Memperjuangkan 2017

2017

TAHUN 2016 telah berakhir. Bagi banyak orang di Bumi ini, tahun 2016 dapat dikatakan sebagai tahun yang benar-benar kupret secara politik. Dari semakin menguatnya ekspresi politik rasis sampai dengan kemenangan Donald Trump sebagai presiden AS, membuat mudah bagi kita untuk mengutuki tahun 2016 lalu.

Tren yang sama juga berlaku di Indonesia tentunya. Di tahun 2016 itu kita menemukan banyak manuver politik anti kerakyatan. Meluasnya praktek penutupan ruang demokrasi dan perbedaan yang disertai dengan pendalam implementasi kebijakan neoliberal pemerintah, seakan menjadi rupa utama kekuasaan di tahun tersebut. Belum lagi kemunculan mobilisasi politik yang masif dari kalangan kanan pada tanggal 4 November dan 2 Desember, yang bukan hanya memperdalam penguatan agenda elit, namun juga menciptakan banyak kebingungan bagi banyak kalangan aktifis gerakan kerakyatan.

Terkhusus bagi gerakan sosialis, 2016 adalah tahun yang sangat tidak inspiratif bagi perjuangan kelas pekerja. Alih-alih kontradiksi internal kapitalisme melalui operasi neoliberal mampu mendorong momen politik sosialis, kesadaran massa luas justru sekarang tengah berada dalam pengaruh politik kanan yang rasis sekaligus reaksioner. Adalah buta akut untuk tidak mengakui bahwa politik sosialis tengah berada dalam momen yang sulit. Massa rakyat pekerja tengah berada dalam dekapan politik kanan, Bung!

Adalah keharusan kemudian untuk melihat pukulan bertubi-tubi terhadap politik sosialis secara reflektif bagi semua elemen gerakan sosialis itu sendiri. Pada dasarnya, massa tengah bergairah untuk berbicara politik. Mudah bagi massa untuk membicarakan kepentingan mereka dalam kaitannya dengan politik negara. Walau sayangnnya, artikulasi kepentingan ini mengejawantah dalam bentuk ekspresi politik reaksioner sekaligus rasis.

Kita perlu melihat bahwa pergeseran ke kanan bukanlah sesuatu yang otomatis terjadi. Intensi yang tinggi untuk menundukkan kekuasaan politik negara menjadi dorongan utama kelompok kanan dalam mengupayakan semua aktivitas serta infrastruktur organisasinyanya dalam menggapai dukungan dari massa luas. Belum lagi adanya dukungan struktural dari kekuatan politik dalam elit politik negara itu sendiri yang sedikit banyak memperkuat kapasitas organisasional kelompok kanan ini. Implikasinya tentu agar upaya mereka untuk memengaruhi massa tidak mendapat halangan besar. Terdengar sebagai suatu proses strategi hegemonik, bukan?

Akan tetapi situasinya bukan berarti tidak terelakkan. Tentu kita menyadari bahwa posisi politik sosialis tidak berada dalam ranah yang setara dengan politik kanan. Tidak ada ruang akomodasi dari kekuatan politik yang kini berkuasa terhadap agenda politik sosialis. Tentu saja ini bukan sesuatu yang aneh, mengingat kita tengah berada dalam kekuasaan politik negara kapitalis! Namun perlu untuk mematri suatu pemahaman bahwa absennya politik sosialis untuk memberikan warna bagi dinamika politik yang ada sekarang bukan berarti menjadi lonceng kematian bagi politik sosialis itu sendiri. Kondisi objektif ini harus dipahami secara dialektis; dalam setiap situasi sulit terkandung didalamnya suatu potensi bagi pembalikkan situasi itu sendiri. Di sini kita berbicara mengenai kemungkinan yang lain bagi kondisi sulit kita sekarang.

Bagi siapapun yang mendaku bagian dari tradisi sosialis pasti sudah memahami bahwa strategi hegemoni hanya dapat diatasi dengan strategi perlawanan hegemoni yang lain. Di sini, apa yang minim dari percakapan gerakan sosialis secara umum, jika tidak ingin dikatakan sebagai tidak ada, adalah dialog dalam menjawab pertanyaan tentang strategi hegemoni sosialis; bagaimana gerakan sosialis dapat menggapai kemenangan menundukkan kekuasaan negara kapitalis? Apa saja syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk memungkinkan tujuan ini?

Keberhasilan dalam merumuskan jawaban atas pertanyaan strategis untuk mencapai kemenangan politik sedikit banyak akan membantu pula untuk menciptakan kejelasan dalam perjuangan gerakan rakyat itu sendiri. Kita memerlukan kritik mendasar terhadap pola aktivisme yang ada sekarang. Tentu kita akan selalu bersolidaritas terhadap setiap perlawanan gerakan terhadap praktek ketidakadilan serta penindasan yang dilakukan oleh penguasa. Namun jika kita menghendaki agar ketidakadilan tersebut diatasi sampai dengan keakarnya, perlawanan tanpa orientasi merebut negara tidak akan membawa kita pada perubahan sosial yang mendasar. Konsesi atau kemenangan kecil mungkin akan tercapai (dan itu adalah penting!), namun jika tidak memiliki konsekuensi pada perubahan relasi kuasa dalam politik negara kapitalis, serangan kelas berkuasa untuk menindas dan menciptakan ketidakadilan tentu akan selalu ada.

Kalangan skeptis akan berujar bahwa perspektif ini adalah kesia-siaan. Bahwa kelompok sosialis yang sudah berukuran mini dan terisolir sudah dengan sendirinya akan gagal untuk mengusung agendanya sendiri. Belum lagi urusan fragmentasi gerakan yang sampai sekarang belum mampu diajukan resolusinya. Mungkin ada benarnya argumen realis seperti ini. Namun setidaknya kita, kalangan sosialis, selalu berhadapan dengan kenyataan yang bergerak, yang mana dalam gerak selalu terbuka ruang yang memungkinkan untuk memperluas serta memperbesar kapasitas politik untuk mempengaruhi massa luas.

Lagipula kita perlu belajar banyak dari pengalaman mobilisasi politik kanan kemarin: dengan strategi intervensi yang mumpuni, justru fragmentasi dapat diatasi. Kita harus sadar bahwa dikalangan kanan sendiri terdapat berbagai kelompok dan organsiasi. Keragaman ini ini menunjukan bahwa ada perbedaan kepentingan di antara kelompok, bahkan ada perbedaaan garis ideologis di antara mereka. Namun semua perbedaan itu dapat diatasi semenjak orientasi politik untuk menundukan politik negara dapat diperkuat. Singkat kata, perumusan strategi politik yang kuat dengan orientasi penguasaan negara yang jelas dapat menjadi preskripsi yang menentukan dalam menjawab masalah fragmentasi di kalangan kiri.

Momen kekalahan sering menjadi alasan mengenai ketidakberdayaan kita. Namun di tengah semakin gencarnya pertarungan para elit untuk berebut pengaruh, kita perlu jeli melihat peluang. Konflik para elit untuk berebut dukungan massa, memaparkan secara gamblang kepentingan mereka terhadap massa. Dalam keterpaparan ini, massa mau tidak mau akan dihadapkan pada perumusan kepentingan mereka sendiri yang berhadapan dengan kepentingan para elit. Di sini ada kesempatan bagi kalangan sosialis untuk mempropagandakan posisi politik yang secara objektif memenuhi kebutuhan sosial massa yang semakin terpinggirkan oleh sistem politik yang ada. Mungkin secara praktis kita akan menemukan beberapa kendala teknis dalam merealisasikan prinsip ini, namun dengan strategi taktik propaganda yang solid (yang tentu terkait dengan strategi hegemoni sosialis itu sendiri), terbuka kemungkinan bagi pertarungan pengaruh antara politik sosialis dengan politik kanan.

Kita perlu menyikapi kondisi kita sekarang sebagaimana apa yang pernah diujarkan oleh Ketua Mao, “ada kerusuhan di bawah kolong surga, situasinya sempurna!” Kondisi sulit kita harus dilihat sebagai konsekuensi dari kekalahan kita dalam pertarungan politik yang ada. kesimpulannya memang masih politik elitlah (khususnya yang mengusung ekspresi reaksioner sektarian rasis) yang berhasil memenangkan pertarungan.

Tapi kita juga sadar bahwa setiap pertarungan bersifat sementara. Konflik kelas yang dikondisikan oleh kapitalisme membuat masih terbuka ruang-ruang pertarungan di masa depan. Dan ini juga berlaku pada tahun 2017. Harus diakui bahwa setidaknya sampai dengan momen Pemilu 2019, kalangan elit masih akan menggunakan modus politik yang relatif sama untuk mengkontestasikan kepentingannya. Implikasinya tentu politik mobilisasi yang dilakukan oleh elit masih terbuka untuk terjadi di tahun ini bahkan juga di masa depan. Namun tentu bagi kita, ada peluang bahwa “rusuh politik” yang terjadi akan membukakan material yang berguna bagi kemajuan politik sosialis. Hal ini tentu dengan prasyarat bahwa kalangan sosialis mesti mempersiapkan diri dengan cara berpolitik yang lebih strategis untuk memperjuangkan kepentingannya pada tahun 2017 ini.***

 

Penulis adalah anggota Partai Rakyat Pekerja (PRP)


comments powered by Disqus