mengenai eskatologi kota bersama dengan konsep penguasaan ruang dari Henri Lefebvre, seorang sosiolog Marxis dari Prancis, dapat menyediakan alternatif narasi untuk cita-cita kota yang partisipatif dan emansipatoris bagi semua warganya.

Di dalam teks-teks agama Kristen, kita menemukan beberapa ambiguitas tentang kota. Sekalipun dalam sejarahnya kekristenan berkembang di kota-kota besar di dunia pada abad pertama (kekristenan sering dipertentangkan dengan paganisme yang berasal dari kata latin Paganus, yang berarti agama orang desa), tetapi banyak teks Alkitab perjanjian lama mengisahkan kota-kota seperti Sodom, Gomora, Babel (Mazmur 137, Yehezkiel 16:49-50) sebagai ikon dari kefasikan dan dosa, tempat turunnya penghakiman dan murka Allah. Tapi itu rupanya bukan satu-satunya gambaran mengenai kota di dalam teks-teks Alkitab. Pasca gerakan Yesus di tanah Palestina, kekristenan dilanjutkan oleh Rasul Paulus di kota-kota besar di timur jauh. Misalnya Tesalonika (ibukota Makedonia), Korintus (salah satu kota besar pusat perdagangan dalam imperium Romawi yang sudah didirikan sejak zaman Neolitikum, 6000 SM), Frigia (pusat kegiatan ekonomi 19 km di utara Laodikia), Efesus (pusat kebudayaan yang berdiri sejak 10 abad SM), Kolose dan lain-lainnya.

Pertanyaannya, mengapa konsentrasi gerakan pengikut Yesus ini bergeser ke arah kota? Bukankah Yesus memulainya dari desa-desa Palestina? Jawaban untuk pertanyaan ini adalah konsep internasionalisme dari visi politik kerajaan Allah yang dibawa Yesus. Sebagamana kita ketahui bersama bahwa sejak awal gerakan kerajaan Allah yang dibawa Yesus senantiasa bersifat sosio-politis. Gerakan kerajaan Allah tersebut secara vis a vis menentang kekuatan politik status quo yang fasistik dan menindas: Imperium Romawi. Mengikuti Yesus, bagi orang Kristen Perdana, bukanlah perkara mengikuti guru spiritual yang memberi petunjuk moral dan katarsis dari tekanan hidup yang berat. Mengikuti Yesus, bagi orang Kristen Perdana, jelas berdimensi material, politis dan tentunya berdimensi ruang yang senantiasa   bersentuhan dengan visi politik untuk membawa tatanan baru kerajaan Allah yang membebaskan  kemanusiaan, mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria, sampai ke ujung-ujung bumi ini (Matius 28-18-20).

Sebagaimana potongan doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus: “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga,” maka jelas visi eskatologis dari kekristenan bukanlah mengirim orang ke surga di dimensi astral di masa depan, melainkan membumikan visi keadilan kerajaan surga ke muka bumi, yang dalam bentuknya yang materil ini sejak kebangkitan Yesus sampai terwujudnya kelak revolusi, yaitu datangnya kota-kota baru di muka bumi.

Berkaitan dengan itu, sepenggal gambaran mengenai akhir zaman di dalam Kitab Wahyu pasal 21 sungguh sangat menarik. Alih-alih memberikan sebuah visi surga utopis yang berisi kumpulan orang suci berbaju putih yang menyanyi siang dan malam, berikut gambaran akhir zaman itu :

Wahyu 21:1-4 Alkitab terjemahan baru LAI 1974

21:1 Lalu aku melihat langit (ουρανος-ouranos) yang baru dan bumi (γη-ge) yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.
21:2 Dan aku melihat kota (πολις-polis) yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.
21:3 Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.
21:4 Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”

 

Kitab Wahyu sebagai kitab terakhir di Alkitab Perjanjian baru, ditulis oleh Rasul Yohanes(Seorang tahanan politik di Pulau Patmos) untuk menyuguhkan wawasan eskatologis[1] tentang seperti apa situasi ketika revolusi datang saat kiamat itu.

Menurut Kitab Wahyu 21 ayat 1, ketika akhir zaman itu datang, langit (ουρανος-ouranos), “yang pertama” adalah gambaran metaforik dari kekuatan politik penindasan imperium Romawi diganti dengan tatanan politik baru, yaitu tatanan politik kerajaan Allah yang membebaskan semua umat manusia. Hal ini menurut kitab wahyu akan berimplikasi pada hasdirnya bumi (γη-ge) yang baru (Wahyu 21:1) yang dimulai dari adanya kota (πολις-polis) Yerusalem baru (Wahyu 21 : 2), yang hadir untuk menghapus air mata warganya yang tersingkirkan. Pada hari itu diyakini bahwa semua paham tua dan tatanan lama akan digantikan dengan tatanan sosial politik yang baru. Sepanjang sejarah Gereja di sepanjang abad dan tempat, teks ini menjadi dasar pengharapan tentang adanya masa depan yang lebih baik di bumi ini di hari akhir pada saat Yesus Kristus kelak datang kembali.

Pengharapan ini tidak lahir dari ruang hampa. Kita sama-sama tahu betapa tiraniknya polis-polis imperium Romawi pada abad pertama. Menurut sarjana perjanjian Baru NT Wright dalam bukunya Surprised by Hope, kelompok Kristen adalah satu dari banyak kelompok minoritas lainnya yang digilas laju pembangunan kota yang berorientasi pada pemujaan dan kepatuhan mutlak pada Kaisar.

Teks dari kitab Wahyu 21 ini menjadi sumber kekuatan komunitas Kristen Perdana di kota-kota besar saat itu untuk hadir dan bertahan di tengah-tengah himpitan penguasa (NT Wright, 2009,56). Kesetiaan komunitas Kristen Perdana bertahan di bawah tekanan adalah sebentuk perwujudan iman di dalam perbuatan, bahwa revolusi kerajaan Allah sedang dan kelak (already but not yet) mentransformasi dan merebut ruang-ruang kota dari kuasa Kekaisaran Romawi dan dari berbagai kuasa imperial lainnya.

Menurut hemat saya, dari dasar teologis ini kita bisa masuk ke gagasan Henri Lefebvre untuk membantu kita mewujudkan visi-visi teologis ini dalam tindakan.

Bagi Lefebvre, ruang senantiasa merupakan ruang sosial karena diproduksi secara sosial (Lefebvre, 1974, 26). Gagasan Lefebvre yang lebih dikenal sebagai teori produksi ruang itu berisi pemahaman bahwa secara fundamental ruang terikat oleh realitas sosial. Bagi Lefebvre, pemahaman ruang sebagai pada dirinya sendiri tidak akan pernah menemukan titik mula epistemologis yang memadai. Ia menegaskan bahwa ruang tidak pernah ada pada dirinya sendiri. Ruang secara niscaya diproduksi secara sosial baik secara personal maupun secara kolektif. Sesungguhnya tidak pernah ada ruang publik seperti taman, jalan raya, perpustakaan, rumah ibadah bahkan pojokan trotoar tempat para penjaja “starling[2]” hadir semata-mata karena idealisme sang pengagas atau aristeknya. Semua ruang beserta artefaknya, bahkan irisan ruang yang sempit sekalipun, senantiasa hadir sebagai sebuah pernyataan politik (political statement) antar kelas sosial dan kelindan berbagai fungsi aparatus yang hendak memberi makna, imajinasi bahkan membentuk perilaku warga.

Ruang kota merupakan arena perjumpaan atas berbagai kepentingan. Kontrol atas ruang menjadi sebuah pergulatan kuasa dari subyek-subyek yang berada di balik kepentingan tersebut. Pengertian tentang produksi di sini bukanlah seperti istilah produksi yang berbentuk barang atau jasa semata, tapi sebuah proses yang meliputi ‘multiplicity of works and great diversity of forms’ yang disederhanakan dalam tiga konsep: production (proses), product (hasil), dan labour (buruh) yang merupakan fondasi ekonomi dan politik. Dalam kaitannya dengan apa yang diproduksi, ruang dalam hal ini menjadi bagian dari sebuah produksi proses sejarah, yang meliputi persinggungan dari waktu (time), ruang (space) dan manusia (people) yang hidup didalamnya. Dari pilin kelindan ketiganya inilah terbentuk ruang materialisasi masyarakat sebagai social being (Levebvre, 1974:60). Di sini Lefebvre mengkritisi konsep dari ruang abstrak dari budaya modern kapitalis yang cenderung mereduksi pemahaman ruang dengan segala kekayaan sejarah memori koletifnya, kultural dan sosio-ekonomi menjadi sebuah abstraksi yang cenderung homogen dan dipahami secara individualis.

 

lefeb

Foto Henri Lefebvre diambil dari commons.Wikimedia.org

 

Persoalan yang dicermati Lefebvre adalah bagaimana relasi antar-ruang yang termapankan melalui struktur ilmu pengetahuan juga memapankan relasi antara manusia dengan objek dalam sebuah ruang yang direpresentasikan. Dalam situasi ini, manusia tersubordinasi ke dalam kerangka logika geopolitik yang dilakukan kelompok dominan. Ruang urban yang dihidupi manusia kini telah membangun logika spasialnya sendiri untuk memapankan posisi dominan penguasa, dan lebih jauh lagi, logika spasial tersebut diperlukan untuk memaksa masyarakat urban memahami hirarki kekuasaan yang ditanamkan negara dan pemilik modal ke dalam ruang urbannya. Menjadi penting, misalnya, pusat perbelanjaan (mall) sebagai ruang urban yang bersifat publik menjadi kiblat budaya populer kota senantiasa berada di pusat kota dengan bangunan yang megah dan memakan area yang luas.[3] Namun “ruang urban ” ini jelas tidak diperuntukkan untuk semua warga kota. Karena ruang ini memberi syarat bahwa hanya orang yang dapat membelilah yang diperbolehkan mengakses ruang ini.

Bagi Lefebvre gerakan syahid warga kota tidak kurang dari upaya berjuang merebut ruang-ruang urban. Sebuah perjuangan yang tidak boleh semata dipahami sebagai sebuah urutan (sequence) yang dikerjakan secara parsial, melainkan sebagai proyek besar dan kolektif seluruh elemen warga kota pada kekuatan pemilik modal yang menghegemoni ruang kota. Proyek merebut ruang kota ini mesti hadir di dalam dinamika dialektis yang bertegangan   antara utopia (pengharapan eskatologis) dan distopia (kondisi riil yang serba sungsang). Menurut Lefebvre, di dalam tegangan inilah dibangun   benih-benih ruang baru, yaitu ruang diferensial yang membuat perbedaan-perbedaan akan dihargai sehingga dinamika pertumbuhan ruang terjadi secara organik mengikuti corak produksi dan arah kebudayaan komunitas pengampu ruang tersebut.

Setiap ruang-ruang di kota bukan saja merefleksikan pemahaman masa lampau, tapi menjadi medium untuk mengimajinasikan, mengantisipasi dan membantu mengangkat kemungkinan-kemungkinan baru bagi terjadinya partisipasi setiap warga   didalamnya (Lefebvre,2000: 71). Pembangunan kota tidak bisa dilihat secara parsial sebagai semata-mata persoalan kebutuhan pragamatis untuk membangun kota yang seragam, lebih bersih, efisien dan terlihat estetis. Lebih daripada itu pembangunan kota mesti memberikan ruang bagi rasa keadilan dan aspirasi politik setiap warganya. Warga kota bukanlah komoditas yang bisa dicap, dipoles dan dikemas secara seragam oleh penguasa dengan satu standar kultural. Bagi Lefebvre, bentuk pengasingan dan penindasan yang dilakukan penguasa kepada masyarakat terjadi ketika keseharian warga (everyday life) yang menjadi sumber identitas primordial dicabut begitu saja dan memaksanya mereka masuk dalam modus kultural dan ekonomi yang baru di luar habitat mereka (Lefebvre, 2000: 81).

Dalam kasus Kampung Pulo beberapa bulan silam, misalnya, dapat kita lihat begitu banyak masalah yang dihadapi warga gusuran di tempat baru. Sebagaimana dilaporkan jurnalis Evi Mariani beberapa hari silam dalam Jurnal karbon[4] :

“Rancangan rusunawa Jatinegara Barat disayembarakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Para arsitek yang ikut sayembara tidak mengenal calon klien mereka yang akan tinggal di situ. Mereka tak pernah bertanya, apa saja kebutuhan calon penyewa di sana. Sialnya, calon penyewa tidak bisa memilih. Suka tidak suka, mereka harus tinggal di situ karena rumah mereka di Kampung Pulo sudah hancur dibuldoser bulan Agustus 2015. Di rusunawa, warga juga tidak boleh berbisnis. Jadi, yang biasa bikin sate usus di rumah untuk dijual di pasar, mendadak kehilangan ruang produksi. Yang biasa jualan jajanan kecil-kecilan di rumah, juga harus kucing-kucingan dengan pengelola.

Gedungnya sih mentereng; putih, menyilaukan mata jika kena terik matahari. Unit-unitnya juga kelihatan manis dan bersih. Mungkin para apologis penggusuran bisa datang ke sana, menenteng kamera, lalu dengan intipan mata mereka yang mengidap inlander complex, mengambil foto warga yang sedang tersenyum di situ, mengunggahnya di Twitter dan bercerita tentang bagaimana rusunawa memanusiakan korban gusuran. “Wow, dapurnya di depan, seperti apartemen di AS. Lihatlah bagaimana pemerintah telah mengangkat mereka dari kekumuhan dan membuat orang-orang ini jadi beradab.

Di balik fisik mentereng rusunawa tersembunyi kenyataan hidup yang pahit yang dialami banyak penghuni rusun: pemasukan menurun, pengeluaran meningkat. Kondisi warga rusunawa dalam keadaan tergusur, aset ekonomi hilang dan hancur, tabungan hanya cukup untuk bertahan hidup beberapa bulan saja. Lalu tabungan habis, sementara masa sewa gratis berakhir.”

Merelokasi secara serampangan warga Kampung Pulo, jelaslah tidak dapat menyelesaikan dampak dari perampasan ruang di habitat lama warga. Tindakan relokasi ini nyata-nyata merusak satu tatanan kampung yang berekses pada tercerabutnya warga dari aktivitas sehari-hari yang menjadi sumber kehidupan mereka.

Bagaimana komunitas agama-agama, secara khusus umat Kristen, dapat mengambil bagian di dalam pembanguan ruang ini? Menurut hemat saya teologi Kristen dengan semangat eskatologinya tentang hadirnya kota yang baru, dapat memulai hal itu di dalam proyek-proyek misi diakonia, merebut ruang-ruang di kota untuk kebaikan bersama (Communne Bonum) segenap warga kota. Di tengah ruang-ruang yang setiap hari semakin dikooptasi oleh industri properti, teologi yang berorientasi pada pembebasan ruang bagi semua warga kota mesti secara operatif mengarahkan umat untuk membangun gerakan merebut ruang bagi segenap warga kota. Sehingga ruang yang tadinya tidak hadir dalam kesadaran umat menjadi “ditemukan” oleh keadaban yang baru. Misalnya, dalam banyak percakapan dengan beberapa warga Gereja di Jakarta, saya dalam beberapa kesempatan menemukan pendapat bahwa dari sisi pertimbangan moral menggusur warga miskin di Bukit Duri beberapa minggu silam itu dianggap sebagai satu-satunya pilihan terbaik (lesser evil) dan etis. Tetapi apakah cuma itu pilihannya? Jawabannya tentu saja tidak! Pengharapan eskatologis kristen dapat memberi visi baru yang partisipatoris dan meruntuhkan moralitas individualis semu (yang bertendensi fasis) yang mewabahi umat. Alih-alih menggusur, dan nyinyir dan menyalahkan orang miskin, semangat eskatologi yang progresif dapat memberi cita-cita baru bahwa membangun kota dan membuat habitasi yang beradab bagi semua orang adalah perkara serius dan berelasi langsung dengan komitmen pemberitaan injil. Ini adalah masalah sistemik yang merupakan medan pertarungan antara kuasa kerajaan Allah yang memberi ruang kehidupan bagi semua orang versus kuasa imperium korporasi yang ingin menelan hidup kaum terpinggirkan dan orang miskin kota. Masalah tata ruang kota dan pengorganisasian warga kota untuk menempati habitat yang beradab, kini memasuki dimensi perjuangan baru yang bernilai teologis sebagai ladang misi menghadirkan kerajaan Allah di berbagai kota.

Injil Kerajaan Allah tidak dapat hadir tanpa ruang material yang partisipatif bagi semua orang. Itu sebabnya, barang siapa yang melakukan hegemoni ruang material adalah musuh kerajaan Allah, musuh Injil yang mesti dilawan dengan jalan Yesus Kristus. Dan implikasi dari hal itu menjadi sangat praktis, semisal gereja di kota-kota besar mesti berani menolak menerima bantuan dari para developer dan kroni-kroninya yang menjadi bagian dari imperium penelan ruang keadaban. Gereja di kota-kota besar mesti berani pasang badan menjadi perpanjangan suara bagi mereka yang tidak bisa bersuara karena riuh rendahnya opini publik yang tidak berpihak pada orang miskin yang digusur oleh rezim berkuasa. Injil yang membawa kehidupan baru kepada dunia mestilah Injil yang dihadirkan gereja yang membawa kabar baik bahwa Kerajaan Allah sesungguhnya ada di antara kamu (Lukas 17:21), di dalam ruang-ruang yang engkau rebut dari kuasa Imperium bagi segenap warga kota. Kota yang memberikan keramahtamahan (hospitalitas) ruang material bagi semua orang.***

 

Penulis adalah pengasuh diskusi selasaan dan diskusi rabuan Gereja Komunitas Anugerah Salemba

 

————–

[1] Eskatologi (dari bahasa Yunani ἔσχατος, Eschatos yang berarti “terakhir” dan -logi yang berarti “studi tentang”) adalah bagian dari teologi dan filsafat yang berkaitan dengan peristiwa-perisitwa pada masa depan dalam sejarah dunia, atau nasib akhir dari seluruh umat manusia, yang biasanya dirujuk sebagai kiamat (akhir zaman).

[2] Starling adalah julukan yang dikenakan keapda para penjaja kopi instan dan teh instan yang menggunakan sepeda yang senantiasa hadir diberbagai pojokan ibukota Jakarta. Kehadirannya bisa dijumpai dimanasaja dipojokan trotoran,sela-sela taman kota hampir sepanjang hari selama 24 jam.

[3] Grand Indonesia merupaSumber:kan salah satu mal terluas di Jakarta yang belokasi di Jantung Kota Jakarta di jalan M.H. Thamrin. Mal ini dibuka pada tahun 2008 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tediri lebih dari 300 toko seluas 250.000 m2. https://id.wikipedia.org/wiki/Grand_Indonesia_Shopping_Town

[4] http://jurnalkarbon.net/web/id/esai/dapur-di-depan-dan-kakus-tanpa-keran-di-rusunawa/

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus