Edisi XLII/2016

ilegal-gusur

Daftar Isi:

Diskusi Publik Dinamika Perubahan Agraria

Penjarahan Ruang dalam Kapitalisme

Marxisme dan Analisis Penindasan terhadap Perempuan: Pembagian Kerja secara Seksual atau Reproduksi Sosial

 

 

Don’t scab for the bosses
Don’t listen to their lies
Us poor folks haven’t got a chance
Unless we organize

Florence Patton Reece – Which Side Are You On?

 

Kekuatan kelas berkuasa Indonesia kembali menampilkan rupanya yang paling menjijikkan, dan ini terjadi di berbagai tingkatan politik Indonesia. Di tingkatan internasional, kita menemukan bagaimana politik diplomasi Indonesia, yang diwakili oleh seorang diplomat muda, menampik secara sombong permintaan negara-negara pasifik untuk bekerja sama dalam menyelesaikan problem HAM di Papua. Dengan argumen yang sebenarnya serupa dengan template logika Lemhanas/militer, sang diplomat ini menyatakan bahwa Papua tidak memiliki masalah pelanggaran HAM. Di skala nasional, kita menemukan bagaimana banyak pengemplang pajak yang telah mencuri kekayaan sumber daya publik Indonesia tanpa ada perasaan bersalah tertawa angkuh karena diampuni kejahatan-kejahatannya melalui kebijakan amnesti pajak. Sementara di tingkatan lokal, di Jakarta tepatnya, secara jumawa pemerintah daerah Jakarta menggusur paksa begitu saja rumah-rumah warga Bukit Duri tanpa mengacuhkan sama sekali proses hukum yang telah dan sedang ditempuh warga.

Bagi kami, apa yang terjadi adalah narasi klasik tentang perjuangan kelas, antara mereka yang menindas dengan yang tertindas. Tidak ada yang menyangkal sama sekali bahwa kekuasaan yang berlaku adalah hasil dari kekalahan (gerakan) rakyat untuk mempertarungkan kepentingannya. Momen populis yang pernah muncul pada Pemilu 2014 sempat membuka kemungkinan bagi rakyat untuk mendesakan kepentingannya melawan kelas yang berkuasa. namun apa yang terjadi kemudian adalah proses politik yang sistematis dari kelas berkuasa untuk meminggirkan rakyat untuk menciptakan kekuasaan negara yang berpihak.

Berulang-ulang editorial disini menuliskan bahwa solusi paripurna dari brutalitas yang menjijikan dari kekuasaan kelas berkasa adalah pengorganisasian politik: hanya dengan gerakan rakyat yang terorganisir secara politik, maka arogansi kelas berkuasa dapat dihambat. Dengan kata lain, Kehadiran gerakan rakyat dalam bentuk partai politik menciptakan kemungkinan bagi perubahan arah kekuasaan negara Indonesia. Jalur ini merupakan jalur yang harus ditempuh oleh siapapun yang menghendaki perubahan mendasar di Indonesia.

Harus diakui ini adalah tugas besar dan seringkali sulit. Namun bukan berarti hal tersebut mustahil untuk dilakukan. Salah satu hal penting yang dapat dilakukan untuk memperkuat keinginan kita untuk membangun keterorganisiran politik adalah dengan terus menerus memperkuat pengetahuan kita bahwa rakyat yang tertindas namun terorganisir dalam suatu partai politik adalah sangat realistis. Dalam hal ini, pengetahuan adalah kekuasaan itu sendiri, kekuasaan yang menjangkarkan harapan kita untuk merealisasikan harapan kehidupan yang lebih manusiawi bagi rakyat itu sendiri.

Dalam aspirasi berpengetahuan seperti inilah, Left Book Review (LBR) IndoPROGRESS kembali hadir dihadapan para pembaca. Pada edisi akhir bulan ini, kami menghadirkan dua ulasan buku dan satu ringkasan diskusi publik. Ulasan pertama datang dari Fathimah Fildzah Izzati yang membahas buku Marxism and the Oppression of Women: Toward a Unitary Theory karangan Lise Vogel. Kemudian ada pula ulasan buku dari Perdana Putri. Kali ini ia membahas buku Uneven Development: Nature, Capital and the Production of Space karya Neil Smith yang dicetak pertama kali pada 1991. Terakhir, kami menghadirkan sedikit ulasan diskusi publik bertemakan Dinamika Perubahan Agraria: Kelas, Jender, Kuasa dan Pengetahuan yang diselenggarakan oleh Koperasi Riset Purusha (KRP), dan Aliansi Pemuda Pekerja Indonesia (APPI) pada Agustus lalu.


comments powered by Disqus