Tabiat Apakah?: Ketakutan Besar, Krisis dan Hoax

hoax

ADA HANTU berkeliaran di Indonesia—hantu kabar bohong.

Media massa mainstream menyebutnya sebagai hoax, meminjam kata yang muncul dalam perbendaharaan bahasa Inggris sejak 1808 (menurut kamus dasyhat Merriem Webster versi online) yang berarti: 1) sebuah perbuatan yang bertujuan mengelabui atau membohongi dan 2) menjadikan sesuatu sebagai kebenaran umum melalui fabrikasi dan kebohongan yang disengaja.

Hantu itu berkeliaran di Indonesia, menggedor pintu penguasa dan menyusuri lorong-lorong pasar berbau comberan. Ia mengisi awal tahun penuh harapan, mengisi akhir tahun penuh kedengkian. Membawa cahaya Pengetahuan, dan lebih banyak Pembodohan.

Kejengkelan terhadap hantu itu menjadi semakin berarti dengan daya jangkau dan kecepatan penyebarannya melebihi kemampuan pemerintah meningkatkan daya baca atau literasi masyarakat, yang hanya menempati posisi kedua dari belakang di antara 61 negara dalam survei John Miller pada 2016.

Semua kekuasaan menyatukan diri menghadapinya. Ada raja berjanggut besar, dan ratu bersuara nyaring. Ada pangeran berkuda dari Selatan, dan penguasa Puri di Timur. Ada satria muda belia dari pinggiran kota, dan sejoli dengan masa depan bahagia di tengah kota. Semua berikrar dalam aliansi keramat memeranginya.

Ada dua persoalan yang timbul dari kenyataan ini:

 

  1. Hoax adalah anak haram kapitalisme digital yang diakui semua pihak memiliki daya onar berlipat ganda yang menimbulkan bencana sosial dan menghancurkan martabat seseorang.

Dalam ajang politik elektoral kontemporer di Indonesia, ia menjadi ongkos murah yang menghantarkan bukan siapa-siapa menjadi siapa-siapa. Kemampuannya bergerak cepat menebar racun kebencian memang memusingkan.

Tidak mudah mencari penangkalnya. Platform media sosial bukan sekedar produk maya tanpa bentuk. Ia mewakili gerak sejarah senjakala kapitalisme cetak yang menciptakan ‘masyarakat terbayangkan’ dengan kapitalisme digital yang melahirkan ‘masyarakat terbingungkan’ pada fajar abad ke-21.

Wujud materialnya ditunjukkan melalui kabel serat optik puluhan ribu kilometer yang tertanam di dasar lautan, menghantarkan dessilion kata-kata putus cinta, gambar mesum, kafir, dan om telolet om, yang bergerak melintasi selat Malaka sampai benua Eropa dan Amerika Utara. Ada pula server penyimpanan data, produsen teknologi digital dan pasar gadget jutaan dolar setiap tahunnya. Ringkasnya, ia mewakili kekuatan kapital global dengan tampilan manis di layar komputer atau gadget anak remaja.

 

  1. Hantu tersebut beranak pinak dalam situasi zaman ketika kaum jelata sepenuhnya terkungkung dalam ikatan lama politik massa-mengambang.

Politik adalah arena pacuan kuda bagi yang lahir dengan membawa darah biru di nadinya. Sementara kaum jelata harus tetap terjaga dengan buntelan pakaian berpindah dari satu pojok kota ke pojok lainnya dengan kisah dari satu penggusuran ke penggusuran berikutnya.

Di pojok kampus dekat stasiun kereta, seorang ibu mengeluhkan bahwa pihak universitas akan segera menutup lapaknya berdagang. Sampai akhir bulan, ia harus berkemas dan angkat kaki dari warung reotnya. Kampus memang bertambah cantik, tetapi rakyat jelata semakin merasa hidup sia-sia. Ini adalah pertanda zaman yang nyata.

Anasir-anasir kota sepenuhnya mulai didominasi golongan borjuasi yang mengisi barisan populasi warga kota di Indonesia yang lonjakan pertambahan penduduknya terjadi dalam dalam hitungan deret ukur meninggalkan populasi desa yang hanya tinggal sepertiganya dalam satu dekade mendatang.

I

Pembicaraan riuh terkait hoax adalah pembicaraan tentang tingkah polah buzzer kaki lima yang menjalankan pekerjaan seperti disampaikan dalam definisi pertama kamus Merriam-Webster. Laporan tirto.id memberikan gambaran menarik pemain kelas penyewa ruko sebagai produsen hoax yang mumpuni. Kemampuannya mendulang rupiah terhitung cekatan. Apabila situs diblokir, dengan mudah mereka meminjam perangkat software yang membuat mahluk darah daging menjadi menjadi penghuni negeri antah berantah tanpa teritori dan bumi yang dipijak.

Tabiat produsen hoax atau buzzer kelas ruko ini memang membuat pusing tujuh keliling. Merendahkan martabat seseorang dan membohongi pikiran banyak orang.

Saya tidak perlu mengulang kutukan berjamaah terhadapnya. Di sini saya ingin berbagi persoalan hoax yang diciptakan buzzer berdasi dengan medali kenegaraan mewakili definisi kedua penyebaran kabar bohong dalam kamus Merriam-Webster. Tempat kelahirannya beragam, tetapi yang paling berpengalaman adalah buzzer asal Langley, Virginia yang meyakinkan dunia tentang senjata pemusnah massal, lengkap dengan foto satelit, lobi politik di forum PBB, diwakili dalam pidato seorang presiden dan seorang perdana menteri, dengan aliansi militer melintasi lautan Atlantik.

Buzzer berdasi skala global ini memang penuh pengalaman. Hoax yang diciptakannya pun sering berakhir dengan banjir darah. Kiprahnya telah dimulai sejak akhir Perang Dunia II pada musim dingin di Eropa yang melahirkan nama perang baru serupa temperatur tempat kelahirannya. Perang Dingin skala global memang tidak pernah menjadi perang terbuka, tetapi menghadirkan ‘tangan-tangan tersembunyi’ yang melibas kekuasaan di suatu negara, dan banjir darah di negara lainnya (Aldrich, 2001).

Di Indonesia, buzzer mondial ini mulai menjalankan peran dalam prolog mengawali pembantaian massal antikomunis 1965. Pertanda bahwa buzzer-buzzer itu telah bergerak bisa dilihat dalam tulisan-tulisan Guy J. Pauker tentang situasi Indonesia menjelang 1965. Alih-alih memberikan analisis, uraiannya lebih merupakan minyak yang siap membakar dengan pernyataan apokaliptik bahwa “Indonesia mungkin tidak lagi merayakan kemerdekaannya yang ke-20”.

Buzzer berdasi bukan sekedar membuat professor dan doktor percaya hoax, tetapi menjadikan hoax itu sebagai pembicaraan sahih dunia akademis. Seorang peneliti yang jujur dapat segera menangkap tabiatnya. Keluhan Harold Crouch yang melihat kecenderungan fabrikasi informasi di dalam dunia akademis yang diwakili lembaga RAND Corporation dalam analisis situasi politik Indonesia kontemporer adalah salah satu bentuknya (Crouch, 2007).

Awal tahun 1965 adalah masa subur sirkulasi hoax di Indonesia. Berita tentang dokumen palsu Gilchrist (siapapun belum pernah sempat membaca dokumen itu) yang membawa kehebohan tentang rencana kudeta angkatan darat membuat syaraf ketegangan politik nasional meningkat di antara masing-masing kekuatan politik. Belum termasuk di sini adalah peredaran berita tentang Presiden Sukarno yang mendadak jatuh sakit yang memunculkan gosip panas di ibukota Jakarta saat itu. Seorang pengamat politik militer, Ulf Sundhausen, mengatakan bahwa salah satu cara terbaik mempelajari dinamika politik Indonesia pada saat itu adalah memperhatikan bagaimana ‘pasar desas-desus’ berkembang pada saat itu (Sundhaussen, 1981).

Ringkasnya, persoalan racun kebohongan yang disampaikan hoax bukan persoalan baru dalam sejarah. Medianya saja yang berbeda, ibarat lagu lama kaset baru. Saat itu radio dan suratkabar adalah perangkat yang utama. Berkumpul dengan sesama tetangga di kampung-kampung pelosok mendengarkan persoalan politik nasional adalah tabiat zaman itu.

Racun hoax 1965 menunjukkan keampuhannya dalam menebar teror yang berakhir dengan banjir darah dalam momen percobaan kudeta Kolonel Untung di ibukota Jakarta. Segera setelah “kudeta yang melahirkan kontra kudeta” (Robinson, 1995), seorang perwira intelejen MI-6 dikirim ke Jakarta untuk menambah tajam suasana keruh tersebut dengan bantuan Amerika Serikat, Australia dan sudah pasti pemerintah Inggris. Radio BBC membuka siaran kampanye radio setelah ditemukannya jasad para korban perwira Angkatan Darat dan memanfaatkannya untuk mengampanyekan siaran antikomunis di Indonesia dalam program yang mereka sebut “The Voice from the Well” (The Shadow Play, 2003).

Gambarannya menjadi lebih jelas dalam komunikasi antara Marshall Green, duta besar Amerika Serikat memasuki pertengahan tahun 1965, dengan atasannya di Washington. Setelah jenazah korban diangkat dari sebuah sumur di Lubang Buaya, Green mengirim telegram kepada atasannya untuk ‘Segera menyebarkan berita tentang kesalahan PKI, pengkhianatan dan brutalitas mereka”. Washington membalas bahwa “Dalam situasi sekarang ini kita meyakini bahan-bahan yang tersedia dari Radio Djakarta dan pers Indonesia sudah cukup melakukan itu. Namun kita akan melihat perkembangan situasi dalam beberapa hari ke depan bila sumber-sumber itu kehilangan manfaatnya” (Keefer, 2001: 339)

Bentuk komunikasi dalam arsip 1965 ini menjadi bukti bahwa pekerjaan buzzer bukan sekedar monopoli warga sipil dengan motif mencari untung (politik dan ekonomi), tetapi juga buzzer negara yang menjalankan fungsi dan tugasnnya dengan misi pembenaran membela ‘kepentingan nasional’. Sekarang ini kita sudah tahu bagaimana dampak pemberitaan itu—yang bertahan sampai sekarang—dalam gelombang kekerasan antikomunis di perdesaan Jawa dan wilayah-wilayah lainnya Indonesia.

II

Dalam era kapitalisme digital sekarang ini, upaya sadar menangkal hoax adalah ibarat mengharap ikan berjalan di daratan. Hoax adalah bagian dari simulacra dunia sosial yang penuh dengan kepalsuan.

Persoalannya adalah virus hoax hanya efektif di dalam jiwa yang merana dengan ketakutan dunia sosial mereka. Kelas menengah terdidik di Indonesia boleh saja tertawa dengan prilaku orang kebanyakan di pasar-pasar atau kampung-kampung yang khawatir terhadap nasib anak gadis mereka terkait kemunculan ‘kolor ijo’ atau model hoax tentang produk mie instan yang bercampur racun dan sebagainya. Namun mereka pun berhamburan pulang ke rumah ketika beredar isu tentang wilayah-wilayah tertentu yang menjadi sasaran terorisme atau berebut harga saham yang disebutkan akan melonjak tinggi walaupun sekedar hoax.

Keduanya memiliki cara konyol menyikapi informasi. Mengapa demikian?

Pertama, benang merahnya adalah setiap kelompok sosial di dalam masyarakat memiliki ketakutannya sendiri-sendiri. Sejarawan kondang Prancis, George Lefebvre (1989) telah membuktikan persoalan ini dalam kisah Ketakutan Besar yang melanda Prancis menjelang revolusi. Ketakutan terhadap gelandangan dan pengemis yang merajalela dalam masa panen yang gagal dan harga gandum yang melorot, membawa petani di perdesaan pada ketakutan terhadap kembalinya golongan aristokrat dalam kekuasaan politik.

Di Indonesia gejala itu muncul pada awal tahun 1965 ketika penduduk sejumlah desa dibuat heboh dengan kemunculan hantu pis-len yang meminta uang seripis setalen, untuk jaminan keamanan anak-anak mereka. Di pusat ibukota, Iwan Simatupang menulis dalam surat-surat politiknya tentang ‘psikose yang menjalar di seluruh tanah air, kapan komunis akan berkuasa’. Ia juga mengutip beragam hoax populer saat itu tentang kapal yang membawa sejumlah senjata di Trenggalek, Jawa Timur (Simatupang, 1986). Sebagaimana ciri utama hoax, memang tidak pernah ada bukti yang mendukung pernyataan yang menjadi pembicaraan nasional saat itu. Namun, di antara golongan antikomunis yang merasakan ketakutan besar pengambilalihan kekuasaan oleh golongan komunis, hoax seperti itu memberi sejumlah amunisi dalam pandangan dan sikap pribadi terhadap sumber ketakutan mereka.

Kedua, efektivitas hoax terjadi dalam situasi krisis—baik dalam lapangan ekonomi maupun politik—yang menjadikan setiap kelompok dengan mudah menjadi korban berita palsu, terlepas dari tingkat pendidikan dan wawasan pribadi konsumen berita tersebut. Situasi krisis memunculkan momen yang membentuk periode “zaman penuh keraguan” dengan hilangnya kepercayaan terhadap otoritas dalam bidang apapun. Laporan Biro Pusat Statistik yang menyebutkan rasio gini di perkotaan Indonesia pada Maret 2015 sebesar 0,410 menjadi pertanda sejauh mana krisis dalam kehidupan masyarakat Indonesia sekarang (BPS, 2016).

Hitungan gini rasio ini menjadi isyarat menggelembungnya jutaan penduduk yang terpental dari standar kehidupan kelas menengah. Seorang pemilik toko onderdil dengan omset puluhan juta setiap bulan terpaksa harus melepas bisnisnya akibat hutang yang terus datang dan barang yang tak kunjung terjual. Ia sekarang terpaksa beralih profesi menjual kopi dengan membuka lapak di pinggir jalan.

Dalam situasi ini, sepertinya kita tidak perlu terlalu terkejut bila sihir abad pertengahan menjadi kekuatan memukau bagi jutaan orang Indonesia. Jutaan orang merasa memiliki banyak hal, dan jutaan orang merasa tidak memiliki banyak hal. Jadinya, bukan buruh di pabrik atau petani di perdesaan yang turun ke jalanan, tetapi mantan kelas menengah yang turun derajat dan sulit menyalurkan hasrat konsumtifnya. Juga bukan tuntutan kesejahteraan proletariat kota yang hadir dalam politik Indonesia, tetapi lebih pada politik identitas keagamaan dari kelas menengah yang turun derajat yang kebetulan juga peminat utama gadget dan media sosial. Dunia sosial kita sudah palsu. Ini keniscayaan. Namun kepalsuan yang disengaja untuk berkembang biak selalu memiliki akhir fatal dalam kisah sejarah yang pernah terjadi.

III

Setiap rumah tangga bahagia sama saja. Rumah tangga tidak bahagia menjalankan ketidakbahagiannya dengan beragam cara, tulis Tolstoy, pujangga terkemuka Rusia. Catatan sejarah menunjukkan bahwa hantu kabar bohong, seperti juga virus, menemukan tempat berkembang biak dalam jiwa yang merana dengan beragam ketakutan terhadap dunia sosial yang semakin tidak ramah. Umbar kedengkian dan caci maki adalah bahasa lain jutaan orang di Indonesia yang menjalani kehidupan rumah tangga tidak bahagia dengan cara berbeda. Di baliknya adalah ketakutan besar yang meluruhkan akal sehat dan kewarasan.***

 

Penulis adalah sejarawan

 

Kepustakaan:

Aldrich, Richard J. The Hidden Hand: Britain, America and Cold War Secret Intelligence. Overlook Press, UK. 2001.

Biro Pusat Statistik. “Tingkat Ketimpangan Pengeluaran Penduduk Indonesia Maret 2016 Mulai Menurun”. Berita Resmi Statistik. No. 79/08/Th. XIX, 19 Agusuts 2016.

Crouch, Harold. The Army and Politics in Indonesia. Equinox Publishing, Jakarta. 2007.

Hilton, Chris. The Shadow Play. Indonesia’s Year of Living Dangerously. 2003

Keefer, Edward C. Foreign Relations of the United States, 1964-1968, Volume XXVI. United States Government Printing Office, Washington. 2001.

Robinson, Geoffrey. The Dark Side of Paradise; Political Violence in Bali. Cornell University Press, Ithaca. 1995.


comments powered by Disqus