Edisi XXXVI/2015

Daftar Isi:

Perempuan dan Laki-Laki, Bersatulah! Lawan Penindasan terhadap Perempuan!

Menikmati Identitas, Mengidentifikasi Kenikmatan

Fayyadl: “Pada Level Aksiologis, Islam dan Marxisme menjadi Sangat Kompatibel”

 

Pengantar

On s’engage et puis… on voit” (terlibatlah… dan amati), begitu pernyataan Napoleon yang dikutip Lenin ketika merespon catatan Sukhanov, seorang Menshevik, perihal revolusi Oktober 1917. Frasa ini digunakan Lenin untuk mengkritik Sukhanov yang telah salah kaprah dalam memahami proses revolusioner di Rusia. Menurut Lenin, Sukhanov telah menempatkan sejarah secara tertutup, yang dengannya juga pembangunan sosialisme dilihat sebagai suatu proses yang sudah memiliki tahapan serta prasyarat sejarah yang telah ditetapkan. Pandangan ini tentu saja keliru. Walau sejarah memiliki hukumnya sendiri, selalu termaktub dalam sejarah itu sendiri dinamika perkembangan tertentu. Perkembangan spesifik inilah yang kemudian menjadi kesempatan bagi keterlibatan agensi politik untuk mengubah sejarah tersebut. Dengan terlibat dan mengamati secara serius setiap momen keterlibatan dalam kesadaran penuh mengubah sejarah itu sendiri, Lenin seakan mengingatkan kita mengenai keutamaan teori dan praktik.

Kita sekarang sebenarnya tengah berada dalam situasi yang tidak terlalu berbeda. Tentu kita sadar bahwa gerak sejarah di Indonesia tengah ditentukan oleh kelas berkuasa yang anti rakyat pekerja. Di setiap pelosok negeri kita temukan bagaimana dominasi kekuatan kapital mencengkram hidup orang banyak. Penindasan serta penghinaan terhadap hak hidup rakyak kecil adalah suatu yang lumrah. Tapi kita yang pernah belajar materialisme historis tahu bahwa di setiap praktik penindasan terhadap rakyat terkandung di dalamnya kemungkinan bagi perlawanan rakyat yang, menurut Marx, “akan menghancurkan tatanan lama”.

Pernyataan ini bukanlah semacam optimisme kosong bahwa perubahan yang mendasar sudah di depan mata. Namun dominasi kelas berkuasa yang menciptakan kesengsaraan justru membuka ruang perkembangan baru yang mendefinisikan ulang mengenai apa yang mungkin dan tidak mungkin dalam sejarah. Disinilah kemudian terungkap suatu potensi transformatif yang akan mengubah wajah serta gerak sejarah itu sendiri, dengan rakyat tertindas sebagai aktor utamanya; bahwa ada harapan mengenai pembebasan atas penindasan yang dilakukan oleh yang tertindas.

Walau begitu, kita tahu potensi semata tidak akan pernah cukup. Harapan yang membuncah harus diiringi dengan praktik untuk merealisasikan harapan itu sendiri. Keterlibatan praktis kemudian menjadi tidak terelakkan. Yang perlu ditekankan dari setiap keterlibatan praktis, situasi yang akan dihadapi tidak akan pernah utuh wujudnya. Penindasan memang selalu termanifestasi dalam bentuknya yang vulgar, namun basis material yang mengkondisikan penindasan terlalu kompleks untuk dipotret secara kasat mata. Kerumitan yang inheren dalam setiap keterlibatan politik membuat kita harus selalu siap dengan analisis yang hati-hati untuk memajukan perjuangan melawan penindasan, sekaligus untuk semakin mendekatkan harapan akan transformasi sosial pada bentuknya yang paling aktual. Karakter inilah yang membedakan mereka yang melihat sejarah sebagai statis dan tertutup dan dengannya penindasan menjadi tidak terelakkan, dengan mereka yang melihat sejarah sebagai ruang kemungkinan bagi perubahan sosial menuju pembebasan rakyat tertindas itu sendiri.

Dalam horizon praktik keterlibatan politik dan bersiap diri untuk selalu analitis dalam setiap langkah praktik, LBR kembali hadir dihadapan pembaca. Pada edisi kali ini, LBR menghadirkan dua review dan satu wawancara. Review pertama datang dari Fathimah Fildzah Izzati yang kembali mengulas feminisme Marxis, melalui buku Michele Barrett yang berjudul Women’s Oppression Today: The Marxist/Feminist Encounter. Selanjutnya, review kedua datang Perdana Putri yang mengulas dinamika di balik hubungan antara identitas, budaya dan kelas, melalui buku Ariel Heryanto yang berjudul Identitas & Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia. Sementara itu, pada wawancara kali ini LBR menghadirkan wawancara dengan Muhammad Fayyadl dari islambergerak.com. Selamat membaca!


comments powered by Disqus