‘Mengawini Massa’: Saduran Prosa-Puisi Baudelaire

Print Friendly, PDF & Email

Charles Baudelaire—di zamannya ia lebih dikenal sebagai penyair mabuk, dekaden, amoral. Ia sempat disidang lantaran menerbitkan Le Fleurs du Mal, sekumpulan puisi yang dituduh otoritas telah  mempromosikan perilaku bejat dan memancing percabulan. ‘Épater le bourgeoisie’ (‘menggocoh klas borjuis’) adalah jargon waktu itu: golongan kaya dan berkuasa—namun puritan sekaligus serba-munafik dalam tertib moralnya—mesti dikejutkan dengan opium, alkohol, rumah plesir, dan syair-syair yang merayakan hal-hal tersebut.  Kesenian adalah bentuk pengabdian diri terhadap kesenangan pribadi—suatu kredo yang acapkali hadir, bahkan menjadi salah satu  mitos  dalam kesenian modern, baik dalam karya maupun narasi biografi sang seniman.

Corak puisi Baudelaire sering dirujuk sebagai  romantisisme-akhir, yang masih bertutur lewat mitologi dan metafor klasik, namun tak berbicara lagi tentang surga yang hilang, tanah air purba, nilai-nilai ksatria, masyarakat organik, dan sejenisnya, ketimbang yang telah disebutkan di atas: pengalaman tertular sifilis di rumah bordil, kematian, dan yang paling utama, kejenuhan. Inilah yang diantaranya dituturkan dalam ‘Anywhere Out of The World’. Ada permusuhan terhadap dunia dalam sajak dan diri Baudelaire yang—oleh T.S. Elliot dalam sebuah telaahnya tentang sang penyair—mirip dengan contemptus mundi, suatu tradisi spiritual kristiani yang menampik dunia dan menganjurkan pengasingkan diri. Tak perlu disebutkan lagi jika bentuk mistisisme itu kini diisi oleh dekadensi.

Bagi sebagian orang, ia mungkin bukan sekutu yang tepat bagi kesenian kiri, karena tidak ada ajakan tangan mengepal ke udara dan seruan macam  ‘satu kata: lawan!’ Terlebih lagi, karakter-karakter yang ia soroti sebagian besar bukan proletar, melainkan para penindasnya yang kerap diperolok cetek, belagu, dan ngehek. Tapi ada yang perlu dilihat dalam gambarannya tentang superioritas penyair yang  ‘mendekap kerumunan’—karena satu alasan, saya lebih suka menyebutnya ‘mengawini massa.’

‘Mengawini massa’—karya-karya Baudelaire lahir  di tengah kancah revolusi sosial dan politik di Prancis, khususnya sepanjang paruh pertama abad 19. Serangkaian pergolakan politik, dari restorasi monarki, pemberontakan pekerja tahun 1848 (tahun dimana Manifesto Komunis terbit), hingga naiknya Napoleon III. Periode yang sama juga menyaksikan proses industrialisasi di perkotaan. Proletariat baru pun lahir—dan bersamaan dengan itu pelbagai gagasan tentang masyarakat yang egaliter, menyambut kian kentaranya pembagian masyarakat dalam kelas-kelas.

Paris, tempat tinggal Baudelaire, tentu tak lepas dari perubahan tersebut. Kota yang awalnya serba kuno dan kumuh itu diperbaharui agar cocok dengan corak produksi kapitalis dan supaya—dengan dibangunnya jalan-jalan besar—mampu mematahkan pemberontakan massa.  Mulai sekitar 1830-an, modernisasi mulai berlangsung dan mencapai puncaknya sejak 1860-an ketika desainer kota Baron Hausmann mengambil-alih proyek tersebut. Perlahan  Paris menjelma rumah kaca raksasa pengundang rasa penasaran, lengkap dengan parade orang asing yang tak pernah sepi di galeri-galeri, bulevar-bulevar, gedung-gedung opera, kafe-kafe.

Perubahan lanskap kota ini menyediakan panggung bagi iring-iringan karakter anonim—yang disebutnya ‘karnaval’—dalam prosa-prosa puitisnya yang kemudian terbit secara anumerta dengan tajuk  Le Spleen de Paris.[ii]  Dalam kajian budaya, khususnya setelah karya-karya Walter Benjamin (1985), protagonis dalam  Le Spleen de Paris dikokohkan lewat  figur flâneur: si pejalan kaki, yang dalam keluasan waktu senggangnya, mengintip, mencatat rupa-rupa pemandangan kota yang dijumpainya. Ia menjadi bagian dari objek yang ia lihat, hanyut dalam hiruk-pikuk komoditas,  namun senantiasa merasa terpisah darinya. Atau, sebagaimana yang tertulis dalam sebuah sajaknya,  sang penyair berada sekaligus dalam ‘kerumunan, kesunyian’ yang  ‘sama dan sepadan’ (lihat sajak ‘Kerumunan’).

Maka, ‘tatapan’ pun sangat sentral dalam sajak-sajak Baudelaire. ‘Keluarga mata’, tulisnya dalam ‘Mata si Miskin’—ia  mewakili kelompok-kelompok sosial yang berlalu-lalang di bulevar. Orang harus ingat: untuk pertama kalinya kaum miskin, serta sosok-sosok lain dari dunia bawah tanah Paris, kelihatan di muka umum, berkeliaran di jalan-jalan, berbaur dengan haute bourgeoisie (borjuis-tinggi) serta kerumunan acak lainnya, sembari saling bersinggungan, saling iri, saling mengagumi, saling iba, dan saling melotot. Tatapan menjadi bagian dari artikulasi kelas yang mungkin remeh, tetapi juga yang paling telanjang.

Bukan tanpa sebab jika Berman (1986) menyandingkan dua rekan sezaman, Marx dan Baudelaire, dalam beberapa aspek.  Marx, kita tahu, adalah pengecam borjuasi yang paling keras,  yang menyumpahi dalam Manifesto Komunis bahwa mereka  ‘bakal menggali kuburnya sendiri’. Tapi jangan lupa juga, sebelum kutukan bertuah itu keluar, Marx yang sama memuji setinggi langit pencapaian-pencapaian borjuasi, yang sains dan teknologinya sukses merombak masyarakat feodal serta menundukkan ‘alam  di bawah kontrol manusia’. Demikian pula sikap Baudelaire dalam sejumlah esainya. Di kala letupan-letupan romantik menemui kebuntuan (dalam kesenian maupun politik), ia mengutuki para seniman yang ‘membungkus gagasan mereka dengan jubah zaman antik’ seolah masih dipelihara oleh para pangeran. Alih-alih, ia merayakan kesenian yang mampu menangkap perubahan-perubahan sosial yang dihasilkan kelas yang berkuasa di zamannya, beserta pertentangan-pertentangan yang lahir darinya.

Keduanya pengamat yang tekun.

***

Mata si Miskin

Ah! Mau tahu kenapa aku membencimu belakangan ini? Mungkin lebih sulit bagimu untuk mengerti ketimbang bagiku bicara; kau, setahuku, mungkin perempuan bebal paling sempurna yang pernah ada.

Hari-hari panjang kita berlalu singkat. Janji kita adalah angan yang tak lagi asing satu sama lain, jiwa yang tak lagi terbelah dua—mimpi orang jamak yang tak lagi baru, tapi juga tak kunjung jadi nyata.

Suatu senja, kau dudukkan lelahmu di teras kafe yang baru dibangun di ujung jalan itu, dengan puing-puing berserakan ia masih pongah memancarkan kemegahan yang belum lagi sempurna. Kafe itu bergelimang cahaya. Lampu-lampu berpendar hasrat rawan, memantulkan kemilau pada dinding putih, lembaran kaca dalam bingkai, langit-langit dan tiang-tiang berukir emas, para bujang dengan pipi gemuk menuntun kawanan anjing, gadis-gadis menertawakan elang yang bertengger di kepalan mungil mereka, bidadari dan dewi mengusung buah, kue, dan dadu di kepala, Hebes dan Ganymedes merentangkan tangan yang mengganggam cawan berisi krim Bavaria atau obelisk dua warna dengan berbagai macam es, sambil memuaskan lapar orang-orang rakus dengan semua sejarah dan semua dongeng.

Persis di seberang kita, di jalanan, berdiri lelaki separuh baya dengan wajah letih dan janggut beruban, satu tangannya menggandeng bocah kecil, sementara tangan yang lain membopong bocah lain yang terlalu lemah untuk berjalan. Seperti pengasuh anak, ia membawa kedua bocah itu jalan-jalan sore. Orang-orang jembel. Tiga wajah kaku dan enam bola mata memandang tajam ke kafe baru itu dengan kekaguman yang sama, hanya berbeda usia.

Mata sang ayah berucap: ‘Alangkah indahnya! Orang bilang semua emas si miskin tumpah-ruah ke dinding ini.” Mata sang anak: ‘Betapa cantiknya! Tapi orang seperti kita tak punya tempat di sisi lain dinding ini.’ Sepasang mata yang paling kecil tak mengatakan apapun kecuali kebodohan dan kesenangan yang sia-sia.

Para biduan bernyanyi tentang kenikmatan yang memperkaya jiwa dan melembutkan hati. Sore ini lagu itu ada benarnya, sejauh pengamatanku. Keluarga mata ini tak cuma membuatku trenyuh; aku pun malu akan sloki-sloki dan penyuling anggur—betapa mewah dahaga kita. Kualihkan tatapanku kepadamu, kekasihku, supaya aku mampu meraba pikiranku dalam dirimu. Kutatap dalam-dalam bola matamu, gubuk sukma yang nanar itu, di bawah jerat rembulan. Lalu kau katakan kepadaku: ‘Orang-orang itu, mata mereka nyalang, tak henti-hentinya mengusikku! Suruh kepala pelayan mengusir mereka.’

Saling memahami itu sukar, malaikat manisku. Betapa pikiran pun sulit tersampaikan, bahkan di antara dua insan yang sama memadu kasih.

 

“Anywhere Out of the World”[iii]

Hidup ini adalah rumah sakit dengan pasien-pasien yang dirongrong hasrat untuk bertukar ranjang; pasien yang satu ingin menderita di depan perapian, yang lain yakin bisa sembuh di samping jendela.

Aku rasa aku bisa waras kalau aku pergi dari sini. Tak henti-hentinya kuperbincangkan rencana kepindahanku ini dengan jiwaku.

‘Katakanlah jiwaku, jiwa malangku yang beku, bagaimana kalau kita tinggal di Lisbon? Udara di sana begitu panas kau akan menggelinjang seperti kadal. Kita akan hidup di kota pesisir laut yang konon dibangun dari pualam. Penduduknya membenci tanaman sehingga mereka cabuti seluruh pohon. Bentang darat yang pasti kau suka; cahaya dan cahaya sejauh mata memandang, dan kau bisa bercermin pada air!’

Jiwaku tak menjawab.

‘Karena kau suka ketenangan yang berpadu dengan riuh rendah, mungkin kau mau tinggal di Belanda, tanah yang molek itu? Kau mungkin senang di negeri yang lukisan-lukisannya sering kau kagumi di museum-museum. Atau mungkin Rotterdam? Aku tahu kau mencintai barisan layar dan dan kapal-kapal yang berlabuh di kaki rumah.’

Jiwaku diam saja.

‘Mungin Batavia lebih mempesona? Di sana kita akan jumpai jiwa Eropa yang kawin dengan kemolekan tropis.

Tak sepatah kata pun terucap. Sudah matikah jiwaku ini?

‘Apakah kau sudah terlalu bokoh hingga menyerah pada penyakitmu? Kalau benar begitu, lebih baik kita kabur ke negeri-negeri yang serupa maut. Jiwaku yang sengsara, biar kubereskan urusan-urusan kita. Kita kemasi koper dan angkat kaki ke Torneo. Atau lebih jauh: Baltik. atau kalau mungkin, kita lari ke dataran yang asing dari kehidupan—mari tinggal di kutub. Cahaya matahari di sana miring merumput separuh bumi, pagi yang lamban bertukar dengan malam membuat semuanya tampak sama; kita bisa memelihara kejenuhan seperti orang memelihara kucing. Ini sudah separuh ketiadaan. Di sana kita akan berlama-lama mandi kegelapan, sementara Aurora Borealis menghujani kita dengan cahaya merah mawar, serupa kembang api dari Neraka!’

Akhirnya jiwaku meledak dan berteriak bijak: ‘Ke mana pun, asal bukan dunia ini!’

 

Kerumunan

Tak semua orang bisa hanyut dalam kerumunan: menikmati kerumunan adalah seni; hanya mereka yang mau mempertaruhkan seluruh umat manusia, sambil melacurkan diri pada nyalang api kehidupan, yang bisa melakukannya. Peri-peri menimang mereka untuk mengenakan cadar dan topeng, untuk memusuhi rumah dan mencintai jalanan.

Kerumunan, kesunyian: bagi penyair yang rawan dan subur, keduanya adalah sama dan sepadan. Orang yang tak bisa berkawan dengan kesepiannya pun tak mampu menyendiri dalam kerumunan.

Penyair punya kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri atau orang lain. Serupa hantu yang bergentayangan, ia bisa merasuki tubuh siapapun, kapanpun ia mau. Padanya, segalanya hampa; jika pintu-pintu nampak tertutup padanya, itu karena pintu-pintu itu memang tak layak terbuka bagi kedua matanya.

Penyair adalah pejalan kaki yang mabuk sendiri dalam persekutuan semesta. Ia yang mendekap kerumunan meresapi nikmat luar biasa yang selamanya terlarang bagi hati kayu orang-orang egois, begitu pun pemalas dalam rumah keong. Penyair dengan riang memungut segala suka dan duka yang bertubi-tubi datang padanya sebagai tanggung jawab.

Apa yang orang-orang sebut sebagai cinta itu ternyata cuma titik; ringkih dan sempit, tak sebanding dengan orgi yang tak terlukiskan itu, jiwa-jiwa suci yang melacurkan diri sepenuhnya, puisi dan derma, kepada tamu tak diundang, kepada sembarang orang yang lewat. Kadang ada baiknya memberi pelajaran bagi para periang di dunia, memperolok kebanggaan semu mereka, bahwa ada kesenangan yang lebih tinggi daripada yang mereka miliki, lebih luas dan lebih elok. Setiap pendiri koloni, pendeta rakyat, misionaris yang mengasingkan diri ke pelosok bumi pasti tahu sesuatu tentang kenikmatan yang samar-samar ini; dan hati keluarga yang telah melahirkan jiwa-jiwa cerdik mereka, pasti tertawa menyaksikan siapa saja yang telah mengasihani diri mereka lantaran nasib yang demikian sunyi dan kehidupan yang begitu sederhana.



[i] Penulis berterima kasih kepada  Yovantra Arief yang telah menyunting saduran-saduran di atas.

[ii] Prosa-prosa tersebut awalnya terbit sebagai feuilleton, satu corak penulisan di halaman samping editorial koran-koran zaman itu yang memuat berita-berita kecil, cerita-cerita pendek, dan ihwal remeh-temeh seputar kota.

[iii] Judul aslinya dalam bahasa Inggris. Asal-muasal judul ini adalah kutipan dari puisi Thomas Hood, ‘The Bridge of Sighs’

 

Rujukan

Baudelaire, Charles, Le Spleen de Paris, Petits Poèmes en Prose, Gallimard, Paris, 2006. Teks asli diambil dari kompilasi ini.

Benjamin, Walter, 1969 (1985),‘The  Paris  of  the  Second  Empire  in  Baudelaire’, dalam  Charles Baudelaire: A Lyric Poet in the Era of High Capitalism, Verso, New York.

Berman, Marshall, 1988 (1981), All That Is Solid Melts Into Air: The Experience of Modernity, Penguin, New York.

 

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus