Zombie Komunis

Print Friendly, PDF & Email

CLAVIOUS NARCISSE, pemuda kulit hitam asal Haiti, kembali ke kampung halamannya setelah 18 tahun dinyatakan meninggal. Tidak, ia bukan arwah penasaran dalam sinetron Hidayah. Wade Davis, seorang antropolog yang meneliti kisah Clavious pada tahun 1980-an menyatakan, ia seorang pemuda biasa, yang konon karena melanggar kesusilaan, lalu diracun dan disulap jadi zombie.

Selama menjadi zombie, Clavious dipekerjakan di sebuah perkebunan besar bersama zombie-zombie lainnya. Bagi seorang kapitalis di Indonesia hari ini, tentu pengakuan Clavious adalah berita yang luar biasa menggembirakan. Tak lagi perlu lagi menganggarkan upah, THR atau pesangon. Tak perlu pula repot-repot menghadapi demo buruh yang rewel minta cuti. Dia hanya cukup menggaji satu-dua dukun santet beserta krunya.

Davies menjabarkan secara detail bagaimana seorang dukun Haiti menangani keseluruhan proses zombifikasi. Sang dukun, tulis Davis, mengekstrak racun tetrodotoxin dari ikan buntal, yang mematikan fungsi kognitif otak. Setelah itu racun dikirim ke objek penderita dengan berbagai cara sehingga korbannya lumpuh dan mati secara klinis. Sisanya adalah ritual penguburan dan jampi-jampi untuk membangkitkan zombie.

Yang gagal diklarifikasi Davies adalah keberadaaan perkebunan pemelihara zombie. Pun proses zombifikasi tidak murah. Jika dihitung-hitung, ongkos untuk membikin satu zombie jauh lebih mahal ketimbang memborong bedil beserta amunisinya yang mampu memaksa ratusan orang untuk dipaksa bekerja di perkebunan.

Tapi terlepas dari benar-tidaknya narasi yang disusun Davis, mitos zombie Clavious memang lebih sensasional ketimbang bobot pembuktian ilmiahnya yang bahkan sudah jarang diungkit.

Barangkali segala kisah Clavious adalah ekspresi khas warga setempat tentang perlunya menjaga norma adat, sebagaimana inti pesan jutaan folklore lainnya. Mungkin juga ia sekadar alegori rakyat tentang betapa mengerikannya slave labor berabad-abad di bawah kolonialisme Prancis.

***

Tapi penggambaran mahluk halus, hantu, monster, dan iblis, sejatinya mencerminkan ketakutan sosial di masyarakat. Ketika jaman berubah, apa yang direpresentasikan hantu pun berubah.

Orang memelihara momok tentang sesuatu yang dianggap serba asing dan sulit dipahami, agar lebih mudah dicerna. Namun tak jarang, politik membiarkan yang-sulit-dipahami dan serba asing itu tetap sebagai momok. Kualitas-kualitas yang menakutkan dari sang hantu pun terus ditambahkan dan diasosiasikan dengan apapun yang dipandang buruk dalam masyarakat yang terus berubah. Budaya populer, khususnya sinema, menunjukkan itu.

Ada sejumlah studi yang menyatakan bahwa maraknya sosok-sosok drakula dan vampir di bioskop-bioskop Amerika pada awal abad 20 berkaitan dengan arus migrasi dari Eropa Timur. Ada pula yang mengatakan, booming film-film alien di Hollywood di awal era Perang Dingin berhubungan erat dengan red scare, ketakutan atas ‘bahaya merah.’ Zombie, selanjutnya, adalah ekspresi ketakutan terhadap wabah penyakit yang bisa merontokkan jutaan populasi dalam waktu singkat.

Perlu ditambahkan di sini: tak selamanya segala dagelan setan ini berada pada sisi sejarah yang reaksioner. Zombie-zombie yang berkeliaran di mall dalam Dawn of the Dead (George Romero, 1978) adalah pesan tentang ngerinya konsumerisme; sementara sosok Drakula dalam Blood for Dracula (Paul Morrisey, 1974), betapapun problematisnya posisi politis film ini, dikalahkan oleh seorang tukang kebun komunis.

Jangan lupa pula, Marx adalah penggemar kesusastraan horor. Ada Vampir Kapital dan Hantu Komunisme dalam Manifesto Komunis. Yang satu menghisap dan hanya bisa hidup dari kerja-kerja yang mati (dead labor); sedangkan yang satunya lagi adalah gerak-jaman ‘kemerdekaan, keadilan, persaudaraan’ yang tak terbendung dan membikin gemetar para penguasa Eropa.

Boleh jadi, hantu-hantu Belanda dalam film-film Indonesia, adalah cermin xenofobik, ketakutan atas segala hal yang dianggap tidak familiar, asing—dan sudah bisa dipastikan, kata ‘asing’ senantiasa berdampingan dengan ‘kolonialis.’ Lain halnya dengan hantu-hantu pribumi, yang menonjolkan narasi pembalasan dendam atas ketidakadilan di masa silam, umumnya pemerkosaan dan pembunuhan, seperti dalam film-film Indonesia lawas yang amat kita kenang seperti Beranak Dalam Kubur atau Si Manis Jembatan Ancol, misalnya. Dia penasaran, ditolak alam kubur, ingin menuntut balas, lantas menyebabkan seisi kampung gusar. Meskipun cerita tak sepenuhnya berpihak pada arwah penasaran—karena pada akhirnya seorang kyai datang dan membaca Ayat Kursi—ada penjelasan mengapa wajar bagi mereka untuk membalas dendam kepada pelaku yang bejat lagi keji.

Dari segala jenis hantu di Indonesia, di dalam maupun luar layar lebar, yang paling sial adalah hantu komunis. Sudah 50 tahun dibunuh, hantunya terus dihidupkan penguasa. Selama 50 tahun itu pula PKI adalah hantu adalah elemen asing adalah apapun yang rusak dari peradaban dunia. Begitu peristiwa G30S terjadi, PKI segera dituduh antek imperialis Tiongkok. Kemudian, setelah Orde Baru, ormas-ormas anti-komunis menciptakan momok KGB (Komunisme Gaya Baru), bahwa kalangan liberal diam-diam bersekutu bersama komunis untuk menghidupkan PKI. Ketika kabut belum hilang dari insiden Tolikara, seorang anggota DPR segera berteriak ‘PKI!’. Belakangan, ketika orang ramai-ramai membicarakan ISIS, muncul tulisan keblinger bahwa PKI kejam karena Aidit adalah keturunan Wahabi.

Resep yang sama dari segala jenis film horor: kualitas-kualitas dari sang hantu pun terus ditambahkan dan diasosiasikan dengan apapun yang dipandang menakutkan dalam masyarakat yang terus berubah.

Ketika menonton Beranak Dalam Kubur atau Si Manis Jembatan Ancol, tak jarang kita bersimpati dengan hantunya yang tak lain adalah korban ketidakadilan duniawi dan kesewenang-wenangan akhirat. Seandainya PKI adalah Sundel Bolong atau Si Manis Jembatan Ancol, yang gemar menggoda para pemuda luntang-lantung sekaligus begitu menakutkan balas dendamnya—maka yang sering kita lupakan adalah siapa pembunuhnya, dengan cara apa mereka membantai, dan fakta bahwa para pelakunya tetap membunuh dan memperkosa selama lima puluh tahun sesudahnya.***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus