Kategori: Politik

Teror Sipil Sebagai Proxy

Catatan Atas Kekerasan Terhadap Beberapa Golongan Minoritas di Indonesia

Antonius Made Tony Supriatma, bekerja pada sebuah lembaga media nirlaba, tinggal di New Jersey, Amerika Serikat

MEMPERHATIKAN aksi-aksi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok vigilante  seperti FPI, FBR, FUI, MMI dan sejenisnya itu, saya menyimpulkan: ‘Negara sesungguhnya membutuhkan keberadaan mereka.’ Negara membutuhkannya untuk melakukan teror terhadap rakyatnya sendiri. Sebabnya, karena aparatus negara yang berfungsi melakukan teror pada masa otoriterisme Orde Baru, tidak bisa berfungsi pada jaman demokrasi prosedural ini. Kelompok-kelompok vigilante dibutuhkan untuk menyingkirkan ideologi perjuangan kelas, membungkam kelompok intelektual liberal, menghukum bida’ah, dan menegakkan ortodoksi. Hasil akhirnya adalak kelompok rakyat yang jinak (docile) dan konservatif. Lanjutkan membaca

Irshad Manji: Reformer Islam atau Suara Dominan Imperium?

Airlangga Pribadi, Kandidat PhD Asia Research Centre Murdoch University, Pengajar Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga, Surabaya

MELALUI laman media sosial Facebook, saya mendengarkan berita menyedihkan dari tanah air tentang terpasungnya kembali kemerdekaan berekspresi di ruang publik intelektual kita. Tindakan a la fasisme ini diperagakan kembali oleh segerombolan massa berjubah, baik yang mengatasnamakan Laskar Umat Islam Solo (LUIS) maupun Front Pembela Islam (FPI). Lanjutkan membaca

Syariat Islam: Mimpi Buruk Kaum Minoritas

Imam Shofwan, Ketua Umum Yayasan Pantau, kini sedang mempersiapkan report penelitian Persespsi Wartawan Indonesia Terhadap Islam

PADA AGUSTUS 2002, Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Bulan Bintang mengusulkan pencantuman Piagam Jakarta dalam UUD 1945. Mereka hendak memasukkan lagi tujuh kata dalam Pancasila: ‘Ketuhanan yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.’ Lanjutkan membaca

Antara Romo dan Sulastomo

Tentang Korban G30S dan Permintaan Maaf
Martin Aleida
sastrawan, tinggal di Jakarta

‘DENGAN  minta maaf kita akan dibebaskan dari sisa kebencian dan dendam warisan pemerintahan Soeharto,’ demikian seruan Franz Magnis-Suseno SJ, dalam mendukung rencana Presiden SBY untuk meminta maaf kepada korban pasca-G30S.[1]  ‘Permintaan maaf akan membebaskan hati kita juga.’ Jiwa bergetar dibuatnya. Lanjutkan membaca

Olof Palme, Sang Revolusioner Reformis

Iqra Anugrah, Kandidat Master ilmu politik di Ohio University, AS

 

‘Kau yang telah membunuh Palme mungkin tahu kalau kau telah menembak mati seorang merpati perdamaian
Tapi kau tak pernah tahu bahwa pelurumu
Yang menembus dadanya
Justru melepaskan jutaan merpati-merpati perdamaian yang baru
Yang tak pernah bisa kau tumpas’

-Pesan dari seorang pelayat-

 

JIKALAU kita amati dengan seksama, tampak jelas pada kita betapa tatanan dunia global saat ini dipenuhi oleh ketidakadilan. Kesenjangan sosial-ekonomi, ketimpangan antara negara-negara dunia pertama dan dunia ketiga, represi politik, serta fundamentalisme etno-religius, adalah gambar kasar hasil dari perselingkuhan antara kuasa, kapital, dan kekerasan. Atas nama ideologi ’utopia’ bertajuk kapitalisme neoliberal, dan didukung oleh politik luar negeri yang ekspansionis, ketegangan ini terus berlanjut. Berangkat dari realita ini, ada sebuah pertanyaan besar yang muncul: masih adakah harapan dan bagaimana mewujudkan harapan itu? Lanjutkan membaca

Genosida, Pola Yang Tidak Pernah Berubah Sepanjang Zaman

Resensi Buku

Marco Mateus Goncalves, Peneliti Sejarah Sosial, tinggal di Dili, Timor-Leste.

If You Leave Us Here, We Will Die”: How Genocide Was Stopped in East-Timor [cover]

Judul buku: “If You Leave Us Here, We Will Die” : How Genocide Was Stopped in East-Timor
Penulis        :  Geoffrey Robinson
Penerbit      :  Princeton University Press, 2010.
Tebal             : 344 pp.

MANTAN Panglima  F-FDTL (Angkatan Bersenjata Timor-Leste) Taur Matan Ruak, di sela-sela memberikan kesaksiannya di depan Komisi Kebenaran dan Persahabatan di Dili pada 2007, dengan lugas mengatakan ‘kita bisa memilih siapa musuh kita, tetapi kita tidak bisa memilih dengan siapa kita bertetangga.’

Pernyataan ini sekaligus mengabsahkan bahwa — dan terlepas dari invasi serta pelanggaran berat Hak Asasi Manusia yang dilakukan oleh militer Indonesia di masa lalu — hubungan bilateral di antara kedua bangsa tidak bisa dihindari. Hubungan ini bahkan ditindaklanjuti dengan pengiriman beberapa perwira Polisi Nasional Timor-Leste, untuk meningkatkan kemampuan mereka di berbagai akademi kepolisian di Indonesia. Lanjutkan membaca

Islam Politik di Indonesia: Perkembangan Kapitalisme dan Warisan Perang Dingin

Ulasan dan Tinjauan Makalah Vedi R. Hadiz
Iqra Anugrah,
Kandidat Master ilmu politik di Ohio University, AS.

STUDI tentang Islam dan politik di Indonesia, kini menjadi salah satu topik marak di disiplin ilmu politik, kajian Asia Tenggara, dan kajian Islam. Sederetan pembahasan dan diskursus mengenai berbagai variasi dan fenomena Islam politik di Indonesia, mulai dari yang ‘modernis,’ ‘tradisionalis,’ ‘liberal-progresif,’ ‘fundamentalis,’ hingga ‘teroris’ menjadi tema-tema utama dalam studi Islam dan politik di Indonesia. Hingga sekarang, perspektif yang dipakai untuk melihat Islam Indonesia adalah sebuah ‘narasi besar’ berupa fakta bahwa Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar sedunia, berhasil menjalankan proses demokratisasi elektoral dan menjadi republik yang demokratis, yang meskipun mendapat tantangan dan ancaman dari segelintir kelompok fundamentalis dan teroris yang mengatasnamakan Islam, mendapat sokongan yang luar biasa dari mayoritas Muslim yang moderat dan progresif, yang menjadi pilar kehidupan berbangsa. Lanjutkan membaca