Buat Adik-Adik HMI: Percayalah Pada Allah, Bukan Pada Tiga Milyar

Print Friendly, PDF & Email

‘YA WAJAR saja kan, itu biasa. Namanya kumpul-kumpul, itu kan sudah biasa kayak gitu,’

Jawab wasekjen PB HMI, wasekjen organisasi kalian, ketika dimintai pendapat tentang kenapa kongres di Riau ricuh. Pendapat saya: ‘Jadi, kongres besar tiga milyar ini cuma untuk kumpul-kumpul doang gitu?’

Ndak apa-apa Dek. Namanya juga pelajar. Saya juga pernah jadi mahasiswa. Kumpul-kumpul itu biasa, kalau bisa dengan alumni, supaya masa depan makin cerah: lulus kuliah, dapat kerjaan politik yang mentereng, kawin, punya anak, naik haji, lalu nyaleg. Tenang, kalian di HMI nggak unik-unik amat kok. Organ-organ mahasiswa tua rata-rata begitu, sama-sama bikin saya gatel dan gerah (kalau tak percaya, silakan tanya Kak Andre Barahamin). Cuma, kebetulan saja kalian baru bikin acara kongres tiga miliar—jumlah yang jauh lebih besar ketimbang anggaran untuk memadamkan kebakaran hutan di Riau, di tempat yang sama kalian menggelar ‘kumpul-kumpul bareng alumni’ itu.

Kumpul-kumpul itu biasa, sebiasa ngospek adik kelas sampai mampus dan tawuran antar fakultas; sebiasa plagiarisme dan mengutip karya orang tanpa atribusi—heh, kalian kira kelakuan kalian yang begajulan secara akademik ini nggak cukup bikin migrain saya kumat tiap kali periksa paper kalian?

Lagi-lagi itu wajar adanya, Dik. Mahasiswa—dari jaman kakek-nenek saya diinjek-injek ambtenaar sawo matang yang digaji tak seberapa oleh londo, kalian itu kan sudah punya punya priviledge yang besar buat belajar sekaligus dansa-dansi. Intinya, di jaman kolonial dulu, sebagai kalangan yang privileged ya jelas situ tidak perlu miskin melata sampai harus kerja kasar, tak perlu pula seperti kawan-kawan kalian yang terpaksa jadi bandit, centeng, lonte, germo. Karno, Amir, Hatta, dkk itu mah cuma mahasiswa kurang kerjaan yang hobi bikin ribut sama pemrentah lalu dibui, masuk Digoel, atau dikejar-kejar intel, senasib kayak bajingan-bajingan PKI itu. Tenang Dik, sebagai kelas privileged, kalian sangat Indonesia: tak kenal malu dan tak sadar kelas, apalagi solidaritas. Ya solidaritas sekali-sekali boleh, asalkan bentuknya seremonial, misalnya solidaritas untuk Palestina tiap kali Gaza dibom.

Tapi Dik, yang saya tahu, sebagai organ politik, meskipun tidak pernah jadi underbouw Golkar, tugas kalian adalah mengorganisir, bukan sekadar kumpul-kumpul. Kalau lupa caranya mengorganisir, nah itu urusan kalian. Tapi jangan khawatir, kalian bisa belajar ke serikat buruh atau serikat tani. Coba kunjungi emak-emak di Kendeng yang istiqomah menolak tanahnya dirampas untuk pembangunan pabrik semen; saya yakin mereka lebih paham cara mengorganisir sesama, meskipun tidak punya akses ke alumni.

Nah, kalau ongkos kuliah makin mahal, itu tandanya kalian butuh menghimpun sesama mahasiswa dan warga miskin yang bakalan sulit menyekolahkan anaknya, bukan melobi alumni di DPR. Kalau kampus mulai melarang kalian gondrong dan bersendal jepit, itu saatnya kalian musti protes, bukan malah menggembosi anggaran negara yang berasal dari pajak rakyat. Prestasi alumni yang sudah lulus bertahun-tahun lamanya kok dibanggakan—trus, prestasi akademik dan sosial kalian mana?

Apa? Mengorganisir buruh dan tani itu kerjaan PKI? Betul itu, Dik. Tapi setidaknya, Mas-Mas dan Mbak-Mbak, PKI setahu saya tidak pernah minta duit alumni untuk bikin cara kumpul-kumpul. CGMI, organisasi mahasiswa yang berafiliasi dengan PKI, juga tidak pernah menggasak tiga milyar dari APBD. Well, pantas saja CGMI kabarnya tidak terlalu banyak peminatnya, lha wong tidak menjanjikan karir yang moncer buat anggota-anggotanya. Jelas berbeda dari teman-teman kalian di KAMI dulu, yang isinya mahasiswa-mahasiswa elit tapi medioker dan disokong tentara; setelah 1965 banyak dari mereka yang dapat jabatan mentereng toh?

Oh iya, baru saya ingat, tempo hari kalian menggelar acara mengecam International People Tribunal yang diselenggarakan di Den Haag. Katanya, pengadilan rakyat itu melanggar HAM umat Islam. Heh, memangnya diantara lima ratus ribu sampai tiga juta korban pembantaian 1965 itu sebagian besar bukan Muslim? Soal ‘HAM Umat Islam’ itu saja saya cuma bisa ketawa-ketawi sendiri. Sepanjang saya kuliah dan gemar kumpul-kumpul seperti kalian, Dik, saya belum pernah dengar istilah ‘HAM Umat Islam’, karena setahu saya, HAM itu berlaku universal. Tolong saya dikasih tahu seandainya ada konsepsi yang lain, misalnya ‘HAM Korporasi’, ‘HAM anggota DPR’, atau ‘HAM alumni HMI.’

Tapi kalau adik-adik ini bersikeras dengan HAM Umat Islam, saya bingung kemana saja kalian ketika pada akhir tahun lalu publik mulai gemas membicarakan lagi kejahatan Talangsari yang korbannya adalah Muslim? kemana saja kalian, yang tidak mau mengungkit tragedi Tanjung Priok yang seluruh korbannya adalah Muslim? Kemana saja kalian waktu masyarakat Aceh yang mayoritas muslim itu dihajar habis-habisan oleh tentara selama nyaris satu dekade Daerah Operasi Militer?

Ya sudah lah, Dik. Saya tahu ini lagi masa-masanya mid-semester. Daripada terus pas-pasan secara akademik dan bikin skandal politik, lebih baik selesaikan saja PR-PR kalian. Kerjakan dengan baik, pakai rujukan yang bisa dipertanggungjawabkan, yang bukan wikipedia dan bukan media-media online abal-abal. Singkirkan jargon-jargon taik kucing macam ‘Good Governance’ kalau masih mau kritis. Jangan asal copas tugas dari senior. Dan tolong jangan telat mengumpulkan paper. Tolonglah, keterlambatan mengumpulkan tugas hanya menambah kesengsaraan kehidupan asmara sosial saya yang sudah luar biasa babak-belur di usia kepala tiga.

Oh iya, satu lagi. Di saat kalian sedang kongres-kongresan dan tawur-tawuran, ingatlah bahwa ibu kalian sedang sholat tahajud di rumah, doain kalian supaya jadi orang.***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus