Edisi XXXVIII/2015

Daftar isi:

Dunia (juga) Diubah oleh Perempuan!

Bilven Sandalista: Buku Kiri diterbitkan untuk dibaca luas dan dipelajari, untuk memajukan peradaban manusia, bukan untuk dilarang negara

 

BEBERAPA saat sebelum menulis pengantar Left Book Review, masuk satu pesan WhatsApp ke ponsel redaksi. Tak dikira sama sekali, yang muncul adalah berita duka. Wijaya Herlambang, penulis buku Kekerasan Budaya Pasca 1965, yang juga pernah kami wawancarai pada November 2014 lalu, meninggal dunia dalam sebuah perjalanan berobat menuju Jawa Tengah. Sebuah kabar yang tak pernah kami sangka, meski tahu bahwa kondisinya sedang sakit-sakitan digerogoti kanker dalam beberapa waktu terakhir.

Tidak sedikit yang tak kenal ‘Mas Jay’, begitu kami menyebutnya. Ia mendobrak diskursus tentang Tragedi 65 lewat buku fenomenalnya itu. Dalam buku tersebut, ia mengajukan tesis bahwa kekerasan fisik (pembantaian massal) yang terjadi pada masa itu dan bertahun setelahnya, hanya dimungkinkan jika ada kekerasan kultural yang fungsinya tidak lain membuat kekerasan fisik wajar adanya. Kekerasan kultural ini terutama dilakukan oleh lembaga-lembaga kultural juga. Terus menerus, menahun, dan bertahan hingga hari ini.

Dalam wawancara (lebih tepatnya diskusi) hangat di bilangan Jakarta Selatan itu, Mas Jay mengatakan bahwa rencana ia selanjutnya adalah menelurkan karya lanjutan. Saat itu, ia mengaku sedang meneliti penghancuran gerakan Kiri di Indonesia. Tentang bagaimana mereka dihancurkan, siapa saja tokohnya, bagaimana prosesnya, dan lain sebagainya melalui kaca mata kebudayaan. Termasuk, misteri tentang siapa yang menulis editorial Harian Rakyat tentang dukungan PKI terhadap gerakan Untung di saat gerakan tersebut justru peluang gagalnya sangat besar. Tapi rencana tinggal rencana. Semua gugur digerogoti penyakit yang tidak kenal ampun pada siapapun.

Meski begitu, pemikiran seseorang jauh lebih abadi dibanding raganya. Wijaya Herlambang telah abadi di alam dunia melalui bukunya. Meski telah tiada, semangat Mas Jay akan terus menular, berlipat ganda sampai akhirnya kebenaran yang akan menang mengangkangi tirani akut yang berkuasa berpuluh tahun. Dalam semangat itulah LBR IndoPROGRESS kembali hadir ke hadapan pembaca. Dalam edisi kali ini, kami menayangkan satu review dan satu wawancara. Review hadir dari Fathimah Fildzah Izzati yang membahas buku berjudul Dreamers of A New Days: Women Who Invented the Twentieth Century karya Sheila Rowbotham. Selain itu, kami juga hadirkan wawancara dari pendiri penerbit buku alternatif Ultimus, Bilven Sandalista.

Wijaya Herlambang pernah berpesan untuk terus menulis hal-hal yang selama ini dibungkam; mencari informasi dan terus membaca sambil bergerak membangun kesadaran. “Sebab,” kata Mas Jay, “tanpa itu revolusi tidak akan pernah mencapai momentumnya.”

Selamat membaca, dan teruslah berlawan!

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065 atas nama Vauriz Bestika. Terima kasih..

Kirim Donasi

comments powered by Disqus