Saya adalah Monumen: Pengantar Karya Irwan Ahmett Spatial History

Ilustrasi-LKIP-Mei---Pengantar

SEBAGAI ANAK YANG LAHIR pada pertengahan 90-an, ingatan saya semasa Orde Baru adalah televisi yang menampilkan video klip Trio Kwek-Kwek, maraton kartun pada hari Minggu, dan selebihnya bermain. Lalu tahun 2000-an, ketika saya duduk di bangku sekolah, dalam mata pelajaran sejarah kami disodori narasi-narasi perjuangan para pahlawan. Oh, Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun. Oh, tahun 1945 Soekarno dan Moh. Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Oh, Soekarno digantikan oleh Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia pada 1965 lewat Supersemar. Hafal itu dan ujian sejarah akan dapat nilai bagus.

Pada masa itu pun saya dan teman-teman sekolah juga sempat mengunjungi museum-museum sejarah perjuangan Indonesia. Melintasi Jakarta, kami melihat monumen-monumen heroik yang menandai berbagai peristiwa bersejarah, dari proklamasi hingga G30S PKI. Oh, yang waktu itu diceritakan di buku ini, loh, tempatnya. Oh, mari kita berfoto di depan monumen ini, teman-teman, patungnya mirip sekali dengan orangnya, tinggi dan megah.

Dalam beberapa tahun terakhir ketika saya duduk di bangku kuliah, kumpulan pengetahuan saya itu mulai diganggu. Muncullah filem The Act of Killing dari sutradara Joshua Oppenheimer. Wah, ternyata korban-korban PKI diperlakukan seperti itu. Ajakan mengikuti diskusi-diskusi mengenai sisi lain tragedi 1965 mulai masuk ke dalam lingkaran pergaulan saya. Pameran-pameran seni rupa yang saya datangi dalam beberapa tahun terakhir pun beberapa di antaranya menampilkan karya yang mengangkat tema tragedi 1965. Patung-patung dengan tangan teracung. Lukisan-lukisan suram.

Setahun yang lalu, saya mendapat undangan untuk menghadiri presentasi Irwan Ahmett di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, yang dijuduli Spatial History. Dalam undangan disebutkan bahwa presentasi ini mengangkat isu Supersemar. Format undangannya mirip dengan citra Supersemar yang tersebar di Internet ataupun di buku pelajaran sejarah saya dulu. Presentasi tersebut juga diselenggarakan pada tanggal 11 Maret, tepat 49 tahun setelah surat tersebut diterbitkan. Waduh, pikir saya, ternyata bukan seniman-seniman tua lagi, Irwan Ahmett, seniman muda yang sebelumnya saya tahu bekerja dengan metode konseptual, partisipatif, dan pelibatan ruang publik juga akhirnya menyinggung isu 1965. Mau diapakan saya nanti, ya, kira-kira?

Saya pulang dari acara tersebut dengan menyadari bahwa saya telah menjadi bagian dari Non-Existent Monument of Supersemar. Berikut dokumentasi dari presentasi tersebut:


comments powered by Disqus