Enam Lelucon dari Jaman Keemasan

Print Friendly, PDF & Email

SATU-SATUNYA hal yang menggembirakan di jaman Orde Baru adalah humor. Anda bisa bayangkan: ketika boot tentara di muka Anda sudah menjadi makanan sehari-hari, yang Anda bisa lakukan adalah 1) mencari kesenangan kecil dengan menertawakan kemalangan hidup Anda; 2) menertawakan kebodohan penindas (meskipun mereka lebih sering berpura-pura bodoh); 3) menertawakan mengapa Anda kok mau-maunya hidup di bawah penindas. Kira-kira demikianlah esensi setiap humor politik di bawah rejim otoriter.

Maka jangan heran jika Rusia era Stalin hingga Breznev, Jerman Timur di bawah Honecker, Polandia di bawah Jaruzelski, Indonesia di bawah Suharto, adalah ‘Jaman Keemasan Guyonan Politik.’ Setelah Blok Timur runtuh dan Reformasi ’98, nyaris tidak ada lelucon politik yang sekolosal era sebelumnya. Di Indonesia, lelucon yang sering diulang adalah variasi dari kisah Soeharto yang ditendang dari pesawat yang terguncang, begitu para pejabat Orde Baru lainnya sukses kabur dengan parasut.

Ini menyedihkan. Barangkali hanya ada satu alasan yang tepat untuk mendukung salah satu capres yang masa lalunya bermasalah, yakni mengembalikan ‘Jaman Keemasan Guyonan Politik’—jangan lama-lama, seperdelapan periode saja sudah lebih dari cukup. Slogan yang ratusan kali ia gembar-gemborkan ialah ‘menyelamatkan kekayaan bangsa.’ Kedengarannya mengawang-awang, bukan? Ya, tapi tidak buat humor-humor lawas yang bisa dipakai untuk meledek dirinya—berkuasa atau tidak—di masa mendatang.

Tapi mengapa begitu banyak lelucon-lelucon ini bersumber dari Blok Timur? Absennya lelucon tentang kaum fasis Eropa adalah sesuatu yang mengherankan. Saya berandai-andai: mungkin saja rakyat Jerman dan Spanyol di bawah Hitler atau Franco tidak bisa menikmati waktu senggang dan kebebasan relatif yang lebih banyak seperti di bawah Stalin atau Brezhnev. Bahkan, ada kabar jika Stalin sendiri mengoleksi lelucon-lelucon tentang dirinya—tentu sebelum ia mengoleksi para pengarang lelucon itu dan mengirim mereka ke Gulag. Apakah Rusia-nya Stalin lebih ramah? Mungkin tidak. Lebih selo? Boleh jadi begitu.

Tapi kurang gila apa orang Spanyol? Aha, mungkin spekulasi di atas bisa masuk di akal jika konteksnya adalah Jerman, semenjak orang Jerman dikenal jauh dari humor, sehingga mampu melahirkan orang-orang seperti Adolf si Macan Kertas. Saya pun diam-diam meyakini bahwa aktivis-aktivis Kiri kita yang susah diajak ketawa itu tidak berkiblat ke Rusia 1917. Tapi bukankah kaum pembangkang dari Jerman Timur juga rajin merangkai lelucon tentang Partai Komunis di negeri mereka sendiri?

Distribusi lelucon politik dari Blok Timur oleh penerbit Barat bisa jadi merupakan bagian dari politik antikomunis untuk (ironisnya) menyebarkan ketakutan betapa mengerikannya hidup di bawah rejim Soviet. Kalau kesimpulan prematur ini dianggap terlalu konspiratif, anggap saja demikianlah alam pikir yang tercipta di Blok Barat jaman Perang Dingin. Maka, tak usah bingung, Orde Baru yang menganut politik anti-komunis tak menemukan masalah sedikit pun ketika lelucon-lelucon ini diterjemahkan oleh penerbit lokal.

Toh, dalam praktiknya di Indonesia, dampak penerbitan humor ini tidak selalu sesuai harapan rejim. Kita ingat, menjelang keruntuhan Soeharto, muncul buku Mati Ketawa Cara Daripada Soeharto yang beredar secara samizdat (bawah tanah). Banyak muatannya menyadur gojek kere ala Eropa Timur. Di buku itu, Soeharto dan barisan jenderalnya kelihatan sangat—mengutip kata-kata mutiara salah satu capres kita—‘naif dan goblok’. Jauh sebelum Mati Ketawa Cara Daripada Soeharto, di tahun 1986, Gus Dur menulis kata pengantar untuk Mati Ketawa Cara Rusia. Tak perlu diterangkan lebih lanjut siapa dan apa peran penting Gus Dur sebagai oposisi di jaman itu. Singkat cerita, lelucon anti-komunis dari negeri-negeri komunis, bahkan sangat berguna untuk menghantam rejim anti-komunis Orde Baru.

Hari-hari kampanye ini, lelucon yang paling sering beredar bercorak visual (baca: meme). Wajar—ini era media sosial, bung dan nona. Orang lebih suka yang instan dan cepat dipahami. Saya meratapi absennya guyonan verbal yang elegan, yang vulgar maupun subtil, namun abadi pengaruhnya. Karena, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mencemooh kaum jagalnya sendiri. Ini warisan bangsa yang wajib hukumnya dilestarikan, dengan atau tanpa capres ‘itu.’ Apalagi untuk orang kiri yang tak pernah absen mengernyitkan dahi. Terus terang saja: dalam kekecilan yang menyedihkan, dalam kenarsisan meributkan perbedaan-perbedaan sepele, bagaimana Anda mampu mengorganisir pekerja kalau Anda tidak pernah berlatih tertawa sejak dalam pikiran?

Layaknya dua minggu silam, Oase kali ini adalah sebuah kurasi, sebuah kliping kecil dari materi-materi yang sudah ada di tangan. Sedikit excuse: kami memang sedang sibuk di luar website dengan urusan masing-masing (Anda kira IndoPROGRESS menjanjikan kami surga dunia-akhirat?). Tapi jangan dikira ini pekerjaan gampang. ‘Menyusun mixtape, pada dasarnya adalah meminjam puisi orang lain untuk menyampaikan kegundahan pribadi,’ demikian pesan moral pemuda Rob Gordon dalam High Fidelity, film tentang laki-laki putus cinta yang entah kenapa saya tonton sebanyak delapan puluh kali dalam waktu lima tahun terakhir. Di masa pemilu yang ‘ngeri-ngeri sedap’ namun miskin humor verbal ini, puisi orang lain yang saya pinjam dan sadur adalah saduran dari saduran dari saduran dari saduran humor di era 1980-90-an. Bisa juga dibilang plagiasi dari plagiasi.

Saya ucapkan terimakasih kepada pengarang Mati Ketawa Cara Daripada Soeharto dan Mati Ketawa Cara Rusia. Karena, selain satu-dua sumber lisan, sebagian besar lelucon di bawah ini diambil dari dua buku tersebut.

Kebetulan, salah satu lelucon yang saya temukan berkaitan dengan kuda.

 

  1. Prajurit Sapto di Timor Timur

Suatu hari, prajurit bernama Sapto dengan pengawalan ketat melakukan inspeksi ke sejumlah pemukiman di Baucau, Timor Timur. Di kawasan itu, Sapto keluar-masuk rumah penduduk dan memeriksa semua isi rumah secara detil. Rupanya Sapto ingin menyaksikan bagaimana penduduk Timor Timur menata rumahnya, sekaligus seberapa jauh proses integrasi telah berhasil.

Di ruang tamu beberapa rumah penduduk Sapto melihat terpampang gambar burung Garuda dan potret Presiden Soeharto serta Wakil Presiden Try Sutrisno di sebelah kanan-kirinya. ‘Wah, ternyata Bapa sudah sadar dengan arti integrasi ya.’ Dan rupanya Bapa sudah tahu bahwa presiden di Timor-Timur adalah Soeharto dan wakilnya adalah Try Sutrisno. Selamat Bapa,’ ujar Sapto sambil memberikan uang Rp 100 ribu.

Sapto mengulanginya ke setiap penghuni rumah yang diketahui memasang lambang Garuda dan potret presiden dan wapres.

Kini giliran rumah Manuel yang dikenal sebagai anti-integrasi diinspeksi Sapto dan rombongannya. Ketika masuk ke ruang tamu, Sapto tampak tertegun melihat di ruang tamu rumah Manuel tergantung sebuah patung Yesus Kristus tengah disalib. Sedang di kanan-kirinya terpampang gambar Soeharto dan Try Sutrisno.

Raut wajah Manuel dan istrinya sempat tegang. Tapi senyum Sapto pun segera mengembang. ‘Tak saya sangka Bapa Manuel telah menyadari arti integrasi. Terima kasih bahwa Bapa telah menyejajarkan Pak Harto dan Pak Try dengan Yesus,’ ujar Sapto sambil memerintahkan anak buahnya menyerahkan uang sebesar Rp 500 ribu sebagai penghargaan kepada Manuel.

Ketika rombongan berlalu, datang tetangga Manuel bernama Mariano.

‘Lho bukankah Bapa selama ini melawan penindasan penguasa Orde Baru? Apa betul Bapa menyejajarkan Soeharto dan Try Sutrisno dengan Yesus?’ tanya Mariano.

‘Ah siapa bilang. Itu kan kata si Sapto. Kau pasti ingat adegan penyaliban di Golgota. Yang disalib di samping kiri dan kanan Yesus adalah kriminal,’ jawab Manuel enteng.

 

  1. Jenderal Sapto dikudeta

Prestasi kolonel Sapto ternyata mengagumkan. Setelah jadi jenderal, ia menggandeng kelompok-kelompok ekstrem, dan akhirnya berkuasa lewat pemilu. Sayang, masa pemerintahannya sebentar. Ia digulingkan oleh kaum yang dulu mendukungnya.

Suatu hari, tiga orang tapol duduk di dalam sel tahanan militer. Tapol pertama bertanya ke tapol kedua mengapa ia ditahan. Tapol kedua menjawab, ‘karena saya mengkritik Jenderal Sapto.’ Tapol pertama menimpali, ‘Wah, saya bisa di sini karena dulu saya mendukung Jenderal Sapto.’ Kedua tapol lantas bertanya ke tapol ketiga, yang meringkuk di belakang sembari tersedu. ‘Bung, baru ya? Gimana ceritanya situ bisa ditahan? Jawab tapol ketiga: ‘Saya Jenderal Sapto.’

 

  1. Orang Amerika dan rakyat jenderal Sapto.

Orang Amerika              : Bung, negeri saya ini sungguh demokratis. Warga negara bebas berpendapat. Tidak seperti negara Bung yang dikuasai tiran dan pencoleng itu.

Rakyat Jenderal Sapto  : Mana buktinya? Presiden kalian kan senang mengintip isi email rakyatnya?

Orang Amerika              : Begini ya. Setiap hari saya bisa teriak-teriak ‘Gantung Obama’ di depan Gedung Putih dan tidak ditahan.

Rakyat Jenderal Sapto  : Apa hebatnya? Saya juga bisa teriak ‘Gantung Obama’ di depan Istana Negara’ tanpa harus disiksa di atas balok es setelahnya.

 

  1. Lelucon Baru

Alkisah, Presiden Sapto naik pitam terhadap para pengarang lelucon. ‘ Ini aib!’ sahutnya. ‘Tiap hari lelucon dan lelucon. Siapa pengarangnya? Tolong bawa satu ke depan saya!’

Jojon, kacung Presiden Sapto, mengantarkan seorang pengarang lelucon untuk menghadap sang presiden. Masuk ke ruang presiden yang megah itu, si pengarang sedikit terheran-heran sembari memandangi sekitar.

‘Anda cari apa?’ tanya Presiden Sapto. ‘Tidak, Pak. Saya cuma melihat-lihat. Hidup Anda ternyata tidak semenyedihkan seperti yang saya perkirakan,’ jawab si pengarang.

‘Apa yang aneh? Dalam lima tahun ke depan, kita akan jadi bangsa superpower, kita akan nasionalisasi Freeport, merebut kembali Timor Leste, dan menghilangkan Malaysia dari peta dunia! Kita tak gentar… tak gentar… tak gentar… tak gentar!!!’ Presiden Sapto mendadak pidato berapi-api.

‘Nah!’ sang pengarang sontak bersorak. ‘Ini baru lelucon!’

 

  1. Anak Yatim

Utusan dari Partai Kuda Sembrani mengunjungi sebuah sekolah untuk memeriksa jiwa patriotisme siswa-siswanya.

‘Jarwo,’ sang utusan memanggil seorang murid. ‘Siapa ayahmu?’

‘Ayah saya adalah Yang Mulia Presiden Seumur Hidup Jenderal Sapto,’ jawab Jarwo.

‘Anak pintar! Lalu siapa ibumu?’

‘Ibu saya adalah Partai Kuda Sembrani,’ sahut Jarwo.

‘Bukan main! Dan apa cita-citamu saat kau dewasa, Nak?’

‘Saya ingin jadi anak yatim-piatu.’

 

  1. Prajurit Sapto dan kuda

Alkisah, sebelum jadi Jenderal, Sapto ditugaskan ke Bosnia untuk bergabung dengan pasukan perdamaian PBB di sana. Posnya ada di sebuah daerah terpencil, di kaki pegunungan yang sunyi. Selama sebulan, Sapto mencoba menahan diri untuk tidak memenuhi kebutuhan seksnya. Tapi akhirnya dia tak tahan. Dia datang ke koleganya, seorang perwira Arab, dan bertanya bagaimana caranya ‘gituan’ di daerah terpencil ini.

Jawab sang perwira Arab, ‘Kamu bisa pakai kuda di belakang markas itu.’

Sapto langsung merasa jijik. Ia bertekad tidak akan melakukan perbuatan nista ini. Tapi pada bulan kedua, ia tak tahan lagi. Dia datang ke rekannya yang lain, seorang perwira India dan menanyakan hal yang sama.

Pemuda Sapto mendapat jawaban yang sama, ‘Kamu bisa pakai kuda di belakang markas itu.’

Sapto diam, kali ini perasaan jijik mulai luntur, tapi ia bersikukuh dalam hatinya bahwa tindakan itu bertentangan dengan norma agama. Sampai akhirnya di bulan kelima, dia tak tahan lagi. Dia mendatangi si perwira Arab dan berbisik, malu-malu, bahwa dia mau ‘gituan’. Si Arab mengangguk simpatik, ‘Silakan pakai kuda itu, ini memang giliranmu.’

Nafsu sudah di ubun-ubun, Sapto pun bersijingkat mendatangi si kuda, dan melampiaskan hasratnya di tubuh hewan itu. Lalu dia kembali ke si perwira Arab sambil senyum kecil, ‘Wah, thank you, saya sudah pakai kudanya.’

‘Ah, tak perlu berterima kasih. Semua orang di sini kalau mau datang ke rumah bordil di bukit itu memang biasanya naik kuda.’***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus