La Marseillaise

Print Friendly, PDF & Email

Oase-IPSEORANG teman sudah lama mengaku jadi kiri. Tapi karena sentimen ‘NKRI harga mati,’ ia gampang termakan isu ‘separatisme.’ Papua, menurutnya, ‘beda kasus’ dengan Timor Timur. Belakangan ia agak berubah. Usut punya usut, suatu hari ia menyaksikan dokumenter televisi tentang Freeport di Papua yang—kalau tidak salah—ditayangkan Al-Jazeera. Siaran itu ditutup dengan adegan orang-orang berkoteka berteriak ‘merdeka.’ Dia bilang, ia melihat ketulusan dalam kata ‘merdeka’ itu. ‘Ini absurd,’ lanjutnya, ‘saya kira tadinya mereka cuma “antek Barat.”’

Rouget de Lisle menyanyikan Marseillaise, 1849 (Wikimedia.org)
Rouget de Lisle menyanyikan Marseillaise, 1849 (Wikimedia.org)

 

Saya teringat Haiti dalam tulisan C.L.R. James. Sejarawan Trinidad itu mencatat dalam bukunya, The Black Jacobins (1938): Haiti adalah revolusi modern pertama di luar daratan Eropa dan Amerika; posisi sentralnya sungguh-sungguh menguji komitmen para pengilhamnya di Prancis, yang di tahun-tahun yang sama tengah melengserkan monarki. James bukan sejarawan Marxis pertama yang mengurai tali pusar penghubung revolusi di negara penjajah dan yang dijajah. Sebelumnya, sejumlah sejarawan Rusia di era Stalin telah menyinggung topik serupa. Namun sayangnya, Haiti hanya muncul sebagai catatan kaki pada bab Revolusi Prancis.

Awalnya bukan Prancis. The Black Jacobins dibuka dengan deskripsi panjang tentang para penjelajah Spanyol yang mampir di kepulauan Karibia dan membuka lahan-lahan perkebunan. Dalam kurun waktu 15 tahun pertama, penguasaan Spanyol atas San Domingo (sebutan Spanyol untuk Haiti di zamannya) melibatkan pembunuhan, pemerkosaan, dan kelaparan yang dipaksakan. Angka populasi turun dari satu juta ke enam puluh ribu jiwa. Wilayah ini diperebutkan pula oleh Spanyol dan Inggris. Tahun 1679, Prancis sukses mengambil alih bagian timur San Domingo dan menamainya Saint Domingue. Lambat laun, dengan berubahnya komposisi kelas di Prancis daratan, borjuasi Paris menyulap St. Domingue menjadi sapi perahan. Puncaknya di tahun 1789, dua per tiga ekonomi Prancis bergantung pada pulau mungil tersebut. Seperti halnya perubahan nama dari San Domingo ke St. Domingue, penindasan budak di bawah administrasi Prancis tak jauh beda sadisnya.

Tapi memang menarik membicarakan sentimen anti-kolonial di Prancis era tersebut, yang tak terjadi di Spanyol dimana Jesuit meraja dan pencerahan datang terlambat. Tak sedikit elit terpelajar yang menaruh simpati kepada perjuangan di St. Domingue. Kalangan ini tergugah gagasan-gagasan baru dari sederet penulis ‘ningrat radikal’ macam Voltaire dan Montesquieu. Sebelum revolusi, Count de Mirabeu, seorang liberal Prancis, bahkan menulis ‘sistem koloni adalah Vesuvius yang tengah terlelap.’ Namun James juga menulis nama-nama pemilik perkebunan di St. Domingue yang saban hari merapal ‘kemerdekaan dan kesetaraan,, yang dalam praktiknya diam-diam ingin jadi raja di Haiti. Rontoknya penjara Bastille pada 1789 hanya memberi tahta bagi elit-elit baru di koloni. Tak jarang, di kalangan ‘progresif’ Prancis sendiri muncul argumen yang kira-kira berbunyi: ‘Haiti menyediakan sumberdaya untuk bertahan dari ancaman negeri jiran.’ Kaum parlente yang siap menangguk untung di koloni pun memakai alasan serupa.

Maka datanglah perubahan besar itu. Tahun 1793, revolusi Prancis memasuki fasenya yang paling radikal. Kaum Jacobin, kelompok kiri dalam revolusi, mendirikan ‘Republik Kebajikan,’ lalu memenggal kepala suami-istri Louis XVI dan Madame Antoinette, lantaran berkomplot dengan para ningrat negeri-negeri tetangga untuk mengembalikan kuasa monarki. Angin perubahan berhembus keras ke Karibia. Para pemimpin pemberontak di St. Domingue, Touissant Louverture dan Jenderal Dessalines, segera berkirim surat dengan kaum Republikan Prancis. Februari 1784, Robespierre angkat bicara: ‘Biarkan koloni lepas, [agar] prinsip kita abadi–atau singkatnya, kebebasan Prancis dari tirani adalah juga kemerdekaan seratus persen bagi tanah jajahan. Feodalisme di koloni harus tumpas, sebagaimana di tanah yang mereka pijak.’

Namun, kita tahu apa yang terjadi di Prancis bulan Juli di tahun yang sama. Kaum Girondist—yang kira-kira bisa disamakan dengan Menshevik di Rusia—dan segelintir Jacobin yang tersingkir, mengambil alih Republik. Setelah Robespierre jatuh, dukungan ke pemberontak di St. Domingue suam-suam kuku. Pemerintahan reaksioner ini bertahan kurang lebih lima tahun dan berakhir dengan naiknya Napoleon. Sang kaisar tak saja mengebiri revolusi, tapi juga mengubahnya menjadi legitimasi bagi ambisi imperialisnya. Ekspansi dilakukan ke negeri-negeri tetangga, juga ke Mesir dan Suriah. Kini Prancis tak lagi bicara tentang ‘Kemerdekaan, Kesetaraan, Persaudaraan—atau Mati,’ alih-alih ‘Prancis Harga Mati.’

Mulai tahun 1805, Napoleon mengirim pasukannya ke St. Domingue guna menghidupkan kembali perbudakan. Tak dapat dipungkiri, selama bertahun-tahun, pemberontakan budak di sana berlangsung keras dan brutal. Ribuan orang kulit putih diburu dan digantung, satu kenyataan yang dikutip Napoleon agar Prancis tetap jaya di koloni. Tapi betapapun kejamnya perjuangan tersebut, tidak satupun tulisan Louverture dan Dessalines menyebutkan bahwa Haiti Merdeka didirikan di atas supremasi ras kulit hitam. Alih-alih ia berpijak pada antusiasme ‘Kemerdekaan, Kesetaraan, Persaudaraan—atau Mati,, persis seperti yang ditandaskan kaum Jacobin. Mereka, tutur James, setia pada warisan Revolusi Prancis justru ketika revolusi tersebut gagal di tanah kelahirannya. Mereka tak butuh pula mitos-mitos ala ratu adil, dimana orang Negro dikatakan memiliki peradaban tinggi yang hilang karena ditumpas oleh si kulit putih, dan suatu hari akan berjaya kembali.

Ini satu momentum sublim lain yang dikisahkan James. Pada suatu malam, sepasukan serdadu yang dikirim Napoleon tengah bersantai dalam bentengnya. Satu-dua pemberontakan kecil telah sukses dipadamkan. Lamat-lamat mereka mendengar lagu-lagu revolusi Prancis dinyanyikan dari kejauhan: La Marseillaise, Ah ça ira, La Carmagnole–lagu-lagu yang mereka senandungkan saat masih sekolah di era revolusi. Pasukan tambahan telah didatangkan, pikir mereka. Namun lambat-laun, mereka sadar: lagu-lagu itu dinyanyikan oleh lidah yang janggal, jauh dari aksen yang familiar. Sisanya mudah diduga: para milisi kulit hitam menggeruduk benteng, melucuti senjata dan menahan seluruh serdadu.

Nama pasukan kiriman itu adalah Resimen Polandia, yang terdiri dari anak-anak muda yang dididik di Prancis, dan semula bersimpati pada Napoleon karena dijanjikan kemerdekaan dari Rusia, Austria, dan Prusia. Resimen Polandia tak melawan balik. Ingat akan perjuangan kemerdekaan di negeri sendiri, mereka tak butuh waktu lama untuk bergabung dengan milisi. Di kemudian hari, ‘Resimen Polandia’ menjadi nama kehormatan tersendiri dalam militer Haiti.

Orang bisa mengatakan. Indonesia bukan Prancis dan Papua bukan Haiti. Mungkin juga dengan tambahan: Militer Indonesia bukan Resimen Polandia–dan jutaan tahun cahaya pula jaraknya dari ‘Tentara Rakyat.’ Singkat kata, ini perbandingan yang keliru, jika bukan ngawur. Tapi mereka yang tetap bersikeras ‘NKRI Harga Mati’ agaknya harus ingat apa yang sempat dikisahkan Pram tentang asal-usul Indonesia Raya: ada La Marseillaise di kepala W.R. Supratman. Lagu yang sama pun, dalam saduran Belandanya, dinyanyikan para mahasiswa STOVIA, bahkan pada rapat-rapat Sarekat Islam dan dalam kehadiran Tjokroaminoto—kira-kira mirip ‘merdeka’ di ujung Timur sana.***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus