Enam Lima dan Kita

Print Friendly, PDF & Email

Oase-icnANDA tahu bagaimana rasanya menjadi kolumnis dwimingguan yang gilirannya menulis tiba di akhir September? Anda mungkin akan merasa harus menulis tentang peristiwa ‘65—ketika semua orang akan menulis topik yang sama dengan cara yang kurang lebih identik.

Inilah yang belakangan terjadi pada saya: bosan dan tak tahu mana yang bagus buat ditulis. Anda, para pembaca yang budiman, mungkin mengalami hal yang sama ketika melihat judul di atas yang generik dan tak jelas juntrungannya itu. Apalagi saya. Saya kenal beberapa orang yang biasanya absen dari media sosial selama seminggu ketika lebaran. Bukan karena mereka rajin sowan ke sanak-saudara; mereka orang yang kesepian, bahkan lebih merana ketimbang saya. Mereka sekadar malas membaca status dan posting yang itu-itu saja selama bertahun-tahun.

Barangkali, seperti halnya orang jarang puasa di luar bulan puasa, kita pun hanya #MenolakLupa di bulan September.

Rekan saya yang bergantian mengisi kolom ini (namanya Berto Tukan, kalau tidak salah—maaf, kami kurang akur dan sering sikat-sikatan di alam nyata) berkali-kali menyodorkan topik apa saja yang bisa diangkat dengan kata-kata kunci ‘PKI’, ‘Suharto,’ ‘Pengkhianatan G30S?PKI,’ ‘Arifin C. Noer,’ ‘harum bunga,’  ‘genjer-genjer,’ Gerwani,’ ‘Orde Baru,’ ‘Angkatan Darat,’ ‘Korban,’ ‘eksil,’ ‘sastra eksil,’ ‘Act of Killing,’ ‘Joshua Oppenheimer,’ ‘Holocaust,’ ‘Lekra,’ ‘Manikebu,’ dan puluhan lainnya. Toh, saya tetap bingung mencari celah apa yang belum ditulis.

Bagaimanapun juga, kita tak lagi hidup di jaman Orde Babe—jika ingin tahu lebih banyak, orang tinggal mencari kata ini dan itu di google, lalu menghubungkannya satu sama lain. Tapi sayangnya, google bukan dunia nyata (lain soal jika kolom chat di halaman facebook Anda nyala selama 24 jam seperti akun ini). Di luar google, berlaku apa yang beratus tahun lalu dikatakan Thomas Hobbes sebagai ‘watak asli kehidupan’: ‘soliter, nelangsa, menjijikkan, kejam, dan singkat.’ Propaganda anti-kiri masih diucapkan dengan fasih, kendati lebih sering reaktif ketimbang terencana. Lalu, permintaan maaf dari negara? ‘Gampang amat!’ begitu kecam Pram.

Majalah Tempo berkali-kali mengulas topik 65, dan sepertinya sudah jadi ritual tahunan. Meskipun urat anti-kirinya tak pernah putus dan seringkali patronizing—terlihat dari editorial tahun lalu yang berbunyi ‘… tak selayaknya kita alergi terhadap komunisme. Sudah lama ideologi itu bangkrut’—toh, saya tetap mencari ‘Edisi Tahunan 30 September.’ Kalau perlu cepat-cepat saya gandakan secara digital, mana tahu diborong intel.

Saya belum cek tradisi Kompas. Tapi seingat saya, biasanya mereka meminjam mulut Romo Magnis untuk mengutarakan sikap yang kurang lebih sama seperti Tempo. Oh, maaf, baru-baru ini Kompas memuat tulisan Bill Liddle tentang film Act of Killing. Ada paragraf yang berbunyi seperti ini: ‘Sayangnya, kepada para penonton hanya disajikan kalimat singkat pada adegan awal yang mengklaim bahwa Pemerintah Indonesia digulingkan tentara pada 1965. Implikasinya: Demokrasi Terpimpin merupakan pemerintahan yang sah … Saya pun harus mengakui kemampuan Oppenheimer membuktikan betapa kuat pengaruh segi buruk Orde Baru pada Indonesia masa kini.’

Lalu saya pun bertanya balik: ilmuwan macam apa yang masih percaya ada ‘segi baik’ dari Orde Keropos?

Demikian juga di dunia kreatif. Sudah banyak sekali—alhamdulillah!—novel, teater, dan film tentang ‘korban enam lima.’  Niatnya mulia: membela korban dan #MenolakLupa. Tema yang sering muncul: salah tangkap. Singkatnya begini: Si A bukan PKI, tapi karena ikut Lekra, disiksalah ia di kamp tentara; si B petani biasa, tapi lantas terhasut oleh kampanye anti ‘Tujuh Setan Desa’ PKI dan karenanya mampus diganyang Angkatan Darat; si C dapat beasiswa ke Moskow, tapi tak bisa pulang karena peristiwa 65. Intinya, tanpa sadar berbicara: ‘ini semua gara-gara PKI, sehingga orang-orang tak berdosa ini kena getahnya.’ Sial betul jadi PKI. Kalaupun mereka dianggap korban, statusnya adalah yang paling bawah: pariah-nya korban. Barangkali, dalam tiap seruan ‘jangan sampai terulang lagi tragedi ’65,’ tersembunyi perintah ‘jangan sampai komunis tumbuh lagi dan cari gara-gara di Bumi Pancasila!’

Dunia akademis memang penuh persaingan. Anda diminta memproduksi tulisan ilmiah  sebanyak-banyaknya yang ‘brilian’ dan ‘orisinil’ sehingga kalau tak ada lagi yang bisa diangkat, Anda terpaksa menggoreng hal-hal yang menjemukan dengan istilah-istilah baru (kalau perlu bikin sendiri). Entah sudah berapa banyak buku dan makalah tentang ‘rekonsiliasi’ (ingat, ini tidak berarti ‘rehabilitasi’) atau ‘politik ingatan.’ Di kajian yang saya geluti, tak terhitung banyaknya makalah dengan judul generik seperti ‘Konstruksi Sejarah Militer dalam Film Pengkhianatan G30S/PKI.’ Ada satu makalah yang judulnya segar: ‘Semiotika Raja Tega: Sosok Suharto dalam Pengkhianatan G30S/PKI.’ Isinya? Jangan ditanya.

Toh sedikit sekali sarjana lokal yang mau bersentuhan dengan pra- ’65 atau jauh sebelum itu. Ada seorang kawan yang tengah merampungkan disertasi tentang peran pelaut dalam jejaring gerakan komunis di Indonesia dan Belanda jaman kolonial.  Betul, saya sedang promosi. Tapi lain dari itu, saya mau bilang: sejarah kiri di Indonesia tak melulu kelam, kok—bahkan riwayat percintaan saya boleh jadi jauh lebih suram. Sempat ada ‘good old days’ yang dihasilkan dari kerja keras kolektif—dan kerja kerasnya itulah yang jarang dikaji dengan serius, pun oleh orang kiri sendiri.

Rekan saya, Berto Tukan, telah berusaha keras membantu saya berpikir kira-kira apa yang bisa ditulis tentang enam lima namun tanpa linangan air mata. Untuk itu, saya berterimakasih kepadanya. Sialnya semakin keras berpikir, semakin saya sadari bahwa kami memang anak dari zaman yang terlanjur melankolis, yang meratapi masa lampau dan sulit menangkap celah-celah politik di depan untuk menebus peristiwa kelam 48 tahun silam.

Dan kalau kemungkinan politik itu tak dikejar, saya khawatir segala hal tentang enam lima hanya akan menjadi ‘industri korban.’***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus