Mengapa Baper Menyelamatkan Kemanusiaan dari Kapitalisme

Print Friendly, PDF & Email

KAWAN saya pegawai baru di sebuah lembaga riset bonafid. Jauh-jauh datang ke ibukota, tugas sosial pertama yang diembannya adalah mengakrabkan diri dengan slang Jakarta. Dari pengakuan beliau, ‘baper’ masuk ke dalam rombongan kosataka pertama yang dia ingat.

Baper, alias ‘bawa perasaan’, barangkali adalah kata yang paling populer sepanjang 2015. Asal-usulnya dari dunia hubungan romantis. ‘Kalau seorang teman mesem-mesem ke Anda, jangan baper. Bisa jadi dia seperti itu ke semua orang’, ‘Alah, dia itu cuma kirim emotikon senyum. Nggak usah baper, kalau dia PDKT, pasti dia sudah kirim emotikon senyum satu mata berkedip.’

Intinya: jangan GR (Gede Rasa), karena mungkin si mas/mbaknya itu sekadar beramah-tamah. Tahun lalu orang masih mengatakan ‘Don’t take it personally’, sebelum empat kata sakti itu dipadatkan dalam satu akronim ‘Baper.’

Namun, tutur kawan saya lagi, penggunaan ‘Baper’, ternyata tidak hanya berlaku di dunia percintaan, tetapi juga berlaku dalam dunia kerja. ‘Kalau si Bos ngomel-ngomel, nggak usah baper. Anggap saja itu kritik yang membangun’, ‘Eh gajimu bulan depan dipangkas. Nggak usah baper. Mulai hari ini kita kencangkan ikat pinggang,’ dst dst.

Anda boleh tidak sepakat ketika perasaan dibawa ke kantor, tapi dalam relasi-relasi yang paling intim?

Mungkin peristilahan ‘baper’ dalam dirinya sendiri tidak salah. Sebuah label biasanya diciptakan untuk menunjukkan sebuah laku yang tak boleh ditiru. Di dalamnya ada sejuta perintah implisit. Jika Anda diteriaki ‘Komunis!’ artinya ‘jangan membangkang, ikuti aturan pemerintah’; ‘Lonte’ artinya ‘Turuti kata orangtua, jangan pulang larut malam, pakai baju yang sopan’; ‘Miskin’ artinya ‘Jangan malas, sekolah yang rajin, jangan mendebat guru’ atau bisa juga sekadar ‘minggir sana!’

Barangkali ‘baper’ hanya sebuah ekspresi permukaan dari derasnya tuntutan profesional—dan profesional yang dimaksud artinya mampu memisahkan emosi dari apapun yang sedang dikerjakan agar tidak mempengaruhi hasil. Pesan moralnya, jadilah manusia yang profesional paripurna dalam segala bidang, termasuk dalam urusan-urusan selain pekerjaan. Anda harus menjaga jarak secara mutlak, sebab apapun di dunia ini pada dasarnya fana, kecuali angsuran kredit rumah dan mobil, serta desakan mertua untuk terus beranak-pinak—ini kata kawan saya yang sudah menikah.

Begitulah nasib manusia di jaman neoliberal. Eh, siapa bilang neoliberalisme itu cuma swastanisasi aset-aset negara? Itu kalau Anda tanya Rizal Ramli. Jika mau jeli sedikit saja, neoliberalisme itu apa lagi kalau bukan aplikasi logika ekonomi kapitalis ke wilayah kehidupan sehari-hari?

Maka anjuran untuk tidak baper pada dasarnya cocok semata dengan petuah di dunia kerja yang kapitalis itu: orang harus profesional mengolah perasaan, pikiran dan waktu sendiri, karena kalau tidak di-manage, ujung-ujungnya bisa gila. Ulangi, kata kuncinya: profesional dan (to) manage. Ckckckck…bahkan di luar kantor pun orang terus didesak untuk terus sibuk berhitung dan beririt emosi!

Masalahnya, bukannya bos-bos korporat sekarang senang mempromosikan slogan ‘Do what you love, love what you do’? Bukannya ada terlalu banyak training kantoran, tidak hanya untuk cermat mengatur pengeluaran bulanan, tapi juga untuk memperkuat kapasitas mental-spiritual-dan-tetek-bengek sejenisnya?

Anehnya di saat kita kita diminta untuk tidak baper, korporatlah yang baper. Bahkan ada saja perusahaan—Google misalnya—yang sengaja mendesain kantornya senyaman rumah, agar para pegawainya merasa betah berlama-lama ngantor—atau lebih tepatnya: kehilangan alasan untuk pulang ke rumah. Nah ini dia: perusahaan yang sangat berkepentingan mengurusi tingkat kenyamanan emosional pekerjanya tidak pernah disebut baper. Baper hanya berlaku untuk pekerja yang memprotes kondisi kerja yang buruk dan pengetatan anggaran yang berdampak pemangkasan upah.

Tapi masih sedikit yang seradikal Google, apalagi di Indonesia. Ongkosnya mahal. Kebanyakan pekerja kerah putih maupun biru, mengandalkan inisiatif mandiri supaya betah kerja. Dan persis di sana pula tiap orang memberlakukan Rejim Teror untuk diri masing-masing. Mau gimana lagi? Bukannya Anda harus serba pintar mengatur ini-itu biar terus berfungsi secara sosial?

Kalau Anda beruntung melintasi kios majalah (yang semakin langka di Jakarta), Anda akan menemukan setumpuk majalah gaya hidup dengan rubrik problem seks yang isinya tidak berubah sejak era keemasan Dokter Boyke. Karena tekanan pekerjaan, konon pasangan jaman sekarang sangat sulit mencapai kepuasan seks. Kabarnya pula, krisis di ranjang ini bikin angka perceraian meroket. Maka, dengan satu-dua trik akrobatik colongan dari (katanya) Kitab Kamasutra, majalah semacam Cosmopolitan pun mengemban niat mulia menyelamatkan hubungan Anda dari penindasan jam kerja.

Tapi Cosmopolitan tak berhenti sampai di situ. Tips dan trik seks perlu muncul lebih dari sekali seminggu, karena konon seks mencegah kanker, merawat kulit, dan memperlancar peredaran darah, dan semakin Anda rutin melakukannya dengan pasangan, tubuh dan pikiran Anda sehat sentausa. Seolah-olah mau mengatakan: If you don’t enjoy f*cking, you’ll f*ck up. Itulah alasan kenapa Anda mesti jadi seorang pro.

Bahkan untuk urusan ibadah, Anda pun harus pro. Tengok saja toko-toko buku terdekat. Anda akan temukan judul-judul semacam Mukjizat Gerak & Bacaan Shalat, Shalat Jadi Obat, hingga Ajaibnya Gerakan Shalat Bagi perkembangan Janin, dst. Saya heran, setahu saya seorang muslim yang taat akan menjalankan shalat tanpa peduli shalatnya itu berkhasiat meredakan encok atau darah tinggi atau tidak.

Jadi, setelah berusah-payah menjelaskan betapa mulianya memuaskan pasangan di tengah pekerjaan yang bertumpuk, inti tips-tips kosmopolitan adalah: seks harus mendukung produktivitas di tempat kerja. Dan setelah menyajikan argumen-argumen umum tentang kewajiban ibadah dst, sebagai pengingat kefanaan dunia yang serba tamak dan ‘materialis’ (tentu tanpa embel-embel ‘dialektis’), inti dari segala tips-tips ‘gerakan shalat’ adalah: dalam tubuh yang sehat, niscaya ada modal yang kuat—oh iya, satu lagi: sehat itu mahal.

Kalau Anda kebingungan bagaimana bersikap profesional dalam seluruh lini kehidupan Anda, camkan motto tahun 2014: ‘Segala sesuatu ada app-nya!”***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus