Kematian Yesus dan Bangkitnya Kolektif Emansipasi

Print Friendly, PDF & Email

PERJUMPAAN pertama saya dengan peristiwa Paskah bermula dari pelajaran agama Kristen kelas tiga SD berwindu-windu silam. Waktu itu guru agama saya dengan lincah dan kreatif menggambarkan ketegangan saat-saat terakhir Yesus Kristus ketika hendak menjumpai kematiannya. Dimulai dari penjelasan Yesus bahwa salah seorang muridnya yang akan berkhianat, saat-saat dramatis saat Yesus bernegosiasi dalam doa dengan Tuhan di taman Getsemani untuk melarikan diri agar lolos dari tangkapan birokrat agama Yahudi, hingga kengerian sakaratul maut dalam eksekusi mati ala imperium Romawi: penyaliban.

Adegan-adegan itu rapi terpampang di atas kain flanel yang menutup sebilah papan tulis retak. Alurnya jelas dan lugas: daging Yesus yang rusak dicambuk, pukulan para prajurit Romawi berbadan tegap kepada pemuda kerempeng dari Nazareth itu, sampai gambar tubuh yang koyak di atas salib.

‘Karena cintanya maka Yesus rela mati untuk manusia berdosa, supaya dunia diselamatkan, kematiannya terjadi untuk menggantikan hukuman dosa kita manusia,’ demikian sang guru menutup kuliahnya.

Saat itu kami tidak paham persis apa yang dia maksud. Tetapi yang jelas, sebagai anak usia sembilan tahun kami mengalami mysterium tremendum et fascinans, sebuah perjumpaan yang mempesona sekaligus menakutkan. Bagaimana tidak? Di ruang ruang kelas yang sumpek itulah ‘Yang Transenden’ seakan menghampiri kami; Filsuf ugal-ugalan seperti Zizek akan menyebut panel-panel dua dimensi itu sebagai ‘Big Other’, Si Liyan Besar, Superego, yang mewarnai beragam kehidupan sosial dan keagamaan kami di sekolah dasar kristen itu.

Tak dapat dipungkiri, selama berabad-abad teologi Kristen menempatkan narasi penyaliban Yesus dari Nazareth sebagai pusat dari devosi, wacana teologis dan basis dari pelayanan sosial masyarakatnya. Sayangnya, sejauh ini penghayatan pada Salib dan kematian Yesus bertendensi hadir semata sebagai inspirasi hidup relijius dan kesalehan batiniah perorangan. Padahal narasi kematian dan kebangkitan Yesus juga memiliki dimensi politik partisipatoris yang tidak dapat direduksi ke dalam praktik-praktik kesalehan pribadi.

Ada yang menarik dari paparan Zizek tentang penyaliban dalam salah satu bukunya, First as Tragedy then as Farce . Dia, si filsuf Marxis dari Slovenia ini, membuat saya melihat sudut lain yang lebih radikal dari peristiwa Jumat Agung dan Paskah. Penghayatan kepada Jumat Agung dan Paskah menjadi sebentuk pengalaman Anatheism; pengalaman menghayati teisme yang material setelah teisme yang ideal mati. Pada titik ini, kematian Yesus adalah suatu pelajaran politis dan menyejarah, ketimbang pengalaman spiritual esoteris.

Zizek mengatakan bahwa warisan ide Kristen mengenai Allah yang dipresentasikan di dalam Yesus Kristus dapat menjadi sumber ilham radikal pemberi harapan, sumber kehidupan (bios) yang sakral di ruang publik. Inti dari ajaran Kristen, tulis Zizek, ‘ juga dapat diakses lewat pendekatan materialis … dan sebaliknya, untuk menjadi seorang dialektis materialis sejati, orang harus melalui pengalaman Kristiani.’

Tapi pengalaman Kristen macam apa yang dapat diakses oleh kacamata materialis dalam dunia sekuler?

Zizek percaya bahwa kekristenan dalam bentuk yang paling subversif harus menolak manifestasi Allah sebagai figur kakek tua berjanggut yang memerintah dari langit sebagai inspektor moral dan penolong orang-orang saleh saat terjepit.

Tragedi penyaliban Yesus jelas menunjukkan bahwa Yesus tidak ditolong oleh kuasa Ilahi. Namun demikian, Yesus justru didaku sebagai mesias (juru selamat) oleh komunitas kristen perdana justru karena Yesus tidak luput dari kekuatan represif penguasa Roma dan mati mengenaskan. Dari sanalah teologi Kristen tradisional menginisiasi Yesus sebagai mesias bermula.

Lalu kalau begitu, apa pesan emansipatoris dari kematian Yesus?

Bagi Zizek, pengalaman Jumat Agung dan Paskah adalah pengalaman melihat secara paradoksal bahwa di dalam penyaliban dan kematian Yesus yang menyeramkan itu, kebijaksanaan, api revolusi, perlawanan dan semangat emansipatoris justru hadir berlipatganda dan menguat dalam diri para pengikutnya. Di dalam kematian Yesus, menurut Zizek, para murid kembali mendengar gema sabda sang guru, bahwa agar mereka dapat benar-benar menjadi muridnya yang sejati, mereka perlu waspada dengan segala bentuk esensialisasi dan kemelekatan pada subjek: ‘Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku (Lukas 14 :26).

Pernyataan di atas sesungguhnya bermakna perlunya membangun komunitas egalitarian, di mana ikatan-ikatan primordial menjadi hal yang sekunder. Secara politis, berjarak dan menjaga nalar kritis terhadap sesuatu yang secara ‘alamiah’ melekat pada diri adalah langkah yang akhirnya Yesus ambil untuk memberi teladan dari gerakan mesianiknya.

Bagi Yesus, keberlangsungan ruang partisipasi memiliki prasayarat utama: sang mesias mesti absen dari relasi-relasi di dalam ruang tersebut. Karena hanya melalui kematian Yesus, justru tubuh Kristus, yaitu Gereja, dapat hadir dan bergerak menemukan kebangkitan gerakan politik kolektif orang-orang biasa yang mengorganisir diri dan melawan penindasan secara organik dan sistemik: nelayan, penyair, budak, pedagang kecil, hingga aktivis Zealot. Inilah makna Gereja sesungguhnya: kumpulan orang-orang yang menghidupi ide subversif Yesus melawan penindas, bukan sekadar bangunan atau jadwal kebaktian.

Maka, tanpa kematian Yesus tidak pernah ada kebangkitan material dan komunal yang berisi orang-orang biasa (commoners) yaitu Gereja. Yesus harus mati supaya Gereja lahir. Dan Paskah menjadi sebuah event yang membuka jalan kepada sisi subversif dari kekristenan, yaitu kebangkitan kolektivitas.

Kekuatan paskah inilah yang tergambar dari perjuangan Uskup Óscar Romero y Arnulfo Galdámez (1917-1980) untuk berpihak pada kaum miskin El Salvador setelah pembunuhan sahabatnya, Pater Rutilio Grande, oleh preman-preman suruhan negara. Romero hidup di bawah rezim sayap kanan yang dikomandoi partai ARENA (Aliansi Nasionalis Republikan). Partai yang didirikan Roberto D’Aubuisson, seorang tentara berpangkat mayor, menuding Pater Grande membela kaum komunis. Sebaliknya Uskup Oscar Romero meyakini bila perjuangan yang dilakukan oleh Pater Grande berbasiskan ajaran dan praksis pembebasan yang berakar dari iman kepada Yesus Kristus.

Uskup Romero pun mengikuti jejak sahabatnya untuk mengambil posisi yang sangat beresiko: berseberangan dengan pemerintahan ARENA. Melalui berbagai pidato maupun homili-nya ketika misa, Romero melancarkan kritik-kritik pedas kepada rezim militer yang brutal pada rakyatnya sendiri, terutama kepada kaum tani,  tetapi sangat ramah terhadap tuan tanah, pemilik modal dan kapitalis asing. Oscar Romero pernah berkata: ‘Kristus sedang ‘tersalib’ bersama-sama rakyat El Savador yang menderita dan tertindas. Maka bagi siapapun yang mengimani Kristus, seharusnya merasa terpanggil untuk  membasuh peluh dan darah yang mengucur dari luka rakyat El Salvador, bagaikan usapan seorang wanita Yerusalem terhadap wajah Yesus yang penuh dengan luka ketika memanggul salib menuju Golgota.’

Dan jadilah usapan Uskup Oscar Romero untuk luka rakyat El Salvador membuat dirinya senasib dengan Kristus di atas kayu salib: ia diberondong peluru ketika memimpin misa di gerejanya. Ia martir.

Selepas kematian Romero, pemberontakan rakyat makin keras, tapi rezim militer pun semakin kejam. Statistik mencatat tidak kurang dari 75.000 orang tewas selama perang saudara El Salvador. Sebagian besar korban adalah rakyat sipil yang dimusnahkan bersama desanya oleh militer dan pasukan algojo tuan tanah.

Secara harafiah, arti Paskah adalah melampaui (to pass over). Pesan Paskah yang aktual untuk zaman kita adalah kita perlu pass over dari kemiskinan imajinasi politik partisipatoris kita hari ini.

Alih-alih menjaga sang mesias politik secara militan untuk tetap hidup lewat meme, perdebatan dan kenyiyiran tanpa belas kasihan di sosial media, pengumpulan fotokopi KTP, dan lain-lainnya, kita mungkin perlu mengingat nasehat Yesus jauh sebelum wafat, yakni soal bagaimana roda gerakan politik partisipatoris harus digerakkan: ‘Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah (Yohanes 12:24).’***

 

Penulis adalah pendeta jemaat Gereja Komunitas Anugerah Reformed Baptist, Salemba

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus