Darah September

Print Friendly, PDF & Email

SALVADOR ALLENDE gugur pada 11 September. Rakyat Chile mengingat adegan itu dari sebuah foto: ia berhelm besi, diapit sejumlah pengawal bersenapan serbu, dan terjebak di dalam Istana Moneda yang tengah dibombardir dari udara. Juga dari pidato terakhirnya–‘Sejarah adalah milik kita dan rakyatlah pembuat sejarah’—yang diiringi desing peluru dan dentuman bom.

Namun Allende akhirnya memerintahkan para pengawal untuk menyerah, menjabat tangan mereka satu per satu seraya berterima kasih, lalu masuk ke sebuah kamar. Tak lama kemudian terdengar suara tembakan. Presiden sosialis pertama yang terpilih lewat pemilu itu pun membuyarkan isi kepalanya sendiri, dengan senapan pemberian Castro.

Gencarnya pengerahan jet tempur dan tank menunjukkan bahwa kudeta militer itu didesain seperti perang kota demi efek kejut yang dahsyat, dengan tujuan utama yang bukan hanya melumpulhkan Allende tapi juga seluruh potensi perlawanan rakyat. Sementara itu, dengan lima ribu orang yang diinterogasi di stadium tengah kota—puluhan ribu lainnya mati, dibui, atau terpaksa mengasingkan diri– Pinochet, sang pemimpin kudeta, menyatakan tahun nol, orde baru, tatanan masyarakat baru yang sucihama dari sosialisme.

‘Lima ribu manusia’ dan ‘sepuluh ribu bilah tangan’ di stadium itu diabadikan oleh penyanyi Victor Jara dalam karya terakhirnya, ‘Estadio Chile.’

Kami lima ribu orang
Di sudut kota ini
Kami lima ribu
Berapa lagi yang akan dikirim ke sini?
Di seluruh kota, seantero negeri
Di sini
10.000 tangan
Yang menyemai ladang,
Menjalankan pabrik
Berapa banyak manusia
Yang kini bersama kelaparan,
Kesakitan, panik, dan teror

Jara, yang menyaksikan langsung horor stadium itu, menyebut para interogator melaksanakan kekejaman ‘dengan presisi.’ Para perwira Chile, yang mempelajari metode penyiksaan di School of the Americas, Fort Benning, mengikuti arahan dari Washington yang delapan tahun sebelumnya turut mengobrak-abrik Jakarta. ‘Kami tak bisa membiarkan sebuah negara jadi komunis karena rakyatnya tak bertanggungjawab,’ ucap Menlu AS Kissinger. ‘Suruh mereka berhenti belajar politik,’ pesannya kepada Pinochet menjelang kudeta.

Empat hari setelah kudeta, 15 september, Jara tewas dibedil. Para pembunuh Jara—yang baru diadili 42 tahun kemudian, tepat Juli lalu—bermain rulet Rusia dengan menyarangkan 44 butir peluru di tubuh sang biduan.

‘Bagi mereka, darah adalah medali dan membantai adalah lencana heroisme,’ tuturnya dalam ‘Estadio.’

Kalender rakyat senantiasa mencatat Mei sebagai pergolakan yang setengah-setengah; romantik namun gagal. Sementara Oktober adalah bulan kemenangan. Lalu September: bulan duka.

Ada alasan mengapa Chile tidak sendirian pada September itu. 10 ribu tangan rakyat penyemai ladang dan pekerja pabrik yang dibilang Kissinger ‘tak bertanggungjawab’ di Chile adalah versi lain dari 6 juta tangan di Indonesia, yang pemusnahannya setengah abad silam menginspirasi ‘Operasi Jakarta’ melawan Allende.

Daftar itu kini bisa bertambah panjang dengan kematian Yun Hap, 24 September 1999, di Semanggi, yang beramai-ramai ‘tak bertanggungjawab’ menolak pengesahan RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya yang militeristik. Jafar Siddiq Hamzah hilang dan ditemukan membusuk pada 3 September, setelah berbulan-bulan ‘tak bertanggungjawab’ menyelidiki kekerasan militer di Aceh selama era DOM. Lalu Munir menyusul pada 7 September, 4 tahun setelahnya, ketika ‘tak bertanggungjawab’ terbang ke Belanda.

11 September 1973 hanyalah satu momentum dimana alumni terbaik Fort Benning membungkam ‘tangan yang menyemai ladang dan menjalankan pabrik.’ Setelah serangan 11 September 2001, mereka meng-outsource interogasi paksa dan penyiksaan ke Dunia Ketiga. Globalisasi penyiksaan ternyata setua globalisasi barang, jasa, dan tenaga kerja.

Maka tak berlebihan untuk mengatakan bahwa laboratorium sosial Sekolah Penyiksa di Barat luar biasa uniknya, karena menggunakan manusia-manusia ‘tak bertanggungjawab’ (menurut Kissinger), ‘Komunis anjing’ dan ‘separatis’ (menurut tentara), dan ‘teroris’ (menurut polisi), sebagai kelinci percobaan: Stadium di Chile, Plantungan dan Buru di Indonesia, peluru tajam untuk Yun Hap, mutilasi pada tubuh Jafar, arsenik di lambung Munir.

Darah September sudah sangat tua, tanpa titik habis, dan terus diperas ‘dengan presisi’.***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus