Putu Oka Sukanta : Dalam Sastra, Tidak Ada Humanisme Universal!

Print Friendly, PDF & Email

PERTENGAHAN tahun 2012, kita dikejutkan dengan kehadiran film yang menakjubkan, The Act of Killing atau Jagal, karya sutradara muda Joshua Oppenheimer. Film dokumenter yang menampilkan pembantaian ’65 dari sisi Sang Penjagal itu, mampu menarik rasa penasaran (terutama) banyak anak muda mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada tragedi pembantaian massal 1965. Kehadiran film tersebut kemudian menghembuskan angin segar akan harapan mengenai perlunya pengungkapan fakta sejarah yang selama ini disembunyikan dan dipalsukan negara.

Sayangnya, tidak banyak anak muda tahu bahwa tragedi pembantaian tahun 1965 yang menewaskan jutaan orang tersebut, juga telah dikisahkan oleh beberapa sastrawan, salah satunya Putu Oka Sukanta. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Lekra, dan dipenjara rezim orde baru tanpa pengadilan ini, telah menulis banyak kisah mengenai tragedi pembantaian 1965, dimana ia sendiri merupakan salah satu survivor dalam tragedi tersebut.

Karya-karyanya itu dapat kita jumpai dalam berbagai cerita pendek yang ia tulis, seperti yang terdapat dalam kumpulan cerita pendek Rindu Terluka, Lobakan, dan sebagainya. Ia juga banyak menulis mengenai permasalahan yang dihadapi perempuan dan masyarakat Bali. Tentang ke-anonymous-an perempuan, misalnya, dapat kita jumpai dalam kumpulan cerita pendeknya yang berjudul Keringat Mutiara. Beberapa buku yang telah ditulisnya antara lain: I Belog (cerita anak-anak, 1981), Selat Bali (kumpulan puisi, 1982), Salam/Greetings (kumpulan puisi, 1986), Tas/Die Tasche (kumpulan cerpen, 1986), Luh Galuh (Kumpulan Cerpen, 1987), Buruan (novel), dan sebagainya.

Sastrawan kelahiran 1939 ini memang tidak bisa dibilang muda lagi secara usia. Namun, produktivitasnya dalam menulis sangat mengagumkan. Bagaimana ini mempertahankan ketajaman pemikiran dan semangat berkreativitas yang begitu tinggi dan  juga amatannya tentang perkembangan kesusastraan dewasa ini?  Berikut perbincangan Fathimah Fildzah Izzati dari Left Book Review IndoPROGRESS dengan Putu Oka Sukanta, yang baru-baru ini mendapat Hellman/Hammett Award dari Human Right Watch, yang berbasis New York, Amerika Serikat:

Mengapa dalam karya-karya Anda, baik novel maupun kumpulan cerita pendek, Anda banyak mengisahkan tentang persoalan-persoalan perempuan, pembantaian ’65, masyarakat Bali, dan Orde Baru?

Ya, karena itulah yang ada di masyarakat. Itu yang merangsang saya untuk menulis, baik dalam bentuk novel, cerpen, maupun puisi. Saya mulai menulis sejak umur 16 tahun, dan dalam menulis saya selalu ingin memberikan pendapat atau reaksi saya terhadap apa-apa yang ditangkap oleh panca indera. Karena saya berada di lingkungan masyarakat miskin Bali waktu itu, tentu suasana dan keadaan masyarakat miskin itu sangat dekat dengan saya. Tidak hanya miskin materi, tapi juga miskin pengetahuan, miskin dalam hal pemahaman gender. Waktu itu kan nggak ada kata gender. Jadi saya melihat kepincangan-kepincangan dalam masyarakat. Nah, itu menarik perhatian saya

Kalau mengenai kasus ’65, saya sendiri berada di dalamnya sebagai korban, atau istilahnya sekarang, survivor. Saat itu, menurut saya, negara melakukan kekerasan terhadap rakyatnya dan kami berada di luar jangkauan hukum. Ini sebuah ketidakadilan. Misalnya, saya 10 tahun di penjara tanpa adanya proses hukum. Katanya negara kita ini negara hukum dengan landasan Pancasila. Tapi buktinya, hingga sekarang pemerintah tidak melakukan pengakuan terhadap kekerasan yang pernah dilakukan oleh negara. Bagi saya, itu merupakan wujud ketidakadilan. Saya, sebagai pengarang, menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan itu di dalam tulisan-tulisan saya.

Juga masalah gender dan perempuan. Tradisi membelenggu perempuan. Kalau kita lihat, misalnya, manusia kan dilahirkan sama derajatnya, tetapi masyarakatlah yang  membedakan dia, baik dengan dalih tradisi maupun dengan dalih agama. Saya mendorong pembaca yang membaca tulisan-tulisan saya agar arif melihat kenyataan-kenyataan itu, dan mungkin bersama-sama menyuarakan ketidakadilan itu supaya ketidakadilan berkurang.

Jelas tulisan-tulisan sastra saya adalah media bagi saya untuk menyampaikan pikiran saya, perasaan saya, perlawanan saya, dan tuntutan saya. Dia tetap sastra, tapi kandungan isinya adalah seperti apa yang disebutkan barusan.

Dulu anda tergabung dalam Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), bisa dijelaskan apa yang dimaksud dengan sastra realisme sosialis?

Saya sebenarnya nggak begitu mempersoalkan dan tidak mengenal sastra realisme sosialis itu. Apa yang saya pernah kenal sewaktu bergaul di lingkungan Lekra adalah realisme revolusioner, bukan realisme sosialis. Bahwasanya ada orang Lekra yang pernah berbicara tentang realisme sosialis, ya itu urusan mereka lah. Pramoedya Ananta Toer, misalnya, atau Bachry Siregar. Tetapi Lekra sendiri tidak menganut realisme sosialis. Dia menganut realisme revolusioner.

Bisa dijelaskan perbedaan antara realisme sosialis dan realisme revolusioner?

Begini, kalau tangkapan saya, realisme sosialis basisnya adalah pada kekuatan rakyat pekerja yang proletariat. Sedangkan, setahu saya, di Indonesia ini nggak ada yang proletariat. Yang ada rakyat pekerja yang borjuis kecil. Pemahaman seniman pada umumnya mengenai kelas pekerja: dia buruh, tani, tapi tidak ada proletar. Sedangkan realisme revolusioner adalah kenyataan menuju masa depan yang lebih baik untuk Indonesia. Tapi basisnya adalah borjuis kecil, bukan proletariat. Itu pemahaman saya. Sehingga ketika saya berpendapat bahwa seni untuk rakyat, maka rakyat yang saya maksudkan adalah semua orang yang anti dan melawan feodalisme, anti dan melawan imperialisme. Ini pemahaman yang kami dapat di masa sebelum Orde Baru. Sehingga jelas, kalau dibilang musuh rakyat, dia adalah feodalisme dan imperialisme dalam berbagai macam bentuknya. Begitu juga di dalam mengekspresikan kenyataan ke dalam karya sastra, maka pemihakan kita menjadi jelas. Pemihakan kepada rakyat, yaitu borjuis kecil yang sedang memperjuangkan dirinya untuk hidup lebih baik lagi.

Bagaimana kebebasan mencipta dalam Lekra? Dan bagaiamana interaksi diantara sastrawan di dalamnya?

Sepengetahuan saya, hubungan di dalam Lekra sangat setara. Baik yang junior maupun yang senior, begitu bebas berdebat. Tidak ada yang memberikan indoktrinasi maupun instruksi. Siapa yang bisa ngurusin seniman? Tau sendiri lah ya, seniman ini pada saat tertentu sangat-sangat individualis. Nggak bisa dia diperintah oleh siapapun dan oleh apapun juga. Ya, kami setara dengan Bachry Siregar, Bachtiar Siagian, dan semua yang pernah saya kenal. Dengan senior-senior saya, seperti Pramoedya, kita seperti menjadi bagian dari keluarganya. Kita kenal dengan anaknya, juga dengan istrinya. Akibatnya, pergaulan itu sebenarnya menjadi hal yang biasa saja, tidak ada seram, atau dipenuhi dengan indoktrinasi. Nggak ada itu.

Mengenai kebebasan mencipta dalam Lekra, biasa saja, tidak ada yang mengindoktrinasi atau menggurui kamu harus menulis ini atau itu. Tidak ada. Itu semau-maunya saja. Tahun 1962-1963, saya menulis novel tentang nelayan di Semarang, itu novel Buruan namanya. Karena saya tidak begitu paham dengan nelayan yang ada disana, di Bali saya bergaul dengan nelayan, maka saya pergi ke sana. Saya bergaul dengan mereka, sehingga kehidupan mereka bisa saya tangkap. Setelah itu baru saya bisa menulis. Tidak ada program yang mengindoktrinasi saya bahwa saya harus ke sana, tidak ada.

Benar bahwa di Lekra ada semacam guidelines penulisan yang disebut 151. Tapi itu sekadar guidelines saja. Dan sebenarnya guidelines ini tidak begitu diperhatikan orang. 1-5-1 adalah simbol dari sikap berkesenian yang dikembangkan Lekra, yang menempatkan rakyat sebagai satu-satunya pencipta kebudayaan. Di dalamnya tercakup ideologi, filsafat seni, arah kepemimpinan, serta metode kerja dalam berkarya.

Gerakan 1-5-1 adalah menempatkan politik sebagai panglima (ini yang disimbolkan dengan ‘1’). Politik adalah suatu cara berpikir. Tapi banyak orang menyelewengkan bahwa politik itu adalah (hanya) partai, pimpinan. Sangat-sangat salah. Anda punya cara berpikir, anda punya arah berpikir, itulah politik Anda. Entah darimana dapat, ya itu urusan Anda sendiri.

Kemudian yang 5-nya itu adalah kombinasi, maksudnya adalah rumusan sederhana saja, itu saya tidak tahu datangnya darimana. Sebagai asas dan basis dari lima kombinasi kerja (‘5’), yaitu meluas dan meninggi, tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik, tradisi baik dan kekinian revolusioner, kreativitas individual dan kearifan massa, realisme sosial dan romantik revolusioner.  Saya pernah membaca, misalnya, seperti ini kalau Anda menulis. Supaya tulisannya berkualitas, Anda harus menulis sebanyak-banyaknya. Jadi ada perubahan kuantitatif ke kualitatif. Itu hukum umum.

Hanya Lekra merumuskan, tulisan itu baik nantinya kalau sering melakukan latihan menulis. Jadi, tidak mungkin sekali menulis langsung hebat, tidak mungkin. Kemudian memadukan kreativitas individu dengan kearifan massa. Karena kami atau kita ini mencoba melakukan pemihakan terhadap borjuis kecil: petani, buruh ini, maka jangan kita menulis hal-hal yang melukai atau bertentangan dengan kearifan mereka. Jadi kreativitas saya sebagai pengarang harus sesuai dengan kearifan mereka. Kalau nggak, kita akan ditolak. Padahal ini seni untuk rakyat, tapi kita tidak mengerti kearifan rakyat, dan sebagainya. Keyakinan revolusioner dipadukan dengan realisme revolusioner. Masyarakat yang berkembang itu adalah masyarakat yang revolusioner. Bagaimana realita-realita dalam masyarakat yang berkembang maju itu dituliskan untuk kemajuan masyarakat itu sendiri. Untuk melakukan kelima hal tersebut diperlukan metode turun ke bawah atau turba.

Jadi, itulah perlunya orang berdiskusi dan di kami diskusi adalah kebiasaan yang wajar. Mau diskusinya sambil naikkin kaki di meja segala macam, mau sambil gebrak meja nggak ada urusan. Kalau pendapat tidak sama atau kalau nggak cocok kita tinggalkan saja, ya seperti itu.

Bagaimana Anda menilai polemik kesusasteraan pada masa itu antara Lekra dan Manikebu?

Kalau Anda membaca baik-baik Manifes Kebudayaan itu, kemudian Anda membaca tulisan Goenawan Mohamad yang mengutip pendapat saya dalam sebuah artikel kebudayaan nasional, maka tampak bahwa secara estetika maupun secara ideologi, sebenarnya pertentangannya tidak sekeras seperti yang digembar-gemborkan orang. Misalnya, seni untuk rakyat atau pemihakan kepada masyarakat. Misalnya, Goenawan bilang bahwa yang dimaksud dengan manusia itu tidak sama: ada yang ditindas dan ada yang menindas. Nah, kami juga menolak kalau manusia itu disamaratakan. So apa bedanya? Jadi, kalau kita mau menyimpulkan maka perdebatan dan perbedaan antara Manikebu dengan Lekra adalah perbedaan politik

Suasana politik pada zaman itu sedemikian panas, agresif, sehingga teman-teman yang tidak menyetujui, sebenarnya yang tidak disetujui oleh Manikebu itu politik Bung Karno, bukan Lekra. Tapi Lekra seperti berhadapan dengan Manikebu karena Lekra berpihak kepada Soekarno di dalam politik. Manifesto politiknya Soekarno itu menjadi acuan kerja kami, Lekra. Sewaktu saya mempelajarinya, Manifes Kebudayaan, saya temukan bahwa mereka esensinya tidak menentang Lekra, yang mereka tentang itu adalah Soekarno. Jadi, sekali lagi masalahnya bukan pada ‘kebudayaannya,’ atau pada estetikanya. Saya bisa katakan bahwa dari segi estetika, tidak ada perbedaan itu.

Lihat, misalnya, puisi-puisi Taufik Ismail. Kalau Anda baca, misalnya, puisinya tahun 1965, maka puisi Taufik Ismail itu lebih jelek dari puisi Lekra, yang dituduh sebagai slogan-slogan propaganda. Dan kemudian, ketika kita membaca tulisan Subagyo Sastrowardoyo dalam kaitannya dengan angkatan ’66 dan puisi-puisinya Taufik Ismail, sama sekali dia tidak menunjukkan adanya suatu genre yang spesifik. Isi yang spesifik juga tidak. Karena sudah didahului oleh Lekra. Jadi, angkatan ’66, menurut Subagyo, sebenarnya tidak afdhol, tidak punya kekuatan yang menyatakan bahwa itu adalah angkatan ’66. Semestinya dia bilang, yang ada itu adalah angkatan Lekra. Sebuah angkatan itu kan harus menunjukkan gaya tersendiri, isi tersendiri. Ini tidak ada. Tapi kalau Lekra itu punya.

Anda pernah ditahan tanpa pengadilan selama 10 tahun. Bagaimana anda menjaga proses kreatif dalam menulis selama berada di dalam penjara (Salemba dan Tangerang)?

Begini ya, kami di dalam penjara itu, tidak boleh ada pensil, tidak boleh ada kertas, tidak boleh juga ada buku-buku bacaan. Nah, sebagai seorang pengarang yang biasanya kreatif, ya dia mencari cara, misalnya, dia mencoba menyuarakan dirinya di dalam puisi-puisi. Dia memperhatikan objek-objek yang ada di dalam penjara. Buku saya Merajut Harkat, merefleksikan keadaan saya di dalam penjara. Ya dengan melatih begitu, juga dengan ngobrol dengan teman-teman. Novel itu saya tulis selama 20 tahun, yakni waktu saya keluar antara tahun 1976 dan  1977, serta selesai pada  tahun 1997.

Apa yang membuat Anda tetap bertahan sebagai seorang penulis hingga saat ini?

Menulis itu, menurut saya, merupakan sebuah profesi, bukan hobi. Dan saya menjadikan menulis itu sebagai media untuk menyampaikan pikiran-pikiran saya, protes saya, dan gagasan-gagasan saya, yang diolah secara estetik. Selama masih punya gagasan, selama masih punya respon terhadap keadaan masyarakat, saya kira, selama itu saya menulis. Kecuali ada gangguan-gangguan fisik, yang saya nggak bisa lagi menulis, dan sebagainya, atau nggak bisa lagi bicara. Sekarang banyak seniman-seniman yang sakit, ada yang lumpuh, dan terserang stroke. Teman saya di Bali, ada yang kencing manis. Apakah mereka mengalami hambatan kreativitas? Saya pikir ya, tapi pikiran mereka untuk menulis tetap ada.

Bagaimana Anda melihat perkembangan dunia kesusasteraan Indonesia sekarang?

Saya melihat kesusasteraan sekarang ini tumbuh pesat, banyak anak-anak muda menulis. Mungkin karena orientasi berpikirnya berbeda dengan orang yang serius, saya juga melihat fungsi hiburan pada sastra-sastra pop ini sangat menonjol. Fungsi informatif dan fungsi edukatifnya menjadi kurang. Tapi saya tak bisa menyalahkan mereka seratus persen, karena orientasi pendidikan politik itu hampir-hampir tidak terjadi pada masyarakat. Bagi kalangan muda sekarang, politik itu dipandang sebagai sesuatu yang harus dihindari, karena politik itu tidak tepat. Sementara, bagi saya, seorang sastrawan, seorang penulis, dia harus menguasai ilmu yang banyak, berbagai disiplin ilmu. Menulis bukan hanya sebuah keterampilan. Karena saya tidak sanggup membaca semua buku yang diterbitkan, mungkin ada buku yang baik, namun saya nggak  membacanya. Tapi secara umum, saya lihat, orientasi mereka lebih kepada hiburan. Saya nggak lihat ada majalah yang serius mengurusi kebudayaan. Kalau dulu itu banyak sekali.

Kalau pada masa Lekra dulu, pendidikan politiknya itu seperti apa?

Pada zaman Soekarno dulu, kita diperkenalkan pada musuh-musuh Republik Indonesia dengan jelas. Sehingga mereka tahu persis melawan penjajahan itu kayak apa, peninggalan penjajahan itu apa saja. Tapi kalau sekarang kita tanya anak-anak muda Indonesia, tahu tidak sejarah Indonesia? Tidak tahu. Beberapa mahasiswa yang mengundang saya ke kampus, saya tanya:

‘Anda tahu Lekra nggak?’ Jawabnya ‘nggak.’

‘Anda tahu nggak tahun 1926 ada pemberontakan melawan penjajah?’ Jawabnya juga ‘nggak.’

Padahal itu pemberontakan PKI terhadap kolonial. Itu hilang semua. Yang dikenal cuma pemberontakannya saja, bukan memberontak pada siapa.

Pada suatu ketika, di sebuah universitas beken di Jakarta, saya memutar film saya, mahasiswa tanya: ‘Pak, apa sih perlunya kita tahu tentang sejarah Indonesia?’ Mahasiswa di sebuah universitas beken di Jakarta bertanya seperti itu. Jadi, saya berpikir, bagaimana generasi kita sekarang ini?

Meskipun tidak bisa dibilang bahwa semua anak muda ini buta sejarah. Banyak sekali teman-teman saya, anak-anak muda, yang cerdasnya luar biasa dalam memahami sejarah. Tetapi, ini tidak merupakan konsumsi umum bagi generasi muda. Ini yang memprihatinkan. Mereka lebih banyak memikirkan kebutuhan sesaat, setelah selesai kuliah, mereka harus dapat kerja, punya mobil, mobil itu adalah indikator keberhasilan. Jadi, sedih saya melihat.

Untuk saat ini, bagaimana bentuk pendidikan politik yang Anda bayangkan sebaiknya dilakukan?

Pendidikan politik yang saya bayangkan, Anda harus mengganti total kurikulum dari sekolah-sekolah, tidak bisa dari tempat yang lain. Jadi, pemahaman tentang sejarah bangsa Indonesia ini penting sekali. Misalnya, periode ‘50-65 dalam bidang sastra ini kan periode yang dihilangkan. Kalau kita lihat angkatan ’45, sebagian besar angkatan ’45 hidup dan berkarya di sekitar Lekra. Jadi, ini merupakan suatu kelanjutan. Dan deklarasi surat gelanggang itu kan cuma selisih 5 bulan dengan Mukadimah Lekra yang diumumkan tahun ’50-an. Walaupun, katanya, Surat Gelanggang itu dibuat tahun ’49 ketika Chairil Anwar masih hidup. Jadi, ada jembatan yang menyambung gagasan-gagasan Surat Gelanggang itu dengan Mukadimah Lekra. Lucunya, itu dipertentangkan orang, mereka tidak melihat rohnya yang sama.

Sama juga seperti orang tidak melihat apa sih persamaan-persamaan Lekra dan Manikebu, juga apa sih perdebatan dan perbedaan-perbedaannya? Manikebu itu bukan organisasi, itu pernyataan politik. Bagaimana itu bisa disebut sebagai humanisme universal? HB Jassin dengan menyusun buku angkatan ’66, sebenarnya itu adalah pernyataan bahwa dia tidak menganut lagi humanisme universal yang non-politik, karena pengelompokan-pengelompokan sastrawan yang dimasukkan ke dalam angkatan ’66 adalah pengelompokan politik. Bukan genre, bukan juga estetika. Jadi non sense itu (pengelompokkan angkatan ’66 adalah non-politik). Cuma kedok saja Jadi, HB Jassin mengeluarkan buku angkatan ’66 itu juga memakai politik sebagai panglima, cuma politik yang berbeda. Tapi hakekat politik adalah panglima, ya sama.

Bagaimana pendapat Anda mengenai humanisme universal dalam sastra?

Humanisme universal ini kan yang menganggap bahwa manusia itu sama saja. Satu dengan yang lainnya: antara yang ditindas dan yang menindas. Dan itu nggak mungkin. Dia sama-sama ciptaan Tuhan, ya. Tapi begitu di dalam masyarakat, ia masuk ke dalam kelompok yang ditindas atau kelompok yang menindas. Oleh karena itu, membicarakan humanisme universal ini dalam konteks apa? Kalau kita, misalnya, lihat kepengarangan angkatan ’45, Chairil Anwar itu adalah penganut humanisme universal. Tapi saya nggak percaya. Coba baca puisinya Dipenogoro, Karawang-Bekasi. Mana bisa itu puisinya disebut humanisme universal? Nggak bisa itu.

Nah, sekarang Taufik Ismail, apa Taufik penganut humanisme universal? Kan nggak. Puisinya dia jelas. Mana bisa dia menyatakan bahwa nur cahaya yang ada pada dirinya sama dengan nur cahaya yang ada pada Pram, yang ada pada Soekarno? Kan nggak. Jadi, saya tidak percaya ada humanisme universal. Tapi bahwa ada nilai kemanusiaan yang sama, itu ya. Tapi kalau kita sudah berbicara pada konteks yang mendasar, ya manusia itu tetap saja dibelah bagaimanapun juga, ada yang ditindas, ada yang menindas, terselubung ataupun jelas.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus