Kategori: Pergerakan

Menyambut Hari Buruh 2012

Ahmad Rizky Mardhatillah Umar, Kepala Departemen Kajian Strategis & Kebijakan BEM KM UGM, Yogyakarta

KIRA-KIRA, apa yang akan menjadi isu ramai di hari Buruh tahun ini? Mari kita petakan masalah-masalah yang sebenarnya menjadi masalah kita bersama — intelektual, mahasiswa, profesional, buruh, tani, dll-pada hari buruh tahun ini Lanjutkan membaca

Ekonomi Politik Krisis Energi Indonesia

Linda Sudiono, Anggota Another Study Center, Jakarta

KETIKA pemerintah SBY-Boediono berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) pada awal April 2012 lalu, di lapangan ia dihadapakan pada gelombang perlawanan massa yang luas. Tidak hanya di Jakarta, dimana ribuan mahasiswa dan sektor rakyat miskin lainnya bergabung dalam barisan unjuk rasa menentang rencana tersebut, di Ternate, ratusan mahasiswa melakukan aksi menolak kenaikan BBM dan menutup Bandara Baabulah. Di Makasar, Sulawesi Selatan, pengunjuk rasa melakukan aksi pembakaran ban sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap rencana pemerintah tersebut. Di Yogyakarta, posko perlawanan didirikan oleh persatuan gerakan massa untuk mengawal runtutan unjuk rasa. Di Purwokerto, Jawa tengah, massa memblokade jalan jendral Sudirman. Aksi serupa juga terjadi di Tasikmalaya, Jawa Barat; Medan, Sumatera Utara; Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Kalimantan Timur, Bangka Belitung, dan lainnya. Lanjutkan membaca

Penelusuran Kekuatan Buruh di Indonesia

Benny Hari Juliawan, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Dalam kehidupan politik, buruh memang tidak dominan, tapi bukan berarti mereka tidak punya kekuatan.

SAAT REZIM  otoriter Orde Baru runtuh (1998), banyak orang menduga bahwa buruh yang terorganisir sedang berada pada posisi yang diuntungkan. Secara berturut-turut, pemerintahan  pasca-Soeharto mengubah hukum perburuhan yang bertujuan untuk memperluas  hak-hak buruh, mempermudah pembentukan serikat, serta memperbesar ruang kebebasan berbicara dan berkumpul. Pada saat yang bersamaan, proses demokratisasi dan reorganisasi institusi negara juga terus dilakukan dengan memperluas partisipasi buruh di dalamnya. Lanjutkan membaca

Pengorbanan Terbaik Manusia Indonesia*

Untuk Sondang Hutagalung

Sherr Rinn, Pengelola media online Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI)

‘Orang yang paling bahagia adalah mereka yang memberikan kebahagiaan terbesar kepada orang lain.’ (Status Facebook Sondang Hutagalung, 19 September 2011)

‘Untuk memberikan cahaya terang kepada orang lain kita jangan takut untuk terbakar. Dan bagi mereka yang terlambat biarlah Sejarah yang menghukum-nya.’ (Sondang Hutagalung)

SONDANG Hutagalung (22 tahun) telah meninggal pada pukul 17.45 WIB, tepat pada Hari Hak Asasi Manusia se-Dunia, 10 Desember 2011. Ia menghembuskan nafas terakhirnya, setelah meregang nyawa selama tiga hari. Sondang adalah ketua Himpunan Aksi Mahasiswa Marhaenis Untuk Rakyat Indonesia (Hammurabi Justice), aktivis yang mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan HAM. Dia membakar dirinya sendiri dengan harapan bisa membangkitkan gerakan rakyat. Lanjutkan membaca

Mencari Jalan Membangun Harapan

Mengenang Sondang Hutagalung
Max Lane, Mengajar di University of Melbourne, Australia

PADA 10 DESEMBER, seorang lelaki berumur 22 tahun bernama Sondang Hutagalung, meninggal dunia akibat 98 persen dari tubuhnya terbakar. Sulit membayangkan rasa sakit yang dideritanya sebelum maut datang menjemput. Yang tidak biasa, lelaki muda ini tidak kebakar dalam sebuah kecelakaan, tetapi membakar diri. Lanjutkan membaca

Partai Komunis Indonesia

Ketika Nasionalisme Mendahului Kelas
Peter Kasenda,
Sejarawan

Meskipun PKI sekarang sudah diserak-serakan, aku tetap berkeyakinan kuat  kalau  hanya  waktu,  dan   dalam  proses  sejarah  itu sendiri,  kalau PKI pada akhirnya   akan bangkit lagi, karena PKI selamanya anak zaman, dilahirkan ke dunia  oleh  zaman itu sendiri…Meski banyak kesulitan dan penderitaan, PKI akan menemukan kembali  jalannya untuk  naik jauh lebih segar ketimbang kami   berlima. Mereka    akan membikin kegagalan kami ini ibu bagi kemenangan mereka..

Oleh karena terus diburu, ditakuti-takuti peluru musuh, dia (PKI)   sekarang tiarap  serendah-rendahnya.  Akan  tetapi,  pada  akhirnya  ia  akan  merangkak balik dengan tangan dan lututnya untuk menangkap dan menghancurkan musuh Rakyat yang sesungguhnya : kaum imperialis, para tuan tanah dan kelompok –  kelompok garis keras lain di negeri ini.

Sudisman, 1967.

PADA TANGGAL 23 Mei 1965, Stadion Gelora Bung Karno dibanjiri manusia. Puluhan ribu orang memadati tribun yang mengelilingi stadion, sementara ribuan manusia lagi berdiri di lapangan yang terhampar di bawah. Di luar, di lapangan parkir dan jalan-jalan di sekitar lebih dari 100.000 orang saling berdesak-desakan. Sungguh-sungguh seperti lautan manusia. Itulah peristiwa peringatan ulang tahun ke-45 berdirinya PKI. Lanjutkan membaca

Dari Market Realism Menuju Alternatif di Amerika Latin: Obrolan Bersama Tariq Ali

Wilson Obrigados, Sejarawan-cum Aktivis

RESTORAN Tjikini 17, Jakarta, 12 Oktober 2011, mendadak sesak. Hari itu, seorang  penulis dan aktivis terkenal, Tariq Ali yang kini bermukim di London, Inggris, secara dadakan didaulat untuk menjadi pembicara dalam sebuah diskusi informal.  Acara utama Tariq  Ali di Indonesia adalah mengikuti  pertemuan pengarang Ubud Writer Readers Festival di Bali. Tapi menjelang kepulanganya, dua aktivis, yakni Rheinhard Sirait dan Hilmar Farid, berhasil membajak Tariq Ali untuk berdiskusi serius tapi santai di restoran Tjikini 17. Akhirnya,  sore, sekitar pukul 16.00 WIB diskusi dapat diadakan. Tariq Ali  yang kepanasan duduk dikursi sofa retro klasik berwarna putih. Fay (panggilan akrab Hilmar Farid), lalu membuka dan memandu acara obrol-obrol santai tapi serius dengan Tariq Ali. Lanjutkan membaca