Tuyul: Sang Pembebas dari Kekangan Modal

cover

BLAIK, KOK CUMA target segini bulan September, Wan?” ucap Pak Kartomo. Matanya terbelalak. “Ehh, kok blaik, astaghfirullah maksudku, Wan. Maaf ya, aku lupa kalau kita bekerja di Bank Syariah.”

“Ini mau kau jawab apa, Wan?” Ia bertanya lagi.

Lha, bapak mau tahu jawaban saya? Walaupun nggak masuk akal? Sungguh?” jawab Marwan sembari mendongakkan kepalanya yang sedari tadi tertunduk.

*

Tanggal satu malah jadi tanggal yang sial bagi Marwan. Bukannya terima gaji bayar kontrakan, dia malah dibonusi dampratan oleh kepala bagiannya. Sambil menutup pintu ruang kepala bagian dia berjalan gontai menuju meja kerjanya.

“Dibilangin bener-bener malah ndak percaya, yo wislah, sak-sakmu,” gerutu Marwan.

Nampaknya dia menggerutu terlalu keras. Hal tersebut didengar Taryo, tetangga duduk Marwan di kantornya. Taryo yang berbadan tambun dan berperut besar sedang duduk santai sambil mengunyah combro ketiganya pagi itu. “Heh, Wan, oe ‘grauk’ opo e ‘grauk grauk’ isu-isu ‘grauk’ upone oyo ono?” tanya Taryo sambil mengunyah.

“Heh, koe ki  ngomong opo, mbok dirampungke sik kuwi le mangan!” jawab Marwan kesal.

“Hahahaha, koe ki rakdong boso wong lemu, Wan,” kata Taryo sembari berdiri dan membersihkan remah combro yang tercecer di celana dan bajunya.

Selepas bersih dia lalu menepuk perutnya yang tambun. Seperti bantal, perut Taryo yang kenyal bergerak-gerak elastis. Taryo menepuk perutnya berirama mengikuti mantra yang dia ucapkan, “Gung liwang liwung, demit ora ndulit, setan ora njamah, sugih sugih sugih.” Taryo kemudian tertawa terbahak sambil mendekati Marwan yang duduk lesu. Dipeganginya Marwan, lalu dicarinya perut Marwan, hendak ditepuk-tepuknya juga perut Marwan sambil baca mantra itu, tapi apa boleh buat, Marwan tak punya perut. Marwan seorang kerempeng. Saat Marwan meronta Taryo terbahak.

*

“Ah, tenane, Wan?” Taryo terbelalak, mulutnya melongo menunjukan sisa tahu isi yang belum tuntas dia kunyah. “Ha, sampeyan juga ndak percaya to, Kang, tapi ini bener-bener terjadi di Desa Kanthongbolong! Aku liat pake mataku sendiri, Kang!” jawab Marwan meyakinkan Taryo. “Mataku po Muatamu, Wan?” Taryo dengan cepat menyambar jawaban Marwan yang segera dia ikuti dengan tawanya yang khas.

Marwan hanya bisa mengelus dada menjadi bulan-bulanan Taryo, dia sudah sangat tahu watak Taryo yang hobinya hanya tertawa sepanjang hari, terutama di tempat kerja. Taryo sebenarnya tidak lebih baik nasibnya daripada Marwan, keduanya sama-sama bekerja menjadi staf marketing alias penjaja hutang di sebuah bank syariah. Namun, berbeda dengan Marwan yang kerap memikirkan apa yang dialaminya, Taryo cenderung acuh. Taryo tidak mau terbebani dengan kerjanya yang dikejar target, belum lagi bonus dampratan dari kepala bagiannya. Dia hanya mau senang dan tidak peduli dengan beban yang sudah membebani tubuhnya yang tambun. Taryo hanya mau hidup dan menganggap kerja adalah bagian dari kewajibannya agar dia dapat uang untuk hidup.

“Jadi gimanaKang? Jadi ikut ndak situ nemenin aku?” tanya Marwan.

Taryo menjawab dengan enteng, “Ha ayo, asal mbok sajeni aku ya, Wan”.

Jadilah mereka berdua bersepakat dan malam ini mereka mulai mengintai Desa Kanthongbolong, desa tempat Marwan menjajakan hutangnya.

*

Sejak Marwan tak bisa memenuhi target hutang yang dibebankan Bank Syariah beberapa bulan belakangan, dia ditugasi oleh kepala cabangnya untuk menyelidiki apa yang menyebabkan hal itu terjadi. Alasan yang tak masuk akal. Alasan yang membuat hidupnya makin rumit dan bruwet. Tuyul! Iya tuyul. Gaib, gundul, gak pake celana, doyan mainan ketam dan bisa diperintah mencari uang. Kepala cabangnya mana percaya sama hal klenik seperti itu, wong dia kerja di bank syariah kok. Kalau misalnya jin yang menyaru jadi ustadz dan mengajarkan baca tulis arab itu baru dia percaya, tapi kalau macam tuyul, pocong, banaspati, gandaruwo, kuntilanak, apalagi lur ketaplek mana percaya dia.

Marwan adalah seorang lulusan S1 sebuah perguruan tinggi negeri kurang terkenal di kotanya. Dia dengan cepat berniat menyusun sebuah makalah yang terstruktur menggunakan metode penelitian yang tepat, guna membuktikan bahwa apa yang dia jadikan alasan adalah sesuatu yang dapat dibuktikannya. Marwan tak perlu dalam-dalam membuka lipatan rongga otaknya, sebab dia masih lulusan segar atau menurut istilah yang tren dalam dunia kerjanya, fresh graduate. Sepulang kerja, Marwan berniat buru-buru pulang ke rumah kontrakannya. Sambil menyambar tas kerjanya dia cuma berpesan kepada Taryo agar tidak lupa nanti malam mereka memiliki perjanjian yang sudah mereka sepakati bersama. Marwan keluar kantor menuju tempat parkir karyawan.

Disusurinya jalan utama kota tempatnya bekerja yang tak pernah mengenal sepi. Pagi-siang-sore-malam jalan itu dirambati sepeda motor dan mobil. Entah apakah jalan itu pernah merasa nyeri atas beratnya beban yang melintas di punggungya, Marwan tidak tahu. Kadang dia ingin bertanya pada jalan itu tapi sayang jalan cuma punya punggung, jalan tak punya mulut buat berkata, pun tak punya tangan untuk menuliskan nyerinya. Begitu setiap hari Marwan pulang, imajinasi-imajinasi lepas dari kepalanya seperti balon-balon sabun yang ditiup dari alat permainan anak yang dulu sering ditemuinya ketika dia bersekolah taman kanak-kanak. Rutinitas itu kadang membuat Marwan tahu-tahu sudah sampai di rumah kontrakannya tanpa sadar. Begitu dia sadar sudah sampai di rumah kontrakannya, dia akan mengucap terimakasih dan berujar kepada sepeda motor pemberian orangtuanya: “Wah, sip juga ya koe. Motor lawas tapi punya fitur autopilot.”

Tapi tidak hari ini, Marwan terlalu larut dalam lamunan. Tiba-tiba menjentikkan ujung jari tengah dengan ujung jempol tangan kanannya sampai berbunyi ”cteeek”, dia menemukan metode penelitian yang pas buat makalahnya. “Klenik-Empiris!” pikirnya mantap. Pedal gas terlepas dari tangan kanannya, motornya oleng hendak menabrak ibu-ibu gendut penjaja donat berbedak gula putih.

“Eeeh, eeeeee, eeeeee!” seru keduanya. Beruntung, berkat kecekatan masing-masing, keduanya selamat, tak jadi bertubrukan.

*

Bulan purnama turun kepagian menerangi malam yang belum terlalu pekat gelapnya. Di dalam rumah kontrakannya Marwan masih membuka-buka buku metodologi penelitian yang dia geluti semasa kuliah dulu. Di luar, Taryo merayap perlahan menyusuri jalan setapak menuju rumah kontrakan Marwan. Sesampainya di depan rumah kontrakan, Taryo segera memencet klakson motornya yang sengaja dia modifikasi layaknya anak-anak layangan alias alay jaman sekarang. “Huuuuuuuu….”[1]

“Ayo, Le, sido rak iki?” teriak Taryo selepas dia berhenti memencet klakson motornya. Marwan tak menjawab, dia langsung keluar dari rumah kontrakannya. Tanpa ba-bi-bu, Marwan langsung duduk membonceng Taryo.

“Heh, koe ki ngopo e, kok langsung duduk gitu?” tanya Taryo.

“Loh memang harus gimana, Kang?” Marwan balik bertanya, “Apa aku harus bonceng depan kaya anak kecil gitu?”

Gundulmu! Kamu masa ndak nyadar to, Wan? Yang mau kita teliti ini makhluk gaib, astral, halus. Kita butuh ini!” kata Taryo sambil mengeluarkan sebotol kecil minyak dari saku bajunya. “Iki, iki, Wan!”

Blaik, opo kuwi, Kang?” tanya Marwan tebata-bata

Wis kene tak olesi matamu, Wan!”. Taryo berbalik sambil memegangi leher Marwan yang ceking lalu mengoleskan minyak dari botol kecil itu. Tak hanya mengoleskan minyak itu, Taryo juga membacakan mantra lalu menyebul mata Marwan. Namun sial sebulan mantra dari mulut Taryo terlalu kencang sehingga sedikit bercampur kuah yang memaksa Marwan memejamkan dan mengucek matanya.

01

Welaah, mangan opo e koe ki, Kang!” ujar Marwan ketus sambil terus mengucek matanya. Taryo seperti biasa hanya tertawa terbahak-bahak selepas mengerjai Marwan. Sejenak, selepas Marwan mampu kembali membuka matanya, dia menatap teras rumah kontrakannya. Marwan jadi tahu bahwa di teras rumah kontrakannya duduk seorang perempuan cantik, berambut panjang, bergincu merah, dan berkulit pucat dengan baju seronok. Sosok yang sama seperti yang sering dimimpikannya saat dia mendapat mimpi basah. Minyak itu membuka mata sukma kata Taryo. Tak sempat melihat makhluk lain yang berada disekitar rumah kontakannya, Marwan segera dibawa pergi dengan motor Taryo. Mereka akan menuju Desa Kanthongbolong. Marwan menutup erat matanya sembari memegangi bungkusan gorengan yang menjadi sesaji agar Taryo mau menemaninya.

*

Malam itu Desa Kanthongbolong gegap gempita, karpet merah digelar, para warga mematikan listrik rumah mereka dan menggantikan penerangan dengan obor. Desa berwarna merah kekuningan sebab lampu neon digantikan api dari obor. Pada saat Marwan dan Taryo datang, Pak Lurah baru saja turun dari mimbarnya memberikan sambutan. Acara apa ini gerangan? Tanya Taryo dan Marwan dalam hati. Mereka bedua tak saling bicara, sebab di pintu masuk desa tadi mereka disambut sosok berukuran tinggi besar berbulu hitam tengah berdiri diam.

Satu jam, dua jam, tiga jam mereka berdua menunggu. Jam tangan Marwan menunjukan pukul dua dini hari. Taryo terlelap selepas menghabiskan sesaji gorengan yang dibawa oleh Marwan. Dia telungkup di bawah rumpun pohon bambu yang berada di selatan desa. Walaupun tempat tersebut merupakan titik terbaik untuk mengamati perumahan penduduk yang gempita malam itu, Marwan agak tak nyaman sebab di belakang mereka seorang perempuan terus menyanyi sembari menyisir rambutnya yang panjang sekali. Bau wangi semerbak terus-terusan menemani Marwan mengintai malam itu. Mereka dipisahkan oleh dua rumpun pohon bambu.

Keramaian tiba-tiba pecah. Para tuyul pulang sambil berbaris, mereka berbaris rapi sambil sesekali menari dan sebagian lagi menabuh kelenengan tanda para tuyul harapan desa telah pulang. Warga keluar rumah, kertas karton mereka bentangkan, isinya berupa tulisan penyemangat dan sambutan selamat pulang yang membuat Marwan mau tak mau melepas tawanya. “Selamat pulang kembali Tuyul Keluarga Arifin”, “Tuyul pulang papa senang mama lemas”, “In Tuyul We Thrast”.

“Alah, alaaaah, gayane meh nyambut Tuyul wae pake bahasa Inggris, salah meneh!” ucap Marwan dalam hati.

02

Di tengah konsentrasinya menyaksikan pemandangan kasat mata berupa parade tuyul yang pulang ke rumah, dari belakangnya terdengar bunyi gesekan kelopak bambu kering yang jatuh ke tanah oleh gerakan yang tidak beraturan. Ketakutan tiba-tiba mencekam dalam dada Marwan, mengingat sedari tadi yang duduk di belakangnya adalah perempuan yang tengah menyisir rambut panjangnya. Perlahan Marwan menengokkan kepalanya dengan menyimpan keyakinan bahwa perempuan gaib itu tidak akan mendekatinya, karena kalaupun dia mendekat pasti tidak akan menimbulkan suara segaduh itu karena makhluk gaib tidak menjejak tanah. Marwan menoleh dengan penuh ketakutan.

“Hahahaha, kae lucu kae tuyule, koyo aku, Wan, lemu!” ucapan tersebut memecah ketakutan Marwan. Ternyata suara gaduh itu ditimbulkan Taryo yang tanpa sepengetahuan Marwan telah terbangun dan ikut menyaksikan kepulangan seremonial para tuyul, bahkan mengikuti gerakan tari mereka. Taryo terus menari-mari sambil sesekali menepuk perut tambunnya seperti kendang buat mengiringi tiap gerak tarinya. Marwan sangat lega mendapati kejadian lucu itu.

*

Lima belas hari sudah Marwan meneliti kegiatan warga Desa Kanthongbolong dan tuyul-tuyul peliharaan mereka. Kini Marwan telah memiliki data lengkap mengenai para pemilik tuyul, bagaimana mereka mendapatkan tuyul, mengapa peminjaman dana ekonomi mikro di Desa Kanthongbolong menurun, dan etika warga desa dalam mempekerjakan tuyul mereka.

Pertama, pemilik tuyul adalah seluruh warga Desa Kanthongbolong. Dari penelitiannya, Marwan juga mendapati hal yang unik berupa hierarki yang dimiliki para tuyul berdasarkan siapa yang pertama kali sampai siapa yang paling terakhir memelihara tuyul. Pemilik pangkat tertinggi adalah tuyul milik Pak Lurah, kedua milik Pak Sekdes, lalu milik Pak RW, Pak RT dan seterusnya. Uniknya, setiap hansip di desa diwajibkan memelihara tuyul pekerja dan algojo tuyul guna mengantisipasi tuyul yang insaf tidak mau mencuri lagi. Ya, macam sinetron tuyul yang ada di tivi itu.

Kedua, bagaimana para warga mendapatkan tuyul. Untuk hal ini, Marwan menerapkan metode “klenik-empiris” yang dia temukan sebelumnya. Secara klenik warga mendapatkan tuyul melalui laku yang telah ditetapkan oleh Ki Wartim, dukun desa. Mereka musti puasa, ngasrep, menyepi, dan pergi bermalam tujuh hari di Gua Karangmoncol yang terletak barat Desa Kanthongbolong, di seberang Sungai Bogo, begitu kata Ki Wartim. Sedangkan secara empiris warga mendapatkan tuyul melalui dana ekonomi mikro pinjaman dari Bank Syariah, caranya? Uang yang mereka pinjam mereka pakai buat bayar syarat ke Ki Wartim dan beli perlengkapan segala macam buat menyepi, sisanya mereka buat untuk kandang tuyul.

Ketiga, mengapa peminjaman dana jadi menurun. Ya, sudah jelas, karena warga Desa Kanthongbolong menerapkan peminjaman satu kali buat modal membeli tuyul, kemudian mengintensifkan tuyul buat membayar cicilan. Setelah lunas, kenapa musti pinjam lagi? Lha wong sudah punya alat produksi yang jelas kemampuannya tidak terbantahkan, kenapa harus masih pinjam modal, ke Bank Syariah pula. Begitu Marwan menggambarkan proses tersebut dalam diagram di makalahnya. Terjawab sudah pertanyaan dan tugas dari kepala cabangnya mengenai penurunan omset peminjaman di Desa Kanthongbolong.

Keempat, terkait kode etik warga dalam mempekerjakan tuyul. Karena seluruh warga Kanthongbolong memelihara tuyul, warga bersama-sama menetapkan peraturan bahwa tidak boleh ada warga yang mempekerjakan tuyulnya di desa mereka sendiri. Tuyul diantar pemilik pada sore hari ke desa-desa di luar Desa Kanthongbolong dan ketika mereka pulang, mereka dibuatkan penyambutan besar-besaran, begitu setiap malam. Warga desa tahu betul bagaimana menyambut pulang “pahlawan devisa”. Persetujuan inilah yang membuat para warga desa tetap akur dan tidak saling mencurigai. Walaupun berbuat curang mereka masih punya konsensus yang mereka sepakati bersama.

Marwan dengan mantap menjuduli makalahnya “Analisis Pengaruh Penggunaan Jasa Tuyul Terhadap Menurunnya Omset Peminjaman Dana Ekonomi Mikro Pada Sebuah Bank Syariah”. Dia berjanji untuk mengirimkan makalahnya pertama kali kepada Taryo via email.

Sambil menunggu convert-an menjadi file .pdf, Marwan menuju ke teras rumahnya. Hari sudah malam. Marwan melihat sekitar rumah kontrakannya, sudah tidak ada lagi hal aneh-aneh yang dia lihat. Pengaruh minyak pembuka mata sukma sudah hilang, pikirnya. Dia kembali masuk ke kamarnya dan mengirimkan file makalahnya kepada Taryo.

*

Marwan baru saja tiba di kantornya, pagi itu suasana sangat lengang. Hari ini dia berjanji akan menyerahkan makalahnya kepada Pak Kartomo, si kepala cabang. Dalam langkahnya menuju ruang Pak Kartomo, Marwan sempat melongok meja kerjanya. Berantakan, 15 hari ini dia menelantarkannya karena dikejar waktu untuk menyelesaikan makalahnya. Namun pemandangan berbeda dia dapati di meja Taryo dan tetangga-tetangga duduknya, semua bersih, rapi, dan hampir tanpa benda yang berserakan.

“Sudah pada berangkat ngider apa ya, sepi bener kantor?” tanya Marwan kepada dirinya sendiri.

Dalam kecamuk pertanyaannya, Marwan tidak sadar kalau langkahnya telah menghantarnya ke depan pintu Pak Kartomo. Marwan mengetuk pelan pintu tersebut. Pak Kartomo menjawab, “Masuk, Wan, sudah pasti itu kamukan? Orang-orang embuh pada ke mana.”

Marwan masuk dan menunggu dipersilakan duduk oleh Pak Kartomo. Di dalam ruangan Marwan mendapati Pak Kartomo membelakanginya. Atasannya itu duduk membelakangi pintu masuk, pandangannya dilemparkan pada luar jendela kantor yang menyajikan pemandangan kelabu hari Selasa pahing itu. Langit tampak mendung, jalanan nampak lengang, gedung-gedung di sekitar Bank Syariah tampak lelah berdiri. Semuanya seperti mendukung kemurungan Pak Kartomo.

“Kau taruh di situ saja laporanmu, Wan,” ucap Pak Kartomo sambil tetap membelakangi Marwan. “Kamu mau ke mana habis ini, Wan?”

Kulo, eh, saya, ya, mau kerja, Pak. Tapi saya belum punya lahan lagi buat menjajakan kredit mikro, kalau dikasih kesempatan, ya, saya cari daerah baru selain Desa Kanthongbolong, Pak.”

Yo wis, terserah kamu saja, Wan, asal masih mau di sini, ya, aku maturnuwun. Kamu boleh kembali ke mejamu, Wan.” Pak Kartomo mengakhiri pembicaraan.

Sampai saat Marwan meninggalkan ruangan Pak Kartomo, mereka tak sekali pun bertatap muka.

*

Marwan duduk menghadapi meja kerjanya yang berantakan. Sepi, sepi sekali, dia sampai bingung mau pesan minum ke siapa, karena bahkan office boy kantornya juga turut menghilang hari itu. Dengan cekatan Marwan mulai membereskan meja kerjanya, semua kembali pada tempatnya, mulai dari cicilan kredit, kredit macet, kreditur berprestasi, dan lain-lain. Setelah semua kembali pada tempatnya, Marwan mendapati sesuatu yang aneh. Sesuatu yang seharusnya tidak ada di situ karena memang itu bukan barang miliknya. Sambil meluncur dengan kursi kerjanya yang beroda, Marwan mendekati barang tersebut di laci kerjanya. Dia mengambilnya dan membolak-baliknya. Semuanya masih normal bagi Marwan sampai akhirnya dia menyadari bahwa itu adalah sebuah makalah. Mirip dengan makalah yang dibuatnya. Tapi makalah ini berhalaman lebih tebal, judulnya pun terbaca lebih fantastis.

“Tuyul Sebagai Garda Depan Pembebas Kawulo Alit dari Kekangan Kuasa Modal: Sebuah Tinjauan Sosio-Ekonomi Studi Kasus di Desa Kanthongbolong,” oleh Taryono, A.Md., begitu yang tertera pada makalah itu. Marwan masih menganga membaca judul tersebut. Hawa dingin terkesiap dari belakang tempat duduknya. Dia menoleh perlahan. Perempuan ayu berbaju seronok di teras rumah kontrakannya, pelan-pelan mendekat, hendak mencumbu lehernya.

Taryo mengerjainya dua kali. Orang-orang sekantor berhenti kerja. Mereka semua jadi ngingu Tuyul gara-gara penelitiannya. Dan ternyata pengaruh minyak pembuka mata sukma yang dioleskan Taryo padanya tak bisa hilang.

Blaik!!!!!!”


[1]. Pembaca dapat membayangkan suara tersebut dengan suara klakson-klakson yang berasal dari motor dengan ciri-ciri sebagai berikut: biasanya motor merk Satria FU, rodanya kecil seperti roda sepeda, motornya ceper dan berjok tipis serta dilengkapi knalpot yang tak kalah heboh suaranya dari klakson motornya.

 


comments powered by Disqus