#VisualGusuran: Yang Subur Setelah Digusur

Merahnya marah (1)

BARANGKALI BENAR apa yang dikatakan Seno Gumira Ajidarma. Katanya, homo Jakartensis hidupnya habis dimakan rasa takut atawa fobia. Nah, fobianya ini bisa macam-macam, dari yang takut terlambat masuk kantor, takut kena tegur atasan, takut di-PHK, tak dikomploti, takut ditipu pembantu hingga takut menderita dan takut tidak dihargai.

Pendapat Seno tentang paranoia Homo Jakartensis ini disuguhkan dalam sebuah artikel hampir 12 tahun yang lalu.[i] Saya berandai-andai jika beliau menulis ulang artikelnya setidaknya 2 – 3 bulan ke belakang, bisa jadi beliau bakal memasukkan ketakutan-ketakutan warga jakarta yang lebih up-to-date misalnya takut gagal balikan, takut tak bisa sering travelling, takut tak beli properti atau malah takut digusur justru gara-gara pembangunan properti.

Saya sudah tinggal di bilangan Gandaria, Jakarta Selatan, hampir tiga tahun lamanya. Niatnya suci lagi tulus: tinggal dekat tempat kerja biar bisa masuk kantor selow dan pulang kantor tanpa harus mengambil dosis macet harian. Imbasnya, saya bebas dari beberapa jenis fobia yang disebut di atas. Namun, itu berubah semenjak negara api menyerang sebuah apartemen kelas atas dibangun tepat sepuluh meter dari kamar saya. Tiba-tiba saja, berhembus desas-desus rencana penggusuran yang lebih luas. Kosan saya konon bisa kena gusur. Walhasil,  saya mengidap fobia khas Jakarta: takut kena gusuran.

Sebagai penyewa kamar, saya sejatinya tak akan merasakan dampak gusuran secara langsung. Saya cuma kecipratan dampak turunannya; saya bakal kerepotan mencari kosan dengan harga miring di lokasi strategis. Bandingkan dengan induk semang saya: Ia dan keluarganya harus angkat kaki dari Gandaria untuk kembali memulai hidup – seperti korban gusuran lainnya – di wilayah sub-urban sekitar Jakarta. Bagaimana dengan Jakarta? Oh, Jakarta bolehnya punya kaum elit dan kaya saja.

Skenario di atas – kalaupun sampai terjadi – sebetulnya termasuk masih lumayan okay. Narasinya bebas dari sengketa tanah dan permainan harga tanah. Malangnya, yang terakhir ini justru terjadi pada penduduk yang rumahnya kena gusuran duluan, bulan Juni kemarin. Selidik punya selidik, ada kongkalikong permainan harga tanah. Akibatnya, pemilik rumah hanya menerima ganti rugi 50% dari harga yang seharusnya. Sisanya dibawa lari kabur pejabat RT/RW setempat.

Tentunya, jika korban hendak mengikuti logika kelas menengah Jakarta, persengketaan macam ini bakal diselesaikan lewat jalur petisi online atau postingan yang dibuat seviral mungkin. Masalahnya, saya tak yakin mereka yang dulu tinggal di situ – penduduk setempat hingga beberapa pendatang yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima –  percaya ampuhnya advokasi lewat media sosial atau petisi online.

Tenang, saya sama sekali tidak sedang merendahkan kemampuan para korban dalam memanfaatkan jejaring internet. Hanya, saya duga mereka lebih suka mengekspresikan betapa gemasnya mereka pada oknum RT/RW yang mempecundangi mereka dengan cara lebih raw, primitif lagi direct. Alih-alih membuat fanpage guna menggalang dukungan, mereka mencoret-coret bekas tembok ruang tamu, pagar, dan mungkin kamar mereka dengan cacian dan kutukan.

Mengingat kasus-kasus seperti ini biasanya dilupakan begitu saja, mencoret-coret dinding memang cuma jadi katarsis. Namun, setidaknya amarah mereka sempat diwartakan walau sejenak. Pun, cara ini hemat waktu, terutama ketika hidup baru dan segala tetek bengeknya sudah menunggu dimulai di – biasanya – pinggiran Jakarta!

Ngomong-ngomong tentang kesejenakan umurnya , “karya seni” warga setempat ini barangkali sudah hancur atau ditutup bedeng dan pagar sementara. Beruntung beberapa di antaranya pernah saya abadikan dengan kamera telepon pintar. Menariknya, coretan-coretan yang terekam tak melulu berisi protes, kekesalan, atau kemarahan. Ada corat-coret gambar tokoh animasi anak-anak, penanda kuburan keramat hingga curhatan absurd pada bekas dinding sebuah kamar.

Nah, gara-gara rupa-rupa tema aktivitas visual di daerah gusuran sebelah kosan ini, saya mendadak punya ide cemerlang untuk mengarsipkannya dalam sebuah proyek bernama #VisualGusuran. Dugaan saya, proyek ini bakal berkembang dengan pesat. Malah, jangan-jangan, proyek pengarsipan aktivitas visual warga kesohor macam visualjalanan.org pun bisa disalip dalam waktu singkat.

Alasannya tentu Bung dan Nona sudah tahu: apartemen, hotel dan mal sedang tumbuh subur di sana-sini, persis seperti kios kikir batu akik!


 

[i] “Paranoia”, Djakarta!, no. 27, Januari 2003/2004.


 

Merahnya Marah
Merahnya Marah
Mereka tak butuh 140 karakter. Mereka cuma butuh 4 ruas dinding dan 1 sketsa minimalis sang pembuat onar.
Mereka tak butuh 140 karakter. Mereka cuma butuh 4 ruas dinding dan 1 sketsa minimalis sang pembuat onar.
Foto musuh bersama, kasar dan seadanya!
Kakashi Hatake dan Tantangan Tawuran yang terselebung
Kakashi Hatake dan Tantangan Tawuran yang terselebung
Curhat absurd di dinding kamar. Tak selesai dan tak berobjek.
Curhat absurd di dinding kamar. Tak selesai dan tak berobjek.
Dulu makamnya ada di bawah pohon itu. Dulu! Kata Ibu yang melihat saya mengabadikan penanda makan ini.
Dulu makamnya ada di bawah pohon itu. Dulu! Kata Ibu yang melihat saya mengabadikan penanda makan ini.

 


comments powered by Disqus