Yayak Yatmaka: “Aku tak terlalu peduli pada aliran dalam seni lukis, aku hanya akan terus mencatat pertarungan antar kelas yang terjadi.”

Di tengah kebencian yang tak kunjung usai terhadap komunisme serta hal-hal lain yang berbau ‘Kiri’, akhir tahun 2015 lalu, terbit satu buku tebal berjudul Sejarah Gerakan Kiri Indonesia (untuk Pemula). Dalam buku itu, sejarah Gerakan Kiri di Indonesia dijelaskan dalam berbagai ilustrasi gambar, dan buku itu pun didiskusikan khalayak dalam berbagai forum dan kesempatan. Tidak lama setelah itu, ketakutan dan phobia terhadap komunisme dan hal-hal berbau ‘Kiri’ lainnya kembali merasuki nalar yang digunakan dengan sangat terbatas oleh state apparatus. Ketakutan dan phobia yang bersumber dari kebencian tanpa pengetahuan yang memadai mengenai hal yang dibenci itu pun kemudian hendak diatasi dengan solusi yang tak kalah konyol: pemusnahan buku-buku Kiri.

Dalam semangat untuk terus menghidupkan pengetahuan dan nalar, Fathimah Fildzah Izzati dari Left Book Review (LBR) Indoprogress mewawancarai Yayat Yatmaka, salah satu penggagas Sejarah Gerakan Kiri Indonesia (untuk Pemula) dan ilustrator dari buku setebal 600 halaman tersebut. Yayak yang telah terlibat dalam perlawanan terhadap penindasan dan ketidakadilan melalui seni (seni rupa, lagu, dan sebagainya) sejak lama, membagi pengalaman dan pandangannya dalam wawancara berikut ini:

 

Sebelum berbicara lebih jauh soal aktivitas melukis bung, ada baiknya kita berkenalan lebih jauh. Bisa diceritakan bagaimana sedikit fragmen hidup Anda yang akhirnya membuat Anda percaya bahwa gambar adalah senjata?

Semasa SMA di Yogyakarta, sebagai Pemimpin Redaksi dan ilustrator majalah sekolah, aku telah beberapa kali mendapatkan skorsing dari pimpinan sekolah karena gambar bermuatan kritik yang kubuat. Selama menjalankan studi desain grafis di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB) sejak tahun 1977, aku juga aktif di kegiatan Dewan Mahasiswa (DM) ITB. Aku aktif membuat poster, pamflet dan media propaganda melawan Soeharto dan Orde Baru (Orba), sampai kemudian DM ITB dilarang dan kampus ITB diduduki tentara. Skripsiku pada waktu itu meneliti Propaganda Orba melalui baliho yang dibuat oleh Syamsul Yogya serta tugas akhir yang berjudul “Media Pendidikan Petani”. Selesai kuliah, aku kemudian aktif di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (Samin), berkegiatan membangun jaringan nasional Pendidikan Alternatif Anak Merdeka, yang di antaranya memanfaatkan seni sebagai media dan metode didik alternatif bagi anak-anak yang terpinggirkan di wilayah-wilayah konflik di Indonesia. Selama itu pula, aku terus aktif sebagai desainer grafis freelance, dimana di antaranya menjadi ilustrator lepas beberapa koran/majalah serta ilustrator buletin milik beberapa Non Government Organization (NGO). Selama beraktivitas di NGO, aku kerap membuat beberapa brosur atau selebaran panduan penyadaran maupun pengorganisasian perlawanan untuk buruh, petani dan masyarakat miskin kota. Selain itu, aku juga membuat media kampanye dan propaganda perlawanan berupa komik dan desain untuk poster, sticker, gambar kaos, dan lain-lain. Dalam kerja kampanye itu, tepatnya pada tahun 1990, aku diundang untuk berkeliling ke sekolah-sekeolah dan organisasi-organisasi petani di 35 kota di Perancis, setelah komikku yang berjudul ‘TINI. Pekerja Anak di Perkebunan Tembakau Boyolali’ diterbitkan di sana. Gambar sebagai senjata rakyatpun kemudian terumuskan dan diyakini efektivitasnya. Sebagai senjata untuk penguatan dan penyadaran diri rakyat, maupun untuk menyerang lawan.

 

Salah satu lukisan Anda yang paling terkenal di masa Orde Baru adalah ‘Tanah untuk Rakyat’. Agaknya ini menjadi semacam batas kesabaran Orde Baru yang akhirnya, sebagaimana kita tahun bersama, mengejar-ngejar Anda. Bisa diceritakan bagaimana konteks kelahiran lukisan tersebut?

Dalam konflik agraria yang terjadi antara petani dengan pemerintah atau pengusaha, kekuatan tentara atau polisi kerapkali digunakan hingga mendatangkan korban tewas atau luka-luka di pihak rakyat petani dan ini semua terjadi di banyak tempat di Indonesia. Konflik dengan pemerintah, misalnya proyek pembangunan Waduk Kutopanjang, Kedung Ombo, Karangkates, Wonogiri dan sebagainya, proyek Taman Wisata Borobudur dan Prambanan, perumahan AURI dan Marinir di Majalaya dan Pasuruan. Kemudian, konflik lahan dengan perusahaan/keluarga Cendana: Talangsari Lampung, Pelabuhan Udara Cimerak, kandang sapi Tapos, lapangan golf Cimacan, tambang emas oleh Freeport, Newmont dan sebagainya. Di Papua, Sulawesi, Flores, Maluku dan Kalimantan, perkebunan Sawit di Sumatera, perusahaan migas di Sumatera/Aceh, Kalimantan, dan sebagainya.. Jaringan NGO pendamping rakyat saat itu bersepakat mengorganisir petani untuk melakukan perlawanan. Diperlukan media pemersatu, yang menyadarkan rakyat petani bahwa penyebab dan biang segala konflik itu adalah karena pemerintahan fasis Orba. Maka dibuatlah poster kalender ‘Tanah Untuk Rakyat’ itu, dengan atas nama dan penanggung jawab beberapa NGO, lengkap dengan semua logonya. Kasus ‘tanah air’ tentu saja berhubungan dengan konflik yang terjadi di Aceh, Papua dan Timor Timur.

 

Anda sempat pergi menyelamatkan diri ke luar negeri dan akhirnya kembali. Bisa diceritakan apa yang membuat Anda mengambil keputusan itu, dan mengapa kembali lagi ke Indonesia?

Poster ‘Tanah Untuk Rakyat’ pada bulan Maret 1991 dilarang diedarkan di seluruh wilayah Indonesia oleh Kejaksaan Agung. Beberapa mahasiswa/petani/aktivis pengedar dan pemasang poster tesebut ditangkap di beberapa kota dan disiksa polisi dan tentara. Bulan Mei 1991, aku sebagai penggambar dinyatakan sebagai buronan subversif, artinya boleh ditangkap hidup atau mati. Setelah beberapa bulan bersembunyi di bawah tanah, kawan-kawan mengusahakan agar aku bisa lolos ke luar negeri dan baru pada 1992, usaha itu berhasil. Selama di Eropa, aku sempat bergabung bersama para pelawan Orba dan bersama membangun Jaringan Oposisi Demokratis Indonesia di Eropa. Ketika pertama sekali kembali ke Indonesia di akhir 1998 dan tahun 2000, aku bersama kawan-kawan pelawan Orba dan ex Community Organizer dari berbagai wilayah di Indonesia membangun OTB bernama Perguruan Rakyat Merdeka (PRM). Di tahun yang sama, juga bergabung dengan kawan-kawan Taring Padi Yogyakarta. Di antara guru di PRM adalah Gus Dur. Pada tahun 2005, aku kembali ke Indonesia untuk hidup dan bekerja dengan harapan bisa mewujudkan cita-cita membangun Indonesia yang lebih baik dibanding sewaktu di bawah Rezim Orba.

 

Kalau Anda diminta menyebutkan aliran lukisan Anda, apa aliran yang ingin Anda sebutkan?

Aku tak terlalu peduli pada aliran dalam seni lukis yang ada. Terserah orang menamainya: Realisme Sosial, Seni Untuk Rakyat, NeoReSos, Realisme Sosialis, Seni untuk Pembebasan dan sebagainya. Aku hanya akan terus mencatat perkembangan peradaban manusia dan peristiwa pertarungan antar kelas yang terjadi. Dan akan berpihak kepada rakyat banyak, rakyat yang ditindas.

 

Selain gambar, Anda juga membuat puisi yang kemudian digubah menjadi lagu. Yang paling terkenal tentu Sama-sama yang jadi semacam lagu wajib para aktivis. Apa tujuan Anda bergerak di bidang seni kritis ini? Apakah salah satunya untuk melawan hegemoni seni untuk seni yang digawangi para budayawan Manikebu?

Tujuannya untuk membuka kesadaran dan menawarkan adanya alternatif lain selain yang selama ini berkembang kuat di masyarakat, terutama akibat pembudayaan sistematis oleh agen/cecunguk asing dan begundal nekolim/ kapitalis neolib semacam Manikebu itu. Dan melawannya! Menunjukkan juga bahwa Aku/Kami/Kita (bagian dari rakyat tertindas) selalu berdaya juang dan siap berlawan.

Tentang lagu, aku ini termasuk ‘korban’ didik Taman Siswa karena menjadi alumninya. Sampai sekarang misalnya, aku terus mengingat dan hapal hampir seluruh operete memakai Tembang Jawa dan ratusan lagu daerah yang diajarkan dari sejak TK dan SD Taman Siswa. Metode pendidikan melalui lagu itulah yang kemudian aku pakai untuk menitipkan ajaran dan prinsip-prinsip kerakyatan, kesetiakawanan, kebangsaan, kebersamaan, kegembiraan kerja dan semangat dalam berjuang, serta kemantapan jiwa merdeka kepada Anak Merdeka, juga kepada kawan petani dan buruh, melalui lirik, irama dan melodi lagunya.

Beratus lagu untuk anak, petani dan buruh telah kutulis dan kucipta, sejak 1980. Lagu protes dan penyemangat perjuangan dan perlawanan misalnya tercipta saat kasus pertanahan di Badega, Kedung Ombo, Aceh dan sebagainya. Beberapa laguku untuk buruh misalnya telah dipakai oleh Marsinah–sebelum akhirnya dibunuh tentara—saat dia dan kawan-kawanya tengah mengorganisir diri dalam melawan penindasan majikannya. Dan pada 1998, beberapa lagu yang berjudul ‘Rakyat Bersatu’, ‘Sama-Sama’, ‘Rakyat Pasti Menang’, ‘Pasukan Rakyat Merdeka’, ‘Ke Selatan’, ‘Titik Api’, ‘Sama Kenyang’, dan lain-lain itu berbunyi di jalan-jalan, dinyanyikan oleh para pelawan Orba. Lagu-lagu itu bahkan menjadi semacam kode perkawanan, bahwa yang bisa menyanyikan lagu-lagu itu adalah kawan. Cara ini tak dikenali oleh para intel, karena diajarkan ketika pelatihan pengorganisasian perlawanan rakyat dan mahasiswa di ‘bawah tanah’.

 

Anda adalah salah satu penggagas Sejarah Gerakan Kiri untuk Pemula yang baru saja diterbitkan. Bisa diceritakan bagamana awal mula tercetusnya ide pembuatan buku ini? Kenapa akhirnya memutuskan membuat buku dengan konsep komik seperti itu?

Pada tahun 2000, aku membuat lukisan ‘Pembantaian Massal Sejak Oktober 1965’ dan dicetak poster. Ini merupakan bagian dari kampanye permintaan maaf Gus Dur pada korban PKI dan perwujudan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Pada peringatan Pembantaian Massal ‘65 ke 40, bersama kawan Taring Padi, aku membuat tiga macam poster dengan tiga macam cerita di balik poster. Lalu, pada Februari 2015, saat membuat poster berbahasa Perancis ‘Nekolim di Sebalik Pembantaian Massal 1965’ untuk dipamerkan di Konferensi Anti Kolonialisme di Paris, bertemu kembali dengan kawan Bilven dari penerbit Ultimus. Dengan dasar kelima poster itu, kami pun menegaskan kembali rencana pembuatan buku model ‘Untuk Pemula (UP)’ (For Beginners) berupa ringkasan dari Manifesto Komunis dan Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI, dua buku yang setahun sebelumnya diterbitkan Ultimus. Buku Model UP pernah kubuat tahun 2000 dengan judul ‘Militerisme di Indonesia Untuk Pemula’, yang digunakan sebagai salah satu bahan untuk membantu Gus Dur saat menjadi Presiden dalam melakukan repositioning ABRI (baca: sekarang TNI) dan kampanye demiliterisasi di Indonesia. Lumayan efektif.

Lalu aku dan Bilven sepakat memberi judul buku itu –sesuai dengan saran Rm. Baskara SJ –Sejarah Gerakan Kiri Indonesia Untuk Pemula (SGKIuP). Selain itu, kami juga sepakat bahwa buku ini berisi separuh/sedikit teks, dan selebihnya bergambar. Setelah itu, aku membuat workshop gambar, diikuti oleh puluhan mahasiswa seni rupa/penggambar.

Dengan menggunakan model cerita bergambar (Cergam)/komik, pembaca segala usia akan mudah tertarik untuk memperhatikan pesan dari buku. Dengan berbagai potensi yang dikandung gambar, kemudian orang akan terdorong untuk membaca teksnya, mencari keterangan 4W5H tentang yang ada atau terjadi dalam gambar. Untuk Pemula, itulah metodenya.

 

Sejauh ini, dalam pandangan Anda, bagaimana respon publik terhadap buku itu? Kami mendengar banyak kritik soal harga yang terlampau mahal kalau memang dimaksudkan untuk menjangkau khalayak luas.

Respon publik awalnya adalah tercengang karena ketebalan dan beratnya buku, kaget karena tema dan harga jualnya yang mahal. Secara umum, banyak yang memang memandang buku itu mahal. Tapi jika mempertimbangkan kualitas kertas dan cetakannya serta nilai isinya (gambar dan informasi), beberapa kalangan menganggapnya terlalu murah. Ini edisi setengah mewah. Segera setelah separuh buku ini terjual habis, maka akan segera terbit edisi murahnya, berharga separuh dari yang sekarang, dengan berat lebih ringan.

 

Dalam buku itu banyak porsi yang membahas pembantaian massal. Bagaimana menurut Anda soal hal ini, jika dikaitkan dengan perkembangan terbaru soal Simposium 1965?

Di Simposium 65, Jendral Sinting Panjaitan menyangkal bahwa jumlah korban pembantaian ’65 tak semassal yang dinyatakan selama ini. Diakuinya, yang dia bunuh di daerah Pati itu hanya satu orang. Tak diceritakan olehnya yang dibantai oleh Banser atau milisi yang dilatih olehya. Di hari kedua, saksi korban dari Pati menyatakan ada tujuh titik kuburan massal. Nah lo! Di buku ini, kalau mau menghitung jumlah gambar orang yang dibantai dengan berbagai cara saja sudah ada puluhan ribu! Dengan membaca buku ini, maka bisa membantu untuk mengungkap kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu. Siapa saja biang keroknya dan bahkan bisa tahu alasan-alasan apa yang mendasari terjadinya peristiwa mengenaskan itu.

 

Dalam pandangan Anda, apakah ada faktor determinan yang dapat mengubah persepsi publik tentang PKI, Komunisme, atau hal-hal sejenis, di tengah makin maraknya upaya-upaya pembreidelan oleh kelompok Kanan.

Jawabannya adalah tidak ada dan ada. Tidak ada, selama kebenaran soal Pembantaian Massal 65 belum terungkap. Ada, bila masyarakat muda berani membuat counter propaganda Orba secara terus menerus. Caranya, membuat buku-buku semacam SGKIuP ini dan mendiskusikannya secara terbuka, misalnya. Hingga masyarakat menjadi terbuka hati dan pikirannya. Hingga masyarakat jadi tahu bahwa selama ini masyarakat telah menjadi korban propaganda Orba. Hingga masyarakat muslim muda juga jadi tahu bahwa pendahulunya dulu juga hanya diakali oleh kepentingan Soeharto/Tentara AD untuk jadi boneka dan cecunguknya. Juga jadi tahu bahwa kudeta Soeharto terhadap Soekarno itu berakibat fatal dengan telah terjarah habisnya Sumber Daya Alam (SDA) di Indonesia oleh Nekolim sampai sekarang, termasuk hingga terjadinya kesenjangan ekonomi yang menganga lebar akibat terapan kapitalisme liberal (semu dan tanpa kontrol) dan seterusnya, dan seterusnya. Selain itu, jawabannya adalah ada, kalau mereka yang intoleran atau dungu begundal Nekolim sudah dibunuhi tentara karena ribut bertikai lantaran berebut sampah.

 

Bagaimana masa depan narasi Pembantaian Massal dari kaca mata seorang Yayak Yatmaka?

Setelah terbitnya buku SGKIuP, saya berharap para pemula akan melanjutkan mempelajari dan meningkatkan pengetahuannya dengan membaca buku-buku ‘babon’nya (baca: buku-buku utamanya). Narasi Pembantaian Massal ‘65 itu akan menjadi semakin masif diterima dan dihayati, hingga orang Indonesia akan secerdas orang Jerman (soal Nazi, -ed)yang mengakui kesalahannya dan berjanji kejadian itu tak akan terulang lagi. Tapi, bagaimana dari pihak pelaku penjagalan massal itu, pihak tentara dan para pemenang ? Tak tahu……

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065 atas nama Vauriz Bestika. Terima kasih..

Kirim Donasi

comments powered by Disqus