Keberanian Jamal atau Pariah Yang Eksotik?

Print Friendly, PDF & Email

DALAM FOTO yang bermula dari sebuah akun Path, Jamal mengenakan kemeja lusuh yang agak kebesaran, bercelana gelap dan bersandal jepit. Baru saja suara ledakan terdengar seratus meter tempatnya berdiri. Tapi Jamal tetap mengipas. Dia tak beringsut dari gerobaknya.

Sejak itu Jamal menjadi simbol keberanian warga Jakarta yang dikejutkan aksi teror amatiran. Ada juga gambar-gambar lain: pedagang kopi keliling di tengah massa yang antusias menyaksikan adegan tembak-tembakan; pedagang asinan buah di samping tank; lalu seorang supir Gojek yang menolong seorang korban ledakan.

Pers asing heran; reaksi kerumunan di Sarinah katanya berbeda dengan warga Paris saat diguncang teror yang sama Oktober silam. Banyak yang bilang, pada kamis itu, orang Indonesia adalah bangsa berselera humor tinggi. Dan konon itu terbukti melalui derasnya ekspresi guyon di media sosial. Mungkin saja ini kabar baik, bahwa kerumunan offline maupun online sepanjang kamis itu menandakan kerinduan—dan juga keberhasilan—khalayak ramai akan suatu aksi kolektif, bahwa orang banyak bisa mendadak berani, lantas berbalik membuat si peneror kocar-kacir.

Lalu Jamal pun jadi diusung sebagai ikon lenyapnya rasa takut itu.

***

Tapi apa arti ‘berani’ untuk Jamal—dan dalam makna apa pula kita layak disebut ‘berani’ dan tidak sekadar berilusi tentang ‘keberanian’ Jamal? Apa hanya karena ada aparat bersenjata lengkap dan rangkaian adegan dramatis itu terjadi di tengah kota yang ramai, lantas kita berani? Apa jadinya bila peristiwa itu mengambil setting di tengah pemukiman terpencil, katakanlah di satu daerah di Papua, di mana bedil adalah makanan sehari-hari dan kebebasan berekspresi adalah barang mewah?

Ada satu momen ketika saya miris menyaksikan gambar bapak tukang sate itu terus dibagikan di media sosial. Saya khawatir simbolisasi Pak Jamal justru menunjukkan gejala bahwa kekerasan telah dianggap wajar adanya. Atau jangan-jangan suatu hukum tak tertulis diam-diam telah disahkan: kalau suatu saat ada aksi teror lagi, tidak perlu tegang dan berempati terhadap korban—cukup hadapi saja dengan tawa dan selfie.

Berani, cuek, dan kebas boleh jadi beda tipis.

***

Usianya yang kepala enam membuat Pak Jamal berpikir dua kali untuk memindahkan gerobak. Sama seperti kebanyakan warga Jakarta, dia pun awalnya gelisah. Namun, pedagang kecil seperti Pak Jamal bertahan di lapaknya karena itulah yang tiap hari mereka lakukan untuk cari makan—dengan atau tanpa foto yang diunggah di akun Path.

Bom bunuh diri itu menakutkan, tapi tidak sebanyak penggurusan di Jakarta, tidak sesering operasi penertiban yang biasanya merusak gerobak PKL (alat produksi kaum Jamal) dan tidak serutin tarikan jatah preman. Bom bunuh diri yang berjarak sepelemparan batu adalah kembang api yang buruk, tapi mungkin tidak lebih buruk ketimbang teror aparat dan centeng-centeng sipil yang saban hari dihadapi Pak Jamal.

Masalahnya, keberanian pariah Jakarta ketika berhadapan dengan kekerasan yang jauh lebih rutin itu jarang sekali disinggung. Warga Kampung Pulo melawan penggusuran demi mempertahankan penghidupan mereka, kita langsung teriak ‘perusuh, ‘tak tahu aturan’, ‘tak tahu terimakasih.’ Ketika buruh berdemo menuntut upah layak sampai-sampai terpaksa bentrok dengan aparat dan centeng bayaran, ramai lontaran ‘perusuh, ‘tak tahu aturan’, ‘tak tahu terimakasih’—tak lupa, tuduhan ‘boros.’

Seandainya bom tidak pernah meledak di Sarinah, apakah supir Gojek akan tetap dipandang sebagai pahlawan, ketika beramai-ramai menolak penurunan tarif, misalnya? Mengapa tak pernah ada hashtag #BuruhTidakTakut atau #KampungPuloBerani atau #KamiNaksirAbangGojek?

Barangkali keberanian Pak Jamal hanya layak dicatat ketika akhirnya bursa saham tidak terganggu dan kehidupan kelihatan berjalan normal, bahkan tambah guyub. Barangkali keberanian Pak Jamal cuma pantas dikenang dalam ukuran-ukuran priyayi perkotaan kita yang serba insecure dan terobsesi dengan ketertiban, bukan dalam ukuran-ukuran Kaum Jamal yang kenyang dengan kekerasan. Ironis bukan, ketika imaji keberanian itu dikosongkan dari konteks sosialnya, Pak Jamal disulap jadi ikon ‘ketahanan nasional’?

***

Mungkin juga ikon bisnis.

Pada pemilu Amerika 2008, kandidat Republikan John McCain-Sarah Palin mempromosikan sosok Samuel Joseph Wurzelbacher sebagai ikon pekerja keras Amerika. Joe the plumber, demikian ia dikenal, menurut berita sempat mengungkapkan keberatannya ke Obama—rival McCain-Palin—atas usulan program pemberlakukan pajak bisnis kecil. Dalam debat capres, kubu Republikan mengusung sosok si tukang ledeng ini sebagai ikon. Keresahannya tentang pajak dijadikan pembenaran oleh korporat-korporat—yang setiap hari menginjak-injak orang seperti Samuel—agar diberi kelonggaran pajak sebesar mungkin.

Tak usah jauh-jauh ke Amerika. Menjelang pemilu 2014 lalu, Aburizal Bakrie mengklaim akan membela aspirasi ‘pengusaha kecil’ dan ‘sektor informal’, lengkap dengan foto dan cuplikan video petani di kampung-kampung. Tentu saja yang tidak ada dalam kampanye Bakrie adalah pedagang kaki lima, pemilik warung, dan seluruh penduduk di sekitar sumur Lapindo yang dia banjiri dengan lumpur sejak 2006.

Mengharapkan Bakrie, politisi Republikan dan korporat di belakangnya mempedulikan kehidupan sehari-hari Joe si tukang ledeng dan korban Lapindo, sama absurdnya dengan mendoakan seluruh orang dewasa di dunia kembali percaya bahwa planet bumi itu rata alih-alih bulat.

Kapitalisme memang selalu gagap menjelaskan darimana asal-usul kekayaan tanpa harus menyebut ketimpangan dan pemiskinan. Dalam kegagapan itu, citra orang kecil bersahaja namun rajin bekerja pun terus dijual. Kita tahu ini hanya karikatur karena dalam kenyataannya, kaya dan sukses adalah soal di keluarga mana kamu dilahirkan, bagaimana kamu dibiasakan dengan privilese, selihai apa kamu kongkalingkong dengan pejabat yang adalah kawan-kawan bapakmu.

Aksi teror tempo hari lalu sempat menghentikan roda ekonomi di kawasan Thamrin. Tapi melalui foto Pak Jamal, para priyayi Jakarta tiba-tiba saja menemukan sebuah inspirasi yang diharapkan membebaskan mereka dari segala kerumitan perkara duniawi: ‘Kehidupan begitu sederhana, yang rumit-rumit hanya tafsirannya; teruslah bekerja, tak usah takut.’

Maaf, tak ada yang sederhana dari sini. Pak Jamal nampak sangat ‘sederhana’ karena keadaan dan ketiadaan privilese. Memang, ada saatnya orang-orang di atas sana berharap menggali kearifan dari si miskin. Di lain waktu, para ‘sumber kearifan’ ini diperlakukan bak alas kaki.

Kamis itu Jakarta merayakan semacam solidaritas: orang saling bantu, Gojek dan GrabBike menggratiskan jasanya—tapi solidaritas macam apa yang sebenarnya dibangun, dan berapa lama bakal bertahan?

Saya ingat, di trotoar Jalan Sudirman yang mendadak lengang, saya mendengar kasak-kusuk orang kantoran tentang asyiknya ‘pulang cepat.’ Apakah ‘pulang cepat’ ada di dalam kamus Pak Jamal?

Mungkin tidak, kecuali kalau dagangannya keburu habis—atau gerobaknya dirampas Satpol PP.***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus