Tentang Jam Tidur, Jam Begadang, dan Malam Mingguan Para Borjuis Mini

APAKAH “BEGADANG”? Apakah “malam mingguan”? Apakah keduanya semata-mata aktivitas remeh? Tulisan singkat ini mengajak Anda untuk menggelengkan kepala untuk pertanyaan ini. Bahkan, akan ditunjukkan di sini bahwa melalui problematisasi dua istilah yang relatif “gak penting” ini, konsep-konsep “penting” lainnya, yang telah diterima begitu saja, perlu dipertanyakan.

Ada dua poin yang saya janjikan melalui tulisan ini: pertama, bahwa begadang dan malam-mingguan harus dilihat sebagai manifestasi ideologi kapitalisme kontemporer alias pasca-Fordis; dan kedua, bahwa kedua istilah ini erat kaitannya dengan, terutama, konsep jam kerja dan kerja itu sendiri. Satu penafian: tulisan ini akan membahas yang-pada-umumnya saja karena memang tujuannya adalah mengintervensi wacana di tingkatan generalitas, di tingkat yang-pada-umumnya.

Pengecualian-pengecualian spesifik, akhirnya, tetap butuh riset yang lebih spesifik. (Namun demikian, sayangnya totalitas ideologi kapitalisme kontemporer/pasca-Fordis akan membuat pengecualian-pengecualian ini menjadi tidak begitu penting, karena ia ternyata adalah negativitas yang by default disediakan oleh kapitalisme itu sendiri. Poin ini akan dibahas di kesempatan lainnya).

 

“Kalo begadang tuh pas malem-mingguan aja. Sering-sering gak baik, bisa sakit.”

Ungkapan di atas adalah pesan singkat yang saya dapat dari seorang kawan saya saat tahu bahwa saya masih terjaga di sekitaran pukul tiga pagi, ketika pada umumnya orang sedang terlelap, tidur, mengisi ulang tenaga agar keesokan harinya bisa segar dalam bekerja atau mendulang pencaharian,… dan begitu seterusnya, berulang-ulang. Sampai tiba hari jumat: TGIF—thank God it’s Friday, kata orang-orang ini. Artinya, malam minggu telah tiba. Saatnya berhenti bekerja dan mulai bersenang-senang, hura-hura, rekreasi, menghilangkan kepenatan. Dan begitu pula seterusnya. Seolah-olah segalanya tampak normal; begitu pula ungkapan pesan singkat di atas.

Terkait pesan singkat yang menjadi subjudul di atas, saya akan menunjukkan dimensi ideologis yang terkandung di dalamnya. Hal ini tidak lantas membuat saya meragukan apalagi menafikan ketulusan yang terkandung dalam ungkapan tersebut. Sama sekali tidak! Justru ketulusan yang memotivasi ungkapan ini semakin menambah bobot mendesaknya analisis kritis ideologis atas ungkapan tersebut. Ugly truth-nya yang akan nampak apabila analisis tersebut berhasil adalah: bahwa ideologi dan kepentingan ideologis bahkan menunggangi ketulusan dan kebaikan-hati orang! Simpati terhadap ketulusan dan kebaikan-hati, dengan demikian, tidak seharusnya lantas membuat naluri analisis kritis menjadi tumpul. Malahan, analisis kritis adalah ungkapan terima kasih sekaligus balasan setimpal (dalam artian positif) bagi ungkapan ketulusan hati tersebut.

Maka, inilah ungkapan terima kasih saya.

‘Begadang’ adalah suatu istilah yang secara khas menunjuk pada kelas sosial tertentu, kondisi masyarakat tertentu yang menjadi latar belakang keberadaan kelas tersebut, dan bahkan ideologi yang menyelimuti masyarakat tersebut. Begadang mengasumsikan suatu jam tidur/istirahat (malam) yang tetap, yang saat “dilanggar”, tragedi “pelanggaran” itu disebut begadang. Jam tidur yang tetap tersebut adalah sekitar pukul 10 malam sampai 5 pagi. Dimensi ideologis dan kelas sosial segera terlihat dari jam tidur ini; istilah ini dimungkinkan untuk muncul pada, dan hanya pada, masyarakat yang terselimuti oleh ideologi kapitalistik. Dengan kata lain, istilah begadang ini berlaku untuk kelas yang sering disebut sebagai kelas menengah, atau yang akan saya sebut di sini sebagai “borjuis mini”—meminjam istilah Geger Riyanto yang lebih menggemaskan.

(Sederhananya, kelas borjuis mini berbeda dengan kelas borjuis gemuk dalam hal kepemilikan, akses, dan otonomi terhadap modal. Seperti namanya, borjuis mini memiliki modal yang hanya sedikit, sementara borjuis gemuk, banyak; borjuis mini memiliki akses yang relatif lebih sempit dan sesak dibanding borjuis gemuk; dan akhirnya borjuis mini tidak cukup memiliki otonomi untuk dengan leluasa mengalokasikan modal-modalnya [tenaga, uang, pengetahuan, keahlian, dst.] dibandingkan borjuis gemuk yang relatif seenak-jidatnya sendiri.. Definisi kelas seperti inilah yang melalui artikel ini menjadi berpotensi untuk dipertanyakan dengan keras relevansi dan validitasnya. Oleh karena itu, untuk sementara pendefinisian mini dan gendutnya borjuis ini sengaja dibiarkan tidak begitu presisi. Pembedaan besar-kecil hanya semata-mata untuk kepentingan pembeda sementara).

Mengapa borjuis mini? Karena hanya borjuis mini yang tidur pada jam-jam ini dan pada hari yang bukan hari malam Minggu (biasanya antara Jumat dan Sabtu malam). Mengapa demikian? Karena keesokan harinya mereka harus melakukan aktivitas (atau ritual?) sosial yang disebut “kerja”. Pukul 9 pagi, umumnya. Maka, perhitungannya bisa seperti berikut. Semenjak narasi medis yang berlaku hari-hari ini mengatakan bahwa jumlah jam tidur malam “yang baik” untuk orang dewasa (18 tahun ke atas) adalah 6 sampai 8 jam sehari maka jam aman untuk mulai beristirahat adalah pukul 9-11 malam. Hitungannya, orang butuh 6-8 jam waktu tidur sehingga paling lambat pada pukul 7 pagi mereka bisa (konon) bangun dengan kondisi badan segar. Apabila waktu untuk mandi, bersolek, dan sarapan butuh sekitar satu jam, dan perjalanan ke tempat kerja butuh juga sekitar satu jam, maka tepatlah paling lambat pukul 7 waktu mereka untuk bangun pagi. Ditambah dua jam, maka pukul 9 diperkirakan mereka sampai di tempat kerja. Jam sekolah/kuliah umumnya juga menggunakan perhitungan yang sama, atau bahkan lebih dimajukan (jam tidur pukul 9, karena pukul 7 pagi sudah harus ada di sekolah). Jadi, akan sulit ditemukan ada jam sekolah/kuliah yang dimulai dari pukul 4 pagi, misalkan. (Untuk sementara, pembedaan kerja dan kuliah akan diasumsikan demikian. Tapi nanti akan ditunjukkan bahwa keduanya menjadi tidak bisa dibedakan.)

Dari paragraf di atas terlihat jelas pengasumsian bagi definisi dua istilah: jam kerja dan kerja itu sendiri. Jam kerja adalah waktu (baik durasi maupun waktu presisi) bagi orang untuk bekerja, yang kemudian diartikan sebagai aktivitas untuk berproduksi atau, sederhananya, mencari nafkah dan/atau peng-hidup-an. Lalu di mana aspek ideologisnya? Kekhasan masyarakat kapitalistik tradisional adalah bahwa terdapat pola umum atas pembagian jam kerja dan jam non-kerja (rekreasi, senggang, santai, dan… malam-mingguan; singkatnya jam ketika orang “get a life!”—saya mengusut istilah ini pada artikel ini). Pola umum ini, karena dilakukan terus-menerus tanpa dipertanyakan, maka memperoleh status “normal”. Pengorganisasian jam tidur (dan jam hidup) ini akhirnya juga menjadi (ter)normal(kan), sedemikian rupa sehingga orang-orang yang melanggarnya dianggap aneh/sakit. Jelas di sini, pengorganisasian jam tidur dan jam kerja, erat kaitannya dengan pengorganisasian (jam) hidup itu sendiri.

Di sinilah dimensi aneh, tidak normal, tidak lazim, patologis, dst., dari begadang terlihat. Begadang menjadi sesuatu yang tidak sepantasnya dilakukan. Alasannya rasional, setidaknya terlihat rasional dalam logika yang dinarasikan di atas: jika seseorang begadang, maka jam hidupnya akan terganggu karena jam kerjanya terganggu dan dengan demikian kesehatannya (ingat narasi “normal” di atas) akan terganggu pula karena ia tidak mendapat waktu tidur yang cukup—lagi-lagi cukup dalam logika kesehatan di atas. Keprihatinan kawan saya di atas, yaitu supaya saya tidak sakit karena sering begadang, dapat dimengerti di sini. Logis! Namun, kondisi logis ini hanya dimungkinkan apabila diasumsikan adanya jam kerja tertentu, jam tidur pada kala dan durasi tertentu; singkatnya, pada pengorganisasian hidup tertentu… yaitu tentunya pada masa dan masyarakat kapitalis kontemporer/pasca-Fordis.

Titik tekan di sini adalah pengorganisasi jam tidur-kerja-hidup, bukan kapan pastinya hitungan jam tersebut dimulai. Ini penting untuk memahami pola hidup yang nampaknya berbeda, namun sebenarnya tetap sama, hanya saja dalam kondisi yang berkebalikan; misalnya, mereka-mereka yang bekerja pada malam hari: satpam, supir, bartender, dan pekerja seks komersial. Mereka tetap saja menganut pengorganisasian hidup kapitalis, bedanya waktunya saja yang digeser: saat orang pada umumnya bangun tidur pukul 7, mereka ini justru baru mulai tidur. Jadi, tetap saja, mereka-mereka ini sah disebut borjuis mini. Sedikit menambahkan, itulah mengapa seringkali pekerjaan-pekerjaan ini disebut “tidak normal”, yaitu karena jam kerjanya tidak seperti pada umumnya—pukul 9-5 alias nine-to-five.

Sekadar mengontraskan: mereka yang tidak menganut pengorganisasian hidup seperti ini tentu tidak memiliki jam tidur yang sama. Hal itu bisa dilihat dari, misalnya, pengemis, gelandangan dan anak-anak terlantar (yang konon dipelihara negara). Mereka tidak memiliki jam kerja yang tetap. Bahkan, mereka tidak memiliki konsep kerja yang jelas pula. Apapun definisi kelas mereka, yang pasti mereka bukan borjuis mini. Lainnya, borjuis gemuk, misalnya CEO, komisaris, direktur, bos, GM, dst, sering kali tidak terikat jam kerja (dan tempat kerja) yang tetap. Mereka bisa datang dan keluar kantor sewaktu-waktu; juga bekerja sewaktu-waktu. Pola kerja seperti ini hanya dimungkinkan apabila seseorang mempunyai tingkat kepemilikan, akses, dan otonomi yang relatif tinggi pada modal tentunya. (Ya saya sadar, beberapa memang akan menagih pertanggungjawaban saya akan ungkapan “otonomi yang relatif tinggi pada kapital”. Benar, secara sistemik, ini bisa dipertanyakan, tapi tidak untuk keseharian yang kasat mata, performatif, dan immediate!)

Selanjutnya, ‘malam mingguan’ adalah waktu ketika orang berhenti bekerja dan beristirahat. Setelah lelah dan penat bekerja sampai hari Jumat, tepatnya selepas jam kerja—biasanya pukul 5 sore, maka tiba saatnya orang untuk melakukan “non-kerja”. Untuk mengisi waktu non-kerja ini, biasanya orang berekreasi, tamasya, dugem, main, dst., dan yang pasti bukan bekerja! Akibatnya, saat ada orang bekerja di saat-saat yang, dari sudut pandang pengorganisasian jam hidup kapitalistik, seharusnya saatnya non-kerja, maka ia akan mendapat teguran: “Sabtu-sabtu kok masuk kantor?” “Malem mingguan kok kerja?” dst. Teguran ini, sama seperti ungkapan di atas, tidak sebaiknya diragukan ketulusannya. Teguran ini adalah reaksi spontan atas suatu hal yang tidak “normal”.

Saya pribadi pernah mengalaminya. Saat sedang berkumpul dengan beberapa kawan di sebuah bar, mendengar musik ajoji, tiba-tiba seseorang perempuan datang mengenakan pakaian yang, menurut saya dan kawan-kawan saya, unik. Sontak kami mengomentarinya. Berniat iseng, saya mengomentarinya dengan sedikit bernada “akademis”. “Jadi, kalau menurut psikoanalisis Lacan, cewek itu sebenernya sedang ingin memerangkap tatapan (gaze) orang sembari dia juga terperangkap jejaring gaze itu sendiri….” Belum sempat saya menyelesaikan analisis iseng saya, seorang kawan menghardik, “Ayolah, bro! Ini bukan di kampus. Jangan ngomong berat-beratlah. Malem minggu ini, man. Get a life!

Jelas dalam hardikan tersebut, kawan saya melihat saya sedang tidak santai alias tidak menunaikan non-kerja saat mengomentari perempuan berpakaian unik tadi. Semenjak saya bekerja di kampus, dan pekerjaan saya erat kaitannya dengan akademika, maka saat saya menganalisis perempuan tadi, hal itu diasosiasikan dengan kerja. Dan karena saat itu adalah hari Jumat malam—bukan jam kerja—maka saya dianggapnya “melanggar” pengorganisasian hidup yang “normal”.

Sekali lagi, di sini terlihat jelas bahwa sedari mula, istilah “malam minggu” dan “malam mingguan” adalah istilah yang sangat ideologis. Ia mengasumsikan pengorganisasian hari kerja tertentu, jam kerja tertentu, dan bentuk aktivitas bernama “kerja” yang juga tertentu… yang tentunya adalah kapitalistik. Istilah “malam minggu”, yang tepatnya jatuh pada hari Jumat Malam dan Sabtu, tidak akan mungkin ada jika tidak disepakati secara umum, normal, dan lazim bahwa hari kerja hanyalah hari Senin sampai Jumat (pukul 5 sore). Konsepsi malam mingguan sebagai waktu bersenang-senang, rileks, dan waktu keluarga, tentu juga tidak akan mungkin jika tidak disepakati bahwa kesemuanya itu tidak akan didapat saat bekerja. Pembedaan kerja dan non-kerja tertentu harus disepakati lebih dahulu supaya konsepsi malam minggu dan kata kerja malam mingguan bisa dimungkinkan maknanya seperti yang sedang berlaku saat ini.

Pembedaan kerja dan non-kerja ini umumnya akan berbuntut pada penisbatan konsep kesenangan: kerja tidak menyenangkan, non-kerja menyenangkan. Di sini bisa dipahami, misalnya, istilah lembur dan konotasi penderitaan yang tidak menyenangkan yang terkandung dalamnya. Begitu pula dalam ungkapan-ungkapan populer seperti “TGIF—Thank God It’s Friday” atau lainnya, “I hate Monday!”, di mana artinya Jumat sore dianggap sebagai saat dimulainya bersenang-senang, sementara Senin diangap sebagai saat diawalinya penderitaan seminggu.

Lagi-lagi, ini hanya berlaku bagi borjuis mini. Orang-orang miskin, gelandangan, dan anak terlantar (yang konon katanya dipelihara negara), tentu tidak mengenal waktu malam mingguan. Yang mereka lakukan ya itu-itu saja: mengemis, mengais-ngais makanan sisa, berkeliaran nggak jelas, dst., yang bahkan tidak jelas juga apakah itu sah atau tidak untuk coba dikategorisasikan di antara konsep “kerja” dan “non-kerja”. Demikian pula bagi para borjuis gemuk. Semenjak waktu yang longgar dan bisa diatur sendiri, maka bagi mereka, hari apapun bisa disulap menjadi “malam minggu”.

 

Sebelum berhenti.

Semisal saya berhenti di sini, pertanyaan-pertanyaan susulan pasti segera mencegat: lalu, kedua kelompok orang tadi—orang miskin dan borjuis gemuk—masuk dalam kategori pengorganisasian hidup seperti apa? Lalu bagaimana dengan mereka-mereka yang bekerja di rumah, tidak punya kantor tetap alias kerja serabutan tapi juga tidak bisa disebut borjuis gendut? Bukankah mereka juga bisa sewaktu-waktu menjadikan “setiap hari sebagai hari minggu” seperti kata kaus oblong di Bali yang populer itu? Pertanyaan-pertanyaan ini memang tidak terbahas di sini, dan akan dijadikan tugas untuk tulisan lainnya. Dan memang benar, kasus yang dibahas di sini lebih cocok untuk mereka-mereka yang tergolong sebagai “pekerja rutin”, yaitu pekerja yang punya rutinitas harian.[1] Hal itu tidak berlaku untuk para, misalnya, pekerja serabutan. Namun, sebenarnya tujuan utama tulisan ini bukan menunjukkan dinamika dan kerasnya drama hidup borjuis mini di dunia kerja. Tujuan terselubung tulisan ini sebenarnya adalah untuk mengajak kita semua mempertanyakan ulang konseptualisasi, segregasi, segmentasi, dan stratifikasi “kelas” itu sendiri dalam kapitalisme kontemporer/pasca-Fordis hari ini.

Nah, pertanyaan-pertanyaan terakhir ini tentunya tidak akan muncul apabila kita masih tetap melihat kelas secara kaku dan tidak berusaha membuatnya relevan dengan perkembangan kontemporer. Definisi kelas yang dipakai puluhan bahkan ratusan tahu lalu tentu tidak bisa begitu saja dipakai di sini. Soalnya dunia sudah bermutasi sedemikian rupa sehingga hal-hal yang menjadi basis peng-kelas-an ini menjadi bergeser pula: dua terutama yang sudah dibahas di sini adalah jam kerja dan jam non-kerja atau jam hidup. Tulisan ini baru membahas satu aspek, dan masih pada tingkat tubuh individu pekerja. Masih banyak hal lain yang belum, seperti misalnya yang terjadi di pabrik (dalam artian seluas-luasnya, yaitu sebagai tempat berlangsungnya proses produksi): manajemen kerja, manajemen produksi, manajemen pekerja, struktur organisasi, sistem pencatatan keuangan (akuntansi), sistem permesinan dan teknologi, sistem pengukuran/penilaian, dst.

Bagaimanapun, upaya memperbarui dan merelevankan ini bukan lantas berarti meninggalkan konsepsi lama. Buktinya, sedari tadi saya selalu kekeuh untuk menggunakan konsep “kelas” di tengah tren lain di luar sana yang mengatakan betapa konsep ini tidak lagi relevan. Untuk itulah di sini kata “kontemporer” tidak bisa dikatakan seenak jidat seperti obat kumur. Karena di sinilah kata “kontemporer” mendapatkan momen metodologisnya: sebagai upaya untuk menjelaskan keterhubungan lintas ruang dan waktu akan satu hal, yaitu sebagai yang pernah hadir di suatu titik ruang dan waktu yang spesifik di masa lalu sekaligus sebagai yang kini hadir secara spesifik di ruang dan waktu yang sekarang ini; karenanya, ko(n)-temporer. Keterhubungan yang sekarang dan yang dulu dalam satu titik inilah yang hendak mati-matian dijaga melalui terma “kontemporer”. Tanpa memperhatikan aspek kontemporalitas ini, kita akan menjadi nostalgik-romantik atau lainnya menjadi buta sejarah.

Demikianlah bagaimana ungkapan “memahami kontemporalitas kelas” bermakna sebagai usaha untuk memahami keterjalinan antara “apa yang pernah dulu ada”, “apa yang kini ada”, dan satu lagi, “apa yang terus ada sampai masa kini”. Tiga dimensi ini menunjukkan berturut-turut: partikularitas, spesifisitas, dan singularitas. Ada yang hilang!—mana universalitas kalau begitu? Universalitas tidak lain dan tidak bukan berada dalam kenyataan peristiwa kehadiran suatu ikhwal di momen yang sekarang (the now), yang merupakan muara pertemuan (konvergensi) partikularitas, spesifisitas, dan singularitasnya. Dan konsep “kontemporer” adalah salah satu (atau satu-satunya?) cara untuk sampai ke yang sekarang tersebut. Dengan penjelasan ini, maka harapannya makin tercapai pula tujuan selundupan saya lainnya, yaitu untuk mengedepankan cara tertentu dalam melihat “kelas”, yaitu secara kontemporer.

Namun, setidaknya janji saya di awal tentang tujuan tulisan ini sudah terpenuhi, yaitu untuk menunjukkan betapa istilah “begadang” dan “malam minggu” adalah manifestasi ideologis pengorganisasian hidup khas kapitalisme kontemporer/pasca-Fordis par excellence!


[1] “Pekerja rutin” sengaja dipilih untuk menghindari “pekerja tetap” yang lebih menekankan pada status legalnya. Poin pembahasan mengenai bentuk kerja di sini adalah pekerja yang memiliki rutinitas, dan terutama yang terstruktur di seputar jam kerja nine-to-five.


Hizkia Yosie Polimpung

Peneliti dan penulis; sedang melakukan penelitian mengenai “Drama Kehidupan Pekerja Imaterial di Era Feminisasi Ekonomi” di Unit Noctua Co-Studio: Artisan, DIY & Literati, di Koperasi Riset Purusha.

 


comments powered by Disqus