Eko Prasetyo: Menulis BUKAN Tamasya Pemikiran!

Print Friendly, PDF & Email

SETELAH berakhirnya kekuasaan Orde Baru Soeharto, buku-buku perlawanan kini semakin mudah dijumpai di toko-toko buku besar. Salah satunya buku-buku dari Eko Prasetyo. Berbagai buku perlawanan yang ia tulis seperti Orang Miskin Dilarang Sakit, Orang Miskin Dilarang Sekolah, Orang Miskin Tanpa Subsidi, Awas, Penguasa Tipu Rakyat!, Demokrasi Tidak untuk Rakyat, Inilah Presiden Radikal, Guru Mendidik itu Melawan, dan sebagainya, dapat dengan mudah kita jumpai di toko-toko buku besar. Dengan gaya tulisan yang ringan dan seringkali comical, Eko Prasetyo menghadirkan kritik sekaligus ajakan yang cukup provokatif kepada para pembacanya untuk selalu melawan berbagai ketidakadilan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana perjalanan Eko Prasetyo dalam menulis, mengapa ia memilih menulis dengan gaya yang berbeda dibanding kebanyakan penulis Kiri lainnya? Berikut perbincangan Fathimah Fildzah Izzati dari Left Book Review (LBR) dengan Eko Prasetyo.

 

Bisa Anda ceritakan perjalanan Anda dalam menulis berbagai buku perlawanan?

Jika mau disebut sebagai sebuah perjalanan maka menulis buat saya adalah upaya untuk mempertahankan sikap dan meletakkan garis posisi. Saya dibesarkan pada masa-masa 90-an. Itulah periode dimana kekuasaan Soeharto sedang mendapat perlawanan aktif dari anak-anak muda. Terutama mereka yang berada pada posisi Kiri. Sebuah posisi yang sering dihujat dan mendapat stigma. Tapi, labelisasi itu malah membuat beberapa anak muda bangga. Beberapa anak muda lalu belajar gagasan Kiri, kemudian mencoba untuk mengampanyekannya. Saya mulai menulis dengan semangat itu. Berusaha melakukan pemberontakan dengan menulis. Saya kagum dengan Wiji Thukul, yang puisinya seperti sebuah pukulan keras. Sekaligus saya kecewa dengan gaya tulisan intelektual yang tidak jelas posisinya dan tidak provokatif. Saya kemudian memilih untuk menulis dengan semangat yang mirip puisi Wiji Thukul: memukul, mengancam dan menyudutkan.

Karena bagi saya menulis bukan tamasya pemikiran tapi pernyataan sikap yang jelas, terang, dan karenanya, berusaha meraih pengikut.

Mirip dengan sebuah risalah kitab suci: provokatif, menghujat yang kafir dan meminta tindakan. Itu sebabnya buku-buku saya tak banyak ngomong teori rumit, karena sebagai sebuah sikap perlawanan, yang dibutuhkan adalah upaya untuk meyakinkan dan mempengaruhi sikap pembaca. Itu sebabnya saya hanya menulis untuk Resist Book saja, karena kredonya sangat sesuai: Baca & Lawan.

 

‘Saya tidak yakin sama sekali negeri ini diurus dengan semangat melayani dan melindungi rakyatnya. Saya merasa panggung politik Indonesia hanya diisi oleh para pemain komedi yang tugasnya menghibur dan merampok’

 

Apa yang membuat Anda tertarik untuk membahas berbagai realitas sosial politik di Indonesia dalam bentuk ‘ringan’ (dengan ilustrasi comical, dll.) tapi menggigit?

Saya selalu bayangkan pembaca saya itu rakyat kebanyakan dan anak-anak sekolah. Pada mereka yang dibutuhkan adalah teks yang ringan, menyerang dan memihak. Terutama situasi sosial politik Indonesia yang diisi oleh para badut dan tukang omong. Lapisan yang bagi saya tak perlu dianalisis rumit, tapi cukup kita lecehkan dan hina saja.

Penghinaan itu pantas dilakukan, karena ini kelompok yang gila hormat dan penghargaan. Perlu dilecehkan, sebab mereka seringkali merasa tindakannya penting. Titik pandang seperti itulah yang membuat saya kemudian membuat teks dan gambar yang menyuarakan apa yang sebenarnya jadi kemarahan kolektif. Saya tidak yakin sama sekali negeri ini diurus dengan semangat melayani dan melindungi rakyatnya. Saya merasa panggung politik Indonesia hanya diisi oleh para pemain komedi yang tugasnya menghibur dan merampok. Guna mengungkit kesadaran itulah saya menggunakan media tulis yang dipadati dengan kartun. Pada titik tertentu saya ingin membedakan buku saya dengan buku yang dibaca oleh anak-anak sekolah. Yang selalu menyedihkan adalah sampulnya, apalagi isinya.

 

Mengapa Anda cenderung memilih untuk menggunakan pendekatan Kiri (termasuk Kiri Islam) sebagai pendekatan dalam buku-buku yang Anda tulis?

Bagi saya pendekatan yang anda sebut Kiri tadi cocok untuk melihat situasi sosial di Indonesia. Fakta paling menyolok adalah kesenjangan dan eksploitasi. Saya memang bukan pembaca Karl Marx yang baik. Sekaligus saya juga bukan pembaca kitab suci yang tekun.

Tapi bagi saya, Karl Marx dan nabi itu punya kesamaan tunggal: melawan segala jenis eksploitasi dan ingin menciptakan tata dunia yang lebih adil. Komitmen sederhana itu yang memicu saya untuk melihat situasi Indonesia yang berada dalam penindasan.

Tak usah terlalu jauh mengambil contoh: saya melihat di setiap kota negeri ini jalanannya dipenuhi dengan foto para pejabat dan politisi. Muka para penyamun ini dengan pesan menghina mau berjanji melayani rakyat. Sebuah pernyataan yang tidak masuk akal dan menindas akal sehat. Sikap itulah yang bagi saya tak bisa dianalisis dengan pendekatan apapun, kecuali apa yang dinamai Marx sebagai eksploitasi. Tidak saja melalui pemerasan ekonomi tapi juga dirampoknya akal sehat kita. Cara pandang itulah yang kemudian jadi dasar seluruh tulisan-tulisan saya: memprovokasi kesadaran atas penindasan dan menetapkan siapa sebenarnya para penindas itu.

 

Dalam perkembangan pengetahuan sekarang ini, kontribusi seperti apa yang diharapkan dapat Anda tawarkan dari karya-karya Anda?

Saya berharap budaya menulis kita tidak terpancung dalam gaya yang dingin, tanpa emosi dan mengambil jarak. Upaya saya ini sekedar mengembalikan makna pamflet dalam sebuah tulisan. Dalam bahasa pamflet, sebuah kenyataan itu tidak sekedar diterangkan tapi juga didorong untuk diubah. Terlampau banyak fakta sosial saat ini yang dikomunikasikan dengan bahasa tipuan. Tiap fakta hanya dicacah dalam bentuk angket, polling dan survei. Fakta itu dibutuhkan untuk keperluan status quo dan pelestarian rezim. Situasi itu yang ingin saya pecah dengan tulisan yang lebih terlibat, menghidupkan kembali korban dan memprovokasi bagaimana penindasan itu terjadi. Saya hanya ingin bagaimana pengetahuan itu membekali kita untuk memiliki keberanian mengubah, bukan untuk memahami semata.

Terlebih dalam situasi Indonesia seperti saat ini, rasanya tanggung jawab intelektual tidak hanya sekedar memberi inspirasi atau menyuntikkan gagasan baru, tapi juga terlibat langsung dalam konfrontasi dengan rezim yang busuk.

Saya hanya sekedar menantang kita semua untuk meyakini bahwa situasi tidak adil ini tidak hanya bisa diamati apalagi dipecahkan dengan cara normal; melainkan butuh imajinasi baru yang mempertaruhkan segala keyakinan yang kita punya. Sudah waktunya apa yang dirasakan oleh rakyat itu kita suarakan dalam bahasa yang lugas, jelas dan meyakinkan. Sehingga sebuah realitas itu memiliki kaitan historis dengan subyek yang hendak mengubahnya.

Realitas tak pernah berdiri sendiri sebagaimana dipahami oleh para pemalsu pengetahuan. Tiap realitas menyajikan situasi yang terang: penindasan, eksploitasi dan perlawanan.

 

‘Bagi saya, Karl Marx dan nabi itu punya kesamaan tunggal: melawan segala jenis eksploitasi dan ingin menciptakan tata dunia yang lebih adil.’

 

Apakah Anda memperoleh kendala ketika menulis buku-buku berperspektif Kiri? Jika ada bagaimana Anda mengatasinya?

Hambatan yang saya alami normal saja: kadang karya saya ditolak oleh toko buku karena ada gambar palu arit, beberapa buku saya dibakar karena Kiri, saya dicekal untuk tidak boleh ceramah di beberapa kampus dan ada buku yang diborong oleh perusahaan karena saya menulis dalam bahasa kartun tentang kekejaman operasi mereka. Dalam menghadapi situasi itu, saya selalu banyak memperoleh dukungan, terutama dari anak-anak muda. Mereka ada yang menjualkan buku dari tangan ke tangan, mengadakan bedah buku pada kampus-kampus tertentu dan bahkan kadang saya diberi kesempatan untuk promosi di beberapa masjid.

Selain menjadi penulis buku Kiri, saya sering menjadi ustadz di masjid-masjid besar dan itu saya manfaatkan untuk kampanye gagasan saya. Saya malah kadang dapat promosi gratis kalau karya saya dibakar atau dicekal di sebuah toko.

Terakhir karya saya komik Tan Malaka, ditolak dipasang di toko buku Gramedia gara-gara ada gambar palu arit dan kartun SBY. Sungguh ironi sekali bagi saya. Toko buku sebesar itu menolak dengan alasan, yang menurut saya, kampungan dan tak masuk akal. Saya bicara tentang PKI pada tahun-tahun awal, masak harus pakai gambar beringin. Tapi mereka tak mau didebat dan saya lebih baik mendistribusikan buku-buku itu melalui cara klandestin saja.

 

Bagaimana pendapat Anda mengenai posisi karya-karya Anda dalam gerakan perjuangan rakyat pekerja Indonesia yang semakin hari semakin anti kapitalis? Apa yang dapat anda katakan tentang gerakan tersebut?

Saya meyakini bahwa perjuangan kaum pekerja saat ini merupakan rintisan kerja panjang teman-teman gerakan. Tentu yang paling utama adalah kesadaran dan solidaritas tinggi para pekerja. Saya tidak punya kontribusi langsung. Hanya, saya mencoba untuk menuliskan arti penting sebuah perlawanan yang terus-menerus, konsisten dan tetap berpegang pada prinsip kedaulatan para pekerja. Saya merasa optimis gerakan ini mampu untuk mengguncang kekuasan para pemodal asalkan tuntutan politiknya diperluas tidak sekedar kenaikan upah atau hubungan kerja kontraktual. Untuk memperluas tuntutan politik itulah saya merasa pentingnya menjalin aliansi dengan kekuatan oposisi, baik itu di kalangan gerakan mahasiswa maupun kekuatan pekerja lainnya. Jangan sampai bersekutu dengan partai politik. Partai politik yang tak perlu diajak koalisi adalah partai politik yang ada sekarang. Karena saya menganggap mereka hanya punya program memamerkan muka pengurusnya saja. Partai yang berisikan tukang komedi dan tukang omong, kalau mengikuti istilah Tan Malaka.

Tentu para pekerja harus mendirikan partai politik setelah sebelumnya memperkuat kerja front.

Aliansi besar oposisi untuk membentuk front pemerintahan pekerja. Kerja front bagi saya adalah dasar pembentukan partai yang militan sebab dengan kerangka kerja front penciptaan garis batas bisa dipenuhi, sesuatu yang tidak mungkin dalam partai politik seperti yang ada sekarang. Ringkasnya kerja front merupakan dasar perseteruan dengan blok konservatif yang diwakili oleh rezim dan kekuatan modal. Untuk mengawalinya, saya merasa, gagasan mengenai itu perlu disuburkan: tidak lagi riset tentang kekuatan pekerja atau bagaimana situasi empiris kekuatan pekerja melainkan lebih pada upaya untuk meyakinkan bahwa cita-cita politik pemerintahan para pekerja bisa diterapkan. Fakta sejarahnya perlu dibentangkan dan contoh konkrit yang terjadi di sejumlah negara perlu diyakinkan. Sayang jika kekuatan pekerja yang membesar ini hanya digunakan untuk pertaruhan politik guna memenangkan politisi jahanam berikutnya. Posisi saya mendukung dan optimis kedaulatan politik pekerja bisa tegak!

 

 ‘Saya yakin situasi historis menuntut massa untuk berpaling pada ide-ide Kiri yang pernah subur pada masa lalu. Saya meyakini akan muncul Sarekat Islam baru yang mengkombinasikan gagasan keagamaan kritis dengan semangat perlawanan militan atas kapitalisme.’

 

Bisa dikatakan bahwa anda merupakan salah satu penulis yang cukup produktif dalam mengembalikan tema-tema sosial politik kiri (seperti perlawanan, anti penindasan, dll.) pasca reformasi ’98. Bagaimana tanggapan anda tentang produksi pengetahuan Kiri beberapa tahun belakangan ini?

Saya merasa produksi pemikiran kiri belakangan ini cukup marak. Ada banyak web tentang gagasan Kiri. Tapi, sayang situasi ini tidak diikuti dengan perkembangan penerbit Kiri dan pendidikan kampus yang memberi ruang bagi gagasan Kiri untuk tumbuh. Penerbit Kiri mulai berguguran karena merasa pasar tidak punya minat untuk mengonsumsi buku-buku Kiri dan penulis yang kian langka. Bagaimana tidak langka kalau skripsi, tesis dan disertasi dengan menggunakan pendekatan Kiri tidak mendapat bimbingan yang layak. Ini saya alami setiap bedah buku, saya selalu menemukan kesulitan dalam mencari pembanding yang seimbang.

Tidak akan mungkin gagasan Kiri bisa berkembang tanpa ada perdebatan yang berarti. Meski pada sejumlah kecil kelompok gagasan ini tetap mendapat tempat. Tapi secara keseluruhan saya optimis produksi pengetahuan Kiri akan mendapat tempat seiring dengan kebuntuan atas sistem politik yang ada sekarang ini dan kejumudan dari gagasan-gagasan di luarnya.

Terlebih dengan kekuatan politik para pekerja dan aksi-aksi militan yang dilakukan oleh rakyat belakangan ini. Saya yakin situasi historis menuntut massa untuk berpaling pada ide-ide Kiri yang pernah subur pada masa lalu. Saya meyakini akan muncul Sarekat Islam baru yang mengkombinasikan gagasan keagamaan kritis dengan semangat perlawanan militan atas kapitalisme. Ada  dua karya saya yang terakhir meyakini itu: pertama saya beri judul kisah-kisah pembebasan dalam Al Qur’an, pembacaan kritis atas perjuangan para utusan Tuhan dan komik Waktunya Tan Malaka Memimpin. Keduanya berusaha menanam kembali apa yang dulu disemai oleh Sarekat Islam.

 

Apakah anda memiliki rencana untuk menulis karya lagi? Jika iya, akan bertemakan apa?

Menulis sudah menjadi candu bagi saya. Dua karya yang sedang saya susun adalah buku mengenai kebangkitan gerakan mahasiswa. Sebuah buku yang bukan berisi pengamatan, tapi provokasi saya untuk para mahasiswa agar bangkit kembali menyatakan sikap. Ini rekaman pengalaman saya ceramah di banyak kampus di negeri ini. Saya membayangkan buku ini tidak dibaca dengan duduk, tapi berdiri dan dibacakan keras, tidak dibaca dalam hati. Singkatnya, buku ini, berbeda dengan karya saya sebelumnya, berisi kemarahan demi kemarahan sebagai bahan pidato massa. Sedangkan buku kedua adalah komik tentang Sukarno yang Kiri, bukan Sukarno nasionalis atau Sukarno pencetus Pancasila. Komik ini mengimajinasikan Soekarno datang kembali pada masa kita saat ini. Soekarno sebagai hakim bagi situasi politik yang stagnan dan gerakan yang miskin harapan. Terakhir saya sedang menulis novel tentang keluarga para penguasa.

Saya tetap meyakini bahwa menulis adalah cara saya untuk tetap sadar dan punya akal sehat di tengah sebuah negeri yang sudah kehilangan segalanya. Dalam bahasa sederhana, menulis adalah cara paling aman untuk meneguhkan keberanian dan posisi. Itu sebabnya sampai sekarang saya masih bertahan untuk tetap menulis.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus