Marxisme dan Analisis Penindasan terhadap Perempuan: Pembagian Kerja secara Seksual atau Reproduksi Sosial  

Judul : Marxism and the Oppression of Women: Toward a Unitary Theory

Penulis : Lise Vogel

Penerbit : Brill. Koninklijke Brill NV incorporates the imprints Brill, Global Oriental, Hotei Publishing, IDC Publishers and Martinus Nijhoff Publishers.

Tahun terbit: 2013

Tebal buku: 196 halaman+XL

marxism-and-the-oppression-of-women-towarda-unitary-theory

  

“…There’s no royal road to science, and only those who do not dread the fatiguing climb of its steep paths have a chance of gaining its luminous summits.”

-Karl Marx, Capital Vol. I

 

Pengantar

Kalimat dari Marx di atas merupakan salah satu kalimat yang paling saya sukai di dunia ini. Betapa tidak, gagasan dalam kalimat itu sungguh benar adanya: bahwa sejatinya tidak akan pernah ada jalan yang mudah dalam usaha untuk mencari pengetahuan dan kebenaran. Kita harus terus belajar dan mencari untuk menemukan jawaban atas persoalan yang menjadi pertanyaan kita selama ini, tanpa lelah, tanpa ada kata berhenti. Sebagaimana kalimat tersebut, pencarian para scholar feminis sosialis/Marxis[1] atas analisis teoritikal mengenai penindasan terhadap perempuan terus berkembang dan mengalami kemajuan. Tidak berhenti pada analisis Marx dan Engels, para teoritisi feminis sosialis/Marxis di berbagai belahan dunia dan dari waktu ke waktu terus mempelajari dan mencari basis teoritis apa yang memadai yang dapat menjelaskan akar penindasan terhadap perempuan, terutama dalam epoch sejarah kapitalisme.

Pencarian yang mereka lakukan pun tidak hanya selalu dilakukan melalui solitary road. Kebanyakan dari mereka terlibat aktif dalam gerakan perempuan yang ada saat itu. Salah satu teoritisi feminis sosialis/Marxis yang melakukan studi mendalam mengenai hal ini ialah Lise Vogel. Sejak lama, Vogel telah melakukan pencarian atas basis teoritik yang memadai mengenai penindasan terhadap perempuan, dimana salah satunya terekam dalam buku yang kali ini diulas, Marxism and the Oppression of Women: Toward a Unitary Theory. Buku ini pertama kali terbit terbit pada tahun 1983. Ulasan kali ini menggunakan edisi revisi dimana di dalamnya ada kata pengantar dari Susan Ferguson dan David McNally yang memberikan ulasan serta kritik atas pemikiran Vogel.

Dalam buku yang terdiri atas sebelas (11) bab dan appendix ini, Vogel melakukan critical review secara runut terhadap teks-teks Marx, Engels serta para feminis sosialis/Marxis seperti Juliet Mitchell, Margaret Benston dan Peggy Morton, Mariarosa Dalla Costa, hingga teks-teks para feminis radikal yang banyak memengaruhi feminis sosialis/Marxis seperti Kate Millet dan Sullamith Firestone. Dari critical review ini, Vogel kemudian beranjak pada penelusuran sejarah perkembangan analisis mengenai penindasan terhadap perempuan di antara para scholar sosialis. Highlight besar dari buku yang ditulisnya ini ada pada perdebatan besar di kalangan scholar feminis sosialis/Marxis mengenai dual theory atas penindasan terhadap perempuan, yakni teori reproduksi sosial dan pembagian kerja secara seksual.

Woman question yang menjadi sumbangan besar kaum sosialis dalam menjawab persoalan penindasan yang dihadapi perempuan menjadi titik pijak awal feminisme sosialis/Marxis dalam melakukan studi lebih lanjut mengenai persoalan tersebut, tidak terkecuali ketika dihadapkan dengan pertanyaan seputar dual theory (teori reproduksi sosial dan pembagian kerja secara seksual) ini. Adapun konteks kondisi gerakan perempuan yang diuraikan Vogel dalam bukunya ini memang terbatas pada gerakan perempuan di Amerika Serikat (AS) dan Eropa serta sedikit menyinggung Amerika Latin. Meski demikian, buku ini menyediakan landasan teori yang dapat dijadikan pijakan oleh scholar feminis sosialis/Marxis, tidak terkecuali di Indonesia, untuk mempelajari lebih lanjut studi mengenai Marxisme dan Feminisme ini.

 

lbrxlii-penindasan-perempua

 

Marxisme dan Pertanyaan Feminisme Sosialis

Feminisme sosialis/Marxis mendapat pengaruh yang cukup kuat dari feminisme radikal. Sumbangan pengaruh feminisme radikal terhadap feminisme sosialis/Marxis di antaranya ada pada soal pertanyaan-pertanyaan kritis seputar dominasi laki-laki yang begitu kuat sepanjang sejarah dalam hal seksualitas, hubungan-hubungan interpersonal, dan ideologi. Di level teori, konsep woman question dari kaum sosialis telah menjadi salah satu pijakan utama yang digunakan oleh para feminis sosialis/Marxis hingga saat ini. Namun, menurut Vogel, bangunan teori tradisional sosialis belum mencukupi untuk menjawab woman question ini, sebagaimana yang kemudian ditemukan oleh para feminis sosialis/Marxis. Adapun pertanyaan-pertanyaan sulit yang diajukan oleh feminis sosialis/Marxis terkait dengan woman question ini, menurut Vogel, berpusat pada tiga hal yang saling berhubungan (hlm. 7-8).

Pertama, semua perempuan, bukan hanya perempuan kelas pekerja, mengalami penindasan di dalam masyarakat kapitalis. Dalam hal ini, pertanyaan yang muncul ialah apa yang menjadi akar dari penindasan perempuan dan bagaimana karakter yang lintas kelas dan sejarah tersebut dapat dipahami secara teoritis. Kedua, pembagian kerja secara seksual ada di setiap masyarakat: laki-laki dan perempuan melakukan kerja yang berbeda-beda dimana perempuan cenderung bertanggung jawab pada soal pengurusan dan perawatan anak serta pekerjaan-pekerjaan domestik lainnya di dalam rumah tangga, sementara mereka juga mungkin terlibat di dalam kegiatan produksi. Pertanyaan yang muncul ialah mengenai hubungan pembagian kerja secara seksual ini dengan penindasan terhadap perempuan, bagaimana perempuan dapat benar-benar mencapai kesetaraan ketika beban kerja pengurusan dan perawatan anak ada di pundaknya, serta apakah gagasan mengenai kesetaraan harus dibuang agar perempuan dapat terbebaskan. Ketiga, penindasan terhadap perempuan mengandung analogi yang kuat dengan penindasan terhadap kelompok-kelompok rasial, sebagaimana juga ekspolitasi yang terjadi pada kelas-kelas yang subordinat. Terkait hal ini, pertanyaan yang muncul ialah apakah penindasan secara seksual, rasial dan kelas secara esensi merupakan hal yang sama serta apakah penindasan perempuan memiliki karakter teoritikal yang spesifik. Selain itu, pertanyaan lain yang muncul ialah bagaimana hubungan antara perjuangan melawan penindasan terhadap perempuan dengan perjuangan untuk pembebasan nasional dan sosialime.

Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Vogel berusaha meletakkan pijakannya pada analisis Marxis. Hal ini karena Vogel berpendapat bahwa banyak feminis sosialis yang meninggalkan inti dari tradisi sosialis Marxis revolusioner. Buku ini mengungkapkan kegunaan teori Marxis dalam membangun kerangka teoritis yang dapat melingkupi persoalan penindasan terhadap perempuan. Vogel berpendapat bahwa isu-isu yang berkaitan dengan psikologi, interpersonal, dan ideologi, berakar pada teori materialis mengenai penindasan terhadap perempuan dan usaha-usaha untuk memberikan teori seperti itu, dinilai Vogel, masih kurang (hlm. 8). Dalam buku ini, Vogel berposisi menolak asumsi yang dibuat oleh banyak sosialis bahwa tradisi Marxis klasik kurang mewariskan atau lebih mewariskan analisis yang lengkap tentang persoalan penindasan terhadap perempuan. Namun demikian, Marxisme dapat digunakan untuk membangun sebuah kerangka teoritis yang dapat menggambarkan persoalan penindasan terhadap perempuan dan pembebasan perempuan. Terkait dengan itu, Vogel menjelaskan kontribusi para pemikir feminis sosialis/Marxis tahun 1960an seperti Juliet Mitchell, Margaret Benston, Peggy Morton dan Mariarosa Dalla Costa dalam hal analisis mereka mengenai penindasan terhadap perempuan sekaligus kritik-kritiknya atas pemikiran-pemikiran tersebut.

Mitchell dalam bukunya Woman’s Estate berpandangan bahwa perempuan dieksklusikan dari aktivitas produksi-sosial, dimana produksi diidentifikasi Mitchell sebagai man’s world. Vogel mengkritik pandangan Mitchell ini dan berpendapat bahwa partisipasi perempuan dalam produksi telah lama menjadi hal yang krusial dari banyak masyarakat. Dengan demikian, menurut Vogel, Mitchell juga telah mengabaikan nilai dari kerja domestik sehingga Mitchell tidak memiliki posisi teoritis yang jelas mengenai hal tersebut. Namun, Vogel menyatakan bahwa perspektif Mitchell secara keseluruhan yang merangkum kepustakaan Marxis klasik mengenai perempuan menyediakan sebuah landasan ketika menghadapi baik Marxisme mekanis maupun pengaruh yang berkembang dari feminisme radikal (17).

Kemudian, Vogel membahas tiga feminis sosialis/Marxis yang paling berpengaruh terutama dalam analisis mereka mengenai kerja domestik, yakni Benston, Morton dan Dalla Costa. Ketiganya, dinilai Vogel, telah menetapkan agenda penting bagi studi mengenai posisi perempuan sebagai housewives dan peran kerja domestik di dalam hubungan reproduksi sosial (hlm. 24). Problem mengenai kerja domestik sendiri merupakan pertanyaan yang kerap kali diajukan oleh para feminis sosialis.

Terkait hal ini, pada dekade 1960an, perdebatan yang terjadi di dalam gerakan perempuan di AS banyak dipengaruhi oleh kondisi intensifikasi ideologi yang memperluas tempat perempuan di rumah tahun 1950an. Perdebatan-perdebatan itu kemudian menjadi awal dari munculnya urgensi untuk meletakkan basis sosal-material dari penindasan terhadap perempuan dalam termin dan konsep-konsep ekonomi politik Marxian. Pada dekade 1960an ini, analisis mengenai kerja domestik berada di seputar apakah kerja domestik merupakan kerja produktif ataukah kerja domestik merupakan bagian dari mode produksi kapitalis. Gerakan perempuan yang muncul pada periode ini pun banyak menyoroti persoalan kerja domestik. Adapun beberapa feminis sosialis/Marxis yang kontribusinya dianggap penting mengenai persoalan kerja domestik ini ialah Margaret Benston, Peggy Morton dan Mariarosa Dalla Costa.

Esai-esai dari dua orang feminis, Benston dan Morton, menawarkan sebuah analisis Marxis mengenai asal-usul kerja perempuan di dalam rumah tangga yang tidak dibayar dan mendiskusikan hubungannya dengan kontradiksi sosial yang ada serta kemungkinan-kemungkinan untuk mengubahnya. Strategi yang ditawarkan oleh Benston dalam hal ini berfokus pada kebutuhan untuk menyediakan sebuah prakondisi yang lebih penting dengan memindahkan kerja yang masih dilakukan di rumah menjadi sebuah aktivitas produksi yang bersifat publik. Disini masyarakat harus bergerak menuju sosialisasi kerja-kerja rumah tangga dan pengasuhan anak. Pemikiran Benston mengenai kerja rumah tangga yang tidak dibayar ini mendapat kritik dari Morton, dimana Morton melihat konsep keluarga sebagai sebuah unit yang berfungsi untuk merawat dan mereproduksi kekuatan tenaga kerja. Morton melihat bahwa perempuan, sebagai bagian dari tenaga kerja cadangan, adalah pusat ekonomi (hlm. 18). Ketiga feminis ini, menurut Vogel, meski masih belum menyediakan argumen yang benar-benar solid, telah berhasil meletakkan masalah penindasan terhadap perempuan ini dalam wilayah teoritis materialisme (hlm. 19).

Vogel menilai, apa yang dilakukan Dalla Costa telah melampaui kedua feminis tersebut. Vogel menyebut Dalla Costa sebagai feminis yang paling berpegangan secara canggih pada teori Marxis dan politik sosialis (hlm. 21). Dalla Costa, menurut Vogel, telah menempatkan perempuan sebagai sebuah kelompok yang ditindas karena karakter material dari tenaga kerja mereka yang tidak dibayar. Dalam hal ini, Dalla Costa mengemukakan tesisnya mengenai “all women are housewife”. Dalla Costa menyoroti posisi perempuan kelas pekerja (working-class housewife) dalam masyarakat kapitalis dimana sebagai housewives, perempuan kelas pekerja tereksklusi dari produksi kapitalis dan terisolasi dalam rutinitas kerja domestik. Dalla Costa kukuh dengan pendapatnya bahwa pekerjaan rumah tangga sebagai kerja yang produktif secara Marxian, memproduksi nilai lebih/surplus value. Ia menawarkan strategi untuk mendemistifikasi kerja domestik sebagai sebuah bentuk samaran dari kerja produktif. Strategi tersebut ialah mensosialisasikan perjuangan –bukan kerja—dari para tenaga kerja yang terisolasi dengan memobilisasi para istri (kelas pekerja) di seputar isu-isu komunitas, kerja rumah tangga yang tidak diupah, penyangkaan mengenai seksualitas, dan sebagainya. Dalla Costa memandang bahwa problemnya bukan hanya untuk menghentikan perempuan dari melakukan kerja (domestik) ini, tapi untuk menghancurkan keseluruhan peran dari housewife. Ia tidak memandang bahwa pembebasan perempuan melalui kerja adalah mitos yang harus ditolak oleh perempuan (hlm. 23).

Di sisi lain, kalangan feminis sosialis/Marxis mengenal dual theory dalam analisis mengenai penindasan terhadap perempuan. Dual theory ini tak dapat dielakkan merupakan hasil dari ketegangan sekaligus hubungan kedekatan yang sangat kuat antara teoritisi feminis Marxis dan feminisme radikal serta teoritisi feminis radikal dan Marxisme. Hubungan yang khas ini dapat dilihat misalnya dari konsep patriarki yang digunakan juga oleh feminis sosialis. Banyak feminis sosialis, misalnya di AS, yang meskipun menyadari keterbatasan-keterbatasan feminisme radikal, menganggap bahwa sintesis antara feminisme radikal dan analisis Marxis merupakan langkah pertama yang dibutuhkan dalam memformulasikan sebuah teori politik feminis sosialis yang kohesif (hlm. 26). Dalam hal ini, feminis sosialis mengeksplor dua konsep yakni patriarki dan reproduksi. Para feminis sosialis harus membangun sebuah konsep patriarki yang dapat dihubungan dengan teori perjuangan kelas yang menempatkan masing-masing corak produksi sebagai sebuah sistem dengan struktur yang spesifik dimana satu kelas mengeksploitasi kelas lainnya yang tersubordinat atasnya (hlm. 26). Meski demikian, baik konsep patriarki maupun reproduksi belum juga dapat didefinisikan secara konsisten (hlm. 28). Konsep patriarki misalnya, ketika digunakan pada teori yang lebih materialis, tidak mencukupi untuk diintegrasikan dengan konsep Marxis mengenai hubungan-hubungan produksi. Begitupun dengan konsep reproduksi (hlm. 28). Untuk memeriksa dual theory ini, Vogel mengunjungi kembali teks-teks Marx dan Engels dan kemudian merekonstruksinya.

 

Marx, Engels, dan Dual Legacy

Usaha awal Marx dalam menjelaskan problem penindasan terhadap perempuan di antaranya dapat dilihat dalam On The Jewish Question (1843) dan Economic and Philosophic Manuscripts (1844) dimana Marx menjelaskan hubungan antara laki-laki dan perempuan sebagai cermin dari tingkat pembangunan sosial. Kemudian, dalam The Holy Family (hlm. 43-44), Marx menyatakan bahwa derajat emansipasi perempuan adalah ukuran alamiah untuk mengukur emansipasi secara keseluruhan. Hal ini terkait dengan posisi perempuan secara umum yang inhuman di dalam masyarakat modern (hlm. 45). Sementara itu, usaha awal Engels dalam menjelaskan problem penindasan terhadap perempuan dapat dilihat pada bukunya yang berjudul The Condition of the Working Class in England (1845). Dalam buku tersebut, Engels berfokus pada pengalaman aktual perempuan kelas pekerja dalam menjelaskan posisi perempuan di dalam masyarakat. Engels bersikeras bahwa adalah kapitalisme itu sendiri, dengan dorongannya untuk akumulasi dan menciptakan keuntunganlah, yang membuat tenaga kerja murah (perempuan dan anak) menarik bagi para pemilik modal (hlm. 45-46).

Menurut Vogel, Engels memberikan tiga kontribusi teoritis dalam memahami kondisi perempuan, sebagaimana yang ia temukan kemudian, dalam bentuk yang embrionik. Ketiga kontribusi teoritis tersebut ialah pertama, Engels mengenali secara implisit bahwa tidak ada individu maupun keluarga yang eksis sebagai abstraksi yang ahistoris sehingga ia menyatakan bahwa persoalan keluarga dan penindasan terhadap perempuan harus dikonseptualisasikan dalam kerangka yang spesifik dari mode produksi dan kelas-kelas sosial yang ada di dalam masyarakat. Kedua, Engels mempertimbangkan struktur dan determinasi upah sehingga ia berhasil memberikan gambaran besar dari teori mengenai hubungan antara upah dan keluarga kelas pekerja. Ketiga, Engels memfokuskan perhatiannya pada keseluruhan reproduksi dari kelas pekerja, atau secara spesifik, hubungan antara populasi dan kapitalisme sehingga ia kemudian menghubungkan fenomena surpus populasi dengan proses yang sama yang mengatur soal upah dan panjangnya jam kerja (hlm. 49-51).

Usaha awal keduanya (Marx dan Engels) dalam menjelaskan problem mengenai penindasan terhadap perempuan kemudian dapat dilihat dalam The German Ideology dimana keduanya menguraikan beberapa aspek hubungan di antara keluarga, ideologi, dan reproduksi sosial. Mereka berdua memusatkan perhatian pada kontradiksi antara konsepsi ideologis dari keluarga dan pengalaman aktual bersejarah dari keluarga yang berasal dari kelas-kelas yang berbeda. Selain itu, Marx dan Engels juga menggambarkan sejarah keluarga dalam pembangunan sosial dengan menggunakan konsep pembagian kerja. Marx dan Engels juga memberikan komentar umum mengenai keluarga dalam masyarakat komunis (hlm. 51-52). Dengan demikian, Marx dan Engels pun memiliki awalan yang kuat baik secara teoritis maupun sejarah mengenai isu-isu yang ada di dalam persoalan subordinasi perempuan. Terkait itu, dalam The Manifesto of the Communist Party, Marx dan Engels merombak pandangan mereka atas isu subordinasi perempuan ke dalam bentuk yang lebih programatik dan sering mencolok. Pada level ideologis, The Manifesto of the Communist Party mengklaim bahwa kaum borjuis telah mencabik selubung sentimental dari keluarga dan telah menurunkan hubungan keluarga menjadi relasi uang (hlm. 53-54). The Manifesto of the Communist Party juga mensituasikan masa depan pernikahan dan hubungan-hubungan di antara jenis kelamin dengan memperhatikan mode produksi yang berlaku serta menjelaskam persoalan struktur upah dengan memperhatikan kehidupan rumah tangga (hlm. 56).

Pada dekade selanjutnya, baik Marx dan Engels mengelaborasi aspek-aspek teoritis serta programatis dari perspektif mereka, di antaranya mengenai pembagian kerja secara seksual dan penindasan terhadap perempuan di dalam kerja. Mereka menetapkan ketentuan yang disebut dengan woman-question yang didiskusikan dan dijalankan oleh kaum sosialis selama ratusan tahun. Pada saat yang bersamaan, keduanya juga memperdalam pemaknaan mereka mengenai penindasan terhadap perempuan sebagai sebuah elemen struktural dari keseluruhan reproduksi kelas pekerja dan dari reproduksi sosial secara umum. Dalam hal ini, mereka telah mulai beranjak menuju pendekatan teoritik dan praktik yang lebih luas untuk mencapai tujuan pembebasan perempuan (hlm. 57). Pada dua bab di buku ini, Vogel kemudian menguraikan secara rinci usaha-usaha lanjutan Marx dan Engels dalam hal pencarian jawaban atas persoalan mengenai penindasan terhadap perempuan dengan menelusuri kerja-kerja Marx dan Engels di masa-masa setelah pencarian awal keduanya dilakukan.

Dalam Grundrisse, Marx yang ingin memahami mode produksi kapiltalis secara keseluruhan membahas problem hubungan antara produksi, distribusi, pertukaran dan konsumsi. Marx membahas soal reproduksi individual sebagai produsen langsung dalam mode produksi kapitalis, yakni sebagai bagian dari kelas pekerja. Marx juga membahas persoalan akumulasi kapital kaitannya dengan agregat reproduksi dari kelas pekerja dengan menggunakan pendekatan yang mengkritik teori Malthus mengenai over-population (hlm. 61). Menurut Marx, over-population memiliki bentuk yang khas di dalam mode produksi kapitalis. Surplus populasi mencerminkan surplus “kapasitas tenaga kerja” dan dibuat oleh para pekerja. Dalam hal ini, over populasi dalam bentuk surplus-relatif pekerja atau dalam termin Engels tenaga kerja cadangan, adalah suatu hal yang inheren di dalam hubungan produksi kapitalis. Dari sinilah, Marx mengajukan sebuah keterkaitan teoritis antara reproduksi kelas pekerja dan kerja dari mode produksi kapitalis (hlm. 61-62). Selain di Grundrisse, di dalam bagian-bagian yang terpisah di dalam Capital, Marx pun menguraikan situasi perempuan, mengenai keluarga, mengenai pembagian kerja secara seksual dan usia, serta reproduksi kelas pekerja (hlm. 62). Marx beberapa kali bicara mengenai pembagian kerja secara seksual di dalam keluarga sebagai sebuah miniatur yang dapat menggambarkan pembagian kerja secara seksual di dalam masyarakat (hlm. 136). Namun, secara keseluruhan, menurut Vogel, tulisan-tulisan Marx dewasa menawarakan landasan dari dasar teoritik untuk menganalisis situasi perempuan dari sudut pandang reproduksi sosial (hlm. 75).

Sementara itu, dalam bukunya yang berjudul The Origin of the Family, Private Property, and the State (yang didasarkan pada penelitian Lewis H. Morgan), Engels memang tidak menguraikan analisis yang komprehensif mengenai perempuan, keluaga dan reproduksi kelas pekerja, namun mensituasikan aspek-aspek tertentu dari pertanyaan atas hal-hal tersebut di dalam sebuah konteks sejarah dan teoritik (hlm. 79). Terkait dengan itu, Vogel mengulas isi buku The Origin of the Family, Private Property, and the State ini di dalam bab enam mengenai usaha Engels dalam menganalisis persoalan penindasan terhadap perempuan (hlm. 77-96). Menurut Vogel, di dalam The Origin of the Family, Private Property, and the State, Engels lebih banyak bersandar pada perspektif dual sistem terutama pada penekanan mengenai pembagian kerja secara seksual dan mengenai keluarga sebagai fenomena penting yang ada di dalam keseluruhan reproduksi sosial. Engels mempertahankan pemisahan keluarga dari reproduksi sosial, akan tetapi secara khusus menetapkan peran dominan yang konstitutif pada pembagian kerja secara seksual (hlm. 136). Kerja teoritis yang dihasilkan dari kerangka kerja feminis sosialis pun kemudian menciptakan ulang karakteristik utama dari perspektif dual sistem. Sebagai contoh, teoritisi feminis sosialis cenderung untuk memisahkan pertanyaan mengenai pembagian kerja dan kewenangan berdasarkan jenis kelamin dari reproduksi sosial (hlm. 140).

 

Penutup

Vogel berkesimpulan bahwa belum ada kerangka teoritis Marxis yang stabil yang telah berdiri sebagai landasan dalam menjawab woman question dari kaum sosialis. Usaha para feminis sosialis dalam menemukan kerangka teoritis Marxis yang stabil ini pun terus dilakukan. Terkait hal ini, penulisan buku ini pun, menurut saya, merupakan usaha Vogel untuk menemukan kerangka teoritis Marxis yang stabil dalam hal menjawab problem penindasan terhadap perempuan, terutama di dalam epoch kapitalisme ini. Saya setuju dengan anjuran Vogel terhadap para feminis sosialis/Marxis untuk mempelajari kembali teks-teks Marx dan Engels sebelum memutuskan bahwa Marx dan atau Engels kurang memberi sumbangan dalam menjawab problem penindasan terhadap perempuan. Semangat yang kuat untuk terus menemukan kerangka teoritis Marxis dalam menjawab problem penindasan terhadap perempuan sebagaimana yang dicontohkan Vogel melalui bukunya ini, sangat patut ditiru oleh siapa saja yang memiliki tekad kuat untuk menghapuskan penindasan terhadap perempuan di dalam masyarakat dan memiliki cita-cita untuk membebaskan perempuan dari belenggu penindasan yang mencekiknya.***

 

————

[1] Seperti diungkapkan oleh Vogel dalam bagian akhir bukunya ini, penyebutan feminis sosialis sebagai feminis Marxis merupakan hal yang tak dapat dihindari.

Fathimah Fildzah Izzati, Anggota editor IndoPROGRESS, peneliti di Inkrispena dan LIPI


comments powered by Disqus