Remah Cerita Agustusan

Foto diambil dari laniratulangi.wordpress.com

17 AGUSTUS bagi saya adalah hari libur yang biasa-biasa saja. Selain karena memang—oleh satu dan dua cara hidup selama ini—hari libur dan hari kerja bagi saya kerap sama saja, saya kira ‘beban’ pengetahuan sejarah bangsa di kepala jua—yang membuat 17 Agustus seperti hari-hari lainnya. Tentu saja sumbangan dari pemahaman akan kebobrokan penyelenggaraan negara dan ketimpangan di sana sini tak kalah besarnya atas ke-biasa-biasa-sajaannya 17 Agustus itu.

Saya pulang ke kamar sewaan menjelang tengah malam, 16 Agustus lalu. Ini juga peristiwa yang biasa-biasa saja di dalam hidup saya. Namun, meriahnya bebendera, umbul-umbul merah putih di jalan yang dilewati membuat saya tidak bisa tidak membayangkan para anggota Pemuda Angkatan Baru (PAB), yang didirikan salah satunya oleh DN Aidit itu, tujuh puluh satu tahun silam, tengah mendorong Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan RI. Selama beberapa saat, kepala saya tiba-tiba sesak dengan bayangan masa lalu yang tak pernah saya alami.

Dentuman gendang dan teriakan Cita Citata di ujung jalan membuyarkan tamasya sejarah itu. ‘Syiiit, akamsi (anak kampung sini) lagi dangdutan dan minum-minum!’ pikir saya. Dari tamasya historis yang berharga itu saya dipaksa mewajahi kenyataan: melewati kerumunan anak-anak dengan masa depan yang sudah membeku—ditambah mungkin sudah mabuk oplosan pula. Menghadapi kondisi ini, dan saya tidak punya pilihan lain selain melewati ujung jalan itu sebelum berbelok ke kanan, terpaksa saya harus menyiapkan diri untuk ber-hahahihi, mengucapkan permisi sambil menebar senyum. Tentu saja supaya citra ‘kasar’ orang timur yang kerap terdengar dari Jogjakarta itu tidak melekat pada saya.

Jauh panggang dari api. Saya malah diajak bergabung menikmati musik. Pasalnya sederhana. Alih-alih minum oplosan, di tangan mereka ada dua botol arak, minuman tradisional asal kampung saya.

‘Mampir dululah, Bung!’ sapa salah seorang mereka. Saya pun duduk, menahan sedikit rasa lapar serta kantuk di pelupuk mata.
‘Saya dari Sumatra, Batak. Tapi minum moke. Beda-beda tapi tetap satu, Bung!’ seloroh yang lain sambil menyodorkan arak yang beriak-riak tak karuan di dalam gelas. Tentu saja beriak-riak karena yang menyodorkan berusaha mensinergikan efek alkohol pada dirinya dengan irama dangdut, ditambah lagi bawaan naluriah untuk menjamu orang baru dengan baik.

Tak urung, kantuk saya menguap mendengar tafsiran Bhineka Tunggal Ika yang belum pernah saya temukan di buku mana pun itu. Sembari menghabiskan isi gelas, kepala saya menjuxtaposisikan tafsiran Bhineka Tunggal Ika pemuda asal Batak tadi dengan seliweran linimasa yang saya intip di kendaraan pulang tadi; anggota paskibraka yang dianulir karena berkewarganegaraan Prancis, pemerintah Jokowi-JK yang menyembah industri, ancaman atas kebebasan berekspresi, wacana kenaikan harga rokok, dsb. Sebagaimana yang Anda bayangkan, dua gelas arak tak mampu memberi makna pada juxtaposisi tadi.

Kemeriahan itu bukanlah sesuatu yang direncanakan. Sulae, pemuda penjaga salah satu kos-kosan di dekat situ, menceritakannya pada saya apabila ia gerah dengan malam kemerdekaan yang sepi-sepi saja. Mosok anak-anak cuma capek ngecat-ngecat jalan untuk perlombaan 17-an besok tanpa ada kemeriahan apa pun. Ia lantas mengeluarkan perangkat soundsystem. Saya pun menemukan jawaban sumber dentuman musik dangdut yang beberapa kali mengganggu entah istirahat saya atau mengetik di hari-hari sebelumnya. Ditambah kebetulan seorang penghuni kos-kosan yang dijaga Sulae masih menyimpan tiga botol arak dari kampungnya, maka jadilah kemeriahan itu. ‘Ini baru kemerdekaan. Senang-senang, goyang, mabuk,’ tutup Sulae, pemuda asal Tuban yang sudah sejak umur 8 tahun hidup sendiri itu.

***

Hari ini beberapa jalan dan gang di dekat tempat tinggal saya ditutup. Panggung-panggung dangdut didirikan di sekitarnya. Beberapa pemuda yang saya temui di malam 16 Agustus hari ini tampak lebih bersih dan mengenakan seragam merah putih. Selain berpenampilan lebih rapi, mereka tampak lebih berguna hari ini. Alih-alih duduk-duduk di warung sambil mengintip foto gadis-gadis di facebook, mereka mengorganisir acara penyerahan hadiah lomba agustusan. Dan, lagi-lagi, ada organ tunggal dangdut dengan dua atau tiga penyanyi yang bergiliran melantumkan lagu di siang Jakarta yang panas ini.

Barangkali banyak jalan dan gang di Jakarta ditutup hari ini dengan alasan serupa. Sepertinya setiap RW (Rukun Warga) punya acara sendiri-sendiri setiap 17 Agustus. Kita bisa menemukan akar dan jawaban dari budaya yang satu ini di penelitian salah satu Indonesianis; saya sendiri belum membaca perihal itu. Untuk menyewa tenda, panggung sederhana dan mendatangkan organ tunggal, kira-kira menghabiskan Rp 15.000.000,-. Informasi itu saya dapatkan dari Pemuda Asal Batak dengan tafsir Bhineka Tunggal Ika yang keren tadi. Kebetulan, dia juga tengah berseragam di hari ini. Tentu saja, data ini masih perlu dicek lagi.

Mendengar jumlah angka itu, kepala saya berpikir konspiratif; apakah penguasa Jakarta sekarang menggelontorkan dana demi menang pada Pilkada nanti? Informasi tambahan dari pemuda tadi menjadi antitesis isi kepala saya. Karang Taruna-lah yang mengorganisir acara ini. Saya tersentak juga; ternyata masih ada yang namanya Karang Taruna itu. Uangnya didapat dari sumbangan-sumbangan warga. Ada juga warga yang memang menyumbang dalam jumlah yang cukup banyak. Pemuda Bhineka Tunggal Ika tadi menyebut contoh seorang warga yang menyumbang dalam jumlah banyak itu. Karena memang tidak kenal tetangga, ketika mengetik tulisan ini, nama yang disebutnya tadi tak berhasil saya ingat.

Saya jadi berpikir, adakah honorarium untuk pemuda-pemudi yang berseragam merah putih tadi? Saya yakin memang tidak ada. Atau honorariumnya adalah bergoyang dangdut di depan panggung sederhana itu.

Selamat merayakan kemerdekaan, kaum bermasa depan tak pasti.***


comments powered by Disqus