Kategori: Analisa EkoPol

Transmutasi Neoliberalisme di Indonesia

Airlangga Pribadi, Mahasiswa Program Doktoral Ekonomi Politik di Asia Research Centre (ARC) Murdoch University, Australia

SETELAH dua belas tahun jatuhnya rezim Soeharto, muncul sebuah keyakinan yang mengental menjadi iman baru di kalangan intelektual, teknokrat, politisi, dan pengambil kebijakan di Indonesia bahwa desain institusi politik demokrasi liberal dan agenda good governance akan melapangkan jalan bagi penciptaan masyarakat terbuka berbasis pasar. Sistem ini diyakini bisa mendisiplinkan aparatus pemerintahan, menghabisi korupsi, dan memberi ruang setara bagi setiap orang untuk masuk dan menikmati berkah dari pasar bebas. Dalam perayaan besar perkawinan demokrasi liberal dan sistem pasar bebas ini, maka partisipasi tiap-tiap kekuatan sosial guna melancarkan jalan bagi desain neoliberal akan mengekuivalenkan kesederajatan tiap-tiap orang di negeri ini sebagai warga yang setara dalam politik sekaligus warga dari sistem pasar yang inklusif (market citizenship). Lanjutkan membaca

Membela Radikalisasi Perlawanan Rakyat Pekerja Sekarang

Muhammad RidhaAnggota Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP)


MASIH segar dalam ingatan kita pada bulan Desember 2011, ratusan warga di Mesuji, Sumatera Selatan, melakukan penyerangan terhadap perusahaan Kelapa Sawit yang merupakan ekspresi dari ketidakpuasan warga terhadap operasionalisasi perusahaan tersebut yang hanya menguntungkan segelintir orang disana.  Di Bima, NTB, ratusan warga memblokade Pelabuhan Sape sebagai bentuk protes terhadap konsesi pertambangan yang diberikan Bupati terhadap perusahaan tambang tertentu. Pada bulan awal tahun ini, tepatnya pada 12 Januari 2012, Jakarta diguncang oleh demonstrasi besar gerakan rakyat. Dengan tuntutan “Pulihkan Hak-hak Rakyat Indonesia”, ribuan massa dari sektor gerakan rakyat seperti kalangan tani, buruh, mahasiswa, bahkan perangkat aparatur pedesaan melakukan demonstrasi di depan istana dan juga di depan gedung DPR. Dalam waktu rentang waktu yang tidak terlalu jauh, puluhan bahkan ratusan ribu massa buruh di Tangerang dan Bekasi melakukan pemblokiran jalan tol sebagai bentuk tuntutan mereka kepada Bupati setempat untuk segera menaikkan nominal angka Upah Minimum Kabupaten (UMK) yang dirasa tidak lagi mencukupi untuk memenuhi kebutuhan buruh. Peristiwa-peristiwa yang dicuplik hanya sebagian dari banyak peristiwa perlawanan rakyat yang banyak terjadi diberbagai daerah di Indonesia. Lanjutkan membaca

Enam Mitos Keuntungan Investasi Asing

Coen Husain Pontoh, mahasiswa ilmu politik di City University of New York (CUNY)

BEBERAPA waktu lalu, Fitch Rating, sebuah lembaga pemeringkat yang berbasis di Hongkong, mengeluarkan daftar peringkat utang luar negeri  jangka panjang Indonesia. Dalam laporannya, Fitch mengatakan bahwa terjadi peningkatan positif utang luar negeri jangka panjang Indonesia, dari BB+ (plus) menjadi BBB- (minus). Lanjutkan membaca

Agama Dan Negara: Jejak Persilangan Kekerasan

ANALISA EKONOMI POLITIK

Coen Husain Pontoh, Mahasiswa Ilmu Politik di City University of New York (CUNY)

(Catatan redaksi: artikel ini adalah penyesuaian dari kata pengantar untuk edisi perdana Jurnal IndoPROGRESS, yang akan terbit minggu ini).

BAGAIMANA sebaiknya kita membaca kasus kekerasan sektarian, khususnya yang mengatasnamakan Islam, yang sangat menonjol saat ini? Meminjam kategorisasi dari filsuf Slavoj Zizek,[1] jenis kekerasan yang terjadi mulai dari kekerasan langsung/fisik (aksi bom bunuh diri, penyerangan, pengusiran, pembunuhan, perampokan dan perampasan harta milik kelompok yang berbeda penafsiran dari penafsiran umum dalam aspek-aspek tertentu ajaran Islam dan terhadap mereka yang bukan Islam), hingga kekerasan ideologis (rasisme, penghinaan, dan diskriminasi seksual) terhadap nilai-nilai yang dipandang tidak Islami. Lanjutkan membaca

Tiaka Morowali 22/08/2011

Penembakan Tiaka Dan Akumulasi Primitif

Anto Sangaji, kandidat doktor di York University, Kanada

SERANGAN berdarah dan mematikan terhadap petani dan nelayan atas nama ekspansi kapital kembali terjadi. Lebih sebulan lalu, senin (22/8), protes nelayan karena operasi pengeboran minyak lepas pantai Tiaka  di Kecamatan  Momosalato, Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah, berakhir tragis. Dua pendemo tewas ditembak aparat keamanan dan lainnya luka-luka. Setelah insiden penembakan, aparat keamanan segera mengamankan lapangan minyak itu. Dua kapal perang, KRI Hiu dan KRI Teluk Ende, dikirim untuk melindungi ladang minyak Tiaka.[1] Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah juga mengerahkan 1 SSK (satuan setingkat kompi) Brimob dengan tujuan yang sama.[2] Lanjutkan membaca

Bisnis Pahit Kelapa Sawit (2-Selesai)

Kasus Sumatera Utara


George Junus Aditjondro

George Junus Aditjondro
George Junus Aditjondro, Sosiolog dan Pengajar pada Program Studi Religi, Ilmu dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

 

Dampak negatif ekspansi perkebunan kelapa sawit:

Dampak negatif ekspansi perkebunan kelapa sawit di Nusantara, meliputi sedikitnya lima bidang, yaitu (a) penyerobotan tanah penduduk; (b) tergusurnya plasma nuftah dan budaya-budaya lokal; (c) persaingan dengan sumber-sumber pangan lokal; (d) pengurasan air tanah; (e) pemanasan global karena pelepasan gas-gas rumah kaca; khususnya gas karbon mono-oksida; (e) eksploitasi buruh, khususnya buruh perempuan.

(A). Penyerobotan Tanah Penduduk Setempat:

Seperti terjadi pada kasus PT Nauli Sawit, pengadaan tanah untuk korporasi perkebunan kelapa sawit sering kali dimulai dengan penyerobotan tanah rakyat. Jumlah “ganti rugi” bagi pemilik tanah sebelumnya sangat merugikan rakyat setempat, sehingga meninggalkan kebencian rakyat setempat terhadap pemilik-pemilik baru yang jauh lebih kuat.

Kebencian rakyat setempat dapat disembunyikan selama masa kediktatoran Soeharto, namun siap meledak setelah kejatuhan sang diktator. Setahun sesudah lengsernya sang diktator, masyarakat di seputar perkebunan PT Socfindo Seunagan di Kec. Kuala, Kab. Nagan Raya (dahulu bagian dari Kab. Aceh Barat) berdemo di depan rumah Administrator perkebunan di sebelah barat bandara Tjut Nyak Dhien, kemudian membakar rumah itu. Beberapa rumah Asisten di dekatnya ikut terbakar. Letupan kemarahan itu mencerminkan kebencian rakyat sepuluh desa yang bermukim di lahan hak guna usaha (HGU) perkebunan bermodal Belgia itu. Tampaknya mereka tidak lupa bagaimana perluasan perkebunan itu di tahun 1960-an melibatkan kekerasan polisi dan militer. Lanjutkan membaca

Bisnis Pahit Kelapa Sawit (1)

Kasus Sumatera Utara

George Junus Aditjondro
George Junus Aditjondro, Sosiolog dan Pengajar pada Program Studi Religi, Ilmu dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

George Junus Aditjondro

Pengantar

SUMATERA UTARA (Sumut), memang tepat menjadi tuan rumah konferensi alternatif peringatan seabad introduksi kelapa sawit (Elaeis Guineensis) dari Ghana, Afrika Barat. Di tempat inilah, berkat rintisan Adrien Hallet dari Belgia dan K. Schadt dari Jerman, untuk pertama kalinya kelapa sawit diproduksi secara komersial Pada tahun 1911, di Tanah Itam Ulu dan Pulu Raja di Sumut dan di Sungai Liput, Aceh Timur. Sebelumnya, jenis palma ini diintroduksi sebagai tanaman hias di Kebun Raya Bogor, tahun 1848 (Bangun 2010: 104-5; Ghani 2011). Lanjutkan membaca