Berkenalan Dengan Pelukis Buruh dan Keluarga Sørensen

museum

BOLEHLAH kali ini kami mengajak rekan sedikit berkelana ke negeri seberang. Ada dua kota yang hendak disambangi: Bangkok dan Kopenhagen. Satu di Muangthai, yang lain di Denmark. Bolehlah dianggap sebagai wakil Asia Tenggara dan Eropa Utara. Dua negeri yang tidak memiliki kesamaan lokasi geopolitik dan alam. Juga, terdapat jurang budaya yang curam.

Bukan soal beda alam ataupun budaya yang akan kami tuturkan kepada rekan. Melainkan, soal bagaimana bangsa dari dua negeri yang berbeda ini bisa punya satu kesamaan ingatan. Ingatan kolektif akan perjuangan buruh yang punya andil dalam sejarah bangsa. Ingatan kolektif tersebut terwujud dalam rupa museum kaum buruh. Yaitu Pipitaphan Reeng-ngaan Thai (Museum Buruh Muangthai) di Bangkok dan, Arbeijdermuseet (Museum Buruh) di Kopenhagen.

Kiranya rekan jangan menghela nafas dan pelan-pelan menguap menyimak kata “museum”. Meski harus diakui, bagi banyak orang Indonesia kata “museum” punya konotasi tertentu yang cukup suram dan membosankan. Pula, mengunjungi museum bukanlah pilihan (apalagi prioritas!) bagi banyak orang ketika mereka sedang berwisata ke satu daerah tertentu. Walau sebenarnya, karcis masuk museum tidaklah mahal dibandingkan dengan taman hiburan lain. Terlebih pula, umum dalam benak kita menggugat kesempatan jauh-jauh berkelana ke negeri seberang dengan semata menghabisi waktu di museum belaka.

Kiranya rekan sabar menyimak bagaimana persepsi kita akan “museum” (dan bagaimana seharusnya “museum” itu) merupakan hasil dari konteks sosial-politik bangsa. Meski Orde Ba(r)u banyak mendirikan museum di sana-sini (dan beragam rupa!), ia dikerdilkan tak lebih seperti etalase toko yang sekedar memasang dan memperlihatkan barang-barang koleksi. Tidak terjalin kebangkitan intelektual ataupun keterikatan emosional bagi si pengunjung. Museum tak lebih menjadi tempat penjagaan benda-benda mati yang dijadikan simbol modernitas, dan untuk memperlihatkan bahwa barang koleksi museum adalah bukti modernitas proyek-proyek pembangunan yang ditempuh negara. Di dalam etalase proyek-proyek pembangunan negara itu, masyarakat pengunjung museum dijadikan obyek yang didikte untuk sepakat dan mengamini proyek pembangunan negara. Maka tak heran, kesan museum sebagai lembaga yang suram dan membosankan dapat dianggap sebagai bentuk kejengahan pasif masyarakat.

Kedua museum buruh di Bangkok dan Kopenhagen menawarkan dahaga dari kejengahan sosial tersebut. Sejarah yang ditampilkan di dalam museum buruh bukanlah sejarah resmi bikinan pemerintah tapi sejarah yang dirasakan dan dialami sendiri oleh kaum buruh. Museum tidaklah berfungsi sebagai etalase pameran yang didikte politik pemerintah, tetapi menjadi suatu lembaga yang tumbuh dan berfungsi bagi kemaslahatan masyarakat sebagai penjaga ingatan sosial akan perjuangan buruh. Jika rekan penasaran, mari kita tengok bersama bagaimana bentuk dan isi kedua museum buruh tersebut.

 

Pipitaphan Reeng-ngaan Thai di Bangkok

Museum ini terdiri dari enam ruang utama. Masing-masing ruang berisikan pembabakan sejarah perjuangan kaum buruh Muangthai. Enam babak sejarah itu adalah: zaman perbudakan, zaman periode abad ke-18, zaman 1930-1940-an, zaman Perang Dunia kedua, zaman pembangunan ekonomi 1970-1990-an, dan zaman sekarang (yang disebut sebagai “zaman neoliberal”).

 

 

jafar

 

Di dalam ruangan zaman periode abad ke-18, terdapat satu panel tentang kedatangan kuli-kuli dari Tiongkok di Muangthai. Panel ini menceritakan bagaimana zaman dulu kuli-kuli Tionghoa di Bangkok juga sudah bikin organisasi bersama. Walau bentuk dan nama organisasi ini bukan seperti “serikat buruh” zaman modern yang kita kenal sekarang, tapi tujuannya adalah demi kesejahteraan anggota. Sejarah yang serupa juga terjadi di Hindia-Belanda. Kuli-kuli Tionghoa di Bangka-Belitung sudah membentuk organisasi bersama untuk kesejahteraan anggota.

Dari panel ini, pengunjung diajak merefleksikan bahwa apa yang disebut “serikat buruh” adalah hasil perkembangan zaman. “Serikat buruh” yang kita kenal sekarang adalah hasil bentukan awal abad 20, dan tujuan kesejahteraan anggota dapat mengambil bentuk beragam rupa. Dari pengalaman sejarah Indonesia berbangsa, dapat kita ketahui bahwa organisasi buruh dalah organisasi modern yang membuka pintu bagi masyarakat pribumi dalam memperjuangkan kesetaraan dan persamaan dalam masyarakat kolonial yang hirarkis-rasial. “Sama rasa sama rata” adalah prinsip yang dikemukakan serikat buruh. Organisasi buruh juga yang menjadi tempat praktikum langsung bagi pemuda-pemudi pribumi guna mengenal sendi-sendi modernitas: berserikat, mengadakan rapat/ kongres umum, melancarkan propaganda, kampanye, dan memimpin massa. Kiranya rekan dapat sepakat bahwa semua sendi ini penting sebagai landasan dalam menyusun organisasi politik di kemudian hari dalam perjuangan kemerdekaan bangsa.

Untuk zaman 1930-1940-an, secara khusus disorot tentang buruh kereta api di Bangkok. Buruh kereta api adalah kelompok buruh yang pertama kali membentuk serikat buruh. Karena tinggal di daerah perkotaan dan menghadapi tantangan hidup yang berat, buruh kereta langsung menyadari perlunya satu organisasi yang mampu membela kepentingan mereka. Kondisi yang juga mirip juga terjadi dalam sejarah modern bangsa Indonesia. Buruh kereta api di Jawa membentuk serikat buruh VSTP (Vereeniging van Spoor-en Tramweg Personeel/ Serikat buruh kereta api dan trem). Di bawah pimpinan Semaoen, VSTP menjadi kuat dan gentar menggalang anggota. Ia berhasil mengorganisir pemogokan besar yang sempat bikin Belanda jadi was-was menghadapi tuntutan buruh pribumi. Terlebih pula, ini menjadi momentum bagi partai komunis yang punya banyak anggota di kalangan buruh guna mendesak tuntutan kemerdekaan.

Demikianlah, dari zaman ini pengunjung bisa melihat bahwa buruh sektor transportasi di banyak negara Asia, adalah yang pertama membentuk serikat buruh modern. Ini karena umumnya mereka tinggal di kota besar dan banyak memperoleh informasi terkini pada zamannya. Dalam banyak pustaka, mereka disebut sebagai kelas buruh urban. Mereka menjadi anak zaman abad 20 yang berhasil memenuhi panggilan hidupnya menjadi motor gerakan buruh dalam membuka pintu kemajuan bagi buruh-buruh di sektor lainnya. Juga, menjadi tulung punggung bangkitnya nasionalisme di kalangan masyarakat awam.

Pada ruang zaman Perang Dunia kedua, dijelaskan bahwa Muangthai adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak dijajah Jepang, walau pada tahun 1940-1945 keberadaan tentara Jepang dirasakan betul. Sama seperti penduduk pada umumnya, kehidupan buruh pada zaman ini sangat sulit karena ekonomi yang tak menentu. Pengalaman di Indonesia, menjadikan masa ini sebagai puncak nasionalisme dengan letupan kemerdekaan. Usai menyerahnya Jepang, buruh-buruh di tanah Jawa bersatu dalam serikat mempertahankan kemerdekaan dengan menduduki pabrik-pabrik, pertambangan dan perkebunan. Dapat rekan bayangkan betapa ini pekerjaan yang tidak sederhana, terlebih saat pemerintahan republik masih tertatih akibat agresi militer Belanda. Ini menjadi benih swadaya serikat buruh dan bukti sumbangsih buruh dalam perjalanan kebangsaan.

 

 

jafar

 

Usai zaman Perang Dunia kedua, pengunjung diajak melihat perkembangan sejarah gerakan buruh pada tahun 1970-1990-an. Sama seperti negara-negara Asia Tenggara lainnya, Muangthai pada masa ini memasuki babak baru ekonomi pembangunan yang bersendikan kapitalisme. Yaitu, industri yang bertujuan memproduksi barang-barang untuk pasar ekspor dengan mengandalkan tenaga buruh murah.

Industri yang terutama pada zaman ini adalah industri tekstil/ garmen, sehingga kebanyakan buruh manual adalah mereka yang bekerja di sektor ini. Oleh karenanya, gerakan buruh pada masa ini juga didominasi oleh buruh tekstil dan garmen. Dan umumnya, adalah buruh perempuan. Kontribusi buruh perempuan dalam menyusun ulang gerakan buruh pada masa ini tidak sebatas hanya sebagai menjadi anggota saja, melainkan juga menentukan dasar perjuangan buruh yang militan. Merekalah yang menjadi motor utama gerakan buruh pada tahun 1970-1990-an.

Sekali lagi, ini situasi yang juga mirip terjadi di Indonesia. Di banyak negara Asia, pembangunan ekonomi tahun 1970-1990-an banyak bergantung pada eksploitasi buruh perempuan pada industri sektor garmen-tekstil. Di Indonesia, walau dalam kangkangan kontrol Orde Ba(r)u, buruh perempuan yang bekerja di pabrik tekstil/ garmen berani berkumpul memperjuangkan hak-hak mereka. Mereka menjadi penabur benih dalam bangkitnya gerakan buruh dengan membentuk sendiri organisasi yang membela kepentingan mereka, di luar SPSI.

 

 

jafar

 

Di dalam museum, juga terdapat ruang audio-video yang menyimpan berbagai film gerakan buruh Muangthai. Memang di negara gajah putih ini, selain ada banyak buku dan majalah buruh, ada juga banyak dibikin lagu perjuangan buruh dan film buruh. Buruh bukanlah robot, dan sebagai anak manusia, buruh juga mengambil berbagai bentuk ekspresi seni di dalam perjuangannya. Ada berbagai puisi, teater, lukisan, lagu, majalah, dan juga film yang dibuat oleh dan untuk buruh sendiri.

 

 

jafar1

 

Di dalam ruang perjuangan buruh masa kini, terdapat berbagai panel yang membahas isu-isu perburuhan terkini. Misalnya, tentang globalisasi dan tantangan dalam pengorganisiran buruh. Selain kondisi zaman yang sudah berubah dan tantangan yang berbeda dari abad 20, maka jelas sekarang diperlukan bentuk baru organisasi buruh yang lebih gesit dan lincah dalam mengorganisir pemogokan demi menggapai cita-cita manusia yang merdeka dan berdaulat atas kehidupannya sendiri. Utamanya pula, membela kepentingan dan kesejahteraan anggota. Dengan menggunakan beragam dokumentasi foto dan juga kliping surat kabar, pembahasan mengajak pengunjung untuk melihat langkah-langkah, peluang-peluang, dan di dalam perjuangan serikat buruh menghadapi isu-isu terkini tersebut.

 

 

jafar2

 

Demikianlah, museum buruh Muangthai ini menawarkan satu paparan akan sejarah perjuangan kolektif buruh yang dilandasi dari pengalaman riil buruh sendiri. Museum tidak mengulang sejarah bikinan pemerintah sehingga tidak ada tujuan untuk mendikte pengunjung membenarkan paparan sejarah tersebut. Museum mengajak pengunjung untuk merefleksikan paparan sejarah pergerakan buruh tersebut. Misalnya saja, pengunjung bisa mengetahui bahwa pada masa 1930-1940-an buruh kereta api menjadi pelopor utama bagi gerakan buruh, lalu di masa 1970-1980-an adalah buruh tekstil/ garmen yang menjadi motor utama bagi gerakan buruh, maka kemudian pengunjung diajak mendiskusikan buruh sektor apa yang dapat memberikan nafas baru bagi gerakan buruh pada masa sekarang ini di dalam menghadapi tantangan globalisasi. Dengan mengajak pengunjung berdialog dengan sejarah perjuangan kolektif buruh, museum ini secara tidak langsung melibatkan si pengunjung untuk juga menaruh perhatian dan membantu gerakan buruh sebagai bagian dari masyarakat yang berjuang demi kesejahteraan umum.

 

Arbeijdermuseet di Kopenhagen

Museum ini terdiri dari 4 lantai. Di lantai dasar, selain menjadi tempat penjualan tiket masuk, juga terdapat perpustakaan kecil yang menyimpan buku-buku tentang perburuhan. Lantai 2 khusus berisikan penjabaran yang mengusung tema kehidupan buruh pada masa tahun 1930-an dan 1950-an. Lantai 3 menceritakan kehidupan buruh sepanjang tahun 1940-an sampai akhir tahun 1970-an. Menariknya, penjabaran di lantai 2 dan latai 3 ini didasarkan pada kehidupan riil keluarga buruh. Kehidupan buruh dipotret lengkap dalam unti keluarga. Selain itu juga, di lantai 3 terdapat ruang edukasi bagi anak-anak. Lantai 4 berisikan penjabaran dunia kerja buruh manual di lingkungan pabrik. Selain itu juga, ruang bawah tanah museum (basemen) menjadi tempat untuk pameran yang bersifat sementara.

 

 

kopen

 

Pada setiap lantai, terdapat berbagai poster dan lukisan buruh. Poster-poster perayaan 1 Mei dari setiap tahunnya memang yang utama, tapi poster-poster lainnya juga ada, seperti poster kampanye partai komunis dan partai sosial-demokrat, dan juga poster perjuangan serikat buruh. Lukisan-lukisan yang ada di dalam museum terdiri dari lukisan yang dibuat oleh buruh sendiri, dan lukisan yang dibuat oleh seniman umumnya.

 

kopen2

 

Lantai 2 terdiri dari dua penjabaran yang menceritakan kehidupan buruh pada masa tahun krisis tahun 1930-an (Depresi Ekonomi), dan pada tahun 1950-an seusai Perang Dunia kedua.

Penjabaran kehidupan buruh pada masa tahun 1930-an didasarkan pada kehidupan keluarga Petersen. Aksel Petersen dan istri, Ingrid, memiliki 5 orang anak, dan mereka tinggal di satu ruang apartemen di lantai paling atas. Pada masa krisis tahun 1930-an Aksel baru saja dipecat dari pekerjaannya. Ia menganggur dan akibatnya, mesti bergantung pada jaminan-sosial dari pemerintah kota. Sementara istrinya, Ingrid, mesti bekerja sebagai pembakar arang. Karena mereka sekeluarga tinggal di satu ruangan, anak-anak juga tidur di berbagai sudut ruangan. Si sulung, Svend (11 tahun) tidur di pembaringan lipat. Ia mesti bangun pagi untuk bekerja sebagai pemerah susu sapi. Adiknya, Arne (9 tahun) tidur di sofa kecil. Ia bekerja sebagai pesuruh di satu toko kelontong. Adik mereka, Lizzie (7 tahun) dan Gerda (4 tahun) tidur bersama di atas meja dapur. Sementara si bungsu, Poul (18 bulan) tidur di pelbet bayi. Penjabaran ini disertai dengan visualisasi yang menggambarkan situasi kehidupan keluarga Petersen, sehingga pengunjung dapat membayangkan kondisi pada masa itu.

 

kopen3

 

Penjabaran kehidupan buruh pada masa tahun 1950-an didasarkan pada kehidupan keluarga Hansen. Keluarga Hansen memiliki 3 orang anak dan mereka sekeluarga tinggal di dalam satu apartemen yang terdiri dari 2 ruangan saja: ruang tamu dan ruang tidur. Pak Hansen adalah seorang tukang batu. Istrinya adalah seorang penata rambut, dan salon tempatnya bekerja adalah ruang tamu apartemen itu. Si sulung bekerja magang pada satu toko mesin, sementara anak kedua, perempuan, bekerja sebagai pelayan toko umum. Si bungsu masih bayi. Pak Hansen dan istrinya tidur di sofa lipat yang ada di ruang tamu. Sementara, anak-anak mereka berbagi ranjang di ruang tidur. Penjabaran ini dilengkapi rekonstruksi suasana apartemen itu – hingga segala detailnya. Barang-barang yang ada juga adalah barang asli dari masa itu yang dimiliki oleh keluarga buruh umumnya. Semua masih terlihat sederhana, walau pada masa tahun 1950-an sesudah Perang Dunia kedua berakhir, secara relatif kehidupan masyarakat Denmark lebih baik dibanding dari masa 1930-an.

Penjabaran juga disertai poster-poster dari zaman 1950-an yang merupakan puncak Perang Dingin antara blok komunis dengan blok barat. Poster kampanye partai komunis jelas menggambarkan situasi masa ini, dengan pengaruh dari Uni Sovyet. Sementara di dalam kehidupan sehari-hari, perdagangan dan industri kapitalisme tidak bisa ditolak akibat desakan dari Amerika Serikat.

Lantai 3 memuat penjabaran lengkap perjalanan kehidupan satu keluarga buruh, yaitu keluarga Sørensen, yang tinggal di kota Kopenhagen selama hampir satu abad, dari tahun 1895 hingga 1990. Penjabaran ini memuat rekonstruksi suasana apartemen keluarga Sorensen yang terdiri dari dua ruangan.

Peter Martin Sørensen adalah seorang buruh umum, sementara istrinya, Karen Marie Sørensen adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka memiliki 8 anak yang semuanya tinggal bersama. Sebagai keluarga buruh, anak-anak mereka juga menjadi buruh. Anak laki-laki menjadi buruh manual, seperti Kristian yang bekerja di pelabuhan kota Kopenhagen. Anak perempuan menjadi pembantu rumah tangga. Anna, Yrsa, dan Olga menjadi pembantu rumah tangga sejak usia muda hingga mereka memasuki usia pensiun. Bahkan Yrsa juga bekerja menjadi petugas pembersih toilet di stasiun kota Kopenhagen.

Rekonstruksi apartemen dengan menggunakan barang-barang asli keluarga Sørensen, dan tidak ada yang diubah sedikitpun. Termasuk juga misalnya, meja kayu yang salah satu kakinya sudah rusak dan ditopang tempat lilin besi. Tidak ada yang diperbaiki atau ditambahkan hanya agar terlihat menjadi “lebih bagus”. Semua dibiarkan apa adanya. Dengan demikian pengunjung dapat melihat dengan betul-betul kehidupan keluarga buruh, dengan segala kekurangannya.

 

 

kopen5

 

Lantai 4 memuat perjalanan sejarah 150 tahun industrialisasi di Denmark. Fokus utamanya adalah perubahan dunia kerja buruh manual di lingkungan pabrik. Bahwa selama kurun waktu satu setengah abad, telah terjadi perubahan mesin, mekanisme produksi, pola manajemen, dan beragam kontrol atas buruh – dan ini semua memaksa buruh untuk juga menyesuaikan dirinya agar dapat tetap bekerja dan memperoleh penghasilan.

Demikianlah museum buruh ini menawarkan paparan sejarah yang riil berasal dari buruh sendiri, menggugah pengunjung untuk melihat kehidupan sehari-hari keluarga buruh. Sebab, kehidupan keluarga buruh memperlihatkan kondisi perjalanan kehidupan masyarakat umumnya juga. Karena sejarah yang dikisahkan Museum berangkat dari pengalaman kelas bawah, pengunjung langsung dapat mengerti situasi yang ada pada masa itu dan sebagai bahan renungan dalam melihat masa kini.

 

Representasi Kaum Buruh di Ruang Publik

Sebagaimana telah rekan saksikan dari tuturan di atas, baik museum buruh di Bangkok dan di Kopenhagen menawarkan sejarah alternatif. Yaitu, memaparkan sejarah sebagaimana yang dialami oleh kaum buruh secara riil, sebagai salah satu bagian dari perkembangan masyarakat. Kedua museum mengundang pengunjung untuk berpikir kritis, dan tidak melulu membenarkan politik pemerintah – yang sesungguhnya, sering merugikan masyarakat. Narasi sejarah perjuangan gerakan buruh yang ditampilkan kedua museum menjadi anti-thesis atas sifat etalase politik pembangunan yang didikte pemerintah. Dengan bersendikan sejarah alternatif demikian, kedua museum mampu membendung intervensi politik pemerintah dan memberikan pemahaman akan pentingnya gerakan sosial kaum buruh bagi masyarakat umum.

Kiranya penting untuk digarisbawahi bahwa kedua museum dibangun dan dirancang oleh gerakan buruh, dan juga memperoleh dukungan dari masyarakat umumnya. Kedua museum dikelola secara swadaya dan karenanya, bukanlah museum negara (ataupun museum pemerintah kota) yang berada dalam kontrol negara baik secara administrasi ataupun keuangan. Museum buruh di Bangkok memang memperoleh bantuan dana awal dari Friedrich Ebert Stiftung (FES, lembaga dana yang dekat dengan Partai Sosial Demokrat Jerman). Meski demikian, ide awal, rancangan, dan pengelolaan sepenuhnya berasal dari gerakan buruh lokal. Di bulan November 2005, Museum Buruh ini sempat menghadapi persoalan penggusuran yang direncanakan oleh Jawatan Kereta Api (dikarenakan museum menempati tanah yang awalnya adalah milik Jawatan). Namun karena adanya dukungan protes dari masyarakat sipil yang peduli gerakan buruh, rencana penggusuran ini dibatalkan. Sementara itu, Museum Buruh di Kopenhagen ditetapkan menjadi salah satu “Top Attraktioner” – tempat-tempat yang layak dikunjungi dan masuk dalam brosur wisata di Kopenhagen. Dengan mengutamakan sejarah yang dialami kaum buruh, kedua museum menonjolkan keistimewaannya (dibanding museum lainnya). Jelaslah bahwa kondisi riil masyarakat sipil yang relatif kuat (yang terwujud dalam bentuk dukungan atas gerakan buruh) menjadi sendi utama keberlangsungan fungsi museum sebagai penjaga ingatan kolektif sosial.

Dari kedua museum itu, dapat kita petik pemahaman bahwa museum sebagai penjaga ingatan kolektif perjuangan buruh adalah hal yang penting bagi masyarakat umum. Tentu rekan mengetahui benar bahwa sejarah gerakan buruh belum masuk dalam kurikulum pendidikan, meski kita sudah hidup dalam alam demokrasi (yang predator, sebagaimana dikemukakan banyak ahli) selama lebih dari 15 tahun. Perlu pula terus diupayakan agar kaum buruh tidak lupa ataupun menjadi terasing dari sejarah perjuangannya sendiri.***

 

Penulis adalah Program-Specific Researcher, Center for Southeast Asian Studies, Kyoto University

 

Kepustakaan:

Crane, Susan . “Of Museums and Memory,” dalam Susan Crane (ed.). Museums and Memory. Stanford: Stanford University
Press, 2000.

Kreps, Christina Faye. Liberating Culture: Cross-cultural perspectives on Museums, Curation, and Heritage preservation. London: Routledge, 2003.

 

jaf

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Abu Mufakhir, Fahmi Panimbang, Made Supriatma, Surya Tjandra, dan Yeri Wirawan yang telah meluangkan waktu membaca dan memberikan masukan yang berharga atas naskah awal tulisan ini.


comments powered by Disqus