Muhammad Ridha,Anggota Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP)
‘Omnia sunt communia (All things are common)…’ – Thomas Muntzer (1524)
MENGAPA Manifesto Komunis? Mengapa komunisme sekarang? Jika kita merefleksikannya pada pengalaman kekinian kita, maka pada pertanyaan ini akan kita temukan jawaban yang ambigu. Selain itu, ada fenomena yang cukup menarik, sekaligus sangat aneh, ketika Manifesto Komunis (selanjutnya Manifesto), beserta dengan Komunisme yang diartikulasikannya, menjadi ‘penanda kosong’ (empty signifiers) ala Lefortian. Lanjutkan membaca →
Anto Sangaji, Kandidat Doktor di York University, Canada
KALAU ADA teori Marx yang paling mengundang perdebatan, tidak salah lagi, itulah teori tentang Negara. Debat ini mungkin tak perlu muncul, kalau saja Marx sempat mewujudkan rencananya menulis buku mengenai topik ini, seperti yang kita bisa tangkap dari surat-suratnya kepada F. Lassalle (22 Februari 1858) dan F. Engels (2 April 1858) (Marx and Engels, 1965: 103-4). Buntutnya, di kalangan teoritisi Marxis, perdebatan tentang Negara ini, bersandar pada berbagai perbedaan akar pendekatan, tidak terhindar. Ada yang berusaha menafsir dari Manifesto Komunis (selanjutnya Manifesto), ada yang merujuk ke Capital, atau dari karya-karya yang lebih awal, seperti kritik terhadap Hegel, dsb, dsb, Teori Marxis tentang negara jadi penuh warna-warni. Lanjutkan membaca →
Dede Mulyanto, Dosen Universitas Padjajaran, Bandung.
I
SALAH SATU sebab kekaguman Marx kepada kapitalisme ialah keengganannya yang obsesif terhadap kemandegan. Kemajuan dan senantiasa perubahan itu ibarat mandor yang mondar-mandir ke setiap relung dunianya kapitalis, melecuti setiap hal yang ada di dalamnya untuk terus bergerak. Tidak boleh ada yang tidak berubah selain kekuasaannya kelas kapitalis.
Di bawah naungan kapitalisme, semua yang beku dicairkan; segala yang baru segera saja menjadi jadul bahkan sebelum ia menguap lenyap. Semua tempat dibuka, ditingali, dan dirombak supaya kapital tetap bisa menggelembungkan diri terus-menerus. Semua yang pernah dibuka, ditinggali, dan dirombak kembali, dibuka, ditinggali, dan dirombak. Semua ini terkait dengan soal ‘hidup dan matinya’ dunia kapitalis. Borjuasi, satu dari dua kelas dominan dalam kapitalisme, ‘tidak bisa ada tanpa senantiasa merevolusionerkan perkakas produksi dan juga hubungan produksinya, dan bersamaan dengan itu pula [merevolusionerkan] keseluruhan hubungan kemasyarakatan’ (Marx & Engels, 2008: 38). Salah satu ‘hubungan kemasyarakatan’ yang telah dan terus direvolusionerkan oleh kapitalisme ialah teknologi. Lanjutkan membaca →
Coen Husain Pontoh, Mahasiswa Ilmu Politik di City University of New York (CUNY)
Coen Husain Pontoh
“Sejarah seluruh umat manusia adalah sejarah perjuangan kelas.”
KALIMAT SINGKAT, padat, dan tegas yang tertera pada bagian I Manifesto ini merupakan kata kunci dalam memahami substansi pemikiran dan proyek politik Marx dan Engels. Dalam komentarnya terhadap kalimat ini, filsuf Phil Gasper mengatakan, “pandangan bahwa sebagian besar masyarakat manusia terbagi ke dalam kelas-kelas sosial dengan kepentingan yang saling bertentangan dan tak terdamaikan (antagonistik) merupakan inti dari pemikiran Marx dan Engels.[1]
Pada bagian selanjutnya, Manifesto memaparkan sejumlah fakta historis dari keberadaan kelas-kelas. Pada jaman Romawi kuno kita temukan kelas bangsawan (patricians), ksatria (knights), rakyat jelata (plebeians), dan budak (slaves); pada abad pertengahan, kelas-kelas yang muncul adalah tuan feodal (feudal lords), petani hamba (vassal), pedagang (guild-master), buruh pengrajin harian (journeyman), buruh magang (apprentices), dan pelayan (serfs). Sementara pada masyarakat borjuasi modern, antagonisme kelas-kelas itu tidak lenyap tapi makin mengerucut pada dua kelas besar yang berhadap-hadapan secara langsung: borjuasi dan proletariat.[2]
Tentang keberadaan kelas-kelas dan perjuangan kelas dalam masyarakat, Marx bukanlah orang pertama yang menemukan konsep ini. Dalam surat kepada kawannya Joseph Weydemeyer di New York, Marx mengatakan, “jauh sebelum aku, sejarawan borjuis telah mendeskripsikan sejarah perkembangan perjuangan di antara kelas-kelas ini…”[3]
Marcello Musto Profesor Ilmu Politik di York University of Toronto, Kanada
Berbeda dari perkiraan yang menyebutkan bahwa setelah 1989 Karl Marx akan terlupakan, Marx justru kembali menjadi perhatian para akademisi di dunia. Seratus enampuluh tahun setelah ditulis, Manifesto Komunis kembali dirayakan sebagai teks dengan prediksi dahsyat tentang perkembangan kaum kapitalis dalam skala dunia. Artikel ini mempertimbangkan bagaimana tulisan Marx dan Engels diterjemahkan dan diterima di Italia, dari pertama kali terbit pada tahun 1889 sampai 1945, dan lebih luas lagi, mengeksplorasi interpretasi keliru dari keberadaan karya-karya Marx di Italia. Dari pengamatan jarak dekat terhadap pers gerakan pekerja yang baru didirikan dan tulisan-tulisan kaum sosialis awal, ditemukan bukti pemalsuan dan termiskinkannya Marxisme. Esai-esai Antonio Labriola mengenai Sejarah Konsepsi Materialis, yang diterbitkan antara 1895 dan 1897, adalah satu-satunya karya di Italia yang menyuguhkan interpretasi yang teliti yang mampu mengukur/memiliki sifat tingkatan Eropa dalam Marxisme. Melalui rekonstruksi historiografi atas karya terjemahan dan perkembangan interpretasi dari Manifesto Komunis-nya Marx dan Engels, artikel ini memperdebatkan ‘krisis Marxisme’ di akhir abad ke 19 di mana Benedetto Croce adalah figur terpenting, pembatasan penyebaran teori-teori Marx dalam Partai Sosialis Italia, perjuangan antara kaum reformis dan serikat buruh revolusioner dan revisionis di awal abad ke 20 dan represi fasisme selama 20 tahun.
Kata kunci: Karl Marx; Manifesto Komunis; Antonio Labriola; Marxisme; Sejarah Gerakan Kaum Pekerja; Italia. Lanjutkan membaca →
SALAH SATU tema penting dan kontroversial tapi tidak mendapatkan pembahasan yang utuh dari Karl Marx, adalah tema tentang Negara. Dalam Manifesto Komunis, tema ini muncul dalam bentuk yang ringkas dan padat. Untuk itu, dalam rangka merayakan ulang tahun Manifesto, Coen Husain Pontoh dari IndoPROGRESS, mewawancari Profesor Vedi R. Hadiz, dari Murdoch University, Australia. Berikut petikannya: Lanjutkan membaca →
Coen Husain Pontoh, Mahasiswa Ilmu Politik di City University of New York (CUNY)
PADA DEKADE 1960an, tepatnya pada 1964, bertempat di universitas Birmingham, Inggris, Richard Hoggart mendirikan sebuah lembaga yang diberi nama Centre for Contemporary Cultural Studies (CCCS). Lembaga ini dimaksudkan untuk mengembangkan sebuah disiplin baru dalam ilmu sosial yang disebut Cultural Studies, dengan tokoh utamanya Stuart Hall, yang menggantikan Hoggart sebagai direktur CCCS.