Kalau Tertangkap Basah Memasang Poster, Anggap Saja Itu Ibadah

Print Friendly, PDF & Email

Obrolan seputar poster, protes dan propaganda 

Empat belas September lalu, redaktur Lembar Kebudayaan IndoProgress, Suluh Pamuji, terlibat obrolan dengan tiga seniman poster dan stensil asal Yogyakarta: Alit Ambara (salah satu inisiator Nobodycorp.), Andrew Lumban Gaol (Anti-Tank project) dan Sigit (Digie Sigit). Bagaimana kesenian mampu berkontribusi pada gerakan progresif adalah problem utamanya. Niat baik dan konten yang berkesadaran politis ternyata tidaklah cukup; medium yang digunakan, pilihan bentuk, distribusi karya ke masyarakat–hal-hal yang kerap diabaikan para aktivis yang berusaha bersiasat dengan kesenian—tak bisa lagi dianggap sekunder.

Berikut petikannya. Selamat menikmati!

 

Mengapa memilih medium poster dan tidak yang lain?

 

Alit Ambara: Ceritanya sederhana sih. Dulu saya sekolah patung dan terlibat dengan banyak organisasi. Yang pertama namanya Jaringan Kerja Budaya, yang juga terlibat dengan isu-isu Timor Leste. Poster pertama saya tentang Timor Leste, tentang HAM kalau tidak salah. Waktu itu saya dan kawan-kawan juga  mengorganisir diskusi berhubungan dengan Pramoedya yang mendapat penghargaan Magsaysay.

Awalnya malah saya kurang paham apa itu poster. Tapi karena itu justru bisa semaunya. Dulu ketika kuliah di IKJ, kami belum pake komputer. Tekniknya masih manual, pakai lukisan. Scanner waktu itu sudah ada, tapi kalau butuh banget baru dipakai. Kenapa akhirnya saya memilih mendalami poster, karena poster itu gampang buat saya. Semua orang bisa bikin poster dan secara teknis juga tidak terbatas oleh teknik-teknik yang spesifik. Bisa pakai foto, dsb.

Alasan lainnya, orang biasanya terprovokasi oleh apa yang mau dikatakan oleh poster.  Apalagi, orang kan tidak melihat poster sebagai karya seni, lebih sebagai pamflet. Jadi orang seakan ‘langsung diajak ngomong’. Orang bisa lebih terlibat dengan isu yang muncul dalam poster. Poster juga biasa ditaruh di luar galeri. Orang lebih gampang interaksi, lebih cepat paham pesannya. Isu lebih gampang ditangkap secara tekstual dan visual. Berbeda dengan ketika lukisan di galeri. Tidak ‘pasemonan’ lah—begitu istilahnya dalam puisi.

Poster kan soal komunikasi. Pembuat poster biasanya sudah paham siapa yang akan melihat posternya, sehingga bisa memperhitungkan bentuknya. Ada batasan yang berlaku dalam seni poster. Poster tidak dibuat hanya untuk kesenangan si seniman. Tapi penonton pun juga diperkaya pengalaman artistiknya dengan simbol-simbol baru, kata-kata baru. Orang mendapat sesuatu yang baru lewat ungkapan-ungkapan baru. Jadi tidak hanya ‘gampang dimengerti’, tapi juga ditumbuhkan kesadaran visualnya. Mungkin kita bertiga bisa saja pakai simbol yang berbeda, tapi pesannya tetap sama.

Digie Sigit: Saya menggunakan stensil. Dulu, saya merasa nyaman dengan komik, di mana saya bisa membagi apa yang saya ingin utarakan. Saya bikin komik, saya fotokopi, lalu saya bagikan ke teman-teman. Tinggal ganti fotokopi saja. Komiknya satu halaman satu babak yang berdiri sendiri. Bisa ditempel. Saya sering titip ke teman-teman di kampus, ke mapala-mapala. Kontennya kontekstual. Misalnya dulu ada rencana sweeping warga Amerika di Solo, ya saya bikin komik tentang itu.

Dulu sempat juga bertemu teman-teman Jaringan Kerja Budaya (JKB), dengan tim relawan kemanusiaan. Pasca 98 sampai awal 2000-an, saya masih sering menggarap grafiti. Hanya bermain pada teks-teks. Isinya untuk meng-counter isu-isu SARA, militerisme, dls. Tapi saya akhirnya merasa punya kebutuhan untuk mengolah visual. Makanya di tahun 2003, waktu kami terusir dari Gampingan (Kampus ISI lama), saya dan Toni (Volunteero) mulai mengolah teknik stensil, yang baru saya ketahui belakangan bahwa teknik itu masuk ke ranah seni grafis.

Di tahun 2003, gerakan ini muncul dari anak-anak underground seperti Andrew sekarang. Sumber referensinya dari newsletter-newsletter punk luar. Dulu kami mikirnya: ‘wah, asyik nih, bisa ke mana-mana tinggal semprot.’ Kami waktu itu hanya memikirkan teknis: asal praktis, cepat, nggak ketahuan (aparat). Modalnya HVS dan teks. Lalu tempel di terminal-terminal. Kalau menurut Toni, dulu kita ‘tulus’, nggak berpikir soal kajian atau seni rupa. Ya, sekedar meng-counter atau mengimbangi  isu-isu yang berkembang di masyarakat.

Belakangan, saya menemukan satu wilayah yang menurut saya kuat untuk membuat orang meluangkan konsentrasinya. Mungkin semua media punya (kemampuan untuk menyerap konsentrasi orang). Tapi itu saya temukan distensil dan akhirnya saya teruskan. Tahun 2006, saya masuk sekolah seni, jurusan seni grafis. Sebetulnya urusan seni cukil, dari dulu sudah saya lakukan bersama anak-anak JKB atau Kelompok Rakyat Biasa (KRB).

Menurut saya, ‘daya rusak’ stensil cukup jelas. Bahwa kekuatan teks menyampaikan suatu konten yang serius tidak bisa dipungkiri. Namun metode penyampaiannya pun penting, bukan lagi masalah visual dan teks sendiri. Misalnya pasang poster yang gede banget di atap rumah orang. Tentu ada resikonya. Misalnya anda diteriaki maling, dsb. Tapi justru hal-hal seperti itu yang menggerakkan orang.

Kebetulan kita pun berbicara tentang ‘Estetika Bergerak’. Kita ambil resiko supaya orang bisa sejenak berhenti dari motor, lihat karya, dan mikir. Itu sudah capaian yang bagus menurutku. Kalau soal konsensus formal, cara pajang display itu hal lain. Minimal orang bisa merasakan efeknya, bisa ‘tersinggung’ lah—misalnya karena kita pasang karya di atas propertinya.

Hal-hal inilah yang bikin saya tetap setia dengan stensil. Saya merasa menemukan ‘soul-nya’ di sana. Saya bahkan sampai berpikir, kalau tertangkap saat memasang stensil, anggap saja itu ibadah.

Andrew Lumban Gaol: Background keluarga saya tidak ada yang seniman. Kami orang Batak. Dulu di Pematang Siantar, saya sering main dengan anak-anak punk. Saya mulai banyak bersinggungan dengan kertas, meskipun belum kenal dengan konsep poster, grafiti, dan sebagainya. Yang saya tahu dulu, bikin poster, bikin kolase-kolase dari guntingan majalah itu ya untuk acara punk-punk-an. Waktu itu saya masih kelas dua SMA. Kami dulu tahunya poster itu sebagai bagian dari aktivitas punk. Kita belum tahu bahwa ada disiplinnya, seperti menyangkut tipografi, ukuran kertas dan seterusnya. Pokoknya asal keren, begitu semangat waktu itu. Karya-karya ini sendiri pun hanya beredar di komunitas saja, tidak di luar itu.

Kesadaran poster sudah tumbuh waktu itu. Dan satu-satunya aktivitas seni adalah lewat kertas. Kami harus kucing-kucingan juga. Kalau ketahuan menggambar di bagian belakang buku, bisa dimarahi orangtua. Makanya sebelum pulang harus disobek. Akhirnya gambar-gambar itu dikumpulkan sebagai pecahan-pecahan yang nggak jelas maksudnya apa. Gambar-gambar kami waktu itu masih sekitar karakter komik, Kura-Kura Ninja, Ksatria Baja Hitam, Tiger Wong, dll.

Di Pematang Siantar, secara akses, kami tertinggal jauh. Kalau Jeruji (band punk hardcore) bikin album, baru empat tahun kemudian kita bisa tahu. Akses internet di sana juga mahal banget waktu itu. Kami waktu itu memahami peristiwa protes Seattle tahun 1999, Mumia Abu Jamal, Zapatista sebagai bagian dari punk. Bahkan untuk musik-musik punk beneran, semisal NOFX, kami beranggapan: ‘Ah ini bukan punk. Ini pasti musik anak-anak skateboard.’ Tapi kita juga nggak tahu apa itu skateboard, di mana belinya. Jaman itu, kami masih sok-sokan politis lah.

Kami dulu awalnya bikin poster perang Irak (2003). Keliling kota dan nempelin poster itu di mana-mana. Kami pakai lem Fox yang murah. Satu kilo Rp 6.000. Sudah bisa pilih material juga waktu itu. Tapi kami belum tahu istilah-istilah seperti grafitti, street art, dsb. Kami tahunya dari majalah punk fotokopian. Waktu itu ngomongin Taring Padi (groupnya Digie Sigit), Teknoshit (band elektronika asal Yogya). Dari sana saya berpikir: ‘oh, ternyata bisa ya bikin karya beginian, cukup pakai stensil. Bagaimana lagi, saya dari keluarga non-seniman. Pegang kanvas saja rasanya nggak biasa, bahkan sampai sekarang. Saya nyaman dengan kertas.

Orang tidak melihat medium kertas sebagai seni. Makanya spirit-nya saya pikir dekat dengan punk. Meskipun ada istilah low-art, kita tetap nggak pernah anggap itu seni. Setelah kenal Taring Padi, saya mulai belajar cara bikin poster. Dulu saya belum tahu teknik cukil, makanya pakai pulpen, tapi kok nggak mirip. Yah, tapi itulah proses pendewasaan.

Lalu saya mulai cari referensi. Ketemu poster-poster Konstruktivis Rusia, Tatlin, Rodchenko, dkk. Di sampul-sampul kaset band punk banyak juga desain-desain seperti itu. Akhirnya saya mulai menekuni itu.

 

Sebenarnya, motivasi apa sesungguhnya, atau barangkali bisa diceritakan bagaimana pertemuan proses kreatif Bung sekalian dengan tema-tema sosial-politik?

 

Alit Ambara: Jadi tahun 1993, kami memproduksi MKB (Media Kerja Budaya). MKB mempermasalahkan hal-hal kebudayaan. Di sini mulailah perkembangan menuju hal itu. Karena setiap hari kami mengerjakan hal tersebut, lama kelamaan menjadi—yah, katakanlah—keseharian. Tentu saja karena dahulu saya bersekolah di sekolah seni, ada juga tema-tema lain dalam karya, misalnya tema personal. Tapi itu tidak dipublikasikan.

Setelah era 1990-an, ketika sudah ada internet, kami  (nobodycorp.) mulai menggunakan medium itu. Waktu itu kami memutuskan bahwa kami internet-based; semua digital dan creative common. Tidak lagi manual. Tapi karena sifatnya digital, turunannya bisa macam-macam. Yang menarik kemudian adalah bagaimana orang menggunakan produk nobodycorp. Misalnya di Jember, ada komunitas taman bacaan yang men-download seluruh poster kami tentang pelarangan buku dalam versi resolusi rendah, dijadikan t-shirt, dijual dan pendapatannya buat beli buku. Akhirnya kami kirim yang resolusi tinggi. Pola kerja ini berlangsung sampai sekarang.

Meskipun kami bicara isu-isu politik, HAM, dll, tapi dari konten poster-poster kami, karena bentuknya digital, bentuknya pun bisa diimplementasikan ke bentuk-bentuk lain, bahkan bisa menghasilkan dalam hal ekonomis. Dalam berkarya, memang sebelum mengeksekusi sebuah karya poster, kami sudah membayangkan strategi visual-nya. Intinya, harus aplikatif. Kecenderungan ini  tidak terbatas pada kontennya saja. Harus juga fungsional karena banyak juga yang menggunakannya untuk berbagai macam kegiatan sosial.

Ketika muncul gerakan Occupy, kami juga terlibat di Jakarta. Kami juga membangun komunikasi dengan para aktivis Occupy di seluruh dunia melalui internet. Nah, mereka ini juga mengumpulkan poster dari banyak tempat. Terjadilah komunikasi antar penggagas gerakan ini dari kota-kota. Dari poster-poster ini berkembanglah pembicaraan posisi seputar seni rupa dari sebuah gerakan.

Nah, dewasa ini kan kita memang terkoneksi dengan segala macam sumber berita, entah melalui media sosial atau jaringan lainnya, sehingga mau tak mau kita mendapatkan segala macam berita seputar politik dan sosial. Hal ini harus direspon. Contoh paling dekat belakangan ini misalnya isu Petani Indramayu atau pembebasan Wilfrida. Ketika kedua isu ini hanya sebagai sebuah isu tekstual, entah di media mana pun, ia tidak terlalu ‘berbunyi’. Nah, kemampuan dari seni visual ini, dalam bahasa saya, ‘menaikkan’ tensinya, dalam konteks menjadikannya sebagai perhatian. Dengan televisi, koran, internet, orang sebenarnya dari detik ke detik dijejali informasi. Hemat saya, dengan adanya poster orang punya jeda untuk memikirkan. Poster menginterupsi jejalan informasi ini dengan sentuhan art. Karena ada sentuhan art, orang jadi memikirkan sesuatu di luar keseharian yang diberitakan itu.

Dalam gerakan Occupy, bisa dikatakan, gerakan itu menjadi besar juga karena adanya ribuan poster yang dibuat menyertai gerakan tersebut. Nah, di sini kita lihat bahwa sebuah gerakan mendorong pula kreativitas. Sebuah bentuk kreatif dari sebuah gerakan memberi kesempatan, atau ruang, untuk orang untuk memikirkan lebih mendalam isu yang muncul.

Digie Sigit: Menurut saya, tidak ada karya seni yang tidak politis. Lebih dari itu, sikap saya dalam berkesenian itu adalah memilih sesuatu yang saya anggap penting sehingga saya bisa membuka suatu disuksi bahwa semua karya atau ekspresi itu adalah aktivitas yang politis. Jadi kalau sampai sekarang saya masih berbicara seputar kemanusiaan, keadilan, itu karena masih menjadi PR bagi saya pribadi. Dan ketika situasinya masih juga belum berubah, di situ menurut hemat saya, seni masih penting. Seperti yang dikatakan Bang Alit tadi. Seni punya kekuatan untuk mengganggu sesuatu yang linear dan memberi jeda bagi orang untuk merefleksikan sesuatu. Menurut saya juga, pengalaman kita dalam melihat sesuatu harus dibagikan kepada orang lain.

 

(Apa maksud Bung—semacam mencoba membangun pengalaman kolektif?)

 

Digie Sigit: Ya mungkin begitu. Karena menurut saya, karya seni saya sendiri pun adalah sebuah hasil dari interkasi. Saya berinteraksi dengan teman-teman di mana saya mendapatkan banyak hal; simbol, teknik, estetika, filsafat. Nah dari situ saya mendapatkan semacam kemampuan untuk menerjemahkan atau membaca situasi yang sekarang ada. Nah, kesempatan ini yang saya bagikan kepada teman-teman lainnya lagi. Kita bayangkan saja petani atau buruh yang tidak punya banyak pilihan seperti kita. Nah, dalam posisi kita yang demikian, sudah barang tentu kita perlu inisiatif untuk memotong suatu bentuk dominasi informasi yang membohongi publik misalnya.

Saya teringat misalnya ketika saya membuat karya bertemakan Cak Munir, ternyata Anti-Tank pun melakukan hal yang sama. Padahal, kami tidak janjian untuk itu. Nah, dari hal ini sesungguhnya dapat kita lihat bahwa kita merasakan problem yang sama. Permasalahan Cak Munir ini kan diketahui juga oleh dunia internasional. Itu pun tidak ada kejelasan bagaimana penanganan masalahnya. Apalagi dengan hal-hal kecil yang lain. Nah, di sini saya pikir butuh intervensi atau gangguan dari kerja-kerja kreatif. Pilihan tema dan ekspresi memang banyak. Tetapi kenapa saya memilih tema dan ekspresi yang selama ini saya lakukan itu karena memang saya pikir ada hal-hal penting yang perlu saya sampaikan pada masyarakat.

Proses pemajangan karya Anti-Tank Project di ruang publik (2012)

 

Andrew Lumban Gaol: Menurut saya, apapun karya yang saya hasilkan tetap kontennya adalah perwakilan diri pribadi. Kontennya itu selalu personal. Dengan kata lain, itu opini saya pribadi. Yang saya bawa dalam karya adalah apa yang ada dalam diriku. Dulu ada istilah “if the system fuck you up, why don’t you fuck them back”. Maksud saya, entah kita tak peduli dengan politik sekali pun, politik itu mempengaruhi kita langsung atau tak langsung. Harga tempe saja, misalnya. Itu semua pengaruh politik. Nah, semangat itu yang saya pelihara sampai hari ini. Saya punya modal menggambar, teman-teman yang lain mendukung itu dan kita punya waktu. Maka kami mengerjakan itu.

Kembali lagi pada sejarah punk dan juga sejarah visual pada semua pergolakan di dunia, pasti punya ikon visual. Di Cina, Tiananmen, simbol yang kita tahu adalah orang menghadap tank.  Che Guevara barangkali contoh yang paling jelas. Fenomena ini menurut saya hampir tidak masuk akal. Bisa saja orang iseng menggambar, lalu gambarnya itu menjadi ikon; sebuah ikon visual yang muncul di saat yang tepat. Dan ikon-ikon ini menjadi pelajaran bagi saya sendiri, dan sesungguhnya ada harapan agar karya saya bisa demikian juga.

Alit Ambara: Nobodycorp itu bisa dikatakan sebagai sebuah catatan. Ia merupakan catatan atas apa yang terjadi. Ada beberapa isu yang memang terus berulang. Misalnya isu TKI dan buruh. Di sini, bagi saya, ada tantangan tertentu. Tetapi itu yang menarik. Walau pun isunya terus berulang, mau tak mau kita harus kreatif. Ngga mungkin kita mengeluarkan gambar yang sama, konten yang sama. Kita dengan demikian harus mengolah hal-hal yang baru dari isu yang sama tersebut. Yang baru ini bisa macam-macan; ekspresinya, datanya, dll. Kita harus canggih menunjukkan sesuatu yang berbeda dari sesuatu yang berulang.

Digie Sigit: Dan juga metode kerjanya. Saya pernah sampaikan ke Andrew. Munir-nya itu lebih populer dari pada apa yang dikerjakan teman-teman Kontras. Waktu itu pernah juga teman-teman datang ke Yogya dan melihat karya Munir-nya Andrew. Dan karya Andrew ini punya potensi untuk lebih mempopulerkan Munir, bisa jadi lebih dekat ke publik. Dan itu dilakukan oleh Anti-Tank. Kampanye “Menolak Lupa” seperti ditutupi kelemahannya oleh karya Anti-Tank. Dengan sistem Anti-Tank, karya-karya mereka bisa di-download dan itu dilakukan juga oleh teman-teman di berbagai kota. Jadi menurutku di sini ada semacam kesinambungan kerja. Kita tentu sepakat dengan isu yang meresahkan seperti Petani Indramayu, pelarangan buku. Dan kita sama-sama bergerak dan ini merupakan suatu yang saling memperkaya. Di luar kecanggihan kita masing-masing membuat karya, kita juga saling melengkapi. Dalam contoh “Menolak Lupa” tadi, saya lihat ada hal itu. Teman-teman Kontras dengan keterbatasannya mengangkat persoalan Cak Munir. Lantas, Andrew muncul dengan tema serupa yang juga di-support oleh beberapa teman di luar Yogya. Sampai ikon wajah Munir ini menjadi identik dengan “Menolak Lupa”. Ini pencapaian yang cukup bagus di luar konsepsi-konsepsi formal kesenian. Kalau ngomong tentang yang seperti ini gak boleh. Muka orang kok dipasang di kaos, itu gak boleh. Dengan logika formal itu, nanti gak akan masif. Setidaknya anak SMA sekarang bisa mengenal siapa itu Munir itu karena Andrew.

 

Mungkin bisa dikatakan juga bahwa pencapaian-pencapaian seni poster, misalnya tadi yang dilakukan Andrew dengan Cak Munir, saling terkait atau dipengaruhi oleh penguasaan atau medium teknologi yang digunakan. Nah, barangkali bisa sedikit diceritakan sejauh mana perkembangan teknologi dalam konteks produksi dan distribusi karya poster?

 

Andrew Lumban Gaol: Yang paling nyata adalah, dengan teknologi yang ada sekarang, kita bisa produksi massal. Gambar itu bisa melewati beberapa gunung. Saya sendiri pernah mengalaminya. Kalau tak salah, waktu itu dalam rangka menanggapi kedatangan Budiono di Yogya. Poster yang saya tempel hilang. Pesannya, kalau tak salah ingat, ‘antara ada dan tiada’. Saya lantas mengunggah itu di internet dan tersebar. Lagi-lagi ini faktor komputer yang semakin memudahkan segala pekerjaan menyangkut poster. Karena mudah, orang bisa cepat tertarik. Barangkali inilah yang tak ada pada era Sudjojono dahulu.

Tetapi ada juga komentar bahwa menggambar seperti Anti-Tank itu gampang. ‘Kalau cuman pakai Coreldraw, anak SMP juga bisa’. Dan justru karena gampang ini harusnya bisa massal. Semua orang bisa melakukannya. Namun kenapa hanya orang-orang tertentu saja, atau orang itu-itu lagi yang melakukan?

Jadi perkembangan teknologi sekarang itu bisa mempopulerkan hal yang rumit, gawat, dalam kemasan baru. Teknologi memungkinkan hal itu.

Digie Sigit: Sama ya garisnya. Jadi teknologi itu mempercepat proses produksi. Ini karyamu, misalnya fotografi. Teknologi sekarang lain. Karena yang tadi kalau mau dari awal bikin karya bisa dari sketch dulu untuk merangkum ide, terus itu bisa dicari padanannya (dalam) ikon-ikon yang cukup populer. Aku bikin jendral Polpot nembak rakyat Vietnam (yang) kepalanya aku ganti troli. Itu aku kasih judul “Belanja Atau Mati”. Ini berarti kita dipaksa belanja, kalau tidak mati. Seperti itu. Atau kadang saya jalan dan nemu adik pengemis di Gejayan, kufoto, lalu kepalanya aku kasih mahkota. Karya itu diambil dengan kamera digital. Sangat tidak mungkin dulu pakai negatif film. Nah, itu gak mungkin jaman dulu. Bisa juga aku dapat dari internet atau aku cari obyek foto di luar. Terus secara teknis, bikin masternya dibantu komputer.

Kalau dulu, di tahun 2003, kolase foto dari koran, aku fotokopi, dan itu masih gambling cari hitam-putihnya. Nah, sekarang mau gak mau jadi bisa Corel(draw). Dulu juga pernah, satu folder hilang karena komputer rusak. Nah, sekarang ada facebook, jadi bisa disimpan di situ. Dalam hal publikasi, kita tidak hanya tergantung orang jurnalistik. Kita bisa menggunakan  facebook, misalnya. Jadi, memang teknologi memberi kemungkinan itu.

Kadang, sampai sekarang, justru proses berkarya seperti itu ada di tengah. Jadi bagaimana aku bisa menciptakan foto. Mengapa di jalanan juga ada interaksi langsung. Di sisi lain aku juga bisa mendapatkan foto dengan isu yang aku maksud dengan situasi yang mendukung. Nah, ini juga perlu disikapi dengan kritis karena ada pendapat dari teman-teman, ‘oh tempat ini bagus untuk difoto’. Lokasi juga penting. Maka saya bilang, kita seperti jurnalis karena saya menekankan perihal lokasi ini.

Proses berkarya itu menjadi media diskusi yang bersifat edukatif. Aku juga menurunkan hierarki seni untuk bisa dipahami anak umur 6 tahun. Saya sering mengajak anak saya (Reyna) diskusi. ‘Bagusnya bikin karya apa ne dik?’ Lah, ngapain kita meninggi-ninggi, padahal akhirnya gagal. Seni ini kan alat komunikasi, bahasa, untuk itu harus se-komunikatif mungkin. Jadi walaupun di status quo masih tetap mempertahankan yang rumit adalah art. Saya sudah tidak seperti itu. Saya membagikan apa yang menurutku penting di dalam karya saya. Dan yang penting ini haruslah bisa dipahami. Ya karena itu tadi, seni itu sesuatu yang harus komunikatif. Seni itu harus bisa dipahami, apa pun karya itu, ketika ia bisa dipahami, ia berhasil. Saya sendiri selalu ingin suatu waktu mencari sesuatu di jalan. Jalan itu komplit. Begitu banyak kegelisahan. Kadang, ketika ketemu teman di jalan, itu malah mengganggu. ‘Saya itu lagi cari ide je? Hehehehe…’ Di Jakarta itu lebih produktif untuk saya karena begitu banyak yang menggelisahkan, sedangkan di Yogya itu harus dicari. Karena di sini kita sepertinya mapan.

 

Soal distribusi, selama ini kan kalian lebih sering memamerkan karya di ruang-ruang yang mudah dijamah publik: ruang publik atau sosial media. Saya ingin tahu, apakah kalian masih butuh galeri seni? Jika iya, lantas fungsi galeri seni bagi kalian itu seperti apa?

 

Alit Ambara: Memang dari awal saya sudah menentukan bahwa basis distribusi Nobodycorp. adalah teknologi internet. Itu yang menjadi etalasenya, pendistiribusiannya. Mungkin beda dengan Sigit atau Andrew. Karena, di satu sisi, mereka bilang bahwa sekarang era digital dan juga mudah didistribusikan lewat internet. Secara teknis itu sudah memikirkan output minimal. Misalnya fotokopi. Karena kita tahu sendiri internet itu masih tidak begitu bagus, hal ini kemudian diperhitungkan. Poster-poster itu kan banyak variasinya. Tapi minimal mudah diaplikasikan. Kalau kepentingan galeri itu ya lebih sebagai media presentasi saja. Apakah di galeri seni menjadi ‘lebih nyeni’ atau tidak, kan itu interpretasi orang aja. Tapi dari sisi mekanismenya, sebenarnya sama aja. Dia hanya sebatas sebagai media presentasi dari karya itu sendiri.

Makanya, untuk menghilangkan kesan itu, barang seni harus ‘dihancurkan’. Maksudnya, dengan cara produksi massal tadi. Biar tidak dibuat eksklusif, walau pun kadang-kadang ia menjadi barang yang patut dikoleksi. Misalnya, orang mencari poster Paris 68. Ya pasar seni seperti itu. Ia akan mengkooptasi apa pun yang bisa dijual. Kita sendiri akan, atau sudah, tergerus oleh hal itu atau nggak?! Kalau aku sih, dengan adanya internet, karya-karyaku masih tetap ada dan orang bebas download. Apakah nanti ada kolektor yang melihat, ya itu urusan orang yang membeli. Artinya, akses pada karya itu harus tetap terbuka luas. Ia tidak menjadi barang yang eksklusif.

Seperti sekarang misalnya, poster-poster Occupy itu didistribusikan, dicetak dan dikoleksi. Dicetak dengan bahan mahal, untuk kepentingan koleksi museum, koleksi perpustakaan; itu jadi barang kolektor. Tapi itu tetap bisa di-download sendiri. Misalnya sekarang, ada organisasi Occupy, tapi orang tetap bisa download bebas. Walaupun Occupy sendiri membuat semacam seri cetakan bagus yang didistribusikan ke museum-museum dan dipamerkan di galeri-galeri. Mungkin itu sekarang dilihat sebagai karya seni, tetapi juga tetap bisa diakses.

Andrew Lumban Gaol: Tergantung galerinya. Aku pernah bikin jadwal minimal seminggu dua kali bikin poster. Pada 2008-2009, hampir tiap malam saya bikin, pas soal Munir itu. kemudian semakin ke sini, aku berpikir, ‘gak mungkin juga nih’. Sekarang bahkan bisa dua minggu sekali doang. Itu banyak faktor. Tapi hal yang cukup penting itu harus punya waktu untuk kerja di studio, untuk mencari kemungkinan-kemungkinan baru atau pendekatan-pendekatan baru bagaimana caranya mengemas satu isu, biar bisa komunikatif. Kalau aku terlalu memforsir kerja di jalanan, hal itu tak bisa aku dapatkan. Dan begitu muncul temuan-temuan baru ini, sepertinya layak untuk ditampilkan di galeri. Karena di galeri itu ada ruang diskusi, kita bisa presentasi karya dan komunikasi yang lebih rileks. Di galeri bisa diminimalisir segala distorsinya. Jadi galeri itu cukup perlu untuk mengakomodasi kerja-kerja personal untuk ditampilkan. Orang datang dan melihat, ada komunikasi dua arah dan diskusi. Ada temuan baru yang bisa dibagi ke banyak orang. Tapi ya, aku belum berani pameran sendiri. Itu masih jauh-lah. Pameran bareng itu lebih santai dan itu masih cukup penting untukku saat ini.

Digie Sigit: Galeri lebih ke fungsi kajiannya buat aku. Karakter karya itu kan punya sisi pengulangan. Kalau membicarakan karya seni yang eksklusif, engga juga. Karena sifat karya kita ini bisa dicetak ulang dan masif. Buatku masih perlu galeri yang dia adalah ruang untuk mengkaji kerja-kerjanya kita. Itu masih perlu. Konteks sekarang justru ketika aku ingin mempertanggungjawabkan karya-karyaku maka aku perlu ruang, seperti yang dibilang Andrew. Ruang atau galeri ini memungkinkan untuk kita membangun dialog yang lebih intens. Publik lebih jujur, atau nyari atau nemu seniman. Misal si ‘A’ ada pameran di sana. Gue mau ketemu. Jadi ada titik temu di mana publik bisa bertanya dan seniman jawab. Tidak seperti di jalanan ya. Itu tak mungkin terjadi. Yang menjadi penting adalah tujuan atau memposisikan perlakuan terhadap karya kita. Satu karya kita harus bisa dipahami atau menjadi bagian aktivitas komunikasi dan didasari atas esensi-esensi yang memang kita pikir penting untuk dibagi. Seperti itu.

Jadi galeri bagiku perlu karena ruang-ruang kajian itu masih perlu. Dan perlu digarisbawahi, galeri yang ‘kumaksud ada sisi kajiannya (entah ada sisi komersil atau tidak untuk karyaku, aku koq nggak punya bayangan) Kita juga harus objektif bahwa tidak semua item di galeri ini hanya ekonomis doang. Misal pameran instalasi sama kayak kita. Sisi ekonomis kecil, tapi kajiannya yang dipentingkan. Ruang atau galeri masih perlu kalau konsepnya ingin mempresentasikan dan aktivitas kajian masih perlu. Itu bagian dari metode mendistribusikan karya. Kalau bahasa aktivis, ini bagian dari pengorganisasian.

Kemarin aku cukup senang ketika banyak anak muda yang hitungannya lulus SMA yang datang ke pameranku.  Nah, di situ, di bawah judul karya dan ukuran karya, uraian konsep aku sertakan. Itu yang aku prioritaskan. Aku ingin mencantumkan konsep karya di caption. Karena orientasiku komunikasi. Tidak ada konsep dan cuma judul itu masih meraba-raba. Jadi secara estetik, psikologis masih kupertahankan. Secara gamblang menggurui, itu aku hindari.

Konsep menjadi penting dicantumkan karena anak muda ini, biar pun hanya membaca sepenggal, masih bersemangat. Jadi biar itu masuk ke pemikiran personal-personal ini. Itu pentingnya. Itu alasannya. Bukan serta merta aku mendokumentasikan karyaku, enggak. Misalnya deskripsi yang menyertai fotoku di blog atau di facebook. Jadi aku berusaha memberi sedikit penjelasan. Jadi biar anak muda ini bisa membaca. Ini bisa terjadi di dalam ruang. Konteksku pameran sekarang ya itu. Walau pun kalau komersil itu orentasinya sangat jauh ya.

Awal tadi aku sampaikan, seniman memberikan pertanggungjawaban karya itu memang perlu. Di kita hampir enggak ada. Tetapi ini memang dianggap biasa di Indonesia. Di konteksku, karena kita bicara tentang ruang publik dan milik supermasi publik, maka aku butuh mempertanggungjawabkan karyaku. Karena kita meletakkan karya kita di ruang publik. Minimal di komunitas street art yang kecil ini dululah. Biar komunitas ini bisa punya pengalaman estetik bahwa kita itu harus bertanggungjawab. Bukan soal eksis di mana-mana, tapi pada satu titik kita harus bertanggungjawab. Walau pun trigger-nya memang ada teman yang nawarin. Aku juga terima kasih karena ia jadi pemicunya. Karena kalau tidak, barangkali aku tidak mungkin melakukannya.

Pameran itu kan bahasa kesenian. Ruang itu penting. Pengalaman kita di solo, karya-karya Bang Alit dicetak, terus dijadikan instalasi bareng dengan item-item yang ada. Mahasiswa di sana bisa baca detail, terlepas dari masalah komposisi tipografi nyambung engga, terlepas dari itu ruang adalah bagian dari aktivitas kesenian aku pikir. Entah itu galeri, ruang publik yang lebih cair, keduanya masih perlu.

Anti-Tank Project - Melawan PenguasaDigie Sigit - Belanja Terus Biar Kayak Manusia(2013) sumber - digiesigit.wordpress.com)

Pertanyaan terakhir, apa harapan Bung sekalian ke depannya? (Alit, Sigit, Andrew tertawa–termasuk Fahri Salam dan Muammar Fikrie yang sejak tadi ikut menyimak wawancara ini).

Tampaknya ada yang aneh dengan pertanyaan saya barusan. Kalau gitu pertanyaan terakhir diganti aja. Tapi diganti apa ya…

Fahri Salam: ganti ini aja: Apakah poster bisa menurunkan rezim?

Digie Sigit: Bisa… bisa! Soeharto turun dari selebaran, apalagi poster.

 

Wah, sepertinya jawaban untuk pertanyaan itu akan menarik. Okey, pertanyaan terakhir diganti itu aja. Apakah poster bisa menurunkan rezim? Dari Mas Alit dulu ya, Mas Sigit.

 

Alit Ambara: Yang menarik itu cerita dari Mesir pertama untuk menurunkan Mubarak. Waktu itu hampir bisa dilihat, di televisi itu tidak ada satu pun poster. Semuanya tulisan yang ditulis di kertas. Nah, kita tahu, waktu itu turunnya Mubarak hampir bersamaan dengan gerakan Occupy yang disebut Arab Spring. Entah kenapa sedikit poster. Mungkin di Arab budaya gambar tidak terlalu populer. Baru kemudian saja banyak poster tentang Mesir. Kita juga bikin poster tentang Mesir. Waktu itu kita sebar lewat internet. Kita upload di situs-situs yang mudah di-download. Karena apa? Waktu itu gerakan di Mesir berbasis internet. Jadi hampir bisa dikatakan kemungkinan poster itu tidak dicetak., tapi kemudian mewarnai gerakan itu. Gambar-gambar tentang Mubarak dengan segala macamnya muncul. Sama juga sebenarnya dengan ketika Suharto turun. Yang bisa dikatakan tidak banyak yang menggunakan poster. Sebelumnya mungkin ada Semsar Siahaan. Kasus lain, di Amerika Latin, ada simbol yang ditakuti oleh rezim karena simbol itu mempersatukan kekuatan rakyat. Misalnya di  Guatemala, ada stensilan kecil orang memakai sombrero yang menjadi ikon yang sangat kuat bagi masyarakat Guatemala. Ia memiliki daya gedor yang luar biasa. Nah, di Indonesia, baru belakangan saja ada perhatian dengan hal semacam itu. Para aktivis baru mulai merasa punya kebutuhan dan kesadaran bahwa ekspresi-ekspresi budaya seperti itu penting.

Untuk pertanyaan bagaimana sebuah poster bisa menjatuhkan rezim atau tidak, itu sebenarnya pertanyaan tentang bagaimana sebuah poster dibuat, ekspresi budaya apa yang dipakai sehingga mampu menggerakkan massa.  Ini terkait dengan penciptaan bahasa visual. Semisal, dalam hal simbol. Apakah ikon tinju mengepal itu asli punya kita atau bukan? Jika bukan, pertanyaannya, pesan yang dibawa simbol itu bakal sampai atau tidak? Dalam kasus PKI, simbol palu arit, simbol buruh dan tani itu, sebetulnya tidak dikenal di sini awalnya, karena aritnya bukan arit Indonesia. Ini berkaitan dengan problem berbahasa. Jadi untuk mendorong gerakan massa, kita harus kuasai dulu bahasa massa, baru bisa mendorong gerakan massa. Sekarang banyak  LSM yang dalam  kampanyenya asal mengadopsi simbol yang populer di luar negeri. Tentunya ini akan sulit diterima sebagai common sense. Cara bahasa gambar  bekerja mirip dengan bahasa lisan. Dulu banyak yang berusaha kembali ke akar, mengadopsi wayang, simbol-simbol daerah. Namun pencarian cara berbahasa semacam ini hilang setelah 1965. Warisannya terputus.

Digie Sigit: Soal penciptaan bahasa massa, (pendapat saya) sama seperti Bang Alit. Poster itu bisa meruntuhkan rezim, ketika bentuk bahasa semacam itu bisa di dorong sampai ke titik masif. Dari sini ikatan muncul. Misalnya munculnya kesadaran yang sama atas ‘musuh bersama’ Dulu, meruntuhkan Suharto rasanya mustahil. Seperti mimpi saja. Tapi itu jadi mungkin sejak produksi selebaran semakin masif, disebarkan ke simpul-simpul massa, ke kampus-kampus dan sebagainya, sehingga muncul konsensus ‘musuh bersama’. Sekarang ‘musuh bersama’ itu belum dimunculkan. Selain itu, momentum pun harus dipertimbangkan. Saya sadar poster hanyalah bagian kecil dari gerakan. Tapi bukannya tidak penting. Kita tidak bisa menganggap ini main-main. Produksi dan distribusinya harus continue. 

Andrew Lumban Gaol: Aku coba mengibaratkan poster itu kertas. Jika orang hendak membakar sesuatu, kertas bisa dijadikan medium untuk api. Entah yang mau dibakar rumah atau apalah. Di musik, Bono, (vokalis band) U2, pernah bilang: musik tidak akan bisa mengubah dunia, tapi musik akan mengubah orang. Nah, orang inilah yang kemudian akan mengubah dunia. Tak terkecuali poster. Poster juga mungkin melakukan hal serupa. Intinya, poster mungkin sebagai medium perubahan. Maka dari itu, mungkin pula baginya untuk menurunkan rezim.***

 

*Transkripsi wawancara ini dikerjakan oleh Berto Tukan dan Windu Jusuf.

Mikul Dhuwur

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus