Edisi LKIP 17

Print Friendly, PDF & Email
Ilustrasi oleh Timoteus Anggawan Kusno
Daftar Isi Edisi LKIP 17:

Pemilu Legislatif telah berlalu. Spanduk-spanduk unyu penuh gelak tawa sudah hilang dari pandangan mata. Namun keseharian kita sekarang diisi oleh manuver koalisi para elit politik. Dengan bumbu cocoklogi, simpang siur perpolitikan kita sama menegangkannya dengan perebutan gelar Premiere League musim ini. Semoga Manchester City tergelincir dan Liverpool menjadi juaranya. Manchester City itu fasis sedangkan Liverpool itu romantis seperti Titanic yang di pantatnya tertulis Liverpool dan The Beatles bagaimana pun juga harus berterima kasih sedalam-dalamnya pada kota itu.

Ketika hendak memulai pengantar ini, seorang kawan berbagi meme di facebook. Prabowo dengan tetesan darah di sudut bibir kirinya. Drakula, saudara-saudari, adalah personifikasi sisa-sisa feodalisme yang berusaha sekuat tenaga mempertahankan kastil-kastil tuanya. Tak jadi soal apakah ia titisan Judas Iskariot atau bajingan lainnya. Abad Pencerahan–abadnya kaum borjuis memang–mengusir para feodal ini ke kutub utara. Namun kawanan drakula ini, selalu dalam kelam malam–katakanlah pada era Kegalauan Besar–kerap muncul kembali. Tengok saja Hitler yang pulang sebagai kopral pecundang dari Perang Dunia I dan memulai Perang Dunia II sebagai orang nomor 1 Republik Weimar.

Kembali ke Pemilu Legislatif yang telah lewat, begitulah ia adanya. Para elit saling menyuguhkan anggur dan berbagi kapling, kita mencoblos lalu pulang menyeduh Kapal Api. Jika begitu, bahkan Widji Thukul pernah berbisik lirih, ‘pemilu… Pilu, pilu, pilu’, apakah salah jika lima puluh ribu rupiah dari seorang caleg depresi kita kantongi? Toh, nasib kita tak jelas juga setelah itu. Pada rubrik Catatan Kawan edisi ini, Dina Octaviana  berbagi pengalamannya sebagai Petugas KPPS pada Pemilu Legislatif bulan April lalu. Dina barangkali bertugas di sebuah wilayah pemilihan yang tidak terlalu banyak konfliknya; minim money politics, surat suara tertukar, pemilih siluman, dsb. Meski demikian, dari pengalamannya kita bisa membayangkan betapa repotnya mengurus satu-dua TPS. Bagi kami, realitas teknis seperti ini jauh dari imajinasi.

Jika Pemilu Legislatif tidak terlalu menjanjikan perbaikan nasib, barangkali perlulah kita menengok pada alternatif-alternatif swadaya. Di sana secercah kemungkinan bisa kita gali dan olah. Pada rubrik liputan kali ini, kawan kami Windu Jusuf berbincang santai dengan Qaryah Thayyibah, sebuah sekolah alternatif berbasis desa tani di Salatiga. Masih di rubrik yang sama, kami pun menghadirkan wawancara Hersri Setiawan dengan alm. Agam Wispi. Jika pembaca sempat menemukan hal serupa di salah satu nomor LKIP sebelum ini, maka tulisan sekarang adalah sambungannya.

Tak patut jika Anda melewati rubrik Karya. Anda akan menemukan seorang perempuan–buruh pula, ditindas suami pula, di sana. Namun dengan tegar, ia besarkan anaknya seraya melawan kesewenang-wenangan laki-laki. Di dalam rumahnya, Astri, tokoh perempuan dalam cerpen Perempuan yang Selalu Hujan itu, terus mengembangkan payungnya. Pada segmen Kliping, kami hadirkan terjemahan surat menyurat antara Herbert Marcuse dan Theodor Adorno, dua pentolan Mazhab Frankfurt. Dalam korespondensi yang berlangsung pada akhir tahun 1960an, kita menemukan selisih pendapat yang cukup keras menyoal kapitalisme lanjut, gerakan mahasiswa, serta pembayangan akan agen-agen perubahan kolektif baru yang dikenal sebagai ‘Kiri Baru’.

Akhirul kalam, selamat membaca. Berhati-hatilah pada bahaya fasisme, atau drakula, yang tengah mengintai Anda.

 

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus