“I shot the commies, but I forgot to shoot their offspring”*

Print Friendly, PDF & Email

UCAPAN menteri propaganda Nazi Joseph Goebbels ini sering dikutip: ‘Sebuah kebohongan yang diutarakan terus menerus akan menjadi kebenaran.

Baru-baru ini Hartind Asrin, Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Pertahanan, memberikan contoh yang baik dari kata-kata Goebbels. Dia, yang bertugas menyusun kurikulum Bela Negara untuk tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), menyatakan dirinya terinspirasi operasi penangkapan tokoh-tokoh Partai Komunis Indonesia oleh Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).

‘Papa saya dulu adalah mayor polisi di Brimob (Brigade Mobil). Papa saya tangkap tetangga di sebelah rumah saya yang PKI,’ tuturnya.

Dalam berita yang sama tertulis, ‘Sebelum penangkapan itu, menurut cerita Asrin, sepuluh anggota RPKAD terjun payung ke kampungnya. … Bersama pasukan elite TNI Angkatan Darat itulah, Hartind dan ayahnya membantu operasi penangkapan tetangganya yang disebutnya sebagai tokoh partai komunis.’

Apabila berita ini ditulis dengan benar, absurd sekali cerita Asrin.

Bayangkanlah Asrin kecil, kala itu berusia enam tahun, diajak bapaknya yang Mayor Polisi untuk ikut menggelandang tetangga-tetangganya yang PKI. Sebagai Bapak yang baik, perlu diragukan apabila Pak Mayor Polisi ini menangkap setan-setan PKI pada siang bolong. Pun apa masuk akal anak umur 6 tahun diajak keluyuran tengah malam? Apa ibunya tidak ngambek?

Tuan Asrin, berapa jumlah orang di rumah tetangga Anda itu? Lima puluh? Seratus? Seberapa besar rumahnya? Jika rumah itu ternyata kecil saja dengan jumlah hanya empat orang dan yang ditangkap hanya dua orang, ada apa dengan diri Anda sampai-sampai begitu bangganya dengan pengepungan ‘asimetris’ itu?

Tapi apa betul demikian? Benarkan Tuan Asrin sekadar ‘korban mode’ antikomunisme pertengahan 1960-an yang tidak tahu apa-apa?

Oh iya, Tuan Asrin juga mengatakan: ‘Long term memory mereka sangat bagus. Contohnya saya sendiri.’

Bicara soal ‘long term memory,’ pernyataan Tuan Asrin adalah khas perwira Angkatan Darat ketika menceritakan masa lalu. Jika Anda menelusuri memoar-memoar para jenderal Orde Baru, Anda akan temukan penggalan-penggalan narasi tentang seorang anak yang berbudi luhur, sopan, dari keturunan baik-baik, dan sejak awal berbakat. Jangan pernah berharap mereka menjelaskan bagaimana sang tokoh tumbuh menjadi seperti apa yang dia inginkan, hambatan apa yang dilaluinya, pengalaman pahit mana saja yang turut membentuk dirinya, patah hati, diombang-ambingkan perasaan, apalagi pengakuan tentang keburukan-keburukan pribadi dan institusi.

Lewat berita di atas, Tuan Asrin seakan sedang berpesan: ‘Contohlah saya, lahir dari keluarga baik-baik, “bersih diri”, berbakat, dan sebab itu saya bisa dan berhak bicara seperti ini.’ Dalam konteks TNI yang senantiasa terobsesi menjadi bagian dari Rakjat, anjuran ‘contohlah saya’ itu sesungguhnya berbunyi, ‘Kamilah faksi Rakjat yang paling maju dan sebab itu pantas dicontoh lagi wajib melindungi seluruh rakjat jelata lainnya.’

Ngomong-ngomong, ‘pantas dicontoh’ dan ‘wajib melindungi’ ini adalah ekspresi tipikal kelas bangsawan feodal di seluruh dunia, sekalipun mereka menyaru sebagai Rakjat.

Tapi ‘contohlah saya,’ dalam pernyataan Asrin juga bisa bermakna lebih. Sang Bapak ia kisahkan menangkap tetangga. Pak Mayor diposisikan bukan saja sebagai kepala keluarga, tapi juga kepala kampung—‘keluarga’ yang lebih besar—yang bertanggungjawab atas ketertiban lingkungan. Sebagai penjaga keamanan, sudah sewajarnya Pak Mayor sedini mungkin telah mengendus keberadaan bajingan-bajingan kominis yang membuat kampungnya tak lagi sucihama. Layaknya pengawal Rust en Orde, Pak Mayor seolah diposisikan sedang memberi contoh kepada seisi kampung: ‘Beginilah caranya kalian harus membuat perhitungan dengan komunis.’

Bagaimana caranya? Seperti yang terjadi pada lima ratus ribu hingga satu juta manusia di Indonesia: tangkap, tak usah diadili, perkosa, rampas hartanya, binasakan, bikin keluarganya sulit. Tentunya ini tidak dilakukan sendirian oleh RPKAD. Alih-alih, kita tahu, mereka meminjam tangan ormas-ormas pemuda dan keagamaan.

Angkatan Darat memang mengakui telah mengorganisir operasi pemberantasan PKI. Namun di sisi lain, ia selalu mengklaim bahwa kematian ribuan hingga jutaan manusia disebabkan oleh spontanitas masyarakat yang digambarkan sudah muak dengan PKI. Apapun argumentasi Angkatan Darat, prosedur standar operasi mereka di tahun-tahun setelahnya berbicara lain. Kepada siapa pernyataan Asrin dialamatkan, di situlah menariknya.

Asrin lulus dari AKABRI pada 1983, tujuh belas tahun setelah pembantaian berlalu. Para pemenang 1965 telah lama sukses membersihkan elemen-elemen kerakyatan dalam tubuh militer. Kita bisa menduga-duga seperti apa isi kurikulum bikinan para pemenang, yang sepanjang 1975-1983 mengorbankan anak-anak buah mereka—kakak-kakak angkatan Asrin—untuk menyerbu sebuah negeri mungil bekas jajahan Portugal.

Pada 1983, para elit Indonesia ramai-ramai membicarakan ‘normalisasi’ di Timor Timur. ‘Normalisasi’ adalah sebuah eufemisme yang artinya: invasi ke negeri merdeka itu baru saja sukses dilakukan dengan mendesak milisi-milisi rakyat Timor ke perbukitan seraya menghabisi sepertiga dari keseluruhan jumlah penduduk sipil. ‘Normalisasi’ juga berarti mempersiapkan administrasi sipil, dan tak lupa pula, mencontoh kesuksesan 1965, merawat kelompok-kelompok paramiliter lokal yang diantaranya bernama Hansip (Pertahanan Sipil), Kamra (Keamanan Rakyat), dan Ratih (Rakyat Terlatih)—yang konsepnya ingin diterapkan ke seluruh Indonesia oleh sejumlah elit Angkatan Darat pada 1999.

Kami pun ingat Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang gandrung menggembar-gemborkan bahaya proxy war, sebuah perang dimana pihak-pihak yang bertikai tidak berhadapan langsung. Perang ini, dia bilang, “dilakukan dengan berbagai cara untuk menguasai Indonesia, mulai dari pembentukan opini menciptakan rekayasa sosial, perubahan budaya, adu domba TNI-Polri, pecah belah partai, dan penyelundupan narkoba sudah jauh-jauh hari dilakukan.”

Tentu pernyataan Gatot tidak menyinggung fakta keras tentang keberadaan milisi-milisi sipil reaksioner, yang justru membuktikan bahwa dalam praktiknya selama ini TNI adalah aktor intelektual utama dari proxy war dalam menjagal gerakan-gerakan Rakjat.

Tapi Tuan Asrin tidak sendirian. Dia dan kawan-kawannya besar bersama ingatan itu, bersama guru-guru yang merancang pembantaian 1965 via kelompok-kelompok proxy, dan bersama kakak-kakak alumni Timor, yang juga mahir memelihara milisi-milisi proxy. Maka, implikasi dari ‘contohlah saya’-nya Asrin ini adalah perintah tersirat kepada Rakjat, tidak hanya untuk mengawasi satu sama lain, tapi juga untuk bersiap-siap mengarahkan loyalitas mereka ke kasta kaum pemegang bedil, karena seturut logika Tuan Gatot, negara ini tidak lagi sucihama dari aktor-aktor proxy war non-TNI.

Mendengar statement Asrin, wajar saja jika orang mencurigai apa sebenarnya yang sedang dipersiapkan TNI melalui proyek Bela Negara? Lima puluh tahun silam, 1965, kudeta merangkak diawali dengan mengorganisir ormas-ormas keagamaan. Lalu sepuluh tahun setelahnya, 1975, operasi pendudukan Timor Timur pun mengikuti alur serupa: para pemuda dari kelas elit hingga pengangguran direkrut militer Indonesia guna menghantam sesama orang Timor.

Well, barangkali Tuan Asrin tidak sedang mengarang cerita tentang keluarganya. Barangkali dia hanya keceplosan soal bagaimana para priyayi bersenjata di Magelang membesarkannya dan mewariskan watak permusuhan mereka.

Keceplosan kok terlembaga.***

 

*) “Saya tembak kominis-kominis itu, tapi saya lupa tembak turunan-turunannya.” Diplesetkan dari lirik lagu Bob Marley, I shot the Sherrif (but I forgot to shoot the deputy).”

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus