LKIP Edisi 24

Teori – Biopik Pahlawan Nasional Kontemporer: Antara Sejarah Bangsa dan Curhat Colongan
Kritik – Tentang Romansa, Reformasi, dan Kegagalan
Kliping – Meme Varoufakis: Yang Juga Badass dari Kemenangan Syriza
Karya – Coretan Anzi Matta

LE CINÉMA est la plus belle escroquerie du monde—sinema adalah penipu paling lihai di dunia. Potongan monolog itu diucapkan Jean Seberg dalam film pendek Jean-Luc Godard, Le Grand Escroc. Seberg sebelumnya pernah berperan sebagai jurnalis Patricia Franchini dalam salah satu karya awal Godard, A Bout de Soufle. Dalam Le Grand Escroc, Seberg tidak lagi memakai nama Franchini, melainkan Leacock. Mungkin ini hanya penanda kontinuitas—bahwa Patricia dalam Le Grand sudah menikah dengan seseorang bernama Leacock—atau sebenarnya merupakan tokoh yang sama sekali berbeda. Persamaan lain, selain bahwa Seberg memainkan dua tokoh dengan prénom Patricia, adalah pekerjaan mereka. Leacock adalah seorang reporter televisi.

Profesi jurnalis adalah profesi yang berulang kali muncul dalam film-film Godard. Dalam Tout Va Bien, Jane Fonda memerankan Susan DeWitt, jurnalis radio Amerika yang menyaksikan aksi mogok buruh pabrik sosis. Kolaborasi-kolaborasi Godard dengan Anne-Marie Miéville pun penuh dengan kritik keras atas media dan jurnalisme. Dalam miniseri TV Six Fois Deux/Sur et Sous la Communication, Godard bilang, “Kejahatan, kejahatan historis dalam era historis ini, adalah jurnalis yang tidak menyampaikan informasi, meski ia memilikinya.”

Namun, jantung kritik Godard atas jurnalisme bukanlah soal penyalahgunaan profesi jurnalis—bukan soal moral bobrok para jurnalis yang tidak menerapkan kode etik jurnalisme. Oleh karenanya, Godard tidak bergabung dengan geng Bill Kovach dan Tom Rosentiel untuk menegakkan prinsip-prinsip jurnalisme yang baik dan benar. Terdapat masalah yang lebih fundamental dalam jurnalisme. Kejahatan jurnalis tidak terjadi karena mereka tidak mau, melainkan mereka tidak dimungkinkan untuk menyampaikan informasi.

Dalam salah satu episode Six Fois Deux, Avant et aprés, terdapat potongan adegan Georges Marchais, ketua Partai Komunis Perancis, di sebuah ruang konverensi. Kamera kemudian berputar, menyorot hadapan lautan wartawan di hadapannya. Dalam gambar ini, jurnalis tidak muncul sebagai mediator—bukan sebagai agen yang akan menyebarkan informasi pada khalayak. Jurnalis justru digambarkan sebagai penghalang arus informasi.

Comment Ca Va, kolaborasi Godard dengan Miéville yang lain, mengisahkan dua jurnalis Kiri yang berniat membuat sebuah film dokumenter tentang bisnis surat kabar. Keduanya kemudian sibuk memperdebatkan tentang penyuntingan, pemilihan footage serta penempatan teks di atas gambar. Film ini menunjukkan irisan antara sinema dan jurnalisme: bahwa makna, sebagai kategori kebenaran dalam sinema, dan informasi, sebagai kategori kebenaran dalam jurnalisme, adalah hasil konstruksi. Dalam Le Grand Escroc, Godard mengangkat sebuah pertanyaan genting; apabila sinema adalah suatu konstruksi dan subjektivitas selalu meresap dalam proses konstruksi tersebut, apakah kebenaran itu mungkin?

Seorang pascamodernis tentu akan menjawab: mungkin, namun bukan kebenaran yang tunggal. Memang, formulasi pertanyaan Godard adalah formulasi tipikal dipakai para pascamodernis, sebuah sliding door utuk memasuki supermarket pluralitas makna.

Namun Godard bukan seorang pascamodernis. Kapitalisme adalah tema sentral dalam film-filmnya dan ia hadir semata-mata untuk dihabisi. Marxisme-Leninisme adalah bendera yang dikibarkan Godard dalam film-filmnya, terutama pasca-1968. Karya-karya Godard bukanlah raungan atas hilangnya kebenaran yang tunggal dan perayaan atas pluralitas makna, melainkan merupakan eksplorasi metode filmis untuk menghadirkan kebenaran dalam sinema. Eksplorasi ini dibarengi dengan pengemplangan serta penelanjangan sinema-sinema borjuis yang bangkrut, yang menyajikan gambaran dunia keliru dengan teramat indah. Sinema borjuis adalah, sebagaimana Leacock, tipuan paling lihai—la plus belle escroquerie.

Tipuan-tipuan lihai ini belakangan tampak jelas di layar kaca. Ya, kami masih bicara soal bidak catur KPK-Polri yang dimainkan elit belakangan ini. Kebohongan, analisis, serta teori (teori-teori yang berkembang pun sebenarnya lebih mirip dengan teori konspirasi karangan Dan Brown) yang berkembang tentang isu ini pun layaknya lapisan-lapisan ilusi—lapisan-lapisan simulakra—yang semakin dikupas semakin membingungkan. Seperti mencari biji bawang di balik lapisan-lapisan kulit bawang, yang kita dapat hanya air mata. Seperti perempuan berdahi lapang yang mencari-cari kebaikan dan cinta dari kekasihnya yang baru, tanpa tahu bahwa ia hanya akan mendapatkan keduanya dari kekasih yang telah ia tinggalkan.

Namun, LKIP edisi ini tidak bicara soal polemik elit ini. Dua tulisan utama yang kami turunkan bicara soal tipuan-tipuan lihai sinema yang membentuk ingatan kita tentang masa lalu—tipuan-tipuan sejarah. Di rubrik teori, Windu W. Jusuf menelanjangi tipuan-tipuan yang mengemuka dalam film-film biopik kontemporer dalam tulisan bertajuk “Biopik Pahlawan Nasional Kontemporer: Antara Sejarah Bangsa dan Curhat Colongan”. Dalam rubrik kritik, Raka Ibrahim menghabisi film Di Balik `98 besutan Lukman Sardi.

Selain dua tulisan tersebut, kami pun menengok ke mancanegara. Di rubrik kliping, Mochamad Abdul Manan Rasudi dan Zely Ariane mengumpulkan dan memberi pengantar meme-meme tentang Yanis Varoufakis, menteri keuangan Yunani yang baru. Kemenangan Syriza pada pemilu Yunani kemarin bergema keras hingga di telinga kita. Banyak yang bersuka ria; bahwa hantu kiri yang sudah dibunuh dan dikubrukan berkali-kali itu kini muncul kembali dengan cara yang baru dan segar. Varoufakis adalah tokoh Kiri yang populer dalam kemenangan Syriza.

Tak ketinggalan, rubrik Apresiasi Karya menghadirkan gambar-gambar karya Anzi Matta. Tak banyak yang perlu kami pengantari untuk karya-karya ini. Nikmatilah, dan jika mau lebih jauh, tangkaplah pesan-pesan di dalamnya.

Akhirulkalam, selamat membaca dan semoga melewati musim hujan dengan baik-baik saja. Setidaknya, tak ada tipuan dalam banjir yang ia bawa tempo hari.


comments powered by Disqus