Puisi-Puisi Moh. Faiz Maulana

Negeri Komisi

 

di negeri komisi

politisi tak perlu korupsi

kop-kop sakti instansi

sudah siap memberi komisi

 

polisi dan akademisi

tak perlu repot cari amunisi

bingung plagiasi

atau cegah sana-sini

atas nama operasi

 

amplop-amplop berjejer rapi

tinggal tunggu petisi

kantong kosong

penuh terisi

 

di negeri komisi

korupsi harga mati!

 

2015

 

Bila

 

bila dengan pekik Tuhan

kau mampu temukan kebenaran

maka dengan sujud mana lagi

harus aku dzikirkan tasbih

 

bila dengan berjenggot

mampu menjadikanmu mulia

maka dengan tobat macam apa

harus aku aduhkan dosa

 

bila dengan jubahmu

kau mampu dapatkan surga

maka dengan akhlak yang mana

harus aku tutupi dosa

 

bila hanya dengan tanda

maka akan kau temukan

segala yang sia-sia!

 

2015

 

Pesta di Istana

 

tiga puluh empat

karangan bunga

berjajar rapat

di depan istana

 

tidak ada yang berduka

tidak ada deru air mata

bunga-bunga adalah tanda jadi

dari proyek yang dinanti jauh hari

 

rasa syukur, puas, bahagia

salam, jabat tangan, harapan

adalah dusta

dari sisa kemenangan

yang berharap kekuasaan

dari kemuliaan

yang berbuah keprihatinan

 

bagaimanapun

pesta akhirnya usai

kebahagiaan harus selesai

 

apa yang tersisa dari pesta

selain anggur, dansa dan wanita?

mungkin angka-angka

yang terus melambung di kepala

bukankah kau tahu

pesta besar ini sekadar opera?

 

kenapa mesti harus percaya

padahal janji tak pernah ditepati

-ada yang tertawa

pura-pura lupa bahwa

ia sekadar aktor yang hina.

betapa rapuh dan lemah

manusia serupa air mata

 

tiga puluh empat

karangan bunga

berjajar rapat

di depan istana
2015


*Moh. Faiz Maulana, lahir di Lamongan, 7 Desember 1990, pegiat di Komunitas Omah Aksoro Jakarta, buku puisi pertamanya berjudul Payung Hitam; 2014 (P3SN).


comments powered by Disqus