LKIP Edisi 25

Print Friendly, PDF & Email

Mixtape – Song of the Women
Kliping – Kelaparan dan Pertunjukan Kuasa
Kritik – Jauh dari Keyboard, Dekat dengan Negara
Teori – Bangkitnya Kelas Dramatis

PENCIPTAAN SEBAGIAN BESAR teknologi nampaknya menginduk pada salah satu dari dua tujuan: membunuh atau merawat kehidupan. Meriam dan vaksin. Kamar gas dan rekayasa genetika. Senjata biologi dan kloning. Penemuan-penemuan paling garda-depan sekaligus paling rahasia kini disponsori oleh militer atau dunia kedokteran. Dan ingat, Alfred Bernhard Nobel, sebelum namanya identik dengan penghargaan tahunan yang bergengsi itu, adalah seorang penemu dinamit. Namun sebelum klaim bernada darurat ini menjadi mimpi buruk, tentu ada sanggahan: membunuh dan merawat sama-sama bermuara pada aktivitas-aktivitas bertahan hidup—dalam satu tarikan napas: kerja, yang oleh Marx diberi tempat istimewa dalam sejarah manusia.

Industri, keperluan-keperluan hidup dalam masyarakat, serta kepentingan-kepentingan politik mengubah penggunaan teknologi. Internet, yang awalnya diciptakan untuk kepentingan militer, lama-kelamaan menjadi bagian keseharian kita. Pemancar sinyal portabel digunakan untuk navigasi pesawat militer, sebelum akhirnya nangkring di telepon genggam. Penisillin, yang awalnya diciptakan untuk mencuci luka para prajurit Perang Dunia I, kini bisa ditemukan di puskesmas-puskemas terdekat.

Jika teknologi adalah alat manusia ketika harus berhadapan dengan alam, maka tentu saja ia menjadi pokok penting dalam kerja, Tak dapat dielakkan lagi, teknologi informasi memperoleh arti penting sebagai usaha untuk menjelajahi dan mengakses informasi dari berbagai ruang. Kabarnya, pada zaman Lenin, suratkabar Iskra konon pernah hendak diterbitkan tiga kali dalam sehari guna menyamakan informasi antara satu Soviet dengan Soviet yang lainnya.

Ada banyak yang menilai bahwa melelehnya sekat-sekat ruang dan waktu  oleh teknologi informasi yang semakin menyuguhkan akses real-time, adalah sesuatu yang emansipatoris. Ada pula yang menyayangkan hilangnya tatap muka tradisional yang dianggap lebih intim ketimbang Skype atau Whatsapp. Di satu sisi, perkembangan teknologi informasi menjanjikan demokratisasi informasi seluas-luasnya, sehingga kita semakin mudah mem-bully anggota DPR yang hobi belanja di luar negeri atau polisi korup yang menilang sopir bis Transjakarta demi menyelamatkan rekannya. Di sisi lain, permasalahan dalam dunia digital tidak melulu soal kemudahan akses, tetapi juga kontrol dan kepemilikan.

Tulisan Windu Jusuf di rubrik Kritik membahas beberapa film yang menyinggung kepemilikan pada era digital. Mengulas Citizenfour dan TPB AFK: The Pirate Bay, Away From Keyboard, tulisan “Jauh dari Keyboard, Dekat dengan Negara” mengajak kita membayangkan sesuatu yang sedang dan akan terjadi seturut perkembangan teknologi informasi yang semakin tak mengenal batas, nyaris memvirtualkan apa pun yang bisa disentuh secara fisik, serta mampu mengubah pola kepemilikan. Semisal problem terkait hak cipta, yang sebenarnya tak jauh berbeda dari masalah kepemilikan tanah masyarakat feodal—strukturnya boleh jadi sama, namun pencanggihan pada atribut-atributnya bisa sangat berbeda. Perihal internet juga muncul di rubrik Teori melalui tulisan dari Priska Sabrina Luvita dan Hizkia Yosie Polimpung. “Bangkitnya Kelas Dramatis: Tentang Kehidupan Psikis Homo Economicus Neoliberal pada Era Media Baru (Studi Kasus: Pengguna Facebook dan Twitter Indonesia)” adalah upaya teoretis untuk  menakar perubahan tingkah laku masyarakat dalam mengartikulasikan permasalahan-permasalahan pribadi di media sosial. Yang pribadi dalam media sosial menjadi kabur dan justru diwartakan sedemikian rupa. Lantas, apa artinya urusan pribadi dan pribadi itu sendiri? Luvita dan Polimpung membahas perkara ini hingga menunjukkan kemunculan kelas baru; “kelas dramatis”.

Setelah berasyik-masyuk dengan kekinian, pada rubrik Kliping kami menghadirkan artikel H. Sneevliet di harian Sinar Hindia. “Kelaparan dan Pertunjukan Kuasa” adalah tulisan terakhir Sneevliet sebelum diusir dari Hindia Belanda tanpa boleh kembali. Artikel Sneevliet, yang agaknya ditujukannya kepada tentara (atau “soldadu”), ingin menunjukkan bahwa para serdadu berasal dari kelas masyarakat yang mereka perangi. Melupakan Sneevliet dalam situasi perang global belakangan ini, juga di tengah kian mekarnya rencana pendirian kodam di Papua, adalah sebuah kedurjanaan yang sulit ditolerir.

Selain itu patut disimak pula mixtape “Song of The Women” dari Teraya Parametha yang disusun khusus untuk merayakan Hari Perempuan Internasional pada awal Maret lalu. Lebih dari sepuluh lagu yang dikurasi Tera menunjukkan kekayaan dimensi dari kehidupan dan perjuangan perempuan untuk bebas dari patriarki.

Akhir kata, selamat menikmati Lembar Kebudayaan IndoProgress edisi April 2015. Segenap redaksi mohon maaf atas ketakhadiran kami di bulan Maret lalu. Anggap saja itu April Mop. []


* Ilustrasi: Mart Kakok, 2008, I Want to Reach You


comments powered by Disqus