Kategori: Lipsus

Orang Bajo di Surga Bawah Laut

Indarwati Aminuddin, sedang menyelesaikan program magisternya di jurusan Leisure, Tourism and Enviroment di Wageningen University, Belanda.

BAJUNG lahir kira-kira 50 tahun lalu. Perawakannya kekar. Kulitnya legam. Ia tampak lebih muda dari usianya. Pada saya ia berkata bahwa  angka 50 itu adalah pemberian kepala desa Mola saat ia mengurus Kartu Tanda Penduduk (KTP). Mayoritas to sama—atau  peneliti asing menyebut mereka,  sea gypsy—tak tahu umur mereka sendiri seperti Bajung. Nenek moyang mereka tak mengenal budaya tulis-baca. Mereka hidup nomaden di laut dan hanya pandai melagukan iko-iko. Lanjutkan membaca

Dari Market Realism Menuju Alternatif di Amerika Latin: Obrolan Bersama Tariq Ali

Wilson Obrigados, Sejarawan-cum Aktivis

RESTORAN Tjikini 17, Jakarta, 12 Oktober 2011, mendadak sesak. Hari itu, seorang  penulis dan aktivis terkenal, Tariq Ali yang kini bermukim di London, Inggris, secara dadakan didaulat untuk menjadi pembicara dalam sebuah diskusi informal.  Acara utama Tariq  Ali di Indonesia adalah mengikuti  pertemuan pengarang Ubud Writer Readers Festival di Bali. Tapi menjelang kepulanganya, dua aktivis, yakni Rheinhard Sirait dan Hilmar Farid, berhasil membajak Tariq Ali untuk berdiskusi serius tapi santai di restoran Tjikini 17. Akhirnya,  sore, sekitar pukul 16.00 WIB diskusi dapat diadakan. Tariq Ali  yang kepanasan duduk dikursi sofa retro klasik berwarna putih. Fay (panggilan akrab Hilmar Farid), lalu membuka dan memandu acara obrol-obrol santai tapi serius dengan Tariq Ali. Lanjutkan membaca

Berdamai dari Bawah

Linda Christanty, Sastrawan-cum wartawan

SUATU hari di tahun 1998 Khatijah binti Amin melihat air laut berwarna merah. Barangkali itu hanya pengaruh ganggang atau pantulan cahaya matahari sore. Tapi dalam keadaan tertekan, dia tidak sempat memikirkan hal semacam itu. Rumah tahanan tempat dia disekap berada dekat laut. Dia merasa hidupnya tak lagi lama. Laut sewarna darah itu dianggapnya pertanda maut. Lanjutkan membaca

‘Apa Salah Kami?’

Fahri Salam, Penulis Lepas

CISALADA sebuah perkampungan tipikal provinsi Jawa Barat. Ia dikelilingi sawah dan kebun, sekira 20 kilometer dari kota Bogor. Warga bekerja petani, sebagian pensiunan. Kehidupan berjalan tenang dan lambat. Menjelang sore, anak-anak bermain di lapangan bulutangkis, sebelah madrasah, dan bersama orangtua menuju masjid guna ibadah maghrib. Suasana terlihat normal, sampai kemudian, di tengah meningkatnya kekerasan minoritas agama, warga Cisalada berselimut ketakutan dalam arus kebencian anti-Ahmadiyah saat penyerangan awal Oktober 2010. Lanjutkan membaca

Nyanyi Sunyi Pram

Karya-karyanya adalah sayup suara di rumah-bahasanya sendiri

Fahri Salam Penulis lepas

”SAYA punya minat khusus dengan dia karena [dia] realistis,” kata Sujiyati, merujuk alasan dia mencintai karya-karya Pram, dengan mimik serius dan nada tegas.

Sujiyati mengajar bahasa Indonesia kelas tiga SMU Negeri 3 Yogyakarta di bilangan Kota Baru. Dia berusia paruh baya, kulit hitam coklat, senada dengan setelan jas dan pantolan hitam keabu-abuan yang dia kenakan saat saya menemuinya awal Mei 2006. Kami duduk di kursi kayu berlapis busa di hall depan.

Sujiyati tampak serius menanggapi nasib kepengarangan Pram. Dalam kurikulum sastra yang dikenalkan kepada siswa sekolah menengah, nama Pram tak sekalipun tercatat, sebagai referensi maupun ujian. Hanya karena minat khusus Sujiyati serta inisiatif sendiri, nama Pram terlontar di ruang kelas. Sujiyati juga minta siswa membaca karya Pram.

Lanjutkan membaca

Jalan Teguh Sang Pemimpin

Kisah Umi Sarjono, yang keluar masuk penjara di masa revolusi kemerdekaan. Memimpin organisasi perempuan terbesar. Meninggal dalam sunyi, di usia 87.

Lilik HS, Penulis Lepas.

RUMAH BERCAT hijau muda di jalan Tegalan, Matraman, Jakarta Timur itu mendadak ramai. Kertas kuning berkibar di ujung jalan. Tua muda orang berkerumun. Gang sempit di samping rumah itu pun penuh sesak. Ada dua karangan bunga sederhana berjajar, dari Komisi Nasional (Komnas) Perempuan dan ICTJ (The International Center for Transitional Justice).

Di teras, kain terpal dibentangkan melingkar. Jenasah sedang dimandikan.

“Meninggal jam berapa bu?” bisik saya ke seorang ibu berkerudung hitam.

“Kurang tahu. Tanya Mimin itu, katanya sih jam 02.00 pagi…..”

Seorang gadis muda, bertubuh mungil dengan rambut dikucir, muncul dari balik dapur. Wajahnya sembab.

“Semalam jam 19.00 budhe minta minum air putih. Jam 02.00 saya dengar budhe batuk-batuk. Setelah itu tidur lagi. Jam 07.00, saya lihat tidak bangun-bangun lagi….” Lanjutkan membaca

Somewhere in Time

Kisah Mantan Tapol PKI di Sulawesi Tenggara


Indarwati Aminuddin
Kontributor Aceh Feature di Sulawesi Tenggara. Kini ia sedang menempuh studinya di Negeri Belanda.

DI kampung Nangananga, Kendari, Sulawesi Tenggara, tiap jiwa pergi dengan cara tragis. Bila di tahun 1965 banyak anggota keluarga mereka mati dengan label ‘keluarga PKI’, di tahun-tahun selanjutnya kematian datang akibat trauma sakit, deraan sepi, sikap antisosial mereka yang non komunis dan loncatan-loncatan kenangan yang tak kunjung hilang. Memori pahit mereka memiliki nama kini: somewhere in time. Lanjutkan membaca