Bruno Bauer, Kritik Marx, dan Peninjauan Ulang Teror Berbasis Agama

baueer

DALAM beberapa pekan terakhir, kita kembali disuguhkan maraknya aksi teror yang dilakukan sekelompok orang, mulai dari pengrusakan fasilitas umum secara membabibuta, hingga yang berujung meregangnya nyawa manusia. Sekurang-kurangnya, tiga peristiwa teror terjadi dalam rentang waktu tersebut: penjarahan minimarket di kawasan Gedong Panjang, pengeboman Gereja Oikumene di Samarinda, dan pengeboman Viharra di Singkawang.

Seperti biasanya, publik begitu reaktif menanggapi rangkaian peristiwa ini. Kematian Intan Olivia Marbun, anak berusia 3 tahun yang tewas karena luka bakar di sekujur tubuh akibat ledakan bom molotov di Samarinda, memantik kemarahan di media-media sosial, dan publik begitu tenggelam dalam postingan emosional: sumpah serapah kepada sang pelaku teror, menyebut mereka bukanlah manusia dan layak dihabisi dengan kejam, hashtag-hashtag kedukaan, dan (tidak ketinggalan) debat-debat soal konspirasi dan pengalihan isu. Seluruh hiruk-pikuk ini, seperti biasanya pula, akan berakhir pada simpulan umum: pelaku teror adalah orang dengan ‘pemahaman agama yang sempit’ dan karenanya perlu ‘dicerahkan’ dengan ‘kesadaran akan kemanusiaan’ atau ‘pemahaman agama yang lebih benar’.

Simpulan di atas jelas mensyaratkan pra-asumsi bahwa partikularitas dan sifat eksklusif agama adalah biang keladi atas segala bentuk kekerasan atas yang lain, dan dianggap sebagai ‘pemahaman agama yang sempit’, sehingga perlu diberikan ‘pemahaman agama yang lebih benar’. Akan tetapi benarkah segala bentuk teror dan ekstrimisme agama belakangan ini semata-mata hanya disebabkan eksklusifitas doktrin agama? Benarkah tidak ada narasi lain untuk menjelaskan fenomena terorisme selain masalah penafsiran teks-teks suci belaka? Dalam artikel ini, penulis hendak mengajukan gagasan alternatif mengenai teror dan radikalisasi agama melalui kritik Karl Marx terhadap konsep kesadaran individual yang diajukan oleh Bruno Bauer, seorang teolog radikal berbasis hegelian Jerman pada abad pertengahan.

 

Bauer: Sejarah Kekristenan & Kesadaran Individual

Interaksi pertama Marx-Bauer terjadi pada tahun 1839, dimana Bauer menjadi mentor Marx untuk ‘mata kuliah’ kitab Yesaya (salah satu kitab Perjanjian Lama) di Friedrich Wilhelm University, Berlin. Yang menarik adalah, pada beberapa tahun sebelumnya, Bruno Bauer lebih dikenal sebagai pakar Perjanjian Baru dan hanya satu tulisannya yang mengacu dari Perjanjian Lama: Die Religion des alten Testaments (The Religion of the Old Testament). Akan tetapi di tulisan inilah Bauer mulai membangun gagasan agama sebagai perjalanan menuju kesadaran diri. Gagasan ini tidak lepas dari berkembangnya metode tafsir historis-kritis yang berkembang di Jerman saat itu, yaitu metode yang menguji teks-teks Alkitab berdasarkan relevansinya dengan fakta sejarah dan konteks zaman ketika teks tersebut ditulis. Metode tersebut cukup kontroversial saat itu, karena melaluinya, tafsiran kitab suci dan tradisi iman Kristen yang selama ini dimonopoli oleh kalangan gereja dan imam dijungkirbalikkan dan diragukan keabsahannya. Dengan diragukannya tafsir Alkitab yang mapan, maka diskursus tentang teks-teks kitab suci (biblika) menjadi hal yang populer saat itu. Berangkat dari metode inilah, Bauer menekankan bahwa, validitas tertinggi dari Perjanjian Lama, adalah suara atau firman yang disampaikan oleh para Nabi, karena Nabi dianggap sebagai pembawa ‘pesan Tuhan’ yang konkret dengan konteks zaman ketika Nabi tersebut hidup. Nabi Yesaya menjadi contoh yang paling gamblang, dimana ia menyampaikan ‘pesan Tuhan’ kepada bangsa Israel, yaitu ‘etika monoteisme’. Dari sinilah Bauer berargumen bahwa, se-progresif-progresif-nya pemikiran para Nabi yang konon mendapat ‘pesan Tuhan’, ternyata tidak pernah keluar dari konteks partikularitas dan legalitas hukum agama sebagai standar moral tertinggi.

Barulah pada Perjanjian Baru, Yesus Kristus menjadi pelopor kesadaran yang lebih maju, yaitu kesadaran etis, alih-alih kesadaran yang didasarkan rasa takut menghadapi sanksi legal-formal agama. Menurut Bauer, di satu sisi kekristenan memiliki tingkat kesadaran yang lebih baik dibanding yudaisme yang terikat pada legalisme hukum agama. Namun di sisi lain, kekristenan menciptakan identitas partikular nan abstrak yang dianggap sebagai kebenaran tertinggi dan mutlak, dan untuk memahaminya seseorang harus menjadi bagian dari komunitas/orang percaya yang terpilih menjadi pengikut ajaran tersebut. Kekristenan membebaskan manusia dari legalitas formal agama, tetapi di saat yang bersamaan meng-eksklusif-kan kebenaran dan kesadaran tertinggi hanya bisa digapai melalui suatu rentang sejarah, yaitu perjalanan hidup Yesus Kristus. Singkatnya, perjalanan kekristenan adalah perjalanan dari kesadaran manusia secara bertahap mulai dari kesadaran legal formal dalam bentuk hukum agama, hingga pada zaman Yesus, dimana kesadaran legal formal berubah menjadi kesadaran etis yang direfleksikan melalui kehidupan Yesus Kristus, akan tetapi figur Yesus Kristus pun turut menjadikan kesadaran ini tidak universal.

Sampai di sini, kita bisa melihat bagaimana pengaruh Hegel dalam konstruksi gagasan Bauer. Gagasan Hegel yang menjelaskan bagaimana kesadaran manusia berkembang secara bertahap hingga mencapai kesadaran universal, begitu kental dalam kritik biblika Bauer. Pendekatan historis kritis yang berpadu dengan filsafat Hegel membentuk gagasan penting pemikiran Bauer: Kesadaran-Diri Universal. Inti dari konsep ini adalah, segala bentuk partikularitas dan eksklusivitas dalam tiap ideologi adalah penyebab utama dari keterasingan manusia akan dirinya sendiri dan orang lain, sekaligus menghalangi manusia mencapai kesadaran tertinggi. Implikasi logisnya, untuk mencapai kesadaran tertinggi, tiap individu perlu meng-internalisasi-kan prinsip-prinsip yang dapat disepakati secara universal sekaligus mengatasi segala bentuk partikularitas. ‘Teologi ala Hegel’ inilah yang akan berperan besar dalam pemikiran-pemikiran Bauer selanjutnya, termasuk menjadi pemantik perdebatannya dengan Karl Marx.

 

On The Jewish Question: Kritik Marx atas Bauer

Perseteruan Marx & Bauer mulai meruncing pada tulisan-tulisan Marx selanjutnya: On The Jewish Question, The Holy Family, dan The German Ideology. Melalui tulisan-tulisan inilah Marx dengan pemikirannya yang makin progresif menantang pemikiran-pemikiran Bauer yang dianggap tidak beranjak dari teologi idealisme ala Hegel. Pada On The Jewish Question, perdebatan Bauer & Marx dimulai dari konsep emansipasi. Bagi Bauer, emansipasi adalah ketika manusia mencapai bentuk kesadaran tertinggi melampaui partikularitas, seperti yang dijelaskan di atas. Namun Marx menilai konsep ini bermasalah baik secara historis maupun filosofis. Secara historis, konsep ‘kesadaran individual’ ala Bauer telah mewujud-nyata dalam bentuk negara sekuler dan sepanjang perjalanannya, negara-negara sekuler, seperti Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, terbukti tidak benar-benar mampu menghilangkan agama dan partikularitasnya dari kehidupan manusia, seperti bayangan ideal Bauer. Secara filosofis, menurut Marx, konsep Bauer juga bermasalah karena ‘kesadaran individual’ sama sekali tidak menghilangkan akar masalah utama yaitu keterasingan manusia akan dirinya sendiri dan orang lain. Sebaliknya, konsep tersebut hanya menghasilkan sebentuk keterasingan baru: Jika eksklusifitas dan partikularitas agama membuat manusia terasing dari ‘kemanusiaan’ dan identitas lain, maka ‘kesadaran individual’ Bauer membuat manusia terasing dari identitasnya. ‘Kesadaran individual’ membuat manusia memiliki dua wajah: manusia sebagai pribadi dengan segala identitas partikularnya, dan manusia sebagai warga negara yang tidak bisa serta merta membawa identitasnya ke urusan publik. Dengan kata lain, Bauer dengan konsep ‘kesadaran individual’ nya hanya menciptakan partikularitas baru, hanya saja bentuknya tidak lagi religius, melainkan berbentuk ideologis-politis.

Setelah mengajukan permasalahan atas pemikiran Bauer, Marx melanjutkan argumennya dengan menggeser titik pijak argumen Bauer dan membangun argumennya dari sana. Pada On The Jewish Question, Bauer berargumen bahwa, biang masalah eksklusifitas masyarakat Yahudi bersumber pada doktrin yudaisme yang menyebut mereka sebagai umat pilihan Tuhan. Namun Marx membantah dan menyatakan masalah eksklusifitas masyarakat Yahudi adalah hasil dari pola keseharian dan bermasyarakatnya, bahwa dalam segala perilakunya, masyarakat Yahudi identik dengan pola ‘menjual diri’, ‘bermanis-manis’, ‘menjilat’ dan serba transaksional. Yang terpenting dari pola semacam ini adalah keuntungan material dan ekonomis bagi diri sendiri. Bagi Marx, seluruh argumen Bauer bertumpu pada partikularitas ajaran agama sebagai biang masalah tingkah laku masyarakat, dan di sini Marx melakukan twist: Tingkah laku dan pola masyarakat tidak serta-merta dipengaruhi oleh ajaran moral dan partikular agama yang dominan pada saat itu, melainkan hal-hal yang bersifat material, seperti ekonomi dan konteks keseharian masyarakat.

Jauh sebelum peristiwa 411, warga kampung Luar Batang (yang diduga memicu peristiwa penjarahan minimarket di Gedong Panjang), beberapa bulan sebelumnya pernah melakukan aksi protes atas kebijakan penggusuran oleh pemda DKI. Aksi protes diwujudnyatakan dengan aksi pelemparan batu terhadap rombongan pemprov DKI ketika mengunjungi daerah Penjaringan, Juni 2016. Dosen Politik dan Ilmu Sosial Murdoch University, Ian Wilson, mengutip pengakuan salah satu di antara beberapa pemuda yang terlibat aksi tersebut dalam artikelnya, ‘Making enemies out of friends’ , sebagai berikut:

“…beberapa orang berteriak ‘Allahu Akbar’ tetapi sentimen yang menggerakan mereka bukanlah radikalisme agama. Hal tersebut adalah bentuk solidaritas terhadap teman atau tetangga mereka yang kehilangan rumah (akibat penggusuran). Seorang dari pemuda yang terlibat dalam kejadian tersebut berujar kepada saya, ‘saya ikut aksi ini karena teman-teman sekelas saya jadi tuna wisma gara-gara Ahok. Dia tidak diterima di sini’. Maka, bukan tidak mungkin pemuda-pemuda ini turut hadir pada demonstrasi 4 November” [1]

Selain paparan di atas, kita mungkin juga telah melihat artikel-artikel internasional seperti berikut yang menggambarkan bagaimana perekrutan kelompok teror berbasis agama seperti ISIS dipengaruhi oleh faktor-faktor material seperti kesenjangan ekonomi. Berkaitan dengan kritik Marx di atas, barangkali dapat membantu kita melihat permasalahan teror berbasis agama tidak melulu terbatas hanya pada ‘sempit’/‘luas’-nya pemahaman agama itu sendiri atau, pada ekstrim lainnya, terbatas hanya pada identitas politik ‘kebhinekaan’ atau nasionalisme yang dianggap mampu mengatasi partikularitas agama. Barangkali, permasalahan yang lebih subtil ada pada hal-hal yang material, yang sehari-hari, dan konkret. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang religius, komunitas agama bisa jadi merupakan alat yang paling efektif untuk mengorganisir diri dan bergerak bersama menyuarakan solidaritas atas permasalahan material tersebut sekaligus melawan pihak-pihak yang turut andil mempertahankan kesenjangan ekonomi yang jelas-jelas menindas kehidupan mereka.

 

Agama dan pergerakan masyarakat

Melalui kritik Marx terhadap Bauer, kita telah bersama-sama melihat bagaimana bentuk kekerasan agama tidak muncul out of the blue tanpa hal-hal yang bersifat material pada masyarakat dalam konteks tertentu. Dalam konteks kita hari ini, agaknya kita perlu melihat masalah teror berbasis agama dengan lebih komprehensif di luar asumsi-asumsi yang dominan menguasai media-media kita. Selain itu, penulis berpendapat, kritik Marx juga turut menantang asumsi bahwa agama sebagai identitas harus direduksi ke ranah privat dan seolah harus dijauhkan dari kehidupan bermasyarakat. Setidaknya, dalam konteks masyarakat Indonesia, agama turut menjadi corong yang efektif bagi massa untuk mengorganisir diri, bergerak bersama, menyuarakan permasalahan material yang nyata-nyata menindas kehidupan bersama. Hal ini tentunya mematahkan stigma bahwa pergerakan agama hanya mampu bergerak dalam agenda politik identitas semata, sekaligus menimbulkan pertanyaan yang perlu kita kaji bersama: bagaimana agama dapat di-twist sedemikian rupa menjadi bahan bakar pergerakan politik kelas?***

 

Penulis adalah aktivis Diskusi Selasaan, sebuah kegiatan diskusi teologi yang diadakan rutin setiap Selasa malam pukul 19:00 WIB di Thamrin Residence

Artikel ini adalah pengembangan dari bedah buku “Criticsm of Earth: Chapter 3” karya Roland Boer, pada acara Diskusi Selasaan, Gereja Komunitas Anugerah – Reformed Baptist Salemba, Selasa, 25 Oktober 2016. Dimuat ulang di sini untuk tujuan Pendidikan.

 

————

[1] http://www.newmandala.org/making-enemies-friends/


comments powered by Disqus