Mengapa Orang Marah Perlu Diorganisir?

Print Friendly, PDF & Email

KAWAN SAYA baru saja dibikin berang oleh satpam komplek perumahan. Dia kesal karena sapaan permisi saat melintasi portal dibalas dengan interogasi lima belas menit, plus bentakan.

Sebelum jauh-jauh berkesimpulan bahwa ‘militerisme telah merasuki sendi-sendi masyarakat’, ada baiknya memahami mengapa fenomena ‘satpam galak’ umum dijumpai.

Bayangkan pak satpam galak ini adalah warga kampung setempat. Barangkali dulu dia punya tanah yang dibeli pengembang, namun kini sudah berubah menjadi perumahan yang tiap malam dia jaga selama beberapa tahun terakhir. Oh iya, orang kampung memandangnya sebagai jago, gentho, atau kasarnya preman. Tapi itu dulu, sebelum sebagian besar tanah di kampung itu kena gusur. Dengan tingkat pendidikan yang tak seberapa dan lapangan kerja yang sangat terbatas, menjadi satpam adalah keterpaksaan di usia yang sedikit lanjut—pilihan lainnya, jadi tukang pukul atau penagih hutang, kalau masih agak muda.

Tapi dia, si satpam ini, juga tak sendirian semenjak hubungan-hubungan warga kampung dengan warga komplek diperantarai oleh urusan keamanan, kebersihan lingkungan, dan jasa perbaikan rumah—singkatnya, untuk tiap lingkungan, ada tukang pijat, tukang bangunan, tukang sampah, dan satpam yang siap bertransaksi. Di luar itu, boleh jadi hanya acara tahunan bagi-bagi daging hewan kurban yang mempertemukan warga dari dua sisi dinding pembatas.

Anda bisa bayangkan sehari-harinya orang-orang ini ditundukkan oleh upah rendah dan jam kerja yang panjang, untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar hidup. Satu-satunya kekuasaan di genggamannya adalah otoritas kecil yang diberikan majikan untuk mengamati satu persatu orang asing yang melintasi portal.

Dan itu sebabnya dia galak. Tapi di sini, galak bukan sekadar tuntutan tugas; galak adalah kompensasi dari kenyataan bahwa dia harus menerima sistem yang membayarnya dengan gaji rendah dan display kemewahan tetangga yang tidak akan terbeli seumur hidupnya. Hanya dengan menjadi galak, dia bisa yakin dirinya masih berdaya, berguna, dan punya martabat.

Lagi-lagi penyebab mengapa pak satpam ini jadi galak terlalu akrab dengan situasi keseharian kita. Relasi kekuasaan timpang semacam ini mudah meledak pada saat-saat tertentu, tidak jarang dengan cara yang keliru dan di tempat yang salah. Seorang pekerja tak berkuasa di tempat kerja dan butuh dipandang kuat di rumah; caranya dengan memukuli anak-istri. Seorang murid di sekolah kerap dihardik oleh senior-seniornya; tahun berikutnya, gantian ia menyiksa adik kelas.

Untungnya senjata api tidak beredar bebas di Indonesia. Tapi Anda bisa saksikan bagaimana fenomena going postal—yakni ketika seorang pegawai membantai seisi kantor—di Amerika sejak zaman Reagan tidak sekadar merebak karena penjualan senjata api yang relatif bebas. Ia juga reaksi personal atas semakin buruknya situasi kerja bagi buruh kerah biru maupun putih di tengah pembubaran paksa serikat-serikat pekerja. Yang lebih tidak mengenakkan lagi, going postal jamak terjadi di kantor-kantor kerah putih, yang para pekerjanya sulit—atau dipersulit—berserikat. Tak heran menghabisi rekan kerja satu per satu menjadi sarana logis bagi sebagian orang untuk kembali merasa berdaya, setidaknya untuk diri sendiri.

Percaya atau tidak, ketika kapitalisme sukses mempropagandakan bahwa tiap kemalangan sosial bersumber dari patologi individual, going postal dan aksi-aksi serupa adalah keniscayaan—bukankah tindakan tersebut adalah wujud dari individualisasi kemalangan, dari keyakinan palsu bahwa berbagi nasib adalah kemustahilan?

Ada kalanya individualisasi kemalangan ini tiba-tiba saja teragregasi dan pecah. Terlepas dari provokasi aparat negara, pada dasarnya kerusuhan 1998 merupakan going postal yang terekspresi secara massal. Menjarah dan membakar adalah cara untuk membuktikan bahwa ‘aku ada.’ Para penghasut berperawakan tegap dan berambut cepak yang memasok jerigen bensin ke titik-titik sensitif di Jakarta jeli membaca kenyataan sosial bahwa massa-rakjat perkotaan memang siap meledak—dan yang paling penting dari itu semua: tidak terorganisir secara politik.

Bukan berarti tidak ada harapan. Derasnya ofensif-ofensif sayap kanan dan popularitas organ-organ relijius semi-preman di kalangan kelas bawah sebenarnya membuktikan kerinduan orang banyak akan aksi-aksi kolektif, dari ‘aku ada’ menjadi ‘kami ada’.

Bayangkan saja para pemilih Donald Trump. Orang-orang ini, kalangan kulit putih kelas bawah yang sering diejek-ejek ndeso, rasis, redneck, tidak kosmopolit, adalah para pekerja yang setiap hari diinjak-injak oleh bos-bos mereka, yang cenderung berafiliasi dengan elit Republikan atau membayar mahal Hillary Clinton untuk berpidato. Cara membalas penghinaan itu adalah dengan memilih Donald Trump, seorang Republikan outsider yang mengarahkan kemarahan mereka pada komunitas Muslim, Hispanik, dan imigran. Sudah tentu salah sasaran, tapi mengikuti pawai-pawai Trump membuat orang-orang ini merasa mampu bersolidaritas dan punya power—dan pastinya, menarik garis politik yang tegas dari si bos yang citranya sudah terlanjur korup, rusak, dan bejat di mata mereka.

Mudah mengejek politik kepanikan moral yang dikerahkan organ-organ sayap kanan keparat macam FPI atau FUI. Yang sulit adalah mengakui keberhasilan mereka mengartikulasikan keresahan khalayak tersisih, pemuda pengangguran, golongan lumpen, hingga ibu rumah tangga di kampung-kampung perkotaan, sebagai suatu kesatuan kolektif bernama ‘umat’ dan seluas-luasnya mempropagandakan suatu tatanan moral-politik yang hanya dapat terwujud jika ‘umat’ bergerak—singkatnya, menyuapi pariah-pariah urban dengan imajinasi kekuasaan popular dan kolektivitas yang padu, di saat keduanya terasa jauh, asing, dan tak terjangkau bagi kebanyakan orang.

Tentu yang mereka jual sebagai ‘umat’ itu sejak awal mengandaikan keanggotaan terbatas, berdasarkan agama (tak jarang ditambah sentimen rasial), tapi di sisi lain mampu menarik golongan-golongan yang tak terikat dengan pabrik atau kantor. Ceruk-ceruk massa inilah yang perlu lagi dan lagi diorganisir oleh gerakan progresif—kalau tidak, mereka akan terus terseret ke kanan.

Akhirnya obat galak untuk pak satpam komplek bukanlah vodka gepeng Tangerang atau mengumbar kemarahan dua kali lipatnya, sebagaimana antidepresan dan konsumsi vegetarian bukan solusi stress bagi pekerja kota kantoran. Obatnya tidak akan ditemukan dalam ‘aku ada’, tapi dalam ‘kami ada’; dan pilihannya adalah barbarisme sayap kanan atau pengorganisiran popular sayap kiri.***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus