LKIP Edisi 29

COVER_LKIP-01

KRITIK – Batu Akik, Sangkakala Krisis Ekonomi
KARYA – Puisi-Puisi Moh. Faiz Maulana
KLIPING – Kumpulan Editorial Harian “API”
CATATAN KAWAN – Membuka Tabir Buku Sejarah Kita

BULAN SEPTEMBER identik dengan upaya menolak lupa. Menolak lupa akan peristiwa yang sesungguhnya terjadi pada malam 30 September 1965 dan rangkaian peristiwa yang terjadi setelahnya, menolak lupa akan kematian Munir dan kebenaran yang ditutupi, dan juga menolak lupa akan peristiwa Semanggi II yang hingga kini tidak diungkap sepenuhnya.

Yang teranyar, dalam transisi menuju Oktober, kita juga diingatkan kembali bahwa selain menolak lupa, menolak bungkam adalah keharusan di negeri ini. Salim Kancil telah melakukannya dan membayar mahal. Melihat apa yang mendiang upayakan di Lumajang sana, upaya menerbitkan LKIP secara konsisten dan tepat waktu tiba-tiba terasa amat remeh.

Sebenarnya, awak LKIP tiap bulan berusaha menolak lupa. Lupa bahwa rubrik ini harus terbit tepat waktu. Entah itu September atau April, November atau Juni, pada akhirnya kami hanya pasrah menatap tanggalan dan bertanya-tanya kapan LKIP harus terbit sembari menyiapkan jawaban kala ditanya perihal keterlambatan tersebut.

September ini kami memilih untuk berpaling pada alasan kreativitas. Karena kreativitas tidak bisa diprogram layaknya mencetak kuitansi, buku Yasin atau undangan pernikahan, maka wajar jika ada keterlambatan. Menurut kami, penundaan bulan ini masih tergolong manusiawi, apalagi jika manusia yang kita bicarakan lahir dan besar di Indonesia. Bukan berarti kami percaya pada mitos manusia kolonial yang malas dan tak mengenal disiplin, tetapi kerja kreatif selayaknya dihargai dengan keluwesan dalam menilai waktu. Mungkin itu jawaban paling pretensius yang bisa kami berikan.

Alih-alih menjadi kewajiban, LKIP sebenarnya berpegang pada prinsip kurasi. Terbit atau tidak bukan perkara mengejar tenggat, melainkan ketersediaan bahan yang sesuai dengan kriteria tim editor untuk dipublikasikan. Setelah lama berembug, LKIP edisi ini menampilkan beragam karya yang masing-masing mengandung nilai lebih.

Di rubrik Catatan Kawan misalnya, Arif Saifuddin Yudistira mengingatkan kita bahwa buku teks di sekolah tidak bisa dilihat terlepas dari masalah klasik: penguasa dan kepentingan mereka dalam mereka ulang sejarah. Guru madrasah di Solo ini mempertanyakan kembali muatan buku sejarah kita dalam memotret peristiwa G 30 S. Meski bukan topik yang paling baru, ada baiknya kita tidak pernah lelah membahasnya. Setelah kita baca catatan Arif, pembahasan pun dapat dikerucutkan pada satu aspek: Mari menuntut pemerintah untuk merevisi buku teks sejarah dengan berbagai narasinya yang keliru.

Sementara itu, rubrik Apresiasi Karya dihiasi oleh beragam puisi milik Muhammad Faiz Maulana. Tepatnya, ada tiga buah puisi yang membumikan kembali euforia kita akan pemerintahan yang “baru”, yang sejauh ini masih juga terbelenggu oleh masalah mafia dan komisi. Faiz, pegiat Komunitas Omah Aksoro di Jakarta, menyampaikan kritiknya melalui puisi dan, kami rasa, layak untuk dibaca oleh siapa pun.  

Saat Rupiah melemah, spekulan biasanya sumringah. Sebagian besar spekulan tersebut tidak hanya berdagang valuta asing, tetapi apa saja yang pada kurun waktu tertentu memiliki nilai jual tinggi dan sedang diminati oleh pasar, meskipun risiko yang ditanggung juga tidak kecil—sekalipun komoditas yang diperjualbelikan tidak masuk akal dan, di mata kami, sama sekali tidak menarik. Maka apa lagi yang bisa kami katakan jika ternyata batu akik bisa membuat para spekulan tersebut memperoleh penghasilan berkali-kali lipat dibandingkan mereka yang hanya bisa berharap pada UMR.

Namun, fenomena batu akik tidak lagi asing dan mengherankan jika kita memahami teori konsumsi dan kaitannya dengan kapitalisme. Esai “Batu Akik, Sangkakala Krisis Ekonomi” akan membantu mendudukkan perkara ini. Tulisan ini bukan merupakan ajakan untuk menolak jual-beli batu akik, tetapi untuk memahami bagaimana komoditas yang ganjil seperti tanaman hias, ikan hias, dan gemstone bisa menjadi primadona bagi para pedagang dan spekulan dalam satu dekade terakhir. Bisa dipastikan, batu akik pun tidak akan menjadi mainan terakhir para spekulan. Membaca esai tersebut membuat kami lebih paham, dan tetap menolak mengenakan batu giok di ujung jari.

Pada rubrik Kliping kami menurunkan sebuah majalah yang terbit lima puluh tahun silam. Beragam tulisan yang bukan hal baru untuk kita saat ini menyeruak dalam terbitan tersebut. Tentu saja, sebagaimana yang tertera pada sampulnya “mengganyang nekolim PKI Gestapu”, isi terbitan ini semata-mata memaki-maki PKI dan antek-antek komunis atas peristiwa G 30 S. Kami sengaja menurunkan terbitan ini untuk mencoba membaui suasana kala itu.

Bulan ini kami puasa mixtape. Hal ini tidak berarti bahwa kami seterusnya meniadakan kompilasi nada-nada sumbang. Sebaliknya, ke depan, LKIP mengundang pembaca untuk menyumbang kompilasi tembang dengan topik-topik tertentu alias menyusun sebuah mixtape yang sarat pesan. Melalui proses kurasi yang ketat, tentu. Dan juga, pesan dari mixtape tersebut sebaiknya dialamatkan kepada publik atau pribadi tertentu, semisal mendiang Munir—bukan pribadi yang sukar dilupakan bagi Anda seorang. Nah, ingatkan kami pula jika bulan depan belum berhasil menerbitkan mixtape yang mumpuni dan sesuai janji-janji di atas.


comments powered by Disqus