Edisi XXXIX/2016

Daftar Isi:

Di Bawah Tempurung yang Terbayang: Logika dan Jejak Bangsa, Ke-Bangsa-An, serta Nasionalisme

Tentang Waktu Tak Produktif dalam Kapital[1]

Memento Dari Pulau ‘Purgatorio’

Vittoria dan Narasi Tunggal Orde Baru Tentang Timor Leste

 

KAMI mengakui bahwa tema edisi kali ini datang sangat terlambat. Sudah lebih 4 bulan Benedict Anderson, atau akrab dipanggil dengan Om Ben, wafat meninggalkan kita. Sudah berpuluh obituari, baik nasional maupun internasional, yang ditulis atas namanya. Walau begitu, kami tetap melihat ada signifikansi yang lain mengapa nama Om Ben tetap perlu untuk diperingati. Yang kami maksud tentu saja adalah artikulasi ilmu sosial yang secara eksplisit memahami sejarah sebagai pergumulan manusia yang hendak mengubah sejarah itu sendiri. Alih-alih mnegkonstruksikan sejarah sebagai arenanya orang-orang besar, Om Ben memberikan perhatian yang sangat luas dan terperinci pada peranan orang-orang kecil dan terpinggirkan dalam sejarah kemanusiaan.

Terlepas dari kentalnya belokan Weberian (weberian turn) yang ditempuh oleh Om Ben untuk memperkuat nuansa ini, orientasi serta komitmen pengetahuan yang dibangun oleh Om Ben penting untuk diingat serta dilanjutkan kembali. Bagi kami, tentu saja ada yang politis di balik artikulasi pengetahuan seperti ini: bahwasanya mereka yang selalu terpinggirkan dalam narasi arus utama sejarah memiliki kapasitas untuk mengubah dan membangun sejarah itu sendiri. Dengan kata lain, sejarah yang sepenuhnya berada ditangan orang-orang biasa yang harus menjawab kontradiksi nyata sekaligus langsung didepan mata kepalanya sendiri.

Refleksi atas warisan modus berpengetahuan Om Ben menjadi krusial. Ketika kita, gerakan kiri Indonesia, merasa tidak berdaya maka sejarah sudah selalu menegasikan kesimpulan tersebut. Pada dasarnya Om Ben hendak mengafirmasi kenyataan yang teramat terang tentang sejarah itu sendiri. Sejarah manusia adalah tentang konflik; tentang pertarungan. Dalam pertarungan selalu mensyaratkan ruang. Dan dalam ruang kita akan selalu melihat adanya kemungkinan, suatu kesempatan dimana arah sejarah bisa bergerak secara berbeda. Oleh karenanya, bagi Om Ben, keberadaan sejarah justru membuktikan bahwa aspirasi umum gerakan Kiri berpotensi besar untuk dimenangkan.

Dalam hal ini optimisme adalah keharusan. Nalar dan rasio yang dimiliki harus dioptimalisasi sedemikian rupa untuk merealisasikan optimisme yang ada. Oleh karenanya, setiap momen harus dilihat sebagai pertarungan yang mana kepastian mengenai siapa yang kalah atau menang akan sangat ditentukan pada bagaimana pertarungan tersebut dilakukan.

Sekarang ini kita menemukan perilaku agresif rezim politik yang berkuasa sekarang lewat maraknya kriminalisasi atas aktivis gerakan rakyat, mudahnya pelarangan acara di ruang publik yang melawan warisan serta propaganda Orde Baru, sampai dengan masih belum hilangnya kasus penggusuran dan perampasan ruang hidup di desa dan kota. Banyak serangan agresif ini harus kita lihat sebagai momen pertarungan terbuka yang mana hasil akhir akan ditentukan oleh kecerdikan kita untuk melancarkan pertarungan itu sendiri. Di sinilah kita perlu menjadi lebih strategis menyikapi momen pertarungan yang ada.

Bersemangatkan pada pertarungan jangka panjang dalam memastikan kemenangan sejati rakyat pekerja Indonesia, LBR kembali hadir dalam rangka memperingati warisan Om Ben. Pada edisi kali ini kami menghadirkan empat ulasan buku. Ulasan pertama dan utama hadir dari Mitrardi Sangkoyo yang membahas buku Ben Anderson, Imagined Communities. Ulasan kedua datang dari Muhammad Al-Fayyadl yang mengedepankan problem Waktu Kerja Tak Produktif yang diulas Marx dalam Kapital. Ketiga, kita punya ulasan dari Budi Irawanto. Dosen UGM ini membahas buku Hersri Setiawan, Memoar Pulau Buru I. Terakhir, ada ulasan novel Vittoria Helena’s Brown Box dari Ivo Mateus Goncalves.

Selamat membaca… a lutta continua!


comments powered by Disqus