Warisan Sebuah Rezim: Citra Kultur Media dan Persepsi

Ruang Pamer dan Crowd (2)

PADA PERTENGAHAN hingga akhir Juni lalu, scene seni rupa Jakarta dimeriahkan oleh festival seni media. Festival ini adalah citraan baru dari OK. Video yang menginjak kali ketujuh penyelenggaraannya. Sebagaimana penyelenggaraan-penyelenggaraan sebelumnya, OK. Video mengambil tempat di Galeri Nasional Indonesia. Berbeda dengan perhelatan OK. Video sebelumnya, yang mana karya-karya yang ditampilkan adalah karya video, kali ini yang ditampilkan adalah karya-karya dengan beragam media penyampaian. Sebuah langkah berani yang beragenda kompleks.

Relevansi Latar Sejarah

Galeri Nasional Indonesia (1)

Annette Jael Lehmann, profesor Budaya Visual pada Departemen Filsafat dan Humaniora di Freie Universität Berlin melemparkan sebuah pembacaan menarik mengenai kemunculan video art dalam eseinya Gesellscahft/Politik: Medienkritische Positionen Remakes und Revisionen[1]. Kemunculan video art pada era 1960-an tidak hanya dilatari oleh inovasi teknologi kamera video. Setidaknya, video art juga berkembang dalam dua pengaruh utama: pertama gerakan seni kontemporer, seperti performans, seni konseptual; kedua video art dapat menjadi respons kritis terhadap kemapanan media massa (televisi) dan film.[i] Respons dari video art ini dapat diintepretasikan bagai membangun konteks artistik yang baru, khususnya, mengganti poros hubungan pemancar-penerima, yang kerap menempatkan penonton sebagai pihak yang pasif dan rentan terhadap manipulasi. Bisa dilihat bahwa sikap ini menunjukkan keberpihakan seniman kepada masyarakat, karena menempatkan dirinya sebagai penonton.

 

Pada era itu pop art juga sedang berkembang dengan pesat. Dedengkot pop art seperti Andy Warhol, Jasper Johns, dan Roy Lichtenstein menggunakan citraan-citraan yang dapat dikonsumsi secara luas oleh masyarakat dalam karya-karya pop art mereka. Dalam karya-karyanya, seniman-seniman tersebut menggunakan citra-citra yang berorientasi pada langgam yang lekat dengan komik, iklan, foto pada suratkabar, atau majalah. Dengan ini, karya-karya mereka menarik perhatian masyarakat secara luas dengan mudah, sekaligus merespons secara menyenangkan —jika mengkritik menjadi diksi yang terlalu lugas—budaya populer Amerika Serikat saat itu. Objek yang mereka angkat pun tak jauh dari keseharian, seperti barang-barang konsumsi dan pengaruh media massa. Warna-warni yang cerah serta mekanisme produksi yang diadaptasi pop art dari sektor komersial menjadi kosarupa yang populer dan terkesan kitsch. Pada perkembangannya, kitsch dimaknai sebagai selera atau preferensi yang kurang oke, udik, atau sentimental. Tentu saja pembedaan ini berangkat pertama-tama dari pembedaan antara seni rendah dan seni tinggi. Padahal, pada karya-karya beraroma kitsch tersebut sangatlah sarat potensi ironi, lelucon, sampai kritik.

 

Jika sebelum Perang Dunia II kiblat seni adalah Prancis, Jerman—katakanlah Eropa Daratan—era 1960-an juga ditandai dengan pergeseran kiblat itu ke Amerika Serikat. Institusi-institusi seni yang menjaga pembedaan antara seni tinggi dan seni rendah pun masih sangat mapan kala itu. Tindakan  memadankan seni tinggi dengan kebudayaan populer dengan demikian masihlah sangat tabu. Inilah yang coba didobrak seniman pop art.

 

Roy Lichtenstein, Andy Warhol, dkk berusaha menyandingkan kedua genre di atas. Karya-karya keduanya menantang batas-batas tradisional antarmedia; menggabungkan fotografi dengan percikan cat, benda temuan produksi massal dengan objek unik buatan tangan; menambahkan teks, distorsi, dan sebagainya sehingga menciptakan makna baru. Simak karya kolase Richard Hamilton, Just What Is It That Makes Today’s Homes So Different, So Appealing? (1956) yang cukup sering dijadikan contoh. Pada karya ini, Richrad Hamilton menyoroti ironisnya gaya hidup masyarakat yang dibentuk melalui citraan media massa.

 

Pop Art tidak lepas dari konteks sosio-historis secara umum pada masanya. Kondisi global pasca Perang Dunia II yang diwarnai ketegangan dan letupan hasil Perang Dingin, seperti Perang Vietnam, dan perjuangan mencapai kesetaraan sosial dan edukasi dalam Civil Rights Movements sangat kental mempengaruhi geliat pop art. Masa-masa itu jugalah yang sedikit-banyak melatari pemilihan tema festival OK. Video pada perhelaan ketujuhnya ini, yaitu Orde Baru. Orde Baru bagi kita di Indonesia tentu saja adalah masa ketika Soeharto berkuasa. Kemunculan Orde Baru yang juga dengan sendirinya pergantian kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto sangat kental dipengaruhi oleh situasi global tersebut di atas.

 

Pengantar festival menyatakan bahwa Orde Baru dipilih lantaran adanya keresahan bahwa kita di Indonesia saat ini adalah produk Orde Baru.[ii] Warisan seperti bahasa, pemanfaatan teknologi, interaksi sosial yang terakumulasi selama tiga dasawarsa lebih ternyata masih digunakan masyarakat praktisnya untuk berkehidupan. Tampak ada kesan kerinduan bahwa suasana represif dan kontrol yang membelenggu bagai selubung malah membuat masyarakat menjadi aktif bersiasat. Sedangkan pada era setelahnya, masa di mana kebebasan berpendapat, toleransi, dan pembaruan menjadi ruh yang menggerakkan malah membuat pijar perlawanan tersebut menjadi jinak, hangat-hangat tahi ayam saja. Festival seni media dengan kekiniannya ini mengambil moment 50 tahun 1965 untuk menyentil ingatan kita mengenai rezim Orde Baru dan bagaimana peristiwa tersebut disampaikan pada eranya. Pada titik ini tak urung saya bertanya, apakah memang dengung Orde Baru masih sangkil bagi generasi berikutnya, muda-mudi berusia produktif, yang mungkin saja perlu berupaya lebih untuk mengakses informasi mengenai hal ihwal Orde Baru? Atau jangan-jangan relevansinya masih berkisar pada kepentingan atau kebutuhan yang tersegmentasi saja? Meskipun tentu saya bisa melihat OK. Video kali ini sebagai cara mengingat—dalam pengertian memori kolektif—yang berbeda akan masa lalu.

Ekspansi Seniman Media

Salah satu bidikan festival ini adalah mengekspos perspektif baru, yakni peluang bagi masyarakat agar lebih kritis membangun persepsinya secara mandiri. Eksekusi media yang ditampilkan para seniman sungguh bineka. Rasanya upaya OK. Video untuk mengubah citranya dari seni video menjadi wadah bagi seni-seni media disambut manis oleh para seniman. Bila pada festival sebelumnya pengunjung seperti maraton menonton (video atau instalasi video), kali ini instalasi foto dan teks, pertunjukan multimedia, rekayasa digital, sound art, seni interaktif, bahkan seni berbasis media massa dan transmisi televisi turut memperkaya festival ini. Pilihan ini juga menjadi jembatan yang mengena bagi pengunjung yang sehari-hari menggunakan teknologi media dan gawai karena bahasa-bahasa simbolis yang digunakan seniman adalah konsumsi sehari-hari masyarakat kita.

IMG_3921

Festival dengan cita rasa biennale ini diikuti oleh 73 seniman, jumlah yang masuk akal bagi perhelatan internasional. Seniman asal Indonesia tentu saja mendominasi, yaitu berjumlah 52. Beberapa nama sering kita dengar melalui pameran seni kontemporer seperti Krisna Murti, Mella Jaarsma, Hafiz Rancajale, Ade Darmawan, atau Arahmaiani. Ada juga Irwan Ahmett yang dikenal dengan pengolahan arsip dan penggalian memori kolektif mengenai Supersemar yang membawa seni konseptual menjadi pertunjukan yang teatrikal. Eksekusi karya Krisgatha Achmad yang bermain dengan logika bebunyian dan stimulasi pencahayaan juga menarik untuk disimak. Instalasi tersebut tidak dapat dinikmati dengan mudah atau secara sambil lalu karena menyimpan pemaknaan yang berlapis atas benda keseharian. Selain individu, kolaborasi atau kolektif seniman seperti Irama Nusantara, The Secret Agent, Jakarta Wasted Artists, Lab Laba Laba, Sidang Imajinasi, Forum Lenteng, Halaman Papua, Klub Karya Bulu Tangkis, dan Cut and Rescue juga meramaikan OK. Video. Banyak dari seniman tersebut yang bermain dengan arsip dan menggali makna baru yang lebih aktual.

Akses internet pada media massa eletronik disasar Fluxcup dan Reza Mustar sebagai ruang presentasi. Alih-alih menjadi keberadaan yang eksklusif, karya mereka justru terlihat lebih dekat dengan masyarakat. Karya Henry Foundation (2010) atau Bagasworo Aryaningtyas (2006) merupakan karya lawas namun masih santer bertalian dengan tema. Marishka Soekarna adalah satu-satunya yang menyorot peran ibu dalam Orde Baru. Sementara, pertunjukan multimedia dari AStoneA, bequiet, Brisik, atau PM Toh menantang pengunjung untuk menikmatinya tidak hanya sebagai pertunjukan musik atau teater dengan poin plus, tetapi tontonan yang auratik. Meski tidak dapat disangkal, kedekatan apresiasi itu mayoritas datang dari para penggemarnya yang spesifik.

Perhatikan pula bagaimana karya-karya tersebut dipresentasikan dan disandingkan satu dengan yang lain. Ruang pamer yang terbagi menjadi tiga lokasi diaransemen agar memiliki korelasi dan tidak sungsang. Ruang pamer Gedung C misalnya, paling cair dalam menampilkan kebinekaan tersebut, baik secara konten maupun media. Ada satu dua karya yang lebih syahdu bila ditampilkan dengan proyeksi ketimbang pada layar datar sekian belas inci, meskipun sama-sama berformat video.

Repetisi memori

Mereka yang memiliki waktu leluasa untuk menonton satu persatu karya atau lebih dari sekali tentunya dapat menangkap beberapa hal yang khas era Orde Baru seperti potongan program-program TVRI, pembangunan infrastruktur, sensor informasi, represi, militer, dan sejenisnya. Secara visual hal-hal itu muncul tanpa kecenderungan pola tertentu, tapi berulang pada beberapa karya lintas generasi. Dengan demikian memori kolektif akan peran media massa saat itu dalam membentuk opini masih menunjukkan jejaknya, meskipun seniman kita telah memiliki kecakapan memaknai kembali era digital dan kemutakhiran teknologi.

Sejak kemunculannya pada 1960-an, selain menyasar pada unsur formal gambar bergerak dan karakter mekanik, seniman seperti Nam June Paik atau Dara Birnbaum menggunakan video art dengan pendekatan yang lebih politis, tanpa meninggalkan porsi artistik[iii]. Dengan kata lain, mereka bertindak untuk merepresentasikan fenomena sosial, peristiwa sejarah, atau konflik politik. Perihal estetik tidak kemudian dilihat secara intrinsik sebagai aktivitas politik saja, tetapi juga sebagai sesuatu yang memiliki hubungan dekat dengan tema-tema di atas karena memiliki misi sebagai pemenuh fungsi kritis. Kebijakan politik, komitmen/sikap, dan ide-ide mendasar mengenai kebebasan, kekuasaan, keadilan, persamaan hak menjadi karakter atau ciri khas yang menyertai. Lebih lanjut, ide-ide tersebut oleh para seniman berusaha didedah lewat adaptasi atau pemaknaan kembali penggunaan citraan dalam media massa, termasuk stereotip atau ke-klise-an, melalui video art (yang paling banyak praktiknya) secara lebih kontekstual. Ada refleksi dan koreksi yang dilakukan pada pola representasi dan bagaimana kita mempersepsinya.

Bersama dengan pembaruan citraan dan pilihan artistik yang makin peka pada perkembangan kultur media, OK. Video kali ini memiliki banyak kemungkinan untuk dikembangkan pada penyelenggaraan berikutnya.


*Maria Josephina Bengan adalah lulusan FSRD ITB, suka menulis mengenai seni rupa dan mengamati pola konsumsi orang-orang di sekitarnya.

**Tentang ORDE BARU OK. Video lebih lanjut bisa dilihat di http://okvideofestival.org/web/id/


[i] Annette Jael Lehmann, “Gesellscahft/Politik: Medienkritische Positionen Remakes und Revisionen”, Kunst und Neue Medien: ästhetische Paradigmen seit den sechziger Jahren, hal. 111-151. Stuttgart: UTB. 2008.

[ii] Dapat diakses melalui tautan http://okvideofestival.org/web/id/festival/orde-baru-ok-video/pernyataan/

[iii] Isu lintas budaya dan geografis diangkat Nam June Paik dalam Global Groove (1973), diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=GWhpH_w77fk pada 17 Juli 2015. Idenya adalah merakit siaran televisi mingguan yang menampilkan musik dan tarian dari berbagai bangsa dan disebarkan dalam sebuah bursa video yang dapat diakses penonton dari belahan bumi manapun. Sementara Dara Birnbaum pada karya Technology/Transformation: Wonder Woman (1978), diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=k6xZOUXNyQg pada 17 Juli 2015, yang mengambil ikonografi dari tokoh pahlawan super Wonder Woman, yang dengan pretensius memperlambat dan mengulang-ulang adegan. Kedua karya ini menggunakan materi video found footage. Tanpa mengurangi kedalaman konteks, secara garis besar keduanya juga berbicara mengenai manipulasi dan usaha untuk ‘berbicara balik‘ kepada media (dalam hal ini televisi).

 


 


comments powered by Disqus