Tuan Gates dan Industri Juru Selamat

Print Friendly, PDF & Email

PERSIS dua tahun silam, Teju Cole, novelis kulit hitam asal Amerika, menulis tentang ‘White-Saviour industrial Complex’ di halaman twitter-nya. Hanya serangkaian kicauan, tapi mungkin akan bikin kuping merah para Tuan-Nyonya yang, tulis Cole, ‘mengejar pengalaman emosional yang otentik seraya menekankan privelese’ dan percaya bahwa dunia ‘tak lain sekadar masalah yang mesti dipecahkan dengan antusiasme’—lewat derma dalam praktiknya, dan Oprah sebagai Public Relations-nya.

Orang lekas teringat Angelina Jolie yang mengadopsi bayi asal Vietnam (tidak akan terdengar spesial jika bayinya itu berasal dari puak Irlandia atau Jermanik); Bono yang melobi lembaga-lembaga keuangan internasional untuk membatalkan hutang negara-negara miskin sembari mengatakan bahwa kapitalisme itu baik adanya bagi Dunia Ketiga; atau lebih lawas lagi konser Live Aid di tahun 1980-an yang diselenggarakan untuk mengentaskan kemiskinan di Afrika—lagi-lagi harus Afrika, bukan negeri ‘teroris komunis’ macam Nikaragua yang diperangi Reagan pada dekade yang sama.

Tapi jangan kira ‘White-Saviour Industrial Complex’ ini cuma sindrom orang kulit putih yang luar biasa sensitif hatinya ketika mendengar berita tentang anak-anak Afrika yang akrab dengan bedil, mahasiswa bakar diri di Tibet, atau pemenjaraan seniman Ai Wei Wei di Tiongkok. Variasi setempatnya—ya, di Indonesia—juga tak sedikit. Dalam alam pikiran kaum liberal-humanitarian yang gemar mengucurkan anggaran untuk menghantam ‘Islam Fanatik,’ Atjeh identik dengan Afghanistan yang perlu diselamatkan dari ‘Taliban Melayu.’ Seturut itu pula, AIDS dan kelaparan membuat Papua nampak seperti Afrika di belahan dunia Timur. Lalu bagaimana dengan meluasnya perampasan tanah untuk pembangunan tambang yang dibekingi tentara dan partai penguasa di Atjeh? ‘Ah itu kan membuka lapangan pekerjaan pasca-tsunami.’ Protes-protes anti-Freeport yang berujung kekerasan di Papua? ‘Bung dan nona, di jaman ketika sharing is caring, siapa suruh demo pakai batu?’

Agaknya Cole perlu menambahkan bahwa yang dimaksud ‘white’ di sini bukanlah kulit putih, melainkan kerah putih.

Dalam imajinasi kontemporer kita, Bill Gates adalah guru dari kaum juru selamat ini. Kisah hidup tamu negara kita yang akan mendarat bulan depan sudah seperti dimodifikasi dari dongeng Horatio Alger—Laskar Pelangi-nya Amerika—tentang pemuda yang tulus, berbudi luhur, rutin ke gereja, giat bekerja dan tidak boros, dan rajin beramal setelah mapan. Horatio Alger modern sedikit berbeda: agak gila tapi jenius, cenderung sekuler, namun sama royalnya. Setelah didepak dari bangku kuliah, Tuan Gates merintis kerajaan bisnis Microsoft dari basement rumahnya. Hanya butuh waktu 25 tahun bagi Gates untuk menggelar lapak baru: penanganan TBC, malaria, HIV-AIDS di banyak negeri.  Miskin, sukses, lalu berderma gila-gilaan—logika penebusan yang kedengarannya mulia sekaligus sederhana bukan?

Dus, Bill Gates tak cuma memoles wajah kapitalisme jadi sedemikian terhormat, tapi juga membuatnya ‘enak ditiru  dan perlu.’ Dalam kapitalisme yang ‘enak ditiru dan perlu’ itu, ketika layanan publik yang disediakan negara dari tarikan pajak terlihat seperti peninggalan abad lampau yang harus dikikis oleh Corporate Social Responsibility—dan persisnya lagi, ketika masyarakat telah dibikin sepesimis mungkin akan kewajiban negara menjamin kesejahteraan warganya. Tapi semalaikat itukah Tuan dan Nyonya Gates?

 

 

Tentu tak ada makan siang gratis untuk setiap dollar yang digelontorkan. Industri juru selamat tak sekadar berfungsi sebagai pemuas hasrat otentisitas kaum kaya. Ada ongkos yang harus dibayar. Timbal baliknya tak main-main, demikian pula resikonya. Saya tak tahu berapa banyak jumlah angka nol dalam lembaran cek yang akan dioper Tuan Gates ke pemerintah RI. Yang jelas, selama ini 26 persen sumber energi Microsoft bergantung pada nuklir. Maka bisa dibayangkan jika dalam waktu dekat, reaktor nuklir dan megaserver milik Tuan Gates yang setiap harinya menampung ribuan foto dan dokumen di SkyDrive, hanya akan berjarak sekian kilometer dari rumah Anda. Setelah kapitalisme bisa langgeng dengan outsourcing, dengan pemindahan pabrik ke negeri-negeri buruh murah, kini ia tengah memperpanjang nafasnya dengan meng-outsource resiko-resiko biologis—lagi-lagi ke negeri buruh murah. Bayangkan: reaktor nuklir di negeri seribu gempa. Seolah-olah insiden Fukushima tak pernah terjadi.

Pastinya AIDS, malaria, dan TBC bukan problem palsu yang diciptakan negeri londo untuk menghisap negeri inlander, seperti yang dibayangkan oleh banyak teori konspirasi ugal-ugalan. AIDS, malaria, dan TBC adalah masalah yang serius—dan struktural. Namun selama  ketiganya hanya menjadi dalih, selama bisnis Tuan Gates sekadar memupuk bahaya di tengah timbunan penyakit yang sudah ada, kita memang tak butuh bantuannya. Orang memang harus berani berteriak ‘Go to hell with your aid’ kepada juru selamat gadungan yang sinis berbisik ‘Go to hell with your AIDS!

Maka, mahasiswa yang sudah kepalang tanggung menyiapkan panggung studium generale tentang enterpreneurship buat Tuan Bill dan Nyonya Melinda, agaknya perlu mengingat satu hal: Anda takkan sempat mengunggah selfie di tengah kebocoran reaktor nuklir.  Buat Anda yang bakal mendemo Bill Gates lantaran ia ‘orang asing,’ mohon diingat pula jika tak ada satu pun reaktor yang akan berdiri jika kontraknya tidak diteken oleh para pejabat sawo matang di BATAN dan Kementerian BUMN—juga fakta bahwa sejak 2005, pemerintah Anda berulangkali menekankan komitmennya pada pengembangan energi nuklir. Buat Anda yang merasa tak perlu merespon Tuan Gates hanya karena Anda seorang fundamentalis iPad dan MacBook, Anda bisa mencoret nama ‘Bill Gates’ dan ‘Microsoft’ dalam tulisan ini lalu menggantinya dengan ‘Steve Jobs’ dan ‘Apple,’ semenjak keduanya adalah pecandu nuklir kelas dewa yang sudah sepantasnya masuk rehab.

Ini perkara survival.***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus