Kategori: Teori

Menjelaskan Irshad Manji: Sekali Lagi!

Airlangga Pribadi, Pengajar Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga

ARTIKEL saya sebelumnya berkait lawatan Irshad Manji ke Indonesia, rupanya telah memancing kontroversi yang luas. Banyak yang memberikan apresiasi positif terhadap kritik saya terhadapnya, ada pula yang memberikan respons negatif, dengan mengatakan bahwa artikel tersebut begitu simplistis dan sarat teori konspirasi. Lanjutkan membaca

Mencicipi Selera Estetik ala Pierre Bourdieu

Wildan Pramudya, Mahasiswa STF Drijarkara, Jakarta

PEMIKIRAN Bourdieu tentang selera sebagai putusan estetis cukup menarik. Dikatakan menarik, karena jika selama ini soal putusan estetis hanya lazim berdenyut dalam wacana filsafat (semisal, Hume, Kant dan Hegel), namun kemudian Bourdieu menarik wacana ini dan menurunkannya ke ranah yang lebih konkret, dan dialami secara sosio-historis. Pemikiran Bourdieu tentang selera ini, pada dasarnya diarahkan untuk melakukan kritik terhadap pemikiran Kant tentang selera ‘murni’ keindahan yang bersifat apriori (tanpa kepentingan, tanpa konsep, tanpa tujuan dan niscaya). Bourdieu lebih melihat selera — sebagai putusan estetis – merupakan produk dari adanya perbedaan kelas ketimbang pengakuan atas standar kualitas. Lanjutkan membaca

Menuju Estetika Marxis

Suluh Pamuji, Mahasiswa filsafat UGM, Yogyakarta

DISKUSI tentang estetika Marxis, bukan perkara gampang. Sebabnya, Karl Marx sendiri tidak pernah mengeksplorasi pemikirannya dalam medan estetika secara spesifik. Kalaupun kemudian kita mengenal estetika Marxis sebagai fenomena diskursus yang berkembang sedemikian rupa, hal tersebut bisa kita maknai sebagai upaya lanjut dari para Marxis untuk mengafirmasi pemikiran Marx di wilayah estetika. Marxis yang melakukan upaya itu sering disebut ‘Marxis estetis.’ Lanjutkan membaca

Pendidikan Untuk Perubahan

Kata Pengantar untuk IndoPROGRESS Edisi Cetak II

Ariel HeryantoAssociate Professor of Indonesian Studies dan saat ini menjadi Kepala Pusat Studi Asia Tenggara di University of Melbourne, Australia

IJINKAN saya mengawali catatan ini dengan sebuah pengakuan tentang keterbatasan. Saya bukan pembaca tetap IndoPROGRESS. Beberapa tulisan dari jurnal ini pernah saya ikuti secara tidak teratur dan dari jauh sebelum saya membaca lebih dari sekali naskah mentah untuk jurnal edisi ini guna keperluan menulis Kata Pengantar. Saya tidak pernah berjumpa, dan tidak cukup mengenal redaksi jurnal ini, apalagi profil pembaca jurnal ini. Sehingga mungkin sekali apa yang saya tulis ini tidak sesuai dengan selera atau harapan pembaca. Lanjutkan membaca

Kerja Perempuan dari Perspektif Teori Nilai Kerja: Suatu Kajian Teoritis

Dani Radja, Anggota Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP)

The labour of women and children was, therefore, the first thing sought by capitalist who used machinary – Karl Marx (1867)

HUBUNGAN kelas proletariat dan perempuan sangat erat, setidak-setidaknya demikianlah yang dinyatakan oleh Karl Marx dalam karyanya Kapital, Jilid I. Marx lah yang mengatakan bahwa ketika revolusi industri pertama kali dilansir di Inggris pada abad ke-19, perempuan (dan anak) adalah target pertama kapitalis untuk dijadikan operator-operator mesin. Dan sampai sekarang hal ini masih berlangsung! Lanjutkan membaca

‘Get a life!’

Tentang Bioekonomi dan Sensasi Keseharian


Hizkia Yosie Polimpung
, Peneliti dan Manajer Program di PACIVIS Center for Global Civil Society Studies, FISIP UI.

MUNGKIN  tidaklah terlalu berlebihan apabila dikatakan bahwa salah satu cara untuk bisa hidup bahagia hari-hari ini terangkum dengan baik oleh slogan sepatu Nike: “Just do it!” Bagaimana tidak, jika kita mencoba berpikir dan bertanya, apalagi secara kritis, akan apa yang kita jalani sehari-hari secara ‘normal,’ maka akan segera didapati bahwa semuanya tidaklah selugu yang kita kira. Lanjutkan membaca

Sketsa Perkembangan Reforma Agraria dan Studi Agraria

Sekelumit ‘Peta Navigasi’

Mohamad Shohibuddin, mahasiswa doktoral di University of Amsterdam, Belanda.

Pengantar

BANYAK diskusi mengenai reforma agraria di tanah air, dalam kesan saya, kerap tidak jelas arahnya karena mereka yang berdebat sering membayangkan ‘titik koordinat’ berbeda saat sama-sama berbicara reforma agraria. Hal ini tak ubahnya seperti berdebat pada ‘arah mata angin’ yang sama tetapi dengan ‘level ketinggian’ yang berbeda, atau dengan ‘level ketinggian’ yang sama namun ‘arah mata angin’-nya berbeda. Akibatnya diskusi tidak berjalan produktif dan mencerahkan, dalam arti dapat mengantarkan pesertanya pada pemahaman yang lebih baik mengenai masalah reforma agraria—terlepas apapun sikap yang diambil masing-masing setelahnya. Lanjutkan membaca