Mati Ketawa Cara Orde Baru

OK Video_Orde Baru_Panel II (2)

ALKISAH, SETIAP PAGI Erich Honecker membuka jendela dan menyapa matahari yang terbit.

“Selamat pagi, matahari!” sapanya.

“Selamat pagi, Erich tercinta,” balas matahari.

Esoknya pun, Erich Honecker bangun dari tidur dan menyapa matahari dari kusen jendelanya.

“Selamat pagi, matahari!” sapanya.

“Selamat pagi, Erich tercinta.”

Pada hari ketiga, kebiasaan yang sama terulang kembali. Namun, entah mengapa kali ini Erich tidak mendengar balasan dari matahari.

“Selamat pagi, matahari!” ulangnya. “Kamu di mana?”

“Persetan denganmu, Erich!” balas matahari. “Sekarang saya terbit dari (Jerman) Barat!”

****

Nukilan lelucon di atas saya sadur dari sebuah adegan film Das Leben Anderen, karya sutradara asal Jerman, Florian Henckel von Donnersmarck. Kisah tragis tentang pegawai Stasi yang dirundung pergumulan batin saat menyadap seorang penyair kontroversial tersebut tak hanya mengangkat persoalan pengawasan polisi rahasia dan represi pemerintah Komunis Jerman Timur yang terstruktur, sistematis, dan masif (seterusnya disingkat TSM); namun juga tentang bagaimana seniman dan rakyat Jerman Timur – bahkan yang dekat dengan kekuasaan sekalipun – mati-matian menciptakan ruang untuk mengkritik pemerintahnya melalui seni, hiburan, dan humor.

Sayangnya, sepanjang pengetahuan saya belum ada rezim otoriter maupun demokratis yang digulingkan lewat dagelan. Meski demikian, kekuatan dagelan tak bisa dipungkiri. Lagu boleh disensor, buku boleh dibakar, media boleh dibredel, namun tidak ada yang bisa menghentikan sepenuhnya obrolan pribadi antara sekumpulan orang yang sibuk ketawa-ketiwi. Lewat humor yang hidup pada masa itu, kita bisa membaca – secara garis besar, setidaknya – bagaimana generasi tersebut menyiasati keadaan sosial dan politik yang ada untuk terus melanggengkan tritunggal perbuatan wajib demi hidup waras di bawah pemerintahan mana pun: ghibah, nyinyir, dan sukaria.

Keuletan dan siasat ini adalah salah satu poin utama yang hendak dipelajari oleh simposium Cara Orde Baru Menciptaken Manusia Indonesianya, yang diselenggarakan oleh Indoprogress bekerjasama dengan OK Video pada 15 Juni 2015 lalu. Dalam rangkaian diskusi yang membahas budaya musik pop arus pinggir, sindir-menyindir dalam budaya humor era Orde Baru, praktek judi masa Orde Baru, hingga kendali Orde Baru atas media, simposium ini membedah bagaimana rezim Orde Baru mencoba mengonstruksi “manusia Indonesia” yang ideal dan selaras dengan ide-ide mereka tentang “Pembangunan”. Namun – ini lebih penting – simposium ini juga membahas bagaimana manusia Indonesia melawan balik.

Masalahnya, sulit bagi saya untuk memandang siasat-siasat yang mereka utarakan dari sudut pandang zaman sekarang. Perlawanan yang digambarkan oleh para pembicara dalam diskusi itu harus dipandang dengan memperhitungkan konteks zaman tersebut. Jika tidak, perlawanan mereka akan terkesan sepele. Tidak semua rakyat Indonesia kepikiran untuk turun ke jalan dan mengorganisir demo buruh, atau kuliah hukum dan membela tapol-tapol yang dipenjara. Ada juga yang melawan dengan cara-cara yang halus dan – bila dipandang dari kacamata zaman sekarang – terkesan tidak frontal. Indra Ameng (pembicara sesi Budaya [Musik] Pop) misalnya, ketika ditanya mengenai kenapa band-band indie era 90-an tidak terlibat secara frontal dalam gerakan pro-demokrasi dan menjadi politis, cukup berseloroh bahwa “Pada waktu itu, membuat konser sendiri sudah merupakan tindakan politis.”1

Salah satu ekspresi “perlawanan halus” ini adalah humor. Bila Windu Jusuf berujar bahwa “bangsa yang baik adalah bangsa yang mampu mencemooh kaum jagalnya sendiri”,2 Tri Agus Susanto menimpali bahwa “bila suatu masyarakat mengalami tekanan dan tak mampu atau kalah terus dalam usaha melawan, maka salah satu bentuk perlawanan itu muncul dalam humor.3 Humor menjadi benteng terakhir, memang. Namun, sebagaimana siasat mana pun, mau tidak mau ia akan mencerminkan karakter kekuasaan dan struktur yang sedang ia lawan. Kenyataan ini disimpulkan Tri Agus dalam dua kalimat yang menghujam: “Rumor dan humor adalah bagian dari komunikasi politik. Praktik komunikasi politik selalu mengikuti sistem politik yang berlaku.”

Lebih lanjut, Martin Suryajaya dalam pidato penutupnya berargumen bahwa siasat yang sedari tadi dibicarakan dalam simposium tersebut adalah suatu bentuk model politik kebudayaan pasemon – dalam bahasa Jawa yaitu kiasan, bahasa “halus”, perumpamaan, atau ekspresi yang tak menyampaikan makna sebenarnya secara langsung. Melalui prinsip pasemon inilah, ungkap Martin, Orde Baru mengebiri partisipasi warga dengan meninggikan bahasa politik dan menggiring obrolan estetika dalam seni rupa dan sastra ke ranah abstrak yang apolitis. Dan melalui prinsip pasemon ini pula, candaan Indonesia di masa Orde Baru diekspresikan secara lebih “halus” lewat kiasan, sindiran, dan plesetan.4

Persoalannya, siapa yang muncul setelah Martin turun panggung sama sekali mengobrak-abrik prinsip pasemon tersebut. Band indie rock Efek Rumah Kaca naik panggung dengan formasi lengkap, mengenakan kostum resmi layaknya kader partai Golkar atau perangkat desa dalam drama pedesaan low-budget garapan TVRI. Pembawa acara serta penggagas penampilan ini, Manan Rasudi, mengenalkan mereka sebagai Efek Ruang Kodim. Tampil dengan moniker baru ini, mereka tancap gas memainkan lagu-lagu dari album propaganda Suvenir Pemilu 1971, yang didistribusikan oleh partai Golkar jelang pemilu tahun 1971. Dengan senyum lebar dan seorang personil yang berdiri di tengah panggung sambil berlenggak-lenggok memakai topeng Soeharto, vokalis Cholil Mahmud berkelakar, “Kalau ada intelnya Bakrie di luar, suruh masuk aja.”

Ada ironi yang manis dari lagu-lagu yang dipilih oleh ERK, pun dari tahun dirilisnya album suvenir pemilu tersebut. 1971 dan pemilunya adalah titik tolak kelahiran gerakan Golput yang dipelopori Arief Budiman. Merasa bahwa apapun hasil pemilu, kekuasaan toh akan tetap ada di tangan ABRI, Arief dan rekan-rekannya mengajak publik mencoblos bagian putih dari kertas suara sebagai cara halus untuk berkata “tidak” kepada pemerintah Orde Baru. Sulit bagi saya untuk tidak mengasosiasikan metode protes Golput ini dengan konsep pasemon yang diutarakan Martin. Cara mereka halus, sederhana, namun menusuk. Mengutip syair lagu Mew: “If nothing works, we’ll do nothing!

Yang dilakukan ERK dan Indoprogress dalam penutupan simposium itu berbeda. Jika ini pasemon, maka saya Aristoteles. Mereka bermain-main dengan simbol kekuasaan dan ideal manusia Indonesia yang selama ini digadang-gadang oleh Orde Baru, menurunkannya menjadi objek parodi dan gelak tawa. Ini adalah bentuk humor yang sangat modern dan (tsah) kekinian. Kepala saya geger saat mencoba mengasosiasikan budaya pasemon dan tawar-menawar ruang kritik yang digambarkan oleh rangkaian diskusi tadi dengan penampilan yang sefrontal dan setolol ini. Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, jika Lawrence Grossberg pernah menggambarkan Sex Pistols (yang juga hobi bermain-main dengan simbol kekuasaan, tabu, dan arus utama) sebagai “rock and roll against itself”,5 maka pada penutupan simposium ini kita pun dipertemukan dengan pasemon against itself.”

Saya pun terhenyak dan sadar akan alasan di balik dibuatnya simposium ini. Rupanya, ia bukan (sekadar) eksplorasi tentang konstruksi sosial TSM yang digalang oleh Orde Baru. Ia bukan (sekadar) renungan tentang ekses-ekses rezim tersebut yang tersisa sampai sekarang. Pun, rupanya ia bukan (sekadar) usaha menggali kembali sejarah siasat dan inisiatif warga di tengah kungkungan Orde Baru. Lebih dari apa pun, simposium ini adalah lelucon besar-besaran dan jari tengah yang mengacung bangga dari Indoprogress dan OK Video kepada Orde Baru dan nostalgiawan-nostalgiawan keblinger yang masih merindukannya. Persoalannya begini. Anggap saja ucapan Tri Agus bahwa humor adalah salah satu bentuk perlawanan yang muncul dari masyarakat yang “mengalami tekanan” dan “tak mampu atau kalah terus dalam usaha melawan” itu benar. Maka, apakah penampilan sarat komedi ini bentuk pernyataan “tidak” yang tegas terhadap Orba, atau letupan rasa frustasi para penyelenggara simposium terhadap sistem politik yang tak kunjung benar, birokrasi yang masih belibet, dan budaya paternalistik Orde Baru yang masih merajalela?

Omong-omong soal pasemon, ada satu guyonan pamungkas yang baru saya ketahui sembari meriset tulisan ini. Setlist ERK tadi berasal dari album Suvenir Pemilu 1971, di mana enam dari dua belas lagu di album tersebut dinyanyikan oleh penyanyi legendaris Bing Slamet.6 Salah satunya adalah “Pohon Beringin”, lagu propaganda Golkar yang bersyair: “Pohon beringin, dikau lambang pengayoman, damai tenteram dan bahagia berkat kau perkasa.” Hanya enam tahun sebelumnya, pada 1965, Bing Slamet turut menyumbang suara dalam usaha propaganda kebudayaan Orde Lama: album Mari Bersuka Ria dengan Irama Lenso. Lagu yang ia nyanyikan? Sebuah tembang lawas kesukaan Soekarno berjudul “Gendjer-Gendjer”.

 

Jakarta, 22 Juni 2015

(Saya beri cap lokasi dan tanggal, agar terlihat seperti tulisan kritik seni yang kredibel)


Catatan Kaki:

[1] Diucapkan pada diskusi Budaya (Musik) Pop, Menjauh Dari Media Arus Utama, OK Video, 15 Juni 2015.

[2] Windu Jusuf, 2014, “Enam Lelucon dari Jaman Keemasan”, diakses dari tautan http://indoprogress.com/2014/06/enam-lelucon-dari-jaman-keemasan/ pada 22 Juni 2015, jam 17:50.

[3] Tri Agus Susanto, “Humor: Sosialisasi Kebencian Terhadap Rejim”, makalah untuk diskusi Humor: Menyindir di Moncong Senapan, OK Video, 15 Juni 2015.

[4] Martin Suryajaya, “Pasemon Sebagai Politik Kebudayaan Orde Baru”, pidato penutup untuk Simposium, OK Video, 15 Juni 2015.

[5] Ryan Moore, 2007, “Postmodernism and Punk Subculture: Cultures of Authenticity and Deconstruction,” dalam The Communication Review, Vol. 7, Issue 3. pp. 305-327.

[6] Denny Sakrie, 2011, “Souvenir Golkar Pemilu 1971”, diakses dari tautan https://dennysakrie63.wordpress.com/2011/12/04/souvenir-golkar-vinyl-pemilu-1971/ pada 22 Juni 2015, jam 17:56.


comments powered by Disqus